NovelToon NovelToon
The CEO'S Second Chance

The CEO'S Second Chance

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: simnuna

Tidak semua cinta pertama berakhir dengan kebahagiaan. Bagi aruna, gadis yatim piatu yang hidup dari beasiswa dan kerja keras, jatuh cinta pada siswa paling populer di sekolah adalahawal dari mimpi buruk yang selama ini tak ingin dia miliki..dia bahagia, namun kebahagaan itu ternyata di bangun diatas sebuah taruhan konyol para anak orang kaya itu. Saat kebenaran terungkap, aruna kehilangan lebih dari sekedar cinta..penghianatan, perundungan, dan kehilangan yang tak tergantikan menghancurkan hidupnya hingga dia memilih menghilang dari masa lalu. Bertahun-tahun kemudia, takdir mempertemukan mereka kembali. Kini, pria yang dulu menghancurkan dunianya telah menjadi seorang pria yang rela melakukan apapun untuk mendapatkan kesempatan kedua. Sayangnya, tidak semua luka dapat di sembuhkan dengan kata maaf… Penasaran?…yuk kepoin ceritanya….

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon simnuna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1

Langit masih gelap ketika sebuah lampu redup di dalam kontrakan berukuran tiga kali empat meter mulai menyala.

Kontrakan itu berdiri di ujung gang sempit yang becek setiap kali hujan turun..Dinding kayunya telah lapuk dimakan usia, sementara atap seng yang berkarat dipenuhi lubang kecil..Jika hujan deras datang, ember dan baskom menjadi penghuni tetap lantai sempit itu untuk menampung tetesan air.

Di sanalah Aruna tinggal seorang diri.

Ya.. Aruna kanaya..seorang gadis cantik berusia 17 tahun..memiliki hidung yang sedikit mancung dengan mata bulat seperti boneka..netra gadis itu hitam pekat bak gelapnya malam, tapi tak pernah terlihat karna terhalang poni dan kacamata..pipinya sedikit chuby dengan lesung pipi kecil di kedua pipinya..gigi gadis itu rapi, tapi dua gigi kelinci membuat wajah itu jadi sangat manis..tapi sayangnya kecantikan gadis itu tak pernah di lihat oleh siapapun..gadis itu sangat pemalu dan selalu merasa rendah diri..di sekolah dia dijuluki gadis kutu buku karna gaya hidupnya..dia selalu memakai pakaian kebesaran yang bertambal di beberapa bagian..gaya rambutnya sangat klimis dengan kepang dua yang menjadi ciri khasnya..dan jangan lupa kacamata bacanya yang mungkin sudah beberapa tahun tak pernah di gantinya.

Aruna tinggal sendirian di kontrakan kecil itu..tak ada ruang tamu..tak ada dapur..hanya sebuah kasur tipis yang digelar di lantai, kompor gas satu tungku yang sudah penyok, meja belajar kecil hasil nemu di tumpukan barang bekas, dan kipas angin tua yang lebih sering mengeluarkan suara berdecit daripada angin.

Setelah kedua orang tuanya meninggal dalam kecelakaan lima tahun lalu, hidup Aruna berubah menjadi perjuangan yang tak pernah selesai..Tak ada keluarga yang benar-benar menginginkannya..Pamannya hanya bersedia menjadi wali agar bisa menguasai uang santunan kematian kedua orang tua Aruna..Setelah uang itu habis, gadis itu dibiarkan hidup sendiri di kontrakan murah, sementara sang paman masih merasa berhak meminta uang darinya setiap minggu.

Aruna menghela napas panjang sambil mengenakan seragam sekolahnya yang telah beberapa kali dijahit..Warna putihnya tak lagi benar-benar putih, dan rok abu-abunya mulai memudar karena terlalu sering dicuci.

Di atas meja hanya tersedia segelas air putih..Tak ada sarapan..dan itu sudah menjadi hal biasa baginya berangkat sekolah dengan perut kosong demi menghemat pengeluaran.

Ia meraih tas sekolahnya yang sudah dia pakai sejak smp, dan sepatu yang berusia sama..dia memakainya perlahan.

Di luar kontrakan berdiri sebuah sepeda tua berwarna biru yang catnya hampir seluruhnya mengelupas..Rantai sepedanya sering lepas..dan rem sepedanya juga rusak yang mengharuskan dia mengerem dengan manual menggunakan kedua kakinya..dan karna itu pula lah sol sepatu usang itu kian menipis.

Namun bagi Aruna, sepeda itu adalah harta paling berharga yang ia miliki..Sepeda itu dibelinya dari hasil menabung selama hampir setahun penuh..Selama setahun itu pula ia rela menahan lapar, berjalan kaki ke mana-mana, dan menerima pekerjaan apa pun agar uangnya cukup..Setiap pagi sebelum sekolah, Aruna mengantar pesanan makanan..Sepulang sekolah, ia bekerja di minimarket hingga malam..Beberapa kali dalam seminggu ia juga menerima pekerjaan membersihkan rumah warga, mencuci pakaian, atau menjaga anak tetangga demi tambahan uang.

Baginya, tidur empat jam sehari sudah termasuk kemewahan..Namun semua kerja keras itu tetap belum cukup..Sore nanti, seperti biasanya, pamannya pasti datang.

"Beri aku uang."

Kalimat itu selalu terdengar sederhana..Tetapi jika Aruna menjawab tidak punya, tamparan, tendangan, bahkan pukulan dengan ikat pinggang menjadi jawaban yang harus ia terima..Sudah tak terhitung berapa kali tubuhnya dipenuhi memar yang ia tutupi dengan lengan panjang..Ia tidak melawan..Karena ia tahu tak ada yang akan membelanya.

.

.

Pukul tujuh pagi..Sepeda tua itu berhenti di depan gerbang SMA Cortner International School..Sebuah sekolah bergengsi yang dipenuhi anak-anak pejabat, pengusaha, artis, dan konglomerat.

Deretan mobil mewah memenuhi halaman parkir..Suara mesin sport car bersahutan..Sementara Aruna diam-diam menuntun sepeda tuanya menuju sudut paling belakang agar tidak terlalu mencolok..Meski begitu...Tatapan merendahkan tetap menghampirinya.

“Itu anak beasiswa datang..”

“Masih naik sepeda rongsokan?..”

“Katanya pintar, tapi tetap saja miskin..”

“Coba lihat sepatunya. Astaga... itu masih layak dipakai?..”

Tawa kecil terdengar di berbagai sudut..Aruna menundukkan kepala..Bukan karena malu..Melainkan karena ia sudah terlalu lelah menghadapi ejekan yang sama setiap hari.

“Kamu kuat aruna..”bisiknya pada dirinya sendiri.

Bel berbunyi..Seluruh siswa memasuki kelas masing-masing..Tak lama kemudian, wali kelas melangkah masuk membuat kelas yang tadinya berisik seketika hening.

“Sebelum pelajaran dimulai, Ibu ingin mengingatkan kembali bahwa sekolah kita memberikan kesempatan bagi siswa berprestasi melalui program beasiswa..”ucap guru itu sambil melirik aruna yang duduk diam di barisan paling belakang…Beberapa siswa langsung saling pandang sambil tersenyum sinis kearahya.

"Aruna adalah salah satu penerima beasiswa terbaik yang dimiliki sekolah ini..Nilainya selalu berada di peringkat pertama..Ibu harap kalian bisa saling menghargai dan belajar darinya..”sambung guru itu lagi..kata-katanya penuh arti..guru disana tau kasus perundungan aruna dan bagaimana gadis itu di kucilkan..tapi para guru hanya diam dan tak berani berbuat lebih karna koneksi orang tua para murid disana..hanya bu hanum, wali kelas mereka yang mau sedikit memberi nasehat seperti tadi.

"Belajar jadi miskin?" bisik seseorang yang langsung disambut tawa.

"Kalau sepintar itu, kenapa tetap enggak kaya?"

"Percuma otaknya pintar, dompetnya tetap kosong..”bisik-bisik para murid yang terdengar sangat jelas di telinga aruna.

Aruna tetap menatap buku di atas mejanya..Jemarinya mengepal pelan hingga buku-buku jarinya memutih..Ini bukan hari pertama..Dan ia tahu..Hari ini juga tidak akan menjadi hari terakhir dirinya menerima hinaan hanya karena terlahir dalam keadaan yang tidak pernah ia pilih.

.

.

.

TO BE CONTINUE……

1
Yensi Juniarti
kapan puncaknya tor gak sabar ..🫣🫣
Yensi Juniarti
lanjuuut ya say 😘😘
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!