NovelToon NovelToon
Gagal Terus, Tapi Makin Suka!

Gagal Terus, Tapi Makin Suka!

Status: sedang berlangsung
Genre:Anime / Diam-Diam Cinta / Idola sekolah
Popularitas:454
Nilai: 5
Nama Author: HAMZAHikhsan

Raka—sosok cowok yang santai—bersiap memulai lembaran baru di jenjang SMA Negeri Garuda. Awalnya, ia hanya ingin menjalani kehidupan sekolah yang wajar; bergaul, bermain, dan menikmati masa mudanya.

​Namun, ekspektasi santai itu mendadak buyar. Tak disangka, Raka justru bertemu dengan teman-teman yang super jahil, serta Alya—gadis dingin yang ternyata menyimpan masalah yang sangat rumit di balik senyumnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HAMZAHikhsan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 10: ROOM TOUR KLUB TERBENGKALAI

Suara gesekan kaki meja dan kursi yang diseret bergaung di seluruh penjuru kelas. Pelajaran Bahasa Indonesia yang menyita tenaga dan mental itu akhirnya resmi berakhir, meninggalkan para siswa-siswi yang langsung menghela napas lega.

​Beberapa murid memilih langsung merebahkan kepala di atas meja, meluruskan punggung yang pegal. Sebagian lainnya berbondong-bondong keluar ruangan menuju kantin untuk mengisi perut.

​Sementara itu, di sudut belakang kelas, Raka meliukkan tubuhnya yang terasa kaku. Ia merebahkan dada ke meja dengan kedua tangan menjulur lurus ke depan, mirip seperti ulat bulu yang pasrah pada takdir.

​"Haaah... capek banget mental gue ngelayanin dua orang aneh tadi..." gumam Raka meratapi nasibnya di Peristiwa Rengasdengklok.

​Baru saja diomongin, sosok "orang aneh" yang dimaksud mendadak muncul dari balik punggung Raka.

​"Oiii!"

​Raka terperanjat, refleks menegakkan tubuhnya. "Waduh! Ada apa lagi?!"

​Dimas berdiri dengan cengiran lebarnya. "Gue baru inget nih, Rak! Proposal klub kita kan udah disetujui Pak Syarif tadi pagi! Terus tadi kan sempet tertunda gara-gara pelajaran Pak Jarwo. Gimana kalau kita cek lokasi klub kita sekarang? Mumpung lagi jam istirahat, nih!"

​Raka kembali menempelkan pipinya ke meja. "Males. Lemes gue."

​"Ayolah, Rak! Masa proposal yang udah kita perjuangkan setengah mati kemarin cuma dibiarin gitu aja?!" bujuk Dimas sambil menarik-narik kerah baju Raka.

​Raka menghela napas panjang. "Haaah... ya udah, ya udah. Yuk."

​Raka bangkit dari kursinya dengan malas-malasan. Ia berjalan menyeret kakinya di koridor sekolah, mendahului Dimas dengan langkah sesantai siput.

​Melihat sahabatnya jalan seperti tanpa tulang, otak provokatif Dimas langsung bekerja.

​"Ayolah, Rak! Lemes amat kayak belum makan tiga hari!" goda Dimas sambil menyenggol bahu Raka. "Mana semangat pahlawan Rengasdengklok kamu yang tadi? Apa jangan-jangan energi kamu udah disedot habis gara-gara mental attack dari Alya?"

​"Apalah... ngomong apa sih lu," dengus Raka malas meladeni.

​Mereka berdua berjalan menyusuri koridor lantai atas yang makin lama makin sepi dan remang-remang. Hingga akhirnya, langkah mereka terhenti di depan sebuah pintu kayu tua berdebu dengan papan nama yang sudah terkelupas.

​Begitu menginjakkan kaki di depan pintu klub, Dimas tiba-tiba merogoh saku, mengeluarkan ponselnya, dan merekam dirinya sendiri bak seorang content creator kawakan.

​"Halo guys! Welcome back! Hari ini kita bakal room tour di klub baru kita yang kabarnya menyimpan cerita misteri dan legenda urban!" seru Dimas ke layar ponselnya dengan gaya lebay. Ia lalu mendorong pintu kayu itu hingga berderit nyaring. Kreekkk... "Dan lihat guys... ruangan baru ini bener-bener terbengkalai! Pasti ada misteri kelam di balik semua ini!"

​Raka melongokkan kepalanya ke dalam ruangan.

​Bau apak, debu tebal yang melayang-layang di udara, sarang laba-laba raksasa di sudut langit-langit, serta jajaran meja tua yang patah langsung menyambut indra penglihatannya.

​Seketika itu juga, wajah Raka berkerut parah. Ekspresi jijik dan tidak percaya terpancar jelas dari mukanya. "Ini markas klub apa sarang kuntilanak?!" batin Raka merinding.

Melihat ekspresi wajah Raka yang berkerut parah menahan jijik, Dimas berjalan menghampirinya dengan senyuman mencurigakan tersimpul di bibirnya.

​"Wih... kenapa nih, Rak? Jijik lu?" goda Dimas sambil menepuk-nepuk pundak Raka. "Ya kalau kotor, dibersihin lah!"

​Raka menatap Dimas dengan raut wajah tak percaya. "Lu serius kita berdua yang harus ngebikin bersih tempat seluas ini? Gak manggil petugas kebersihan sekolah aja apa?"

​Dimas menggeleng-gelengkan kepalanya sok prihatin. "Ayolah, Rak! Kasihan petugas kebersihan kita, tugas mereka udah banyak. Sekali-kali bikin 'satu hari satu kebaikan' gak ada salahnya, kan?"

​"Haaah... terserah lu dah," desah Raka pasrah.

​Mau tidak mau, operasi pembersihan markas pun dimulai. Raka bertugas mengangkut meja dan kursi tua yang kakinya sudah patah keluar dari ruangan. Sementara itu, Dimas mengambil alih tugas menyapu debu tebal di lantai dan mengelap kaca jendela yang buram.

​Awalnya mereka bekerja dengan cukup niat. Namun, dasar Dimas, mana bisa dia fokus diam tanpa bikin kehebohan. Saat menyapu, Dimas malah memainkan sapunya seperti pedang Star Wars, mengarahkan debu ke arah Raka sambil memperagakan gaya jurus kungfu.

​"Terima jurus debu naga merah ini, Raka!" seru Dimas lebay.

​"Woy! Malah dibercandain!" omel Raka, refleks mengambil kemoceng dan membalas kibatan debu Dimas.

​Perang kecil-kecilan dengan alat kebersihan itu pun meletus di dalam ruangan. Di tengah kepulan debu dan tingkah absurd sahabatnya itu, tawa Raka akhirnya pecah juga. Tanpa sadar, ukiran senyum tipis terbit di wajahnya. Rasa capek dan pusing gara-gara kejadian Rengasdengklok tadi pagi menguap begitu saja.

​Setelah hampir satu jam menguras tenaga sampai mandi keringat, ruangan klub itu akhirnya terlihat layak huni. Lantai sudah bersih, kaca jendela mengilap, dan sarang laba-laba sudah musnah.

​BRUK!

​Begitu usai, mereka berdua langsung merebahkan diri terlentang di atas lantai yang kini sudah dingin dan bersih.

​"Wah... lumayan gokil capeknya ya," gumam Dimas sambil menatap plafon, napasnya masih agak terengah.

​"Iya," sahut Raka pendek, memegangi tenggorokannya yang terasa sangat kering. "Beli minum yuk ke kantin, Mas."

​"Lu aja dah yang jalan, Rak... gue nitip. Kaki gue rasanya udah lepas," balas Dimas sambil memejamkan mata, kepalanya disandarkan ke tembok.

​Raka mendengus pelan. "Halah, apalah..."

​Dengan sisa porsi tenaga yang ada, Raka bangkit dan melangkah keluar menuju kantin.

​Begitu sampai di area kantin, suasananya ternyata jauh lebih ramai dan penuh sesak dibanding hari-hari biasanya. Suara riuh antrean murid bergaung ke mana-mana. Usut punya usut, ternyata kantin sekolah sedang meluncurkan menu baru yang bikin penasaran semua orang.

​Namun, Raka tidak berminat untuk ikut berdesakan demi menu baru itu. Tenggorokannya sudah terlalu haus. Ia menyelinap cepat di antara kerumunan, langsung menuju ke stan minuman, dan membeli dua botol air mineral dingin.

​Tanpa buang-buang waktu, Raka kembali ke lantai atas. Ia mendorong pintu klub dengan sikutnya, lalu tanpa aba-aba melempar satu botol air mineral dingin ke arah Dimas yang masih tiduran.

​Hup!

​Dimas dengan refleks luar biasanya menangkap botol itu dengan sangat mudah tanpa perlu mengalihkan pandangan dari plafon.

Raka melangkah masuk lebih dalam ke ruangan klub, lalu mendudukkan pantatnya di atas salah satu kursi kayu yang agak bapuk. Meski terdengar bunyi kriet-kriet yang mengkhawatirkan, setidaknya kursi itu masih sanggup menahan bobot tubuhnya.

​Raka kemudian mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan yang kini sudah bersih.

​Ternyata, isi markas baru mereka ini bener-bener minimalis—kalau tidak mau dibilang merana. Ruangan ini cuma dihiasi satu meja panjang, dua buah kursi tua, serta sebuah rak kayu di dinding yang dipenuhi tumpukan buku-buku berdebu yang sepertinya sudah tidak berguna lagi sejak era Orde Baru.

​Raka menenggak air mineralnya sampai tersisa separuh, lalu melirik ke arah Dimas.

​"Haaah... terus sekarang kita ngapain di sini, Mas?" tanya Raka bingung.

​Dimas yang masih tiduran di lantai ikut mengedarkan pandangan. "Ya... iya ya? Ngapain kita di sini ya?"

​Namun, saat mata Dimas menjelajahi setiap sudut dinding atas dekat pintu, pandangannya mendadak terhenti pada sebuah benda kecil berbentuk kotak hitam dengan beberapa lampu LED kelap-kelip di atas rak.

​Mata Dimas langsung membelalak lebar. Ia terduduk seketika.

​"Rak! Lihat itu, Rak! Ada Wi-Fi!" seru Dimas sambil menunjuk-nunjuk ke atas dengan heboh.

​Raka meremas botol minumnya, menatap Dimas dengan tatapan malas. "Halu ya lu? Mana ada fasilitas Wi-Fi di markas buangan gini..."

​Gemas karena tidak dipercayai, Dimas langsung bangkit, menghampiri Raka, dan dengan tidak santainya memutar paksa kepala Raka ke arah yang ia tunjuk.

​"Tuh! Lihat sendiri pakai mata lu!"

​Raka meringis memegangi lehernya yang agak terkilir, namun matanya langsung melotot begitu fokus menangkap sinyal kotak hitam itu.

​"Lah... iya! Beneran Wi-Fi?!"

​Kedua anak manusia itu diam sejenak. Mereka perlahan memalingkan wajah, saling melirik satu sama lain dengan senyuman licik yang mulai terukir di bibir masing-masing.

​"Lu mikirin apa yang gue pikirkan kan, Rak?" bisik Dimas dengan tatapan penuh komplotan jahat.

​"Iya..." sahut Raka, matanya sudah berbinar-binar kehilangan rasa lelahnya.

​"GAS MABAR!" teriak Dimas girang sambil merogoh ponsel dari sakunya.

​"GASKAN CYUK!" balas Raka tak kalah heboh, langsung menarik kursinya mendekati colokan listrik.

​Maka, berakhirlah misi pembersihan markas klub hari itu—bukan dengan kegiatan ilmiah atau organisasi yang berguna, melainkan dengan ritual pemujaan Wi-Fi gratisan sekolah.

1
☕︎⃝❥kinataa💤
tmpt incaran semua kaum. jarang bngt tmpt pojok itu kosong. meski cuma telat 5 menit masuk kelas, pasti udh di tandai org duluan🗿🗿
☕︎⃝❥kinataa💤
jgn ya gess ya, itu bukan buat adick² kelas 10, oke?! tidak baiq/Smile/
☕︎⃝❥kinataa💤
halah, takdir matamu. othornya sja itu nyari sensasi/Scream/
Zyren Vale: wkwkw, makasih udah mampir 🥰
total 1 replies
☕︎⃝❥kinataa💤
capslok aja, biar puas maknya jerit/Curse//Curse/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!