NovelToon NovelToon
Dikhianati Suami, Dihamili CEO Dingin

Dikhianati Suami, Dihamili CEO Dingin

Status: tamat
Genre:Perubahan Hidup / CEO / Selingkuh / Cinta Lansia / Tamat
Popularitas:42k
Nilai: 5
Nama Author: Anindita Kirana

Ratna mengira pernikahan 28 tahunnya hanya sedang lelah. Sampai ia melihat Hendra, suaminya, memeluk sekretaris muda di rumah sakit, bersama anak laki-laki yang memanggilnya Papa.
Selama ini Ratna bekerja diam-diam, mengurus mertua, anak, menantu, dan cucu, sementara uang keluarga mengalir ke apartemen perempuan lain.
Saat semua orang mengira Ratna terlalu tua untuk melawan, ia justru bangkit. Dengan bantuan Arga Wijaya, CEO dingin yang tak pernah banyak bicara, Ratna mulai merebut kembali harga dirinya.
Tapi semakin jauh ia melangkah, semakin banyak rahasia keluarga yang terbongkar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anindita Kirana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 25

Bab 25 - Rahasia yang Ditawarkan Clara

Ratna tidak berniat menemui Clara.

Pagi itu ia sudah cukup sibuk dengan dokumen gala amal, jadwal sidang harta bersama, dan pesan Maya tentang Raka yang mulai belajar menjemput Bima. Hidupnya masih berantakan, tapi setidaknya berantakan itu mulai punya arah.

Lalu Siska menelepon.

"Bu Ratna, Clara menghubungi kantor saya."

Ratna berhenti mengetik.

"Untuk apa?"

"Dia bilang punya informasi tentang keluarga Pak Hendra. Bukan hanya soal aset."

Ratna menutup mata sebentar.

Clara lagi.

"Dia ingin uang?"

"Belum menyebut angka. Tapi saya rasa arahnya ke sana."

Ratna melihat layar komputernya. Nama-nama tamu gala amal tampak kabur.

"Menurut Mbak Siska, perlu ditanggapi?"

"Hati-hati. Bisa jebakan, bisa juga memang informasi penting. Saya sarankan kalau bertemu, harus di kantor saya. Tidak berdua."

Ratna menarik napas.

"Baik. Jadwalkan."

Saat ia menutup telepon, Arga berdiri di depan mejanya. Entah sejak kapan.

"Clara?"

Ratna mengangguk.

Di kantor, ia masih memanggil Arga dengan hati-hati. Tapi karena Dita sedang keluar dan area meja kosong, ia berkata pelan, "Dia menawarkan rahasia."

Arga menatapnya.

"Mau ditemani?"

"Dengan Siska cukup."

"Ratna."

Ia mengangkat wajah.

Nada itu bukan perintah. Lebih seperti kekhawatiran yang ditahan.

"Aku tahu kamu khawatir," kata Ratna. "Tapi aku harus belajar menghadapi bagian hidupku sendiri. Kalau terlalu berat, aku akan bilang."

Arga diam beberapa detik, lalu mengangguk.

"Baik. Kabari setelah selesai."

"Iya."

Pertemuan dijadwalkan sore itu di kantor Siska. Clara datang dengan kacamata hitam, tas mahal, dan wajah yang dipoles rapi. Namun Ratna melihat sesuatu di balik penampilannya: panik.

Siska duduk di samping Ratna, perekam diletakkan terbuka di meja.

"Semua pembicaraan direkam," kata Siska. "Kalau keberatan, pertemuan selesai."

Clara membuka kacamata.

"Tidak keberatan."

Ratna menatapnya.

"Apa yang mau kamu katakan?"

Clara tersenyum tipis.

"Langsung sekali, Mbak."

"Aku bekerja sekarang. Waktuku tidak kosong untuk sandiwara."

Wajah Clara menegang.

Siska menunduk sedikit, menyembunyikan senyum.

Clara mengeluarkan amplop cokelat dari tas. Ia tidak langsung menyerahkannya.

"Aku butuh jaminan."

"Jaminan apa?" tanya Siska.

"Kalau informasi ini berguna, Mbak Ratna tidak menyeret apartemen tempat aku dan Alif tinggal."

Ratna menatapnya lama.

"Apartemen itu dibeli dari uang yang seharusnya menjadi harta bersama."

"Aku tahu."

"Lalu kamu tetap meminta aku membiarkan?"

Clara menggenggam amplop.

"Alif tidak salah."

Kalimat itu membuat Ratna terdiam. Anak itu memang tidak salah. Tapi berapa banyak orang memakai anak untuk menutup dosa orang dewasa?

"Bima juga tidak salah," kata Ratna pelan. "Tapi uang lesnya pernah telat karena Hendra bilang tidak ada uang."

Clara menunduk.

Siska masuk, "Kami tidak bisa memberi jaminan seperti itu sekarang. Informasi dinilai dulu. Kalau memang relevan, bisa dipertimbangkan dalam strategi hukum. Tapi tidak ada janji kosong."

Clara tertawa hambar.

"Kalian semua sekarang bicara seperti orang kantor."

Ratna menjawab, "Karena kalau bicara pakai perasaan, kamu dan Hendra sudah terlalu sering memanfaatkannya."

Clara akhirnya meletakkan amplop di meja.

Siska mengambilnya, membuka, lalu mengeluarkan beberapa foto lama dan salinan pesan.

Ratna melihat foto pertama.

Hendra, jauh lebih muda, berdiri di depan sebuah klinik bersalin kecil. Di sebelahnya ada Mama Sulastri. Wajah perempuan tua itu tampak tegang. Foto itu buram, seperti diambil diam-diam.

Foto kedua menunjukkan Raka saat bayi di sebuah acara keluarga.

Foto ketiga membuat Ratna mengerutkan dahi. Ada bayi lain, dipegang perempuan yang tidak ia kenal, tapi di belakang foto tertulis nama sebuah kota kecil di Jawa Barat dan tanggal yang sama dengan hari kelahiran Raka.

"Apa maksudnya ini?" tanya Ratna.

Clara menatapnya, seolah menikmati detik itu.

"Mas Hendra pernah mabuk. Waktu itu kami bertengkar karena aku minta dia mengakui Alif. Dia bilang, 'Anak yang diakui keluarga belum tentu anak yang benar.'"

Ratna merasa udara di ruangan menipis.

Siska langsung menatap Clara tajam.

"Kalimat mabuk bukan bukti."

"Aku tahu. Makanya aku cari."

Clara menunjuk foto klinik.

"Dulu ada pegawai lama di toko pertama Mas Hendra. Namanya Bu Nanik. Dia pernah cerita, waktu Mbak Ratna melahirkan Raka, Mama Sulastri ribut besar dengan adik iparnya di klinik. Ada dua bayi laki-laki lahir di malam yang sama."

Jari Ratna menjadi dingin.

"Hentikan," katanya pelan.

Clara menatapnya.

"Mbak tidak mau tahu?"

"Aku tidak mau kamu menjadikan hidupku mainan."

"Aku juga tidak mau hidupku dihancurkan."

Siska berkata tegas, "Clara, kalau kamu punya saksi, nama lengkap dan kontaknya berikan. Kalau tidak, ini bisa dianggap fitnah."

Clara mengeluarkan satu kertas kecil.

"Alamat Bu Nanik. Dia sekarang tinggal di Depok. Aku belum sempat menemuinya. Tapi dia pernah bekerja untuk keluarga Hendra lebih dari dua puluh tahun."

Ratna menatap kertas itu.

Nama Raka terasa berat di dadanya.

Raka anaknya.

Ia mengandungnya. Melahirkannya. Menyusuinya. Menggendongnya saat demam. Mengantarnya sekolah. Mengurus wisuda. Menjadi ibu dalam setiap arti yang ia tahu.

Apa pun yang Clara bawa tidak boleh mengguncang itu.

Namun mengapa tanggal di foto itu sama?

Mengapa Hendra pernah mengatakan kalimat seperti itu?

Clara bersandar.

"Aku tidak bilang Raka bukan anak Mbak. Aku hanya bilang, keluarga Hendra punya rahasia lebih banyak daripada Clara dan Alif."

Ratna berdiri tiba-tiba.

Siska ikut berdiri.

"Bu Ratna?"

Ratna mengambil tas.

"Pertemuan selesai."

Clara juga berdiri.

"Mbak belum jawab soal apartemen."

Ratna menatapnya dengan mata merah, tapi suaranya dingin.

"Kalau rahasia ini benar, kamu baru saja membuka luka yang bahkan tidak kamu pahami. Kalau bohong, aku pastikan kamu menyesal."

Clara terdiam.

Ratna keluar dari ruangan.

Di lorong kantor hukum, ia hampir kehilangan keseimbangan. Siska memegang lengannya.

"Bu Ratna..."

"Jangan panggil siapa-siapa dulu."

Namun ponselnya sudah bergetar.

Arga.

Ratna menatap nama itu. Tangannya gemetar.

Ia menerima panggilan.

"Ratna?" suara Arga langsung terdengar. "Kamu di mana?"

Ratna memejamkan mata.

Ia ingin berkata baik-baik saja.

Tapi kali ini, ia terlalu lelah berbohong.

"Arga," bisiknya, "aku takut."

Di seberang, suara Arga berubah rendah.

"Aku ke sana sekarang."

Ratna tidak menolak.

Karena ada beberapa ketakutan yang bisa dihadapi sendiri.

Dan ada yang terlalu besar untuk dipikul tanpa tangan di dekatnya.

Arga benar-benar datang. Ia tidak bertanya lewat telepon, tidak meminta Ratna menjelaskan ulang, hanya muncul di depan kantor Siska dengan napas sedikit terburu. Saat melihat Ratna berdiri di tepi trotoar, ia berhenti sejenak seperti memastikan perempuan itu masih utuh.

"Masuk mobil dulu," katanya.

Ratna tidak membantah.

Di kursi belakang, ia menggenggam tali tas. "Aku tidak ingin pulang."

"Kita tidak pulang sekarang."

"Ke mana?"

"Tempat yang ada teh panas dan tidak ada orang bertanya sebelum kamu siap."

Ratna menoleh. "Kamu punya tempat seperti itu?"

"Rumah ibuku. Tapi kalau itu terlalu banyak, ada restoran kecil yang sepi."

Ratna hampir tertawa, tapi yang keluar justru napas patah. "Restoran saja."

Arga mengangguk kepada sopir.

Di jalan, mereka tidak bicara. Jakarta macet seperti biasa. Orang-orang menyalakan klakson, pedagang asongan mengetuk kaca mobil, lampu merah berganti hijau terlalu cepat. Dunia tetap berjalan dengan kasar, sementara Ratna merasa hidupnya baru saja dibuka dari jahitan lama.

Arga duduk di sampingnya, tidak menyentuh.

Namun untuk Ratna, kehadiran yang tidak mendesak itu sudah seperti pegangan.

1
adisty aulia
Karakter Ratna kuat meski telat sadarnya🙁🙁🙁
adisty aulia
🌺🌺🌺
adisty aulia
Suka alur ceritanya🌺🌺🌺
Nicky
Ratna memandang mantan suaminya? Raka? ga panggil mama lagi?
Nicky
Arga melamar Ratna lagi? mengajak menikah? bukannya di part² sebelum hamil ini sudah menikah di KUA dan pulangnya mereka yang menghadiri lanjut makan soto. Agak membingungkan ini KK author.
Nicky
ada part yg ga sinkron, mulai dr panggilan ibu yg di beberap bab sebelumnya setelah hasil tes DNA Bagas di ketahui sebagai anak Ratna, sudah panggil ibu, di bab ini malah bukan anak kandung, panggil nama saja dan baru mulai panggil ibu?
Endang Sulistia
pengen tampol keluarga hendra😤😤😤
Hertanti Mandanya Dhafin
novel yg keren saya suka sama bahasanya, authornya hebat 👍
Fia Ayu
Knpa up nya pelit banget, pertama rilis langsung banyak, lagi tegang2nya di gantung 😢
Fia Ayu
Lanjut kak,, penasaran weee
Fia Ayu
Wkwkwk
Fia Ayu
Sokor,
Klo sudah tiada
Baru terasa,,,,,, 💃
Fia Ayu
Tuman😏
Fia Ayu
Mampir,,, baru bab pertama dah bikin nyesek 😢
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!