Kaelus Danurwenda terkejut ketika mendapati dirinya di pagi hari tanpa mengenakan pakaian. Dia mengumpat marah ketika mengingat kejadian tadi malam.
Kaelus mencari jejak si wanita namun nihil. Pencarian Kael berlangsung selama 4 tahun lamanya, tapi tak menghasilkan apapun.
Ketika harapannya pupus, dan hendak menerima perjodohan yang diatur orang tuanya, tiba-tiba seorang bocah dengan mata coklat kekuningan menabrak tubuhnya.
"Maap Om, Al nda senaja."
Debaran aneh memenuhi hati Kaelus Wajah bocah itu sangat tidak asing di matanya.
"Kamu ... ."
"Maaf Tuan, anak saya berlari tanpa arah. Permisi."
Melihat ibu dari anak itu, Kaelus samar-samar mengingat tentang wanita di malam yang salah itu.
Apa yang akan dilakukan Kaelus? Apa dia akan melanjutkan perjodohan yang diatur, atau malah mencari ibu dan anak tersebut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ATSP 33
Grtttt
Patih mengeratkan gigi-giginya ketika mendengar ucapan Ben dari panggilan telepon. Dia juga melemparkan ponselnya ke sofa. Rahangnya mengeras dan nafasnya tersengal-sengal.
"Sialan, dia beneran berani ngomong kayak gitu ke aku. Dasar brengsek."
Patih langsung mengeluarkan kata-kata umpatan.
Sebenarnya kesimpulan bahwa rasa dan Kael tidak bisa menikah sudah lebih dulu diungkapkan oleh anak bungsunya.
Kemarin sore Iras menghubungi Patih. Anak keduanya itu berkata bahwa dia akan berhenti mengejar Kael. Iras juga berkata bahwa dia tak lagi ingi menikah dengan Kael.
"Dia sudah memiliki anak dan istri, jadi nggak akan ada gunanya buat ku mencoba masuk ke kehidupan pria itu. Aku juga seorang wanita, aku nggak mau jadi perusak biduk rumah tangga wanita lain hanya untuk memenuh obsesi dan ambisiku. Ya mungkin ini yang dikatakan bahwa aku dan Kael belum jodoh. Ah iya jangan cari aku ya Pa, aku mau ke rumah temenku."
Begitulah kata-kata Iras tentang Kael dan izinnya untuk pergi ke rumah temennya.
Patih tahu itu karena memang Iras bicara langsung kepada sang ayah. Hanya saja, Patih masih ingin lebih berusaha. Dia ingin bertanya kepada keluarga Danurwenda dan membuat sedikit intrik.
Patih berencana menyalahkan Kael atas 'hilangnya' Iras. Dimana sebenarnya Iras izin dengn baik-baik kepadanya untuk pergi ke rumah temannya.
"Sialan, semua nggak sesuai sama rencanaku. Aku pikir anak itu pinter, tapi ternyata bodoh. Ngluluhin satu cowok aja nggak becus. Zar, coba kamu cari tahu tentang wanita yang katanya istrinya Kael itu."
"Ogah!"
Jawaban singkat, padat dan jelas. Izar memutar bola matanya malas mendengar umpatan ayahnya. Dia bahkan ingin segera beranjak dari duduknya karena telinganya terasa panas dan berdengung setiap kali ayahnya bicara.
Patih melayangkan tangannya, hendak memukul Izar, tapi dengan sangat cepat Izar bisa menghindarinya.
"Kenapa nggak mau hah!" pekik Patih, Suaranya melengking hingga menggema ke seluruh rumah.
"Lha ngapain, kurang kerjaan banget sih. Iras udah mundur, keluarga sana juga udah ngomong kalau kita nggak bisa jadi keluarga. Lalu buat apa nyari tahu tentang wanita yang katanya istrinya Kael? Papa mau jadi kriminal? Papa mau nyulik wanita itu lalu ngabisin dia gitu biar Iras bisa jadi istrinya Kael, jadi nyonya Danurwenda. Hei Pa, jangan berpikir kayak iblis deh. Stop, bukti bahwa Iras sama Kael nggak jodoh itu udah jelas kok. Jadi nggak usah aneh-aneh. Papa udah tua, seharusnya nggak lagi mikir yang nggak bener."
Izar melenggang pergi setelah berkata demikian. Dia tidak peduli dengan nafas Patih yang memburu. Bahkan menoleh pun enggan.
Brummm
Tak ingin mendengar apapun lagi yang dikatakan oleh sang Ayah, Izar tak hanya meninggalkan Patih sekedar ke kamar. Dia memilih peri dari rumah. rasanya sudah begitu lelah mengikuti setiap ambisi dari pria tua yang berlabel ayah itu.
"Aku waktu itu beneran bodoh ya? Kok bisa-bisanya ngasih ide kotor kayak gitu ke Iras. Aku ini kan kakaknya, seharusnya aku ngejaga adikku, bukan malah menjerumuskan. Ah Tuhan."
Izar memukul setir kemudinya dengan keningnya. Tak hanya sekali, meski akhirnya keningnya sedikit memerah, tapi Izar tidak merasa kesakitan.
Dia terus merutuki dirinya sendiri saat mengingat hal tersebut.
Menjadi bagian dari Danurwenda memang awalnya adalah keinginan hati Iras. Izar tahu betul bahwa Iras menyukai Kael sejak duduk di bangku SMA. Namun ketika ayah mereka mengetahui hal tersebut, Iras didorong dengan kuat olehnya.
Patih akhirnya menjadi ambisi menginginkan Iras terus mendekati Kael. Pada akhirnya semua itu menjadi keserakahan.
Izar pun teracuni, berharap bahwa dengan berada dalam naungan Danurwenda ia bisa dengan mudah melakukan apapun yang diinginkan sampai otaknya salah berpikir.
Haah
Hembusan nafas kasar meluncur dari mulut dan hidung Izar. Dia menepikan mobilnya, mematikannya sejenak dan mengambil ponsel yang ada di atas dashboard.
Dengan mengambil nafas dalam-dalam, Izar bicara di telepon.
"Ras, sorry nggak seharusnya aku kemarin kayak gitu soal Kael. Aku nggak seharusnya ndorong kamu ke perbuatan yang buruk. Ras, dia bukan jodohmu, jadi relakan dan yakin kamu bakalan dapat pria yang mencintaimu. Ras, dicintai dengan ugal-ugalan akan jauh lebih baik dari mencintai satu pihak."
Baru kali ini bicara banyak dan berbobot. Biasanya jika berbincang kepada adiknya, sekedar pembicaraan omong kosong saja.
"Aku tahu, dan thank A Izar. Aku juga nggak mau melukai hati wanita hanya karena ambisi ku kok. Untuk sementara aku bakalan nginep di outlet ya. Aku males pulang ke rumah. Papa pasti bakalan ngomel, males banget dengerinnya."
Bukan di rumah teman, melainkan di toko oleh-oleh milik keluarga Wirya sekarang Iras berada. Dia tahu bahwa jika bertemu dengan sang ayah, akan banyak yang dikatakan dan dikeluhkan oleh pria paruh baya itu tentang mundurnya dirinya dari merebut hati Kael. Berada di rumah teman hanya alasan Iras untuk menghindari Patih.
Di dalam kantor pada lantai dua toko oleh-oleh milik mereka, Iras menatap ke langit-langit setelah menutup panggilannya dari sang kakak. Tidak ada apapun yang terbayang. Tapi Iras kemudian tersenyum kecil.
"Ya bener kata Aa, lebih baik dicintai dari pada mencintai. Semoga aku bertemu dengan pria yang mencintaiku sepenuh hatinya."
TBC
n faham
semangat n sehat sehat author🩷🩷
teman nya si kael gk d kasih pelajaran,,karna dia mereka jd sengsara