Kayla hancur saat tunangannya, Damar, ketahuan selingkuh dan menghina dirinya sebagai wanita “mandul”. Dikhianati keluarga sendiri, ia kabur dalam keadaan terluka hingga tanpa sadar menghabiskan malam dengan seorang pria asing di hotel. Tanpa ia ketahui, pria itu adalah Adrian, CEO dingin dan berkuasa yang kemudian menjadi atasan barunya di hotel
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 22
Hujan benar-benar telah reda, menyisakan jalanan yang basah dan pantulan lampu kota yang berkilau seperti kaca. Untuk pertama kalinya, Adrian berharap hujan itu tidak berhenti terlalu cepat, seolah jeda air dari langit tadi bisa memberi alasan lebih lama untuk duduk berdampingan dengan Kayla.
“Sudah malam, aku juga sudah lapar,” kata Kayla pelan.
Angin malam menyentuh kulit mereka, membuat Kayla sedikit merapatkan diri sambil mengusap perutnya pelan.
“Oh, di depan ada restoran. Kita ke sana saja, yuk,” ujar Adrian sambil menunjuk sebuah gedung tinggi tak jauh dari mereka.
Kayla menggeleng kecil “Aku pengen banget nasi goreng dekat pasar malam,” lanjut Kayla sambil memegangi perutnya..
“Baiklah,” jawab Adrian singkat sambil menggenggam tangan Kayla yang terasa dingin. “Ayo kita makan nasi goreng. Nanti dede bayi marah dan benci sama aku.”
Sentuhan itu membuat Kayla terdiam sesaat. Telapak tangannya yang dingin perlahan menghangat di genggaman Adrian. Untuk pertamakalinya Kayla mulai merasakan apa itu ‘perhatian’.
.
Adrian menggandeng tangan Kayla menuju sepeda motor, lalu meraih helm dan memasangkannya dengan hati-hati. Jarak wajah mereka begitu dekat, sampai Kayla bisa merasakan hembusan napas Adrian yang hangat dan tidak stabil. Begitu pula Adrian, yang tiba-tiba sadar betapa dekatnya mereka sekarang.
“Kalau hujan, kamu tampan sekali,” kata Kayla sambil tersenyum.
Perkataan itu membuat langkah Adrian sedikit terhenti. Dadanya terasa aneh, seperti ada sesuatu yang bergerak cepat tanpa kendali. Untuk pertama kalinya, ia merasa gugup tanpa alasan yang jelas.
“Terima kasih,” balas Adrian dengan nada canggung.
Dari kejauhan, Aldo mengamati semuanya sambil tetap menjaga jarak. Ponsel Adrian tidak aktif, sementara pesan dari Nenek Maharani terus berdatangan tanpa henti. Sebagai pekerja multi talent maka tugas Aldo sekarang jadi penguntit bosnya sendiri.
“Cium, Bos… cium,” celetuk Aldo saat Adrian dan Kayla saling tatap hampir berciuman.
“Yah, enggak jadi ciumannya,” lanjut Aldo kecewa, sambil memundurkan mobil ketika motor Adrian kembali menyala.
“Bos, baru kali ini demi seorang wanita Anda sampai mau jadi tukang ojek. Ini benar-benar luar biasa,” gumam Aldo pelan.
Motor kembali melaju membelah malam. Udara dingin menyapu tubuh Kayla hingga ia tanpa sadar memeluk pinggang Adrian dari belakang.
“Dingin,” bisik Kayla pelan.
Namun suara itu tenggelam oleh deru mesin. Adrian tidak mendengar jelas, hanya merasakan tubuhnya sedikit menegang saat pelukan itu menguat. Dadanya kembali berdebar tanpa alasan yang bisa ia jelaskan.
“Padahal dia sudah sah jadi istriku, kenapa aku masih malu-malu ya,” batin Adrian.
Tak lama kemudian, mereka tiba di sebuah lapangan sepak bola di pinggiran kota. Tempat itu telah berubah menjadi pasar malam yang ramai, penuh cahaya dan suara.
Aroma tanah basah masih tercium kuat, bercampur dengan wangi makanan yang menguar dari setiap sudut. Lampu-lampu warna-warni berkelip seperti bintang yang jatuh ke bumi. Kincir besar berputar perlahan, sementara wahana kora-kora berayun naik turun disertai teriakan kegembiraan. Deretan pedagang berjajar rapi, menawarkan makanan hangat, mainan, dan riuh kehidupan malam yang hidup sepenuhnya.
Mereka tiba di sebuah warung nasi goreng yang masih ramai meski malam semakin larut. Aroma bawang putih yang ditumis bersama kecap langsung memenuhi udara, membuat perut siapa pun yang menciumnya kembali lapar.
“Kamu yakin mau makan ini?” tanya Kayla ketika dua piring nasi goreng telah tersaji di hadapan mereka.
Adrian mengangguk sambil tersenyum tipis.
“Kayla, aku juga pernah kerja serabutan di luar negeri. Di keluargaku, kami memang dilatih hidup mandiri sejak remaja,” jelasnya. Tanpa ragu ia langsung menyendok nasi goreng itu dan memasukkannya ke dalam mulut.
Matanya sedikit membesar.
“Hm... ini benar-benar enak, loh, Kay,” pujinya tulus, tanpa sedikit pun dibuat-buat.
“Syukurlah kalau kamu suka,” balas Kayla sambil mulai menikmati makanannya.
Beberapa saat mereka makan dalam diam. Hanya suara sendok yang beradu dengan piring dan hiruk-pikuk pasar malam yang menemani.
“Aku boleh tinggal di rumah kamu, kan?” tanya Kayla pelan.
Adrian tersenyum geli.
“Kamu ini seperti bertanya kepada siapa saja. Aku ini suami kamu. Lagipula, Nenek memang berharap kamu tinggal di rumah. Bahkan, beliau ingin kamu berhenti bekerja supaya bisa fokus menjaga kehamilanmu.”
Kayla menghentikan gerakan sendoknya. Pandangannya kosong beberapa saat.
“Kalau resign... nanti saja kupikirkan,” jawabnya lirih. “Kalau aku berhenti kerja, uang gajiku tinggal satu juta. Kalau nanti harus ngekos, aku makan apa?”
Adrian mengernyit heran.
“Aku lihat gajimu delapan juta. Kenapa tinggal satu juta?”
Kayla tersentak.
“Eh... kedengaran, ya?” katanya sambil tersenyum canggung. “Iya, gajiku memang delapan juta. Tapi tujuh juta selalu kukirim ke Ibu. Kalau aku tidak memberi, beliau pasti marah-marah. Sementara kedua kakak lelakiku tidak bekerja, tetapi tidak pernah dimarahi. Kadang aku berpikir... sebenarnya aku ini anak mereka atau bukan.”
Senyum Adrian perlahan memudar. Tanpa sadar, ia menggenggam tangan Kayla.
“Kalau mereka terus menyakitimu, tinggalkan saja mereka. Sekarang kamu punya aku, dan kamu juga punya Nenek. Kami keluarga kamu.”
Kayla mengembuskan napas panjang.
“Aku masih berharap mereka berubah. Selain Ayah yang sedang sakit-sakitan, semua orang di rumah selalu memarahiku setiap hari. Makanya aku memilih tinggal di asrama. Sekarang bahkan dari asrama pun aku diusir.”
Tatapan Adrian melembut.
“Sudahlah. Kita ini suami istri. Sudah sewajarnya kita tinggal bersama. Orang-orang juga akan berpandangan buruk kalau kita tinggal terpisah.”
“Tapi kita kan hanya...”
Kayla belum sempat menyelesaikan kalimatnya ketika Adrian memotong dengan lembut.
“Sudah, jangan bicara tentang masa depan yang belum pasti. Sekarang kita jalani tugas kita masing-masing. Tugasmu menjaga kehamilanmu, tugasku melindungimu. Soal masa depan, biarkan waktu yang menjawab. Hari ini mungkin kamu belum mencintaiku... tapi siapa tahu nanti kamu...”
“Kalau kamu suka sama aku, ya?” potong Kayla sambil menatapnya usil.
Adrian menghela napas kecil.
“Aku juga enggak tahu. Yang jelas, aku merasa nyaman kalau dekat kamu. Akhir-akhir ini aku selalu mengkhawatirkanmu. Setiap kamu jauh dariku, aku jadi gugup dan sulit fokus. Entah kenapa, dalam keadaan apa pun aku selalu merasa senang asal bersama kamu.”
Kayla tersenyum jahil, lalu mencubit pinggang Adrian pelan.
“Kamu ini berbelit sekali, sih. Bilang saja kalau kamu suka sama aku. Apa susahnya?”
Adrian hanya tertawa kecil.
“Kalau kamu sendiri bagaimana? Apa sekarang sudah mulai suka sama aku?”
Kayla mengembuskan napas pelan sebelum tersenyum tipis.
“Beri aku waktu, ya.”
“Baiklah,” sahut Adrian. “Aku enggak akan memaksamu.”
Setelah menghabiskan nasi goreng, mereka kembali menyusuri pasar malam. Sesekali mereka mencoba beberapa wahana permainan, tertawa bersama, dan menikmati keramaian hingga malam semakin larut.
“Aku ngantuk. Mau pulang,” keluh Kayla sambil menggenggam tangan kekar Adrian.
“Baiklah, kita pulang,” jawab Adrian.
Ia merogoh saku celananya, mengeluarkan ponsel, lalu menyalakannya kembali. Selama hampir tiga jam ia sengaja mematikannya karena tidak ingin ada siapa pun yang mengganggu waktu kebersamaannya dengan Kayla.
Begitu ponsel aktif, Adrian langsung menghubungi seseorang.
“Aldo, jemput aku. Aku kirim lokasi sekarang,” perintahnya singkat.
“Enggak usah, Bos. Saya sudah di dekat pasar malam. Sebentar lagi sampai,” jawab Aldo dari seberang telepon.
“Kamu memata-matai aku?” tanya Adrian dengan nada sedikit kesal.
“Bos, ini perintah Nyonya Besar,” sahut Aldo santai.
Mendengar jawaban itu, Adrian hanya terdiam.
“Oke. Cepat ke sini.”
Telepon pun diputus.
Tak lama kemudian Adrian merasakan sebuah beban ringan bersandar di bahunya. Ia menoleh perlahan.
“Yah... dia sudah tidur,” gumamnya sambil tersenyum tipis. “Gampang sekali tidur. Mungkin dia benar-benar lelah.”
Beberapa menit kemudian sebuah mobil mewah berhenti tepat di depan mereka. Aldo turun sambil menguap lebar.
“Sudah pacarannya, Bos?” celetuknya usil.
Adrian sama sekali tidak menanggapi. Dengan sangat hati-hati ia mengangkat tubuh Kayla yang masih terlelap ke dalam pelukannya.
“Buka pintu belakang,” perintahnya.
Aldo segera membuka pintu.
Adrian membaringkan Kayla di kursi belakang dengan penuh kehati-hatian. Ia memastikan posisi tubuh wanita itu nyaman, lalu menutup pintu perlahan agar tidurnya tidak terganggu.
“Nih, bawa motor ini ke kantor,” katanya sambil melemparkan kunci motor kepada Aldo.
“Bos, masa saya disuruh bawa motor jelek ini? Bareng saja, sih.”
“Berisik,” balas Adrian datar. “Antar motor itu ke kantor. Bulan ini bonusmu dua kali lipat.”
Wajah Aldo langsung berbinar.
“Siap, Bos! Saya bawa motornya. Bos saja yang bawa mobil. Sering-sering pacaran, ya, Bos.”