NovelToon NovelToon
CINTA DI UJUNG KONTRAK.

CINTA DI UJUNG KONTRAK.

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Cintapertama / Romantis
Popularitas:9.2k
Nilai: 5
Nama Author: Ramanda

Bagi Davina, Barra adalah cinta pertama masa kecil yang tiba-tiba menghilang. Sepuluh tahun berlalu tanpa kabar, Barra kembali ke desa, bukan lagi sebagai pemuda hangat yang ia kenal, melainkan pria asing yang dingin. Tanpa basa-basi, Barra menyodorkan penawaran gila: pernikahan kontrak.

Demi membiayai pengobatan neneknya, Davina terpaksa setuju. Namun, berharap bahagia, hidupnya berubah menjadi mimpi buruk. Setelah menikah, Barra bersikap sangat kejam, hingga puncaknya pria itu pergi keluar negeri dan mengabaikannya selama dua tahun.

Saat masa kontrak hampir habis, Barra mendadak pulang. Anehnya, sikap pria itu berbalik 180 derajat menjadi sosok yang lembut, hangat, dan penuh perhatian, persis seperti Barra yang dulu ia cintai.

Perubahan drastis membuat Davina didera kecurigaan. Mengapa di saat kontrak akan berakhir, Barra justru ingin mempertahankannya? Rahasia besar apa yang sebenarnya disembunyikan Barra selama sepuluh tahun ini? Apa motif dibalik pernikahan kontrak mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

JANJI DI BAWAH BINTANG.

Matahari mulai condong ke barat, namun kemeriahan di atas bukit bunga justru semakin memuncak. Aroma rendang daging sapi premium dan kambing guling dari stan katering kelas satu berbaur dengan harumnya bunga mawar di udara. Warga desa tampak berlalu-lalang dengan piring penuh, tertawa riang menikmati hidangan yang biasanya hanya ada di hotel bintang lima kota besar.

Di sudut area tamu, sebuah rombongan kecil tampak berdiri mematung dengan mulut setengah terbuka. Pak Renaldi, Rendi, dan Reyhan, serta rekan-rekan kantor Davina yang sengaja diundang menggunakan bus khusus dari kota masih mencoba mencerna pemandangan di depan mereka.

"Dina, coba cubit lengan gue," bisik Reyhan sambil memegang kamera DSLRnya dengan lemas. "Ini beneran pesta di desa? Dekorasi bunganya aja kayaknya bisa buat beli rumah subsidi."

Rendi menelan ludah dengan susah payah, wajahnya tampak pias mengingat betapa seringnya ia meremehkan Davina dulu. "Gue nggak salah lihat, kan? Itu tendanya pakai AC sentral di luar ruangan? Gila, Tuan Barra bener-bener sultan!"

"Sudah, jaga sikap kalian," potong Pak Renaldi sambil membetulkan letak kemeja batiknya, meski matanya sendiri tidak berkedip menatap panggung pelaminan. "Jangan memalukan redaksi kita di depan CEO Alfarizi Group."

Di atas panggung pelaminan, sang objek pembicaraan sama sekali tidak memedulikan tatapan takjub dari para tamu. Fokus Barra seratus persen terkunci pada wanita di sampingnya.

"Vina, buka mulutmu sedikit," ucap Barra sambil mengarahkan sesendok kecil es krim vanila ke depan bibir Davina.

Davina celingukan dengan wajah merona merah. "Barra, malu dilihat orang-orang kantor itu. Pak Renaldi, Dina,sama Rendi dari tadi melihat ke sini terus."

"Biarkan saja mereka melihat. Tugas mereka memang melihat kesuksesan orang lain," sahut Barra santai, tidak menurunkan sendoknya sama sekali. "Ayo, buka mulutmu. Kamu belum makan dari siang, nanti magmu kambuh."

"Tapi..."

Sebelum Davina menyelesaikan protesnya, Barra sudah menyelinapkan sendok es krim itu ke dalam mulut istrinya. Davina terpaksa menelannya dengan wajah cemberut yang sangat menggemaskan, sementara Barra tersenyum puas, menggunakan ibu jarinya untuk mengusap sisa es krim di sudut bibir Davina dengan sangat lembut.

"Enak?" tanya Barra, matanya berbinar jenaka.

"Manis banget. Kayak kamunya yang mendadak jadi tukang suap," ketus Davina, membuat beberapa ibu-ibu desa yang kebetulan lewat di depan pelaminan langsung tertawa cekikikan.

"Aduh, Neng Vina, suaminya bucin sekali ya! Untung ganteng, kalau enggak sudah saya bawa pulang!" canda Bu RT sambil berlalu membawa piring buah.

Belum sempat rasa malu Davina mereda, ia berniat berdiri untuk menyapa Pak Renaldi yang mulai berjalan mendekati pelaminan. Namun, begitu ia melangkah, ujung gaun pengantinnya yang menjuntai panjang tersangkut di undakan kayu panggung.

"Eh..." Davina limbung.

Dengan sigap, lengan kekar Barra langsung merengkuh pinggang ramping Davina, menarik tubuh mungil itu kembali ke dalam dekapan dadanya sebelum sempat terjatuh. Tanpa memedulikan Pak Renaldi yang sudah berdiri di bawah panggung, Barra langsung berlutut di lantai pelaminan, dengan telaten membetulkan posisi kain brokat gaun Davina yang terlipat.

"Sudah kubilang hati-hati, Sayang," bisik Barra mendongak, menatap Davina dengan pandangan protektif. "Gaun ini dirancang untuk membuatmu terlihat seperti ratu, bukan untuk membuatmu balapan lari."

Pak Renaldi yang menyaksikan adegan itu langsung berdeham canggung. "Ehem. Selamat sore, Tuan Barra, Nyonya Davina. Selamat atas pernikahan resminya. Kami dari pihak redaksi ikut berbahagia."

Barra berdiri kembali, langsung mengubah ekspresi wajahnya menjadi formal namun tetap ramah saat menjabat tangan bos Davina. "Terima kasih sudah datang, Pak Renaldi. Pastikan anak buah Anda makan dengan kenyang, terutama yang suka menyebarkan gosip miring kemarin." Barra melirik tajam ke arah Rendi yang berdiri gemetar di belakang Pak Renaldi.

"T-tentu, Tuan Barra. Kami pasti menikmati pestanya," sahut Rendi dengan suara mencicit ketakutan.

Davina yang melihat tingkah suaminya hanya bisa menahan senyum, menyenggol pelan pinggang Barra dengan sikutnya agar pria itu tidak terlalu menakutkan bagi teman-temannya.

Malam pun tiba, membawa keheningan yang damai setelah hiruk-pikuk pesta rakyat usai. Truk-truk logistik mulai bergerak meninggalkan desa, dan para warga telah kembali ke rumah masing-masing dengan perut kenyang dan hati yang gembira.

Di pelataran depan rumah kayu Nenek yang sepi, udara malam terasa begitu sejuk. Nenek dan perawatnya sudah lama terlelap di dalam rumah karena kelelahan. Davina duduk di bangku bambu teras, sudah mengganti gaun megahnya dengan gamis kasual berwarna pastel, namun cincin berlian baru di jari manisnya masih berkilau di bawah temaram lampu teras.

Sebuah cangkir berisi cokelat hangat tiba-tiba ditempelkan ke pipi Davina, membuatnya sedikit tersentak.

"Dingin begini malah melamun di luar," ujar Barra yang kini sudah memakai kaus hitam santai. Ia duduk di samping Davina, menyerahkan cangkir tersebut.

"Terima kasih," balas Davina pelan, menyesap minuman hangat itu. "Aku cuma masih merasa seperti mimpi. Pesta tadi... semuanya terasa begitu indah."

Barra menyandarkan punggungnya pada sandaran bambu, menatap hamparan langit malam desa yang dipenuhi gugusan bintang tanpa polusi udara kota. "Ini bukan mimpi, Davina. Ini adalah awal yang baru untuk kita."

Davina menoleh, menatap profil samping wajah suaminya yang tegas. "Barra, kontrak dua tahun kita... benar-benar sudah selesaikan?"

Barra tersenyum tipis. Ia merogoh saku celananya, mengeluarkan sebuah benda kecil berkilau yang sangat Davina kenali. Itu adalah cincin emas putih polos, cincin pernikahan kontrak lama mereka yang sempat Davina tinggalkan di meja kerja Barra tempo hari.

"Kamu masih menyimpannya?" tanya Davina terkejut.

"Aku menyimpannya untuk melakukan ini," jawab Barra tegas. Pria itu berdiri, menuntun Davina berjalan menuju sebuah sumur tua berbahan batu yang terletak di pojok pekarangan rumah Nenek.

Di bawah saksi bisu kerlipan bintang-bintang di langit, Barra mengangkat cincin lama tersebut tinggi-tinggi. Tanpa ragu sedikit pun, ia menjatuhkan benda logam itu ke dalam kegelapan sumur tua.

Plung.

Suara air yang terpercik kecil menandai tenggelamnya masa lalu mereka yang penuh dengan batasan, paksaan, dan lembaran kontrak tertulis.

Barra berbalik, langsung membawa tubuh mungil Davina ke dalam pelukan hangatnya yang begitu kokoh dan posesif. Ia melingkarkan kedua tangannya di pinggang Davina, mengunci wanita itu erat-erat di dalam dekapannya seolah takut kehilangan lagi.

Davina menyandarkan kepalanya di dada bidang Barra, menghirup aroma maskulin suaminya yang menenangkan. Tidak ada lagi rasa sesak, tidak ada lagi ketakutan akan hari esok. Yang ada hanyalah detak jantung mereka yang kini berdenyut dalam ritme yang sama.

Barra merendahkan wajahnya, mengecup puncak kepala Davina dengan kelembutan yang teramat dalam, lalu berbisik dengan suara bariton yang sangat rendah namun menggetarkan seluruh jiwa istrinya.

"Malam ini adalah malam pertama kita yang sesungguhnya, Nyonya Alfarizi. Tanpa akhir kontrak, tanpa syarat."

Davina mendongak, menatap mata elang suaminya dengan binar cinta yang kini telah seutuhnya membuka hati. "Ya, suamiku. Mari kita mulai semuanya dari awal."

Di bawah naungan langit malam desa yang penuh bintang, fase pernikahan kontrak mereka telah resmi ditutup dengan kebahagiaan mutlak.

1
Lia siti marlia
akhirnya semua sudah jelas davina kalau yang barra lakukan adalah untuk melindungimu semata 🤗🤗🤗
Lia siti marlia
untung nya kakek barra keburu datang 🤗🤗
Eliermswati
akhirnya tahta tertinggi d rmh Barra dtng😂q sk gy mu kakek badaaass kern😂😂😍smngt thor up nya
Lia siti marlia
kirain udah sampai masion mau unboxing eh malah ada aja gangguan sabar yah barra 🤗🤗🤗
tiara
Baru saja merasakan bahagia,cobaan sudah kembali datang menghampiri.semoga badai cepat berlalu
Lia siti marlia
lanjutkan barra davina 😍😍😍
Lia siti marlia
cie cie cie 😍😍😍😍
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
ElHi
🤣🤣🤣🤣
Lia siti marlia
kocak juga kalau ceo tegas kebucinnan 🤗🤗😂😂😂
ElHi
malang nian desainer ituu😤😤🤣🤣
Lia siti marlia
ihhhh barra posesif bangetttt🤗🤗🤗
Lia siti marlia
otw kondangan nih ....aku di undang gak barra lumayan kan makan gratis 🤭🤭🤭🤣🤣🤣
ElHi
syukurlah kalo gak boleh bawa amplop ya Vin....soalnya aku jg lagi tongpes nih Vin...bawa gigi...ehh doa maksutnya....gpp kan yaa🤣🤣🤣
Lia siti marlia
lah kebiasaan deh dikat pas lagi degdegan bacaaa🤭🤭🤭
Lia siti marlia
semoga kalian berjodoh sehingga authorr gak memisahkan kalian 🤣
Lia siti marlia
oh yang neror tuh c silfany ...hati hati kamu silfany jangan sampai nanti kamu menyesal karna udah ganggu davina 🤣🤣
ElHi
Silfani..oh Silfani😤😤😤
Oma Gavin
silfany sudah gila karena diceraikan barra
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!