Dua jam sebelum akad, Devon tiba-tiba dijebak masuk penjara. Demi harga diri keluarga, Liam terpaksa turun tangan menjadi pengantin pengganti untuk menikahi Mira Hazelya.
Namun, malam pertama yang seharusnya indah justru berubah menjadi neraka. Liam murka saat mendapati fakta bahwa istri barunya ternyata sudah tidak lagi perawan!
"Kau memanfaatkanku?! Kau menjebakku untuk menjadi penanggung jawab dosa orang lain?!" bentak Liam penuh amarah, siap melayangkan talak.
Tepat sebelum Liam melangkah pergi, sebuah rahasia besar terbongkar. Noda di tubuh Mira bukan karena ia wanita murahan, melainkan bukti pengorbanan berdarah demi menyelamatkan keluarga Liam dari kehancuran.
Saat rasa benci dalam semalam berubah menjadi rasa bersalah yang mencekik dada, sanggupkah Liam menyembuhkan luka di hati Mira? Sementara di kampus, mereka harus bersandiwara seolah tidak saling kenal!
Kita Simak Yuk Kisah Selanjutnya Di Novel => Istri Pengganti Yang Terluka.
By - Miss Ra.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Papan tulis digital di depan ruang kuliah utama Fakultas Ilmu Sosial memampangkan deretan nama yang membagi mahasiswa menjadi beberapa kelompok kecil. Di baris kelima, sebuah kombinasi nama tercetak dengan tinta digital tebal. Kelompok 4 - Rian Satria & Hilmira Hazelya.
Hilmira menatap layar tersebut dari bangku barisan tengah dengan jemari yang meremas ujung jilbab abu-abunya.
Di balik cadar sifon hitamnya, helaan napas berat keluar secara perlahan. Menjadi pusat perhatian adalah hal terakhir yang ia inginkan di kampus ini, dan dipasangkan dengan Rian, sang Ketua BEM yang memiliki ribuan pasang mata pengagum adalah definisi dari magnet perhatian.
"Hei," sebuah suara bariton yang ramah memecah kecemasan Hilmira.
Rian melangkah mendekat dengan senyum hangat khasnya, membawa sebuah laptop tipis di tangan kanan. Ia mengambil posisi duduk di kursi kosong tepat di sebelah Hilmira, namun dengan jarak satu jengkal yang sangat sopan. "Kelihatannya takdir memihak kita untuk proyek metode penelitian ini. Mohon bantuannya ya, Hilmira."
Hilmira hanya mengangguk pelan, menyembunyikan wajahnya di balik buku teks. "Mohon bantuannya juga, Kak Rian."
"Jangan terlalu formal. Panggil Rian saja kalau di luar jam organisasi," Rian terkekeh pelan, membuka laptopnya dan menyorongkan layar ke arah Hilmira. "Aku sudah membuat draf awal untuk proposal kita. Bagaimana kalau kita bagi tugas? Aku bagian observasi lapangan, dan kamu bisa fokus pada analisis data sekunder agar kamu tidak perlu terlalu sering keluar kelas. Aku tahu kamu kurang nyaman dengan keramaian."
Perhatian yang begitu detail dan tulus dari Rian membuat dinding pertahanan Hilmira sedikit melunak. Dari balik cadarnya, sepasang mata bulatnya memancarkan rasa syukur. Rian tidak pernah bertanya mengapa ia bercadar, tidak pernah menghakimi traumanya, dan selalu memberinya ruang aman.
Namun, sebelum Hilmira sempat membalas kalimat Rian, pintu kayu ganda ruang kuliah berdentum terbuka dengan ketukan yang tegas dan presisi.
Brak.
Atmosfer di dalam ruangan yang semula bising oleh obrolan mahasiswa mendadak senyap seketika. Suhu udara seolah turun beberapa derajat secara drastis.
Sesosok pria dengan postur tubuh tegap setinggi 185 sentimeter melangkah masuk ke dalam ruangan. Ia mengenakan kemeja rajut hitam berkerah tinggi yang dibalut dengan jas kasual berstruktur tegas berwarna abu-abu gelap.
Celana bahan hitamnya menonjolkan kakinya yang panjang dan jenjang. Rambut hitamnya ditata rapi ke belakang, mengekspos dahi dan garis rahang yang setajam pahatan marmer.
Arkan Oliver.
Langkah kakinya yang berat dan berwibawa mengetuk lantai ruang kuliah, memancarkan aura dominasi mutlak seorang CEO yang salah memasuki ruangan. Di belakangnya, dosen pengampu mata kuliah, Profesor Danu, berjalan mengekor dengan senyum sumringah.
"Selamat siang semuanya," Profesor Danu berdehem, memecah keheningan mahasiswa yang masih terpaku pada visual Arkan. "Untuk mendampingi proyek penelitian besar semester ini, departemen telah menunjuk asisten dosen dan pengawas khusus dari mahasiswa tingkat akhir berprestasi. Dia akan memantau, memeriksa, dan memberikan penilaian objektif pada setiap kerja kelompok kalian. Silakan perkenalkan dirimu, Arkan."
Arkan melangkah maju ke depan podium. Ia meletakkan tablet digitalnya di atas meja dengan bunyi klik yang dingin. Sepasang mata elangnya yang tajam menyapu seisi ruangan, sebelum akhirnya berhenti dan mengunci tepat pada satu titik di barisan tengah, pada posisi duduk Hilmira dan Rian yang berada dalam jarak dekat.
Rahang Arkan mengeras samar. Kilat kemarahan dan kecemburuan yang pekat melintas di netranya selama satu detik sebelum kembali tertutup oleh topeng esnya yang sempurna.
'Satu kelompok? Dan dia tersenyum padanya ?' batin Arkan, egonya terasa diremas hingga panas membakar dada bidangnya.
Berita tentang pembagian kelompok ini ia ketahui secara tidak sengaja dari sistem akademik pusat setengah jam yang lalu. Tanpa berpikir dua kali, Arkan menggunakan pengaruh nama besar Oliver Group dan koneksi akademisnya untuk langsung mendaftarkan diri sebagai pengawas kelas ini dalam waktu kurang dari lima menit.
Persetan dengan kontrak "Satu Semester" yang mengharuskannya berpura-pura asing. Ia tidak akan membiarkan pria lain berlama-lama berada di radius satu meter dari istrinya.
"Nama saya Arkan Oliver," suara baritonnya yang berat, dalam, dan berwibawa menggema di setiap sudut ruangan, membuat beberapa mahasiswi di barisan depan menahan napas karena pesona suaranya yang begitu seksi. "Selama satu semester ke depan, saya yang akan mengawasi seluruh aktivitas kelompok kalian. Saya tidak menyukai kelalaian, dan saya tidak akan segan memberikan nilai mati bagi kelompok yang mencampuradukkan urusan pribadi dengan tugas akademis."
Kata-kata terakhir Arkan diucapkan dengan penekanan yang sangat dingin, matanya menatap lurus ke arah Rian dengan tatapan menantang yang penuh intimidasi.
Rian, yang merasakan aura permusuhan yang mendadak diarahkan padanya, menyipitkan matanya. Sebagai ketua BEM, ia terbiasa menghadapi berbagai karakter, namun aura berbahaya yang dipancarkan oleh pewaris Oliver ini terasa sangat personal.
"Baik, sekarang silakan berkumpul dengan kelompok masing-masing dan mulai diskusikan draf kalian. Arkan akan berkeliling untuk memeriksa progress awal," perintah Profesor Danu sebelum duduk di kursinya.
Atmosfer di barisan tengah kian meresahkan. Hilmira menundukkan kepalanya sedalam mungkin hingga dahinya hampir menyentuh meja. Jantungnya berdegup gila, bukan karena takut pada tugas, melainkan karena ia bisa merasakan tatapan mata Arkan yang intens dan membakar seolah sedang menguliti punggungnya.
Drap... Drap... Drap...
Suara langkah kaki Arkan terdengar mendekat. Arkan sengaja melewati Kelompok 1, 2, dan 3 dengan kilat, hanya memberikan anggukan dingin, sebelum akhirnya menghentikan langkah kakinya tepat di samping meja Kelompok 4. Di samping meja Hilmira dan Rian.
Tubuh tinggi tegap Arkan menjulang di samping mereka, menciptakan bayangan besar yang mengurung Hilmira di bawah dominasinya. Aroma parfum maskulin yang mewah bercampur kesegaran mint dari tubuh Arkan langsung menyelimuti udara di sekitar meja itu, aroma yang sangat dihafal Hilmira setiap malam di rumah.
Arkan mencondongkan sedikit tubuhnya ke arah meja, bertumpu dengan satu tangan kekarnya di atas sandaran kursi Hilmira, seolah secara tidak langsung sedang mengklaim kepemilikannya di depan Rian. Jam tangan peraknya berkilau di bawah lampu neon ruangan.
"Kelompok 4," ujar Arkan, suaranya terdengar sangat rendah dan berbahaya di dekat telinga Hilmira. "Bisa saya lihat draf proposal kalian?"
Rian dengan tenang memutar laptopnya menghadap Arkan. "Ini draf kami, Kak Arkan. Kami sudah membagi tugas dengan adil agar efisien."
Arkan tidak melihat ke arah layar laptop. Matanya justru tertuju pada jemari Hilmira yang gemetar di atas pangkuannya. Rasa ingin melindungi yang teramat besar bergejolak di dadanya, berbaur dengan rasa cemburu yang kian membakar egonya saat melihat Rian yang tampak begitu akrab dengan wanitanya.
Arkan mengambil tablet digitalnya, lalu mengetuk layarnya dengan gerakan jari yang dinamis dan tegas.
"Draf ini ditolak," cetus Arkan dingin tanpa ekspresi.
Rian tertegun, dahinya berkerut dalam. "Ditolak? Atas dasar apa? Kami bahkan belum menjelaskan metodologinya..."
"Metodologinya terlalu lemah," potong Arkan mutlak, memangkas kalimat Rian dengan otoritas seorang penguasa. "Dan pembagian tugas kalian tidak efisien. Analisis data sekunder tidak bisa dilakukan secara terisolasi. Mulai besok, setiap diskusi kelompok ini harus dilakukan di bawah pengawasan saya langsung di ruang asistensi. Tidak ada kerja kelompok di luar jam kampus tanpa persetujuan tertulis dari saya."
Rian bangkit berdiri dari kursinya, membuat tinggi badannya kini sejajar dengan Arkan. Kedua pria tampan dan berpengaruh di kampus itu kini saling berhadapan dengan jarak dekat, menciptakan ketegangan emosional yang begitu pekat hingga mahasiswa lain di ruangan itu mulai berbisik-bisik tegang.
"Kak Arkan, dengan segala hormat, sebagai pengawas Anda terlalu berlebihan," ujar Rian dengan nada yang tetap tenang namun menantang. "Ini hanya tugas semester, tidak perlu ada batasan seketat itu untuk kami berdua."
Arkan menatap Rian dengan mata elangnya yang sedingin es. Sudut bibirnya terangkat sedikit, membentuk seringai tipis yang meremehkan namun tampak begitu menawan di wajah tampannya.
"Di kelas ini, aturan saya adalah hukum, Rian," sahut Arkan dengan suara baritonnya yang berat dan penuh penekanan. Ia membetulkan posisi jas abu-abunya dengan gestur yang sangat berkelas sebelum melirik ke arah Hilmira.
"Pastikan kelompokmu mematuhi aturan ini, Hilmira Hazelya. Jika tidak... aku tidak akan segan memberikan konsekuensi yang tidak akan pernah kau lupakan."
Mendengar nama lengkapnya disebut dengan nada intim namun menuntut dari bibir Arkan, jantung Hilmira berdesir aneh dengan debaran yang kian tak terkendali.
Sandiwara satu semester di kampus ini baru saja dimulai, namun tindakan nekat Arkan yang mendaftarkan diri sebagai asisten dosen demi mengawasinya telah membakar seluruh garis pembatas yang mereka buat, menjebak Hilmira di antara kecemburuan sang suami dan insting protektif pria yang menolak melepaskannya.
...----------------...
To Be Continue ....
marah tandanya sayang 🤗
Arkan kamu sudah lupa dengan perjanjian itu 🤸🏼♀️😅
padahal bagus Liam
makanya jangan sok berkuasa 🫤🫤
emangnya seperti apa?