No Plagiat ❌
Sejak kecil, Valerie Sinclair selalu bermimpi tentang seorang anak laki-laki bernama Hazel yang tumbuh bersamanya, namun setelah Hazel di mimpinya tumbuh remaja wajahnya tak pernah terlihat jelas. Setelah kehilangan kedua orang tuanya dalam kecelakaan tragis, Valerie menikah kontrak dengan Damian demi membalas budi keluarga konglomerat yang diselamatkan orang tuanya.
Seiring waktu, Valerie jatuh cinta pada Damian karena sosoknya begitu mirip dengan pria dalam mimpinya. Namun sikap Damian yang dingin membuat Valerie memilih bercerai. Saat Damian akhirnya menyadari perasaannya dan berusaha merebut kembali hati Valerie, sebuah kecelakaan mengungkap rahasia mengejutkan tentang mantan istrinya yang membuat Damian prustasi.
Mampukah Damian mendapatkan kembali cinta wanita yang pernah ia sia-siakan, atau kesempatan kedua ini justru datang terlambat?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luh Belong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kembali pulang
Keesokan paginya, dokter akhirnya mengizinkan Valerie pulang. Kondisinya sudah jauh lebih baik. Wajahnya memang masih terlihat pucat, tetapi rona segar perlahan mulai kembali menghiasi wajahnya.
Nyonya Margaretha tak mampu menyembunyikan kebahagiaannya.
“Syukurlah,” ucapnya sambil menggenggam tangan Valerie. “Akhirnya cucuku boleh pulang,”
Setelah seluruh proses administrasi selesai, mobil meluncur pulang. Setibanya di mansion keluarga Robert, Damian dengan hati-hati membantu Valerie turun dari mobil. Ia menggenggam tangan Valerie, memastikan gadis itu melangkah dengan aman hingga memasuki rumah.
Valerie kemudian duduk di sofa ruang utama untuk beristirahat. Tak lama kemudian, Clara datang menyambut mereka dengan senyum hangat.
“Selamat datang kembali, Nona Muda.”
Dengan penuh perhatian, Clara mempersilakan Valerie menuju meja makan.
“Saya sudah menyiapkan makanan yang bergizi. Dokter pasti menyarankan Nyonya untuk banyak mengonsumsi makanan sehat agar cepat pulih.”
Valerie tersenyum tipis.
“Terima kasih, Clara.”
Beberapa saat kemudian, Valerie dan Damian kembali duduk di meja makan yang sama. Meski suasana masih canggung, setidaknya mereka menikmati hidangan dalam keheningan yang tidak lagi terasa penuh permusuhan.
Di tengah sarapan, pintu depan kembali terbuka. Nyonya Margaretha masuk dengan wajah ceria, sementara Boby berjalan di belakangnya sambil menyeret sebuah koper besar.
Damian yang melihat pemandangan itu mengernyit heran.
“Nenek...?”
“Nenek mau kemana... menapa membawa koper sebesar itu?”
Nyonya Margaretha tersenyum lebar.
“Damian,”
“Valerie.”
“Mulai hari ini aku akan tinggal di sini.”
Semua orang sontak menoleh.
“Aku akan menjaga cucuku Valerie, dan memastikan kamu juga melindunginya.”
Damian terlihat pasrah, lalu memijat keningnya.
“Nenek tidak mau ada kejadian seperti semalam itu, kalian harus pastikan tidak ada pertengkaran selama Nenek disini.”
Ia melirik Damian dengan tatapan penuh makna.
“Keberadaanku tidak akan menyulitkanmu kan Damian?”
Damian hanya bisa mengembuskan napas pelan, lalu tersenyum pada neneknya.
Dengan senyum jahil, Nyonya Margaretha menambahkan,
“Siapa tahu, kalau Nenek tinggal di sini, Nenek bisa lebih cepat menggendong cicit.”
“Uhuk... uhuk...”
Valerie yang sedang menelan langsung tersedak mendengar kalimat itu, Damian dengan sigap menyodorkan segelas air kepadanya. Ia kemudian memberi isyarat kepada Clara. Mengerti maksud Damian, Clara segera mengangguk.
“Bella, ayo!”
Keduanya langsung menuju lantai atas. sementara itu, Luna menghampiri Boby dan mengambil alih koper besar tersebut untuk dibawa ke kamar yang telah dipersiapkan.
Melihat Valerie sudah sedikit tenang, Nyonya Margaretha berjalan mendekatinya.
“Valerie sayang?”
“Nenek punya sesuatu untukmu.”
Dari dalam kotak beludru kecil, ia mengeluarkan sebuah cincin bermata permata berwarna hijau zamrud yang memancarkan kilau lembut.
“Lihatlah, cantik dan elegan kan. Nenek ingin kamu memakainya.”
Valerie memandang cincin itu dengan heran.
“Ini adalah pusaka keluarga Robert,”
Nyonya Margaretha tersenyum sambil menggenggam tangan Valerie.
“Sudah diwariskan turun-temurun kepada perempuan yang menjadi menantu keluarga kami.”
Dengan penuh kasih, ia menyematkan cincin itu ke jari manis Valerie.
“Dulu, ibu Damian juga pernah memakainya.”
Valerie tampak ragu.
“Nek... cincin ini terlalu berharga, lebih baik simpan dengan baik saja.”
Nyonya Margaretha menggeleng pelan.
“Bagi Nenek, keselamatanmu jauh lebih berharga daripada benda apa pun.”
Wanita tua itu tersenyum lembut.
“Anggap saja cincin ini sebagai jimat keluarga. Semoga cincin ini menjadi pengingat bahwa mulai hari ini, tidak akan ada lagi nasib buruk yang berani menghampirimu.”
Matanya berkaca-kaca menatap cincin yang kini melingkar di jarinya. Ia tersenyum, lalu memeluk Nyonya Margaretha.
“Terima kasih, Nenek.”
Nyonya Margaretha mengusap lembut pipi Valerie, sementara Damian hanya memandangi keduanya dalam diam. Ia juga merasakan kehangatan kembali datang ke rumahnya.
Setelah selesai makan, Damian menoleh ke arah Valerie dan memberi isyarat dengan kepalanya.
“Ayo. Dokter bilang kamu masih harus banyak istirahat.”
Valerie mengangguk pelan. Ia berpamitan kepada Nyonya Margaretha, lalu mengikuti Damian menuju lantai dua. Melihat keduanya berjalan berdampingan, Nyonya Margaretha hanya tersenyum puas.
“Istirahat yang cukup, ya sayang.”
“Baik, Nenek,” jawab Valerie pelan.
Sesampainya di lantai atas, Damian membuka pintu kamarnya dan mempersilakan Valerie masuk.
Valerie berhenti di ambang pintu.
“Ini bukan kamarku, Damian!”
Damian menatapnya sejenak.
“Kamu sudah lupa?”
Valerie mengernyit.
“Jika Nenek tinggal di rumah ini, kita harus tetap terlihat seperti pasangan suami istri yang normal. Jadi mulai hari ini kita berdua berpura-pura normal dulu.”
Valerie terdiam beberapa detik sebelum akhirnya memasang wajah kesal.
“Jadi sebelumnya kita pasangan yang abnormal?”
Ia mengembuskan napas panjang, lalu masuk kedalam dan menjatuhkan tubuhnya ke sofa dengan wajah melas.
“Terus... aku tidur di mana?”
“Di kasur.”
Valerie langsung menoleh cepat.
“Tapi kasurnya satu Damian?!”
Damian meletakkan kedua tangannya di pinggang, memasang raut wajah lelah.
“Kasurnya segede gaban, Valerie. Kamu bisa pencak silat diatasnya.”
Damian melanjutkan dengan tenang,
“Sudahlah. Aku di sisi kiri, kamu di sisi kanan. Kita pasang bantal panjang di tengah sebagai pembatas.”
Valerie spontan menggeleng.
“Aku tidak mau.”
“Apa alasanmu menolak?”
Valerie menggigit bibir bawahnya sebelum menjawab dengan jujur.
“Aku takut, masih trauma, dan belum merasa aman tidur denganmu.”
Valerie menundukkan wajahnya.
“Bayangan malam itu masih menghantuiku.”
Kalimat itu membuat Damian terdiam. Ia memahami mengapa Valerie masih merasa cemas. Dengan nada yang lebih lembut, ia berkata.
“Aku mengerti. Setelah apa yang terjadi, wajar kalau kamu belum bisa percaya kepadaku.”
Damian menjaga jarak saat berbicara.
“Aku berjanji akan menghormati batasanmu. Aku tidak akan menyentuhmu tanpa persetujuanmu, tidak akan membentakmu, dan kalau kamu merasa tidak nyaman kapan pun, katakan saja.”
Ia mengembuskan napas pelan.
“Tolong, aku meminta tolong kepadamu, bertahanlah selama enam bulan lagi. Setelah itu kamu bebas.”
Valerie mengembuskan napas panjang. Wajahnya langsung berubah cemberut.
“Isi kontrak sebelumnya juga begitu, blablabla. Nyatanya kamu menyentuh dalam semalam dan membuatku trauma.”
“Apa lagi enam bulan...?”
Ia menggumam pelan.
“Lebih baik revisi skripsi enam bulan tanpa henti daripada harus sekamar denganmu selama itu.”
Damian nyaris terkekeh mendengar keluhan itu. Untuk pertama kalinya sejak beberapa hari terakhir, ekspresi Valerie yang mengerucutkan bibir dan mengerutkan kening terlihat begitu menggemaskan. Tanpa sadar Damian tersenyum dengan tingkah Valerie.
“Kalau begitu,” katanya pelan, berusaha menahan senyum, “Aku berharap dosen pembimbingmu tidak semenakutkan diriku.”
Valerie mendelik kesal.
“Apa sih.”