Xue Yao, murid pertama Sekte Yiyuan, kehilangan segalanya ketika Raja Iblis menghancurkan sektenya. Sebagai satu-satunya yang selamat, ia melarikan diri membawa pusaka sekte, Cincin Zhutian, demi membalas dendam.
Namun saat dikepung musuh, ia menghancurkan kultivasi dan memecah kesadarannya sendiri. Takdir justru membuat seluruh serpihan kesadarannya terserap ke dalam Cincin Zhutian dan tersebar ke berbagai dunia. Setelah hampir seratus tahun tertidur, Xue Yao terbangun dan mendapati setiap serpihan hidup dalam penderitaan akibat keterikatan batin yang dapat melahirkan iblis hati.
Kini, dengan kekuatan Cincin Zhutian, ia harus kembali ke setiap dunia untuk menyelamatkan, mengumpulkan, dan menyatukan kembali seluruh serpihan jiwanya. Namun, mampukah Xue Yao mengembalikan dirinya yang utuh... atau justru kehilangan segalanya untuk kedua kalinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zhu Ge Liang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Takdir yang Tertukar⁸
"Bagaimana persiapan pesta ulang tahun itu? Dari besarnya perhelatan, tampaknya mereka benar-benar mengerahkan banyak tenaga."
Sang kakek menyesap teh, lalu dengan santai menjatuhkan sebuah batu hitam, membentuk kepungan yang menelan sebagian besar batu putih dipapan catur.
Xue Yao mengerutkan kening menatap posisi papan, lalu sudut bibirnya terangkat dengan senyum yang agak menggoda.
"Tentu saja sangat baik. Beberapa hari ini aku sampai hampir pingsan karena mencoba berbagai gaun. Pakaian yang kulihat dalam beberapa hari terakhir ini bahkan lebih banyak daripada yang kulihat selama delapan belas tahun sebelumnya."
Untuk menunjukkan betapa mereka menghargai Xue Yao, Xue Ba dan istrinya memang tidak ragu mengeluarkan biaya besar.
Mereka bukan hanya memanggil berbagai rumah mode mewah untuk mengirimkan koleksi adibusana musim terbaru, tetapi juga secara khusus mendatangkan seorang perancang adibusana ternama dari negara H untuk mengukur tubuh Xue Yao secara langsung.
Biasanya, proses pembuatan adibusana membutuhkan waktu sedikitnya tiga bulan. Kali ini, seluruhnya harus selesai dalam waktu kurang dari satu bulan, yang jelas menunjukkan betapa besar imbalan yang mereka bayarkan.
Namun bagi Xue Yao, semua itu justru terasa ironis.
Perhatian semacan ini, seandainya diberikan saat ia pertama kali dibawa pulang, mungkin masih bisa mengundang rasa haru.
Tetapi terjadi sekarang, hanya menimbulkan rasa getir.
Sang kakek pun memahami hal itu dengan jelas.
Ia sangat mengenal putra sulung dan menantu perempuannya.
Dua bunga yang tumbuh dirumah kaca. Keatas tidak berani menentang perintahnya, kebawah tidak mampu mengendalikan putra mereka yang keras kepala.
Dulu, ia memilih mereka bukan karena kecerdasan, melainkan karena kepatuhan.
Pada tingkat kekayaan tertentu, mempertahankan apa yang ada jauh lebih sulit daripada mengembangkan.
Dengan sikap yang kini ia tunjukkan, wajar jika mereka memperlakukan Xue Yao dengan perhatian berlebihan, bahkan tampak penuh semangat dan pengorbanan.
"Pada hari itu aku juga akan datang. Beberapa sahabat lama kakek pun akan hadir. Mereka semua sangat penasaran denganmu."
Dikatakan penasaran, sebenarnya sang kakek bermaksud mengundang rekan-rekan lamanya untuk memberi dukungan.
Bagi keluarga Xue, mungkin hal itu tidak terlalu penting.
Namun bagi Xue Yao, yang akan pertama kali tampil dihadapan publik sebagai nona keluarga Xue, martabat semacam ini sangat berharga.
Sebelumnya, keluarga Xue telah membawa pulang putri kandung mereka, tetapi lama tidak memperkenalkannya secara terbuka. Hal itu cukup menimbulkan berbagai spekulasi negatif dari luar.
Kemunculan sang kakek beserta para sahabatnya yang setara kedudukannya adalah sebuah isyarat, menandakan betapa keluarga Xue mengahargai putri ini.
Kelak, didunia pergaulan sosial, jalan Xue Yao pun akan lebih mudah.
Semua itu tentu demi Xue Yao.
Ia dengan lembut menurunkan sebuah batu putih, lalu mengangkat kepala dan bertanya dengan nada jenaka, "Kalau begitu, apakah Tuan Tua Su juga akan hadir?"
Tuan Tua Su adalah kakek Su Chen, sekaligus sahabat karib sang kakek.
Keduanya berkenalan didunia bisnis pada masa muda. Awalnya menjadi lawan sekaligus kawan, bahkan pernah menyukai perempuan yang sama. Hingga kemudian keluarga Su mengalami musibah, dan kakek Xue turun tangan membantu tanpa ragu. Sejak itu, hubungan mereka terjalin erat selama puluhan tahun.
Xue Yao pernah bertemu dengan Tuan Tua Su di Xulan Shi.
Saat melihatnya, lelaki tua itu terdiam cukup lama, lalu hanya mengucapkan satu kalimat, "Mirip. Sangat mirip."
Mendengar pertanyaan Xue Yao, sang kakek mengangguk. "Dia pasti datang. Dan undangan untuknya, harus kau tulis sendiri."
Bukan hanya sebagai bentuk penghormatan, tetapi juga sebagai permintaan maaf tersirat atas pemanfaatan Su Chen sebelumnya.
Keluarga Su bukan orang bodoh. Mungkin saat itu mereka belum menyadarinya. Tetapi setelah melihat rangkaian tindakan keluarga Xue dalam beberapa hari terakhir, mereka tentu mengerti bahwa Tuan Muda mereka telah dimanfaatkan secara tidak langsung.
Meski keluarga Su tidak akan mempermasalahkannya, sikap keluarga Xue tetap perlu ditunjukkan.
Xue Yao tentu memahaminya.
Ia bersandar kebantalan dibelakangnya dan tersenyum tipis. "Aku mengerti, kakek."
Baru saat itu sang kakek menyadari bahwa batu hitam yang sebelumnya tampak unggul kini justru terperangkap sepenuhnya.
Satu batu putih telah membalikkan keadaan, menghidupkan kembali posisi yang semula mati.
Yang lebih menyedihkan, sebelumnya ia masih merasa yakin bahwa dirinya memegang kendali.
Ia mengembalikan batu hitam kedalam kotak giok, lalu menggelengkan kepala sambil tersenyum. "Kau ini benar-benar licik."
Begitu cerdas hingga membuat orang terkejut.
Jika ia tidak tahu bahwa ibu angkat Xue Yao dulu tidak mungkin membiarkannya belajar catur, sang kakek hampir mengira bahwa gadis dihadapannya telah berlatih catur selama belasan tahun.
Keesokan harinya, undangan yang ditulis sendiri oleh Xue Yao diantarkan oleh Zhang Xu kepada Tuan Tua Su.
Undangan itu sangat istimewa, berupa sebuah kipas lipat.
Ketika dibuka, terlihat goresan tulisan semi-kursif yang penuh tenaga.
Meski tampak jelas guratan tulisannya masih muda, namun aura bebas dan tegas yang terpancar darinya sangat jarang ditemui oleh Tuan Tua Su.
Kesan muda itu wajar, karena tubuh Xue Yao baru saja belajar kaligrafi sang kakek. Betapapun berbakatnya, waktu tetap diperlukan.
Namun keluwesan dan ketegasan itu adalah bawaan dirinya.
Baik menulis maupun menggambar jimat, ia selalu demikian, sekali sapuan. Selesai dengan anggun dan lugas.
"Cucu perempuan si Tua Xue ini, benar-benar luar biasa."
Ia melemparkan kipas itu kearah pria yang duduk di sofa di seberangnya, lalu berkata lantang. "Di undangan ini, gadis itu menuliskan secara khusus budi penyelamatan nyawamu. Pada hari pesta nanti, kau ikut denganku."
Pria yang duduk di sofa itu adalah Su Chen.
Seperti biasa, ia tampak malas dan santai. Tangan kirinya menopang kepala, sementara tangan kanannya mengelus mengelus seekor anjing mastiff tibet besar yang berjongkok dikakinya. Ekspresinya tampak acuh tak acuh.
Bertolak belakang dengan parasnya yang garang dan aura berwibawa, dipergelangan tangan kanannya justru melingkar untaian tasbih.
Kontras yang ekstrem ini menimbulkan kesan misterius yang membuat orang tanpa sadar ingin menelusurinya lebih jauh.
"Aku tidak akan pergi."
Ia melemparkan kipas itu ke samping, bahkan tanpa membukanya.
Melihat sikapnya, Tuan Tua Su langsung memahami segalanya.
"Tuan Muda kecil kita yang keras kepala ini, jarang-jarang tergerak menolong orang. Tidak disangka, ternyata perbuatan baikmu itu justru menjadi bagian dari rencana orang lain. Penyelamatanmu, rasa iba hatimu, semuanya menjadi pijakan bagi kejayaan yang ia raih sekarang. Jadi kau merasa tidak nyaman dan enggan bertemu dengannya, bukan?"
Wajah Su Chen seketika menggelap.
Memang benar. Setelah rangkaian peristiwa itu terjadi, ia baru menyadari bahwa dirinya telah menjadi alat dalam konflik internal keluarga Xue. Tindakannya menyelamatkan seseorang hari itu, pada hakikatnya telah menjadi sebuah sikap berpihak.
Dan kini, orang itu malah mengirimkan undangan langsung kepadanya.
"Chen'er, sejak lahir kau adalah Tuan Muda Kedua keluarga Su. Hidupmu serba berkecukupan, mobil sport, jam tangan mewah. Bahkan saat masa pemberontakanmu dengan olahraga ekstrem, yang mendampingimu adalah pelatih dan tim medis terbaik dunia. Disekitarmu selalu ada orang-orang baik, sehingga kau bisa berdiri ditempat tinggi dan memandang dunia. Tetapi tidak semua orang seperti itu."
Tuan Tua Su menghela napas, lalu bangkit dan melangkah keluar dari ruang teh.
"Undangannya sudah dikirim, sikapnya pun telah ditunjukkan. Tinggal apakah kau bisa memikirkannya dengan jernih."
Su Chen terdiam cukup lama.
Akhirnya, ia berdiri dan mengambil kembali kipas lipat yang tadi dilemparkan kesamping.
Pesta ulangtahun Xue Yao pun tiba ditengah penantian banyak orang.
Namun di Kediaman Shanse, Xue Mo diam-diam membawa seseorang masuk melalui garasi bawah tanah, menghindari para pelayan, lalu langsung menuju kamarnya.
Perempuan itu terus menundukkan kepala. Petugas keamanan yang melihat kamera hanya mengira ini adalah kesenangan kecil seorang Tuan Muda, sehingga tidak melaporkannya.
Hingga keduanya memasuki kamar tidur Xue Mo.
Barulah perempuan itu mengangkat kepalanya.
Ia adalah Lin Ling.