NovelToon NovelToon
Pengantin Pengganti Mas Razka

Pengantin Pengganti Mas Razka

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:15.8k
Nilai: 5
Nama Author: Anggi Dwi Febriana

Karena kepergian Jelita, Amora terpaksa menggantikan posisi sang kakak sebagai pengantin dalam pernikahan yang sejatinya ditujukan untuk Jelita dan Razka.

"Tidak ada pilihan lain. Aku harus menyelamatkan nama baik keluarga Atmojo."

Amora tidak ada pilhan lain selain menikah dengan laki-laki yang seharusnya menjadi suami dari kakaknya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anggi Dwi Febriana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

33. Tetap Ada Rasa Bersalah

Sore itu, ruang tamu kediaman keluarga Atmojo terasa lebih sunyi dari biasanya. Cahaya matahari yang mulai condong masuk melalui celah tirai, menciptakan semburat keemasan di atas lantai dan perabotan ruangan. Meski suasananya terlihat tenang, ada sedikit kecanggungan yang masih terasa di antara mereka.

Jelita duduk di sofa panjang berwarna krem. Kedua tangannya bertaut di atas pangkuan, sementara kepalanya sedikit menunduk. Di hadapannya, Danendra dan Fina duduk berdampingan. Keduanya sesekali saling bertukar pandang, memikirkan semua kejadian yang berlangsung beberapa hari terakhir.

Di kursi tunggal yang berada tidak jauh dari sofa, Dani duduk dengan posisi tegak.

Ya, Dani juga berada di sana.

Setelah membantu Jelita mengambil barang-barangnya dari kos tempat tinggal sementara yang selama tiga hari terakhir menjadi persembunyiannya, Dani memutuskan untuk mengantarnya pulang sekaligus menemui kedua orang tua Jelita.

Sebenarnya Jelita sempat melarang. Ia merasa tidak enak jika Dani harus ikut terseret lebih jauh ke dalam persoalan keluarganya. Namun Dani tidak bergeming. Ia tahu ada satu hal yang memang harus ia katakan selesaikan secara langsung.

Dan sekarang, mereka berada di ruangan yang sama. Namun tidak ada yang langsung berbicara. Hanya bunyi suara jarum jam yang bergerak teratur serta suara angin yang sesekali menggoyangkan tirai jendela menjadi pengisi keheningan.

Jelita memainkan ujung jarinya dengan gelisah. Sementara itu, Danendra beberapa kali mengarahkan pandangannya kepada Dani. Tatapannya tidak lagi setajam sebelumnya, tetapi tetap menunjukkan bahwa ia sedang menunggu penjelasan.

Akhirnya, Dani menarik napas dalam-dalam.

“Om, Tante…”

Suaranya membuat Jelita mengangkat wajah. Dani menegakkan tubuhnya. Beberapa detik ia tampak ragu, seakan sedang mencari keberanian untuk mengucapkan sesuatu yang sejak tadi ia simpan.

“Saya mau minta maaf.”

Danendra tidak menyela. Dani menunduk sebentar sebelum melanjutkan.

“Waktu Jelita pergi beberapa hari lalu, saya sebenarnya tahu dia ada di mana. Tapi ketika Om dan Tante tanya, saya bilang saya nggak tahu.”

Fina langsung menoleh kepada suaminya. Ekspresi wajahnya masih menyimpan sedikit kekecewaan, tetapi tidak ada kemarahan yang meledak-ledak.

Dani melanjutkan dengan suara lebih rendah.

“Saya tahu saya salah karena sudah bohong. Saya seharusnya jujur dari awal.”

Danendra bersandar pada sofa. Tangannya terlipat di depan dada, sementara tatapannya tetap tertuju kepada Dani.

“Kamu tahu nggak, Dani, waktu itu kami benar-benar panik?”

Nada suara Danendra tidak tinggi. Justru ketenangannya membuat kalimat tersebut terdengar semakin serius.

“Kami nggak tahu Jelita pergi ke mana. Kami cari ke beberapa tempat. Orang-orang di rumah juga ikut panik. Mama-nya hampir nggak bisa tidur karena terus mikirin keadaan Jelita.”

Dani menunduk semakin dalam.

“Saya tahu, Om.”

“Kamu tahu, tapi tetap memilih diam.”

Dani mengangguk.

“Iya. Dan saya nggak punya alasan yang bisa membenarkan itu.”

Beberapa detik berlalu tanpa suara. Kemudian Dani mengangkat wajahnya.

“Waktu itu Jelita kelihatan benar-benar tertekan, Om. Saya lihat sendiri kondisinya. Dia nggak mau bicara dengan siapa-siapa dan cuma ingin sendirian. Saya takut kalau saya kasih tahu keberadaannya, orang-orang akan langsung datang dan dia malah semakin tertekan.”

Ia berhenti sebentar.

“Jadi saya memilih untuk kasih dia waktu.”

Fina mengembuskan napas perlahan.

“Dani, Tante bisa paham dengan maksud kamu. Tapi kamu juga harus tau posisi kami sebagai orang tua.”

Dani langsung mengangguk.

“Iya, Tante.”

“Kalau kamu memang ingin membantu Jelita, setidaknya kamu bisa kasih tahu kami bahwa dia aman. Kami nggak akan langsung memaksanya pulang kalau memang dia butuh waktu. Kami cuma perlu tahu anak kami baik-baik saja.”

Kata-kata itu membuat Dani kembali menundukkan kepala.

“Saya paham sekarang, Tante. Waktu itu saya terlalu fokus sama kondisi Jelita sampai lupa kalau keluarga juga berhak tahu.”

Jelita yang sejak tadi hanya diam akhirnya mengangkat wajah. Ada rasa bersalah yang perlahan muncul di matanya.

Danendra memandang Dani cukup lama. Kemudian, pandangannya berpindah kepada putrinya. Jelita terlihat jauh lebih tenang dibandingkan saat pertama kali datang ke rumah. Namun Danendra tahu, ketenangan itu bukan berarti semua masalah di kepala putrinya benar-benar selesai.

Akhirnya Danendra menghela napas.

“Sudahlah.”

Dani mengangkat wajah.

“Masalahnya sudah terjadi. Yang penting sekarang Jelita sudah pulang.”

Ada kelegaan yang langsung terlihat di wajah Dani.

“Terima kasih, Om.”

“Tapi jangan ulangi lagi,” lanjut Danendra tegas.

Dani langsung mengangguk.

“Nggak akan, Om. Saya janji.”

Danendra mengangguk kecil.

“Bagus.”

Ia kemudian kembali menatap putrinya.

“Dan kamu juga.”

Jelita berkedip.

“Aku?”

“Iya, kamu. Jangan kira karena Dani yang membantu kamu, berarti kamu boleh menganggap semua ini selesai begitu saja.”

Jelita langsung menunduk. Danendra tidak sedang marah, tetapi nada suaranya cukup untuk membuat Jelita merasa bersalah.

“Ayah sama Mama nggak masalah kamu butuh waktu sendiri. Kalau kamu memang sedang nggak baik-baik saja, bilang. Kalau mau pergi sebentar, kasih kabar. Sesederhana itu.”

Jelita mengusap ujung jarinya sendiri.

“Maaf, Yah.”

Fina langsung menyentuh tangan putrinya.

“Kamu tahu Mama sama Ayah sekhawatir apa waktu itu?”

Mata Jelita mulai berkaca-kaca.

“Iya, Ma. Aku tahu.”

“Kami bukan marah karena kamu pergi. Kami takut karena kamu menghilang tanpa kabar sama sekali.”

Jelita mengangguk berkali-kali.

“Aku benar-benar minta maaf. Waktu itu aku cuma… aku benar-benar nggak sanggup menghadapi semuanya. Rasanya kepala aku penuh dan yang aku tau aku cuma ingin pergi ke tempat yang nggak ada siapa-siapa.”

Fina mengusap punggung tangan putrinya.

“Lain kali jangan mengambil keputusan sendirian, Sayang.”

Jelita menggigit bibir bawahnya, berusaha menahan air mata.

“Iya, Ma. Aku enggak akan gitu lagi.”

Danendra kembali menyandarkan tubuhnya. Setelah suasana menjadi lebih santai. Mereka pun mulai mengobrol seperti biasa.

Sehabis makan malam, akhirnya Dani berpamitan untuk pulang. Ya, Dani diajak serta untuk makan malam bersama keluarga Atmojo. Dan tentu Dani tidak menolak ajakan tersebut.

"Kamu hati-hati di jalan, Dan. Kalau udah sampai apartemen, langsung kabarin aku," ujar Jelita kepada Dani.

Jelita dan Dani berdiri di teras depan rumah. Jelita mengantarkan Dani yang hendak pulang.

Dani tersenyum tipis, tangannya terulur mengusap puncak kepala sang kekasih.

"Iya, nanti kalau aku udah sampai apartemen, aku kabarin kamu," jawab Dani.

Dan setelah pamitan singkat itu, Dani pun masuk ke mobil dan pulang. Meninggalkan Jelita yang masih berdiri didepan sampai mobil Dani menghilang dari balik pagar rumahnya.

Jelita menghela nafas pelan.

"Apa aku boleh bahagia disaat aku sendiri sudah mengorbankan masa depan adikku sendiri?" gumam Jelita lirih.

Seandainya ia menikah dengan Dani, itu artinya ia menikah dengan laki-laki yang benar ia cintai. Tapi Amora? Karena dirinya adiknya harus mengorbankan masa depan menikah dengan laki-laki yang tidak dicintainya. Dan fakta itu membuat Jelita merasa sangat bersalah.

1
Ariany Sudjana
Amora tega meninggalkan Razka sendiri
Lusi Hariyani
dasar gengsi digedein si razka tlp lah sm amora srh plg gitu mlah pergi g jls
Ariany Sudjana
kenapa Razka ga coba menyusul Amora ke rumah orang tuanya? jadi mencoba memulihkan hubungan dengan keluarga Amora juga
Lusi Hariyani
sm2 gengsi ya g bakal pd jatuh cinta lawong komunikasi aja cm sekedar y aja
Ariany Sudjana
kenapa Razka ga menyusul Amora ke rumahnya? supaya hubungan Razka dengan mertua juga lebih baik
Lusi Hariyani
dh mau 60 bab kog hubungan rafka sm amora g ada perkembangan yg jls sich thor...jgn2 mau diceraiin ya mereka
Valen Angelina
kapan cerai thor... klo kmrn saya tanya kapan cair... tapi skr saya tanya kapan cerai... wkkwkk🤣🤣🤣
Lusi Hariyani
razka mmg egois dan gengsi y gede bngt
Ariany Sudjana
Razka sudah mulai jatuh cinta sama Amora, cuma gengsi untuk mengakui 😄
Ariany Sudjana
fixed ini, Razka juga mencintai Amora, meskipun ga pernah mengungkapkan dengan kata-kata, tapi cukup dengan perbuatan
Linda Ayu Tong-Tong
kulkas 10 pintu dah menjelma jdi 9pintu🤣🤣🤣
Lusi Hariyani
gengsimu di kurangin dong rafka
angfeb: Btw kak, izin koreksi yaa, namanya Razka🤭
total 1 replies
Linda Ayu Tong-Tong
aaah jd pengen kencan aq sma suami🤗🤗🤗
Ariany Sudjana
wah romantis sekali pecel lele dinner 😄🙏
Opi Sofiyanti
berterima ksh lah kmu ke Amora ka.... krn kl bkn krn Amora g ada, kmu g bkln ngerasain gmn rasa nya suntuk ampe pgn healing sesaat... bkn sprt yg lalu2 kl suntuk, ngabisin wkt dgn krj an... 😁😁
Lusi Hariyani
perubahan kog bantu cuci piring🙏
Linda Ayu Tong-Tong
masih agak kaku aja pak razka🤣 lemes dikit npa🤣🤣
myranda febrian
gk pernah gagal novelnya kk author🤭
Lusi Hariyani
aq jd penasaran gmn klo rafka dh bucin sm amora ya...
Linda Ayu Tong-Tong
razka jgn gallak² dong sama amora..kasian dia
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!