Perubahan signifikan dari sikap suami, membuat Azalea curiga dan mulai menaruh perhatian pada gerak-gerik Ramdan.
Biasanya yang pulang kerja menyambut dengan senyuman hangat, kini cuek dan mengabaikannya. Azalea mulai meneliti setiap kelakuan suaminya.
Ia yang di cap mandul oleh mertua, membuatnya memilih mengakhiri pernikahan 2 tahun ini. Dan pulang ke rumah. Namun di rumah pun ia ditolak, alhasil ia luntang-lantung di jalanan.
Bagaimana kisah Azalea kelanjutannya? Kita kuak balik ceritanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Floravest, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perasaan Dewa
Siang itu, Dewa sedang berdiskusi dengan Anton, asistennya di ruang kerja.
"Jadi untuk distribusi ke Hongkong. Lewat jalur ini, Anton. Kalo semisal gagal, kita lewat rute ke dua." jelas Dewa sambil menunjuk rute di tablet yang Anton sodorkan.
Sang asisten mengangguk patuh, lalu menyelipkan tablet dibalik tangannya. Bersamaan dengan itu pelayan mengetuk pintu ruang kerjanya.
"Tuan, ini saya, Asih."
Dewa menoleh tenang, menurunkan kaca mata baca yang bertengger di hidungnya, lalu mengkode Anton untuk keluar dengan lambaian tangan.
Anton segera keluar, bersamaan dengan itu Asih, kepala maid di rumah besar Dewa masuk, menghadap pada tuannya yang sedang duduk di kursi kebesarannya sembari mengelap kaca matanya itu.
"Ada apa, Asih."
Asih merunduk hormat, "Tuan, Nona Lea sudah bangun. Dan—"
Wajah Asih tampak pucat, keringat dingin muncul di pelipis. Satu alis Dewa naik, "Kenapa, Asih? Apa ada masalah?"
Pria itu lantas bangkit, melepas beberapa aksesori di tangannya, sembari menatap wajah Asih sesekali.
"Nona tidak mau makan, tuan. Wajahnya sangat pucat, takutnya nona sakit. Tapi setiap maid membawakan makan, langsung di tampik sama nona dan alhasil—semuanya terbuang."
Dewa masih diam, tangannya terulur untuk memijit pangkal hidungnya yang terasa berdenyut. Sudah 2 hari ini Aza tidak mau makan, apalagi diajak ngobrol. Semenjak siuman, wanita itu jadi sering murung dan melamun. Sesekali merancau memanggil nama Ramdan di balkon.
Awal-awal Dewa masih memaklumi, namun entah mengapa setiap nama lelaki sialan itu keluar dari mulutnya. Dewa merasakan kesal yang sangat besar, namun ia hanya bisa menahannya, dan terus bersikap lembut pada Lea agar tidak menyakiti hati wanita itu.
"Yasudah, siapkan makanan baru. Biar saya yang memberikannya."
Kepala maid pun mengangguk patuh, lalu pamit undur diri keluar dari ruangan Dewa. Dewa duduk lagi di tempatnya, mendesah pelan sembari menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi, menatap langit-langit itu dalam.
*
"Hikss...Mas Ramdan...."
Apa ini, baru saja bangun tetapi sudah menyebutkan nama pria lain. Padahal aku yang menyelamatkannya. Hahh....harus berapa lama aku menahan diri.
"Lea, makanlah. Kamu baru siuman. Nanti—"
Nasi yang ku pegang, langsung di tampik olehnya, hingga piringnya pecah, dan isinya berhambur di lantai. Rahangku mengetat saat itu, sudah 5 piring Lea pecahkan. Dan dia terus merancau memanggil nama Ramdan. Aku bisa apa? Yang bisa kulakukan hanya membuatnya sedikit lebih tenang.
"Keluar! Aku ingin sendiri!" seru Lea menangis histeris.
*
Dewa menarik nafas panjang beberapa kali, ia sudah sangat sabar menghadapi Aza dengan kelembutan. Meski wanita itu kerap membuatnya emosi karena baru kali ini ia sesabar ini menghadapi wanita.
Selama ini, ia tidak pernah serius berurusan dengan wanita. Setiap ada yang mendekatinya, ia akan menerimanya. Namun setelah mereka menuntut, dia bisa melepaskannya dengan mudah tanpa merasakan beban kehilangan sama sekali. Namun tidak dengan Lea. Dia harus di tuntut dengan rasa sabar yang luar biasa. Namun yang membuatnya sesak, ia tidak bisa melepaskannya seperti ia melepaskan wanita lain.
Setelah selesai mengatur nafas, ia mulai agak lebih tenang. Dewa segera berdiri, keluar dari ruang kerja untuk memberikan Aza makan.
Asih pun menyerahkan makanannya pada Dewa saat pria itu sampai di depan kamar Aza. Pria itu segera menyuruh Asih pergi, lalu menutup pintu kamar. Ia tatap Aza yang melamun di depan jendela kamar, duduk disana sembari memeluk lutut, menatap pemandangan di depannya dengan tatapan sayu.
"Lea." panggil Dewa tersenyum.
Lea sama sekali tak menyahut, wanita itu terus memandang ke arah menara di ujung sana. Ia yakin itu menara tempat Ramdan bekerja. Sudah mau satu minggu ia tidak melihat Ramdan. Meski pria itu menyakitinya, namun rasa cinta tidak bisa semudah itu ia hapus dalam hatinya.
Dewa menarik nafas panjang, ia paling benci di abaikan. Namun karena ini Lea, ia pun tak bisa melakukan apa-apa.
Pria itu segera mendekat, menarik kursi untuk duduk di depan Lea, tersenyum ke arah pujaannya itu dengan senyuman manis.
"Makanlah, Lea. Setidaknya berikan nutrisi untuk tubuhmu."
Lagi-lagi wanita itu tak menyahut, ia terus meringkuk memeluk lututnya sembari menjatuhkan kepalanya pada lutut, menatap ke depan.
Dewa menarik nafas lebih panjang, ia tarik kembali tangan yang terulur untuk menyuapi Lea. Lalu meletakkan piring itu di samping meja tak jauh dari sana. Kembali duduk menghadap ke arah Azalea.
"Apa ada yang ingin kamu tanyakan, Lea?"
Wanita itu sama sekali tak menyahut. Ia terus melamun menatap ke depan sana, sampai tiba-tiba air matanya luruh perlahan. Lalu nama Ramdan lagi-lagi keluar dari bibirnya.
Cukup.
Dewa rasanya tidak kuat lagi. Harus sampai kapan Leanya itu akan terus memanggil nama pria lain yang sudah menyakitinya. Rasanya kebodohan Lea masih sama dari 5 tahun lalu.
Pria itu memejam kuat, lalu tangannya terulur, meraih tubuh Aza dalam pelukannya. Membuat wanita itu terkejut, menjerit minta dilepaskan.
"Lepaskan aku, Dewa! Kenapa kau terus memaksaku!" teriak Aza emosi.
Dewa jatuhkan tubuh Aza di atas ranjang, lalu menindihnya, menatap manik mata Aza yang mulai terlihat ketakutan itu.
"Sampai kapan kamu akan mengingat bajingan itu?" tanya Dewa tajam.
Mata Aza langsung berkaca-kaca, wanita itu sontak memalingkan wajahnya, menggigit bibir bawahnya menahan tangis.
"Aku—"
"Dia sudah menyakitimu, Lea! Dia mengusirmu! Menghianatimu! Apa kau tidak ingat bagaimana caranya kau ingin mengakhiri hidup kemarin?!"
Aza sontak mendongak, "Lalu kenapa kau menyelamatkanku?! Bukankah sudah kubilang aku ingin mati?! Tapi kenapa kau menyelamatkanku! Sekarang seperti ini kau menyalahkan ku!" teriak Aza, menangis histeris.
Dewa langsung diam, menatap kosong wajah yang begitu pucat di bawahnya. Dadanya sesak sekali. Entah mengapa, rasanya begitu sesak melihat fakta bahwa hati Lea masih di penuhi nama pria itu padahal yang membuatnya hancur seperti ini juga orang yang sama.
Sementara dirinya, tidak dapat apa-apa. Padahal ia juga merasakan sakit, merasa kehilangan. Ia juga di khianati, tapi masih memilihnya. Sebenarnya percintaan apa ini?
Saat SMA, Dewa pernah memergoki Aza berciuman dengan Ramdan di ruangan kosong. Apa ia marah? Tidak, ia lebih memilih melampiaskannya pada dirinya sendiri. Tentu dengan cara melakukan balap motor, hingga tubuhnya terluka akibat menabrak salah satu peserta lain.
Ia ingin membuang rasa cinta yang besar itu, membuang rasa sakit yang selama ini membelenggu dalam hatinya. Namun setiap melihat Lea, ia akan jatuh cinta dan jatuh cinta lagi seperti orang bodoh.
Padahal ia sudah bahagia sebelumnya. Ramdan menyakitinya, Lea pasti tidak akan mencintainya lagi. Tapi semua yang ia harapkan ternyata salah. Hanya Lea yang tidak bisa ia kendalikan. Dan setiap wanita itu merenung, ia selalu merasa sakit karena ia tau, fikirannya di penuhi oleh lelaki bajingan itu.
"Apa tidak bisa kau melihatku sedikit saja, Lea?"
Aza tertegun, air mata Dewa meluncur dengan lirih hingga jatuh ke pipinya. Pria itu lantas bangkit, berbalik cepat meninggalkan kamarnya.
Sementara Lea segera bangkit, duduk menatap punggung Dewa yang menjauh dari hadapannya.
"Dia, menangis?"