Selama tiga tahun, Anisa menjadi istri pengganti Galang Gondokusumo—menggantikan posisi cinta pertamanya yang menghilang. Tiga tahun melayani, tiga tahun diabaikan, tiga tahun diperlakukan seperti bayangan orang lain.
Sampai akhirnya, Galang melemparkan surat cerai ke wajahnya.
"Tanda tangani. Sherly sudah kembali."
Malam itu, Anisa ditabrak mobil yang dikirim oleh Sherly Permata—perempuan yang merebut suaminya. Darah membasahi aspal. Galang melintas di lokasi kecelakaan tanpa menoleh.
Dia pikir Anisa sudah mati.
Tapi yang mati malam itu bukan Anisa.
Yang mati adalah **kebohongan**.
Karena benturan itu mengembalikan seluruh ingatannya. Nama aslinya bukan Anisa.
**Namanya Keira Hartono.**
Pewaris tunggal Hartono Group—konglomerat terbesar di Indonesia. Nona besar yang diculik empat tahun lalu dan dianggap hilang selamanya. Perempuan yang dicari oleh sepuluh kakak laki-laki, kakek yang menguasai setengah Jakarta, dan seorang pria misterius yang sudah menunggunya sejak dia berusia satu tahun.
Pria itu bukan Galang.
Pria itu adalah **Rayhan Tanuwijaya**—kepala keluarga Tanuwijaya, penguasa empat keluarga besar Jakarta. Dingin kepada semua orang. Kecuali kepada Keira.
Sekarang Keira kembali. Dengan ingatan yang utuh, identitas yang sesungguhnya, dan daftar panjang orang-orang yang harus membayar.
Sherly Permata? Akan kehilangan segalanya.
Galang Gondokusumo? Akan berlutut memohon.
Dan dunia yang pernah menginjak-injaknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Larasati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 31
Bab 31: Cokelat Panas
Bryan Liem punya alasan baru setiap kali datang ke safe house.
Hari Senin, ia bilang perlu memeriksa kamera depan. Hari Rabu, ia membawa daftar belanja dapur karena "kebetulan lewat supermarket". Hari Jumat, ia datang dengan dua paper bag roti lembut dan wajah terlalu santai untuk orang yang jelas-jelas memilih rasa cokelat lebih banyak daripada yang diminta staf.
Yumi mulai mengenali langkahnya.
Langkah Bryan tidak sepelan Aqil, tidak seberat pengawal lain. Ada ritme ringan yang berhenti sebentar di depan ruang tengah, seolah pemilik langkah itu selalu memberi kesempatan pada orang di dalam untuk bersiap.
Selama beberapa hari terakhir, Yumi juga mulai mengenali hal-hal kecil lain. Pintu kamarnya tidak pernah dibuka tanpa ketukan. Staf perempuan selalu bertanya sebelum mengganti seprai. Makanan diletakkan di meja, bukan disorongkan seperti perintah. Tidak ada yang memaksanya makan cepat.
Hal-hal itu terdengar biasa bagi orang lain.
Bagi Yumi, itu seperti belajar bahasa baru.
"Aku masuk, ya?" suara Bryan terdengar dari pintu.
Yumi yang sedang duduk di sofa kecil langsung menegakkan punggung. Selimut tipis masih ada di pangkuannya. Rambutnya sudah lebih rapi daripada hari pertama, tetapi matanya masih mudah panik.
"Boleh," jawabnya pelan.
Bryan masuk membawa dua mug. "Laporan inspeksi hari ini: dapur aman, pagar aman, stok cokelat aman."
Yumi berkedip. "Stok cokelat perlu diinspeksi?"
"Sangat perlu. Ini urusan keamanan emosional."
Yumi menunduk, tetapi sudut bibirnya bergerak sedikit.
Bryan pura-pura tidak melihat. Ia meletakkan mug di meja, cukup dekat untuk dijangkau Yumi, tetapi tidak memaksa. Sejak hari pertama, ia belajar satu hal: semua yang diberikan kepada Yumi harus punya jarak agar perempuan itu tidak merasa terperangkap.
"Ini yang baru dibuat. Kamu boleh lihat dapurnya kalau mau."
Yumi menggeleng. "Aku percaya."
Dua kata itu membuat Bryan berhenti sebentar.
Ia menutupinya dengan duduk di kursi seberang. "Wah, naik pangkat aku."
"Maaf."
"Lho, kenapa minta maaf?"
Yumi memegang mug dengan dua tangan. Uap cokelat menyentuh wajahnya. "Aku sering begitu. Minta maaf dulu sebelum orang marah."
Bryan tidak bercanda kali ini.
"Ci Sherly sering marah?"
Nama itu membuat jari Yumi mengetat di mug. Namun ia tidak menutup diri seperti dulu. Ia menatap permukaan cokelat panas, seolah lebih mudah berbicara pada minuman daripada pada orang.
"Kalau aku salah taruh gelas, dia marah. Kalau aku terlalu lama mandi, dia marah. Kalau tamu Papa melihat aku dan aku tidak tersenyum cukup baik, dia bilang aku membuat keluarga malu."
Bryan menahan rahang.
Yumi lanjut dengan suara kecil. "Kadang aku tidak tahu salahku apa. Jadi aku minta maaf saja. Lebih cepat selesai."
"Tidak ada orang yang pantas hidup begitu."
Yumi mengangkat wajah. Matanya tampak bingung, seperti kalimat itu terlalu asing.
"Tapi aku tinggal di rumah mereka."
"Itu bukan izin untuk menyakitimu."
Diam turun di ruang tengah.
Di luar, hujan kecil mulai menyentuh kaca. Safe house terasa hangat, tetapi Bryan tahu tubuh Yumi masih menyimpan dingin bertahun-tahun.
Ia mengambil remote AC dan menaikkan suhu satu derajat tanpa berkata apa-apa.
Yumi melihat gerakan itu.
"Kamu tahu aku kedinginan?"
"Tanganmu selalu masuk ke bawah selimut kalau AC terlalu dingin."
Yumi menatap tangannya sendiri, terkejut karena ada orang yang memperhatikan hal sekecil itu tanpa memarahinya.
Yumi menyesap cokelat panas sedikit. "Dulu aku pikir, kalau aku cukup diam, semua orang akan lupa aku ada. Ternyata Ci Sherly tetap ingat kalau butuh orang untuk disalahkan."
Bryan ingin mengatakan banyak hal.
Ia ingin berkata bahwa Sherly pantas dihukum, bahwa keluarga Permata pantas malu, bahwa tidak ada yang boleh menyentuh Yumi lagi. Tetapi kemarahan Bryan terlalu besar, dan Yumi bukan tempat untuk menumpahkannya.
Jadi ia hanya mendorong piring roti lebih dekat.
"Makan sedikit. Marahku bisa nanti. Perutmu dulu."
Yumi menatapnya.
Lalu sesuatu yang kecil terjadi.
Ia tersenyum.
Bukan senyum sopan yang dipaksa. Bukan gerakan bibir karena takut menyinggung. Senyum itu muncul pelan, canggung, seperti cahaya yang tidak yakin boleh masuk.
Bryan lupa bernapas.
Yumi segera menunduk lagi. "Kenapa melihat begitu?"
"Karena..." Bryan menggaruk tengkuknya, untuk pertama kali kehilangan kata. "Kamu kalau senyum... bagus."
Pipi Yumi memerah tipis.
"Aku jarang senyum."
"Kalau begitu, dunia rugi banyak."
Yumi tidak tahu harus menjawab apa. Tetapi kali ini ia tidak meminta maaf.
Ia hanya mengambil sepotong roti, menggigit kecil, lalu mengangguk pelan ketika Bryan bertanya apakah rasanya enak. Gerakan sederhana itu membuat ruang tengah terasa lebih hidup daripada sebelumnya.
Malamnya, ketika Bryan keluar dari safe house, ponselnya berdering. Nama Keira muncul di layar.
"Kei?"
Suara Keira terdengar tenang. "Ko Bryan, jangan terlalu jelas."
Bryan berhenti di teras.
"Jelas apa?"
"Cokelat panas tiga kali seminggu bukan protokol keamanan."
Telinga Bryan panas sampai leher. "Aku cuma memastikan logistik."
"Tentu."
Nada Keira tidak berubah, tetapi Bryan bisa membayangkan alisnya terangkat.
"Kei, jangan mulai."
"Aku belum mulai."
Bryan menatap pintu safe house yang tertutup, lalu menutup wajah dengan satu tangan.
Di dalam, Yumi memegang mug kosong dan untuk pertama kalinya tidak merasa rumah aman itu terlalu asing untuk ditinggali malam ini, dengan napas yang jauh lebih tenang dari biasanya.