"Ini bukan tentang pergi meninggalkanmu. Ini beasiswa, Alfa. Kesempatan sekali seumur hidup yang diberikan Ibu Amara untukku bekerja dan belajar di Paris. Hanya tiga tahun..."
"Tiga tahun?!" Alfa tertawa sumbang, langkah kakinya maju mendekat, mengikis jarak di antara mereka hingga Zia bisa merasakan aura intimidasi yang pekat.
"Kamu menyebut tiga tahun itu hanya? Kamu mau meninggalkanku di sini sendirian, sementara kamu bersenang-senang di Paris?!"
Zia menatap wajah pria yang teramat dicintainya itu dengan pandangan kabur oleh air mata. Alfa selalu seperti ini. Posesif, mengekang, dan selalu ingin memegang kendali penuh atas hidupnya. Namun, selama ini Zia selalu mengalah. Bagi Zia yang sebatang kara, kekangan Alfa adalah wujud dari rasa sayang yang teramat dalam.
Tapi apakah kali ini Zia kembali mengalah? Atau dia akan mengikuti kata hatinya? Pergi mengejar cita - citanya dan meninggalkan Alfa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitri Wardani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Panggung Untuk Zia
***
"Ray... lihat gaun beludru marun itu. Potongan geometrisnya benar-benar di luar nalar. Aku pasti kalah, Ray. Desainer dari Italia dan Jepang itu... mereka ada di level yang jauh berbeda,"
Zia berbisik dengan nada suara yang bergetar penuh kecemasan. Tangannya yang dingin meremas pinggiran gaun sutra yang dikenakannya.
Di dalam gedung teater klasik Grand Palais, Paris, riuh rendah tepuk tangan penonton berkali-kali menggema setiap kali seorang model keluar memamerkan mahakarya dari berbagai belahan dunia. Kilatan lampu kamera wartawan internasional seolah menambah tekanan yang menghimpit dada Zia.
Rayyan, yang duduk tepat di sebelah Zia, tidak melepaskan pandangannya dari panggung, namun tangan kirinya bergerak menepuk punggung tangan Zia dengan lembut.
Sementara itu, di atas pangkuan tegap Rayyan, Sabrina kecil yang kini sudah berusia hampir empat bulan duduk dengan tenang. Bayi itu mengenakan bando pita merah muda dan terpesona melihat lampu-lampu yang berkilauan, sesekali jemari mungilnya menepuk-nepuk lengan jas formal yang dikenakan Rayyan.
"Aku merasa bakatku hanya sebatas menggambar untuk menghibur diri sendiri saja, Ray," sahut Zia lagi, menunduk lesu.
"Melihat semua ini... rancanganku terasa terlalu sederhana,"
"Sederhana bukan berarti tanpa jiwa, Zia," balas Rayyan, suaranya terdengar sangat tenang dan berwibawa di tengah kebisingan.
Dia menoleh, menatap lekat sepasang mata Zia.
"Mereka memamerkan teknik dan ego. Tapi kamu memamerkan sebuah cerita. Percayalah pada dirimu sendiri seperti aku memercayaimu,"
Ketegangan mencapai puncaknya saat seluruh peragaan busana selesai. Kini, giliran dewan juri internasional dari perwakilan majalah mode ternama dunia berdiri di atas podium untuk mengumumkan pemenang pameran talenta baru skala internasional tahun ini.
"Dan sekarang, saatnya mengumumkan tiga rancangan terbaik yang akan mendapatkan trofi emas L'Avenir," suara pemandu acara terdengar menggema dalam bahasa Inggris beraksen Prancis yang kental.
Jantung Zia serasa mau copot. Di bawah meja, Rayyan tiba-tiba menyusupkan jemarinya, menggenggam erat tangan Zia yang sudah basah oleh keringat dingin. Genggaman itu begitu kokoh, hangat, dan menyalurkan kekuatan yang luar biasa.
Zia menatap profil samping wajah Rayyan dari dekat. Pria ini tidak pernah melepaskannya, tidak pernah membiarkannya berjalan sendirian sejak malam jahanam di Jakarta itu. Dia selalu ada, menjadi benteng pelindung paling tangguh untuknya dan Sabrina. Rasa haru mendadak membuncah di dada Zia, membuat matanya berkaca-kaca. Dia membalas genggaman tangan Rayyan dengan tak kalah erat.
"Pemenang ketiga... desainer asal Milan, Italia!"
Tepuk tangan bergemuruh. Seseorang naik ke panggung. Zia menahan napasnya.
"Pemenang kedua... desainer asal Tokyo, Jepang!"
Dua nama besar yang ditakuti Zia sudah disebutkan. Harapan Zia seketika runtuh. Jika dua desainer hebat itu hanya berada di posisi dua dan tiga, maka posisi pertama pastilah milik desainer papan atas Eropa lainnya. Zia mengembuskan napas pasrah, bersiap untuk pulang dengan tangan kosong.
"Dan... juara pertama untuk kelas internasional, dengan nilai mutlak atas kreativitas, kedalaman emosi, dan revolusi desain gaun bersalin... Selamat kepada desainer muda asal Asia Tenggara, Zia Anastasia Malik!"
Zia tersentak. Seluruh tubuhnya mendadak kaku, mengira telinganya sedang salah mendengar akibat terlalu lelah. Namun, saat lampu sorot utama gedung teater itu bergeser tajam dan berhenti tepat di atas tubuhnya, membanjirinya dengan cahaya putih yang terang, Zia menyadari bahwa ini bukan mimpi.
"Zia, itu namamu. Kamu menang," bisik Rayyan dengan senyum lebar yang sangat tampan, matanya berkilat bangga.
Tanpa bisa dibendung lagi, tangis haru Zia pecah. Luapan emosi, rasa sakit masa lalu, dan perjuangan hidup-matinya selama ini seolah meledak menjadi satu. Tanpa sadar, Zia langsung menghambur, memeluk tubuh Rayyan dengan sangat erat. Dia menangis di pundak pria itu, menyalurkan seluruh rasa syukurnya. Rayyan membalas pelukan itu dengan satu tangan bebasnya, sementara tangan lainnya tetap mendekap Sabrina dengan aman di dadanya.
Dengan langkah kaki yang gemetar namun anggun, Zia berjalan naik ke atas panggung megah itu. Riuh tepuk tangan dari para pelaku mode dunia mengiringi setiap langkahnya. Saat menerima trofi emas berbentuk siluet dewi malam, Zia berdiri di depan mikrofon, menatap ratusan pasang mata di hadapannya.
"Terima kasih..." suara Zia bergetar, dia mengusap air mata di pipinya.
"Gaun ini... adalah representasi dari sebuah kelahiran kembali. Saya mendedikasikan kemenangan ini untuk semua orang yang sudah mensupport saya hingga saya berdiri di atas panggung ini. Dan untuk seseorang yang selalu memercayai mimpi saya di saat dunia membuang saya... Terima kasih,"
Dari atas panggung, mata Zia bertemu dengan mata Rayyan yang sedang tersenyum bangga di kursi penonton sambil mengacungkan jempolnya.
Malam itu juga, mereka langsung terbang kembali ke Singapura menggunakan fasilitas penerbangan kelas satu. Kelelahan setelah acara besar membuat suasana di dalam kabin pesawat yang privat terasa begitu nyaman dan hangat.
Sabrina yang berada di tengah-tengah kursi luas antara Zia dan Rayyan tampak tidak mengantuk sama sekali. Bayi perempuan itu terus menendang-nendangkan kakinya yang gembul, mengoceh riang mengeluarkan suara-suara lucu dari mulut mungilnya.
"Bubu... ga... ba..." oceh Sabrina sambil melambaikan tangannya ke udara.
Zia tertawa kecil, membungkuk di atas bayinya.
"Sabrina seneng ya ikut Mama ke Paris? Pintar sekali anak Mama tidak rewel selama acara,"
Rayyan ikut mendekatkan wajahnya, mencolek dagu bayi itu dengan gemas.
"Sabrina, panggil Papa... ayo, bilang Pa... Pa..." goda Rayyan dengan suara yang dilembut-lembutkan, sangat kontras dengan pembawaannya yang dingin di dunia bisnis.
"Ih, kamu curang, kok diajari panggil Papa dulu sih," protes Zia sambil tertawa, wajahnya merona.
"Sabrina, ayo panggil Mama... Ma... Ma..."
"Pa... Pa..." sahut Rayyan tidak mau kalah, membuat Sabrina menoleh ke arahnya dengan mata bulatnya yang jernih.
"Maa... Maa..." Zia kembali membujuk.
Sabrina menatap bergantian wajah Zia dan Rayyan. Bayi itu mengambil napas dalam-dalam, air liurnya sedikit menetes di sudut bibir sebelum akhirnya mengeluarkan suara dengan sangat jelas.
"Pa... pa!"
Kabin pesawat seketika hening selama satu detik sebelum akhirnya Rayyan bersorak senang dengan tawa yang lepas. Pria itu langsung mengangkat tubuh Sabrina, menggendongnya tinggi-tinggi lalu menciumi kedua pipi gembul bayi itu dengan gemas berkali-kali hingga Sabrina memekik kegirangan.
"Pintar sekali anak Papa! Dia memanggilku duluan, Zia!" seru Rayyan dengan binar kebahagiaan murni yang belum pernah Zia lihat sebelumnya.
Zia tersenyum lembut, matanya kembali berkaca-kaca menatap pemandangan indah di hadapannya.
"Rayyan... kamu benar-benar sudah seperti ayah kandung bagi Sabrina. Caramu menyayanginya... kadang membuatku merasa sangat bersalah karena tidak bisa memberikan apa-apa untuk membalasnya,"
Rayyan perlahan menurunkan Sabrina kembali ke pangkuannya. Senyum di wajahnya memudar, digantikan oleh tatapan yang teramat serius dan dalam. Dia mengulurkan tangan kanannya, meraih jemari Zia dan menggenggamnya dengan sentuhan yang sangat protektif.
"Aku bukan seperti ayahnya, Zia. Tapi aku adalah ayah Sabrina," ucap Rayyan dengan nada suara yang rendah namun berbobot, mengunci pandangan mata Zia.
"Jika kamu mengizinkanku... aku ingin menjaga kalian berdua jauh lebih dekat lagi. Bukan lagi sebagai pelindung dari balik layar, tapi sebagai suamimu, dan sebagai Papa sah bagi Sabrina,"
Jantung Zia berdegup kencang. Kata-kata Rayyan malam itu terasa begitu nyata dan mengikis sisa-sisa keraguannya.
"Zia... aku tahu trauma masa lalumu begitu besar. Tapi tolong, beri aku kesempatan. Bukalah hatimu sedikit saja untukku. Biarkan aku membantumu menyembuhkan luka itu," pinta Rayyan dengan mata yang dipenuhi ketulusan tanpa syarat.
Zia menatap genggaman tangan mereka, lalu beralih menatap Sabrina yang kini mulai mengantuk dan mengisap jarinya di pangkuan Rayyan. Pria di hadapannya ini telah membuktikan segalanya, harta, waktu, perlindungan, bahkan kasih sayang tulus untuk anak yang bukan darah dagingnya sendiri. Jika dia terus menolak karena bayang-bayang Alfa, maka dia adalah wanita paling bodoh di dunia.
"Iya, Kak. Aku... aku akan belajar untuk menerima Kak Rayyan. Tolong bimbing aku dan bersabarlah denganku,"
Rayyan tersenyum sangat lega, dia membawa tangan Zia ke bibirnya dan mengecup punggung tangan wanita itu dengan penuh takzim.
Sementara itu, di sebuah rumah mewah di salah satu kawasan elit Jakarta.
Layar televisi besar di ruang keluarga sedang menayangkan siaran berita hiburan dan mode internasional. Pembawa acara dengan antusias membacakan berita tentang kemenangan desainer muda asal Indonesia yang berhasil mengguncang panggung Paris Fashion Week.
Di atas sofa, Imelda sedang duduk bersandar sambil menikmati teh malamnya bersama Azad. Begitu wajah Zia muncul di layar kaca, tampak begitu anggun, berkelas, memegang trofi emas sambil memberikan kata sambutan dalam bahasa Inggris yang fasih, Imelda seketika tersedak. Cangkir tehnya berdenting keras di atas tatakan.
"Azad! Lihat itu! Itu... itu bukannya Zia?!" seru Imelda dengan mata membelak sempurna, menunjuk-nunjuk layar televisi dengan jari yang gemetar.
"Tidak menyangka Zia bisa jadi terkenal sejarang. Dia juara satu Nternasional Desaign. Dia memang wanita yang sangat berbakat, Azad," ucap Imelda tersenyum.
Azad yang sedang membaca dokumen bisnisnya langsung mendongak. Begitu melihat wajah Zia terpampang sebagai juara satu internasional, rahang pria paruh baya itu mengeras. Rasa angkuh dan ego besarnya seketika terusik melihat wanita yang dulu diusirnya dengan hina kini berada di puncak kesuksesan.
Azad mendengus remeh, melempar dokumennya ke atas meja dengan kasar.
"Terkenal? Cih, jangan naif, Imelda. Dia berhasil menjadi desainer di sana itu murni berkat uang lima miliar yang dia terima dariku saat meninggalkan Jakarta dulu!"
Imelda menoleh, tampak bingung.
"Maksudmu?"
"Kalau bukan karena uang dari Abraham Group yang dia pakai untuk menyogok jaringan di luar negeri atau membangun modal, dia bukanlah siapa-siapa di Paris! Dia hanya wanita sebatang kara yang tidak punya tempat tinggal," ucap Azad dengan nada sinis dan penuh kebencian, mencoba merasionalisasi kesuksesan Zia agar ego keluarganya tidak jatuh.
"Dia berutang seluruh kesuksesannya pada nama besar keluarga kita. Tanpa uangku, dia pasti sudah mati kelaparan di jalanan!"
Azad mematikan televisi dengan remote secara kasar, membuat ruangan itu mendadak hening.