Hezlin terjebak dalam pernikahan bisnis dengan Garra Xaverius Kingston, menggantikan Felicia—wanita yang meninggalkannya demi karier. Selama empat tahun, Hezlin perlahan jatuh cinta, meski tahu dirinya hanya pengganti.
Saat Felicia kembali, Hezlin memilih pergi. Ia meminta cerai, yakin Garra akan kembali pada cinta lamanya. Namun keputusan itu justru mengguncang Garra, yang baru menyadari bahwa kehilangan Hezlin lebih menyakitkan dari yang ia kira.
Di antara masa lalu dan perasaan yang tak terucap, keduanya dihadapkan pada satu pilihan: berpisah… atau memperjuangkan cinta yang terlambat disadari.
"Aku ingin kita bercerai," -Hezlin Rayla Iyzebelle.
"Apa yang selama ini tidak cukup membuatmu tetap berada di sisiku?" -Garra Xaverius Kingston.
"Nyonya, Tuan tidak mau berceri!" -Ervan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zhao_Xena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 6 ~ Melepaskan Hak Sebagai Istri
Malam ini Hezlin melajukan mobilnya menuju sebuah kawasan perumahan sederhana yang letaknya agak jauh dari pusat kota. Ia sudah memesan sebuah unit apartemen kecil dua hari sebelumnya, tempat yang cukup untuk dirinya sendiri, tanpa kemewahan, tanpa bayang-bayang nama besar keluarga mana pun.
Begitu sampai di depan gedung, ia turun dan mengambil kopernya. Menatap bangunan yang jauh lebih sederhana dibandingkan rumah tempat ia tinggal selama ini, hatinya terasa asing namun juga sedikit lega. Setidaknya di sini, ia bisa bernapas tanpa beban.
Setelah menyelesaikan administrasi dan menerima kuncinya, ia masuk ke dalam ruangan itu. Ruang tamu yang sempit, dapur kecil, dan satu kamar tidur sederhana, semuanya terasa kosong, namun terasa miliknya sepenuhnya.
Hezlin meletakkan kopernya di sudut ruangan, lalu berjalan mendekati jendela yang menghadap ke jalan raya. Dari sini, ia tidak bisa melihat gedung perkantoran megah atau taman luas yang biasa ia lihat, hanya cahaya lampu jalan yang berkelap-kelip.
'Ini permulaan yang baru,' batinnya. 'Tidak ada lagi yang bisa menemukanku disini..'
Namun meski ia terus meyakinkan dirinya sendiri, rasa hampa itu tetap ada, menyelinap di sela-sela ketenangan yang ia ciptakan
••
••.
••
Keesokan harinya...
Matahari baru saja menyingsing, memancarkan cahaya lembut yang masuk lewat celah tirai jendela apartemen kecil itu. Hezlin sudah terjaga sejak tadi, duduk di tepi tempat tidur sambil merapikan berkas-berkas lamaran yang akan dia bawa hari ini.
Dia mengenakan kemeja katun berwarna krem dan celana bahan yang rapi, pakaian yang sederhana namun tetap terlihat sopan dan pantas. Setelah memastikan semua dokumen sudah lengkap, dia memasukkannya ke dalam tas kerjanya, lalu mengangkat bahu dan menarik napas panjang.
Ini pertama kalinya Hezlin pergi langsung untuk melamar pekerjaan. Selama menjadi istri Garra, pria itu bahkan tidak pernah sedikitpun memintanya untuk melakukan hal-hal berat, termasuk pekerjaan rumah sekalipun.
Dia hanya memintanya untuk menjadi istri yang patuh dan baik untuknya. Tanpa disadari membuat ruang hampa dihati Hezlin sendiri.
Hezlin tidak tau akan memulainya dari mana. Tapi dia tidak mau merubah keputusannya. Dia akan tetap mencari pekerjaan dengan usahanya sendiri.
Hezlin meraih ponselnya. Jemarinya bergerak di atas layar, berhenti sejenak sebelum akhirnya menekan satu nama yang sudah lama tidak dia hubungi, Kael Erlang Xabiru.
Setelah beberapa detik menunggu, panggilan itu terhubung.
"Halo? Hezlin?" suara ramah dan sedikit terkejut terdengar dari seberang sana. "Lama sekali tidak ada kabar. Ada apa sampai menelepon sepagi ini?"
Hezlin tersenyum tipis, meski nadanya terdengar sedikit tegang.
"Maaf mengganggu pagi-pagi begini, Kael. Aku... sebenarnya ada hal yang ingin aku tanyakan."
"Katakan saja. Selama aku bisa bantu, pasti akan kulakukan," jawab Kael dengan nada yang tulus.
Hezlin menarik napas panjang, lalu menyampaikan semuanya dengan jujur keputusannya untuk hidup mandiri, usahanya mencari pekerjaan yang belum berhasil, dan keinginannya untuk bekerja dengan kemampuan sendiri.
"Jadi... apakah ada posisi yang kosong di perusaanmu? Aku tidak meminta jabatan tinggi, apa saja yang sesuai dengan kemampuanku. Aku hanya ingin bekerja dan tidak bergantung pada siapa pun lagi," pinta Hezlin dengan suara yang mantap.
Kael terdiam sesaat, lalu menjawab tanpa ragu sedikit pun.
"Tentu saja ada. Pagi ini kau bisa datang ke kantor pusat. Aku akan siapkan semuanya. Tidak perlu khawatir soal apa pun, cukup datang saja."
Rasa lega langsung menyelimuti hati Hezlin. Seolah ada beban berat yang terangkat dari pundaknya.
"Terima kasih banyak, Kael. Aku benar-benar berterima kasih."
"Sama-sama. Kita ini sahabat, ingat itu. Sampai nanti," balas Kael sebelum menutup panggilan.
Hezlin meletakkan ponselnya, menghela napas panjang, lalu meraih tasnya. Hari ini dia tetap akan berangkat seperti rencana awal. Tapi sekarang dia punya satu harapan baru yang membuat langkah kakinya terasa lebih ringan.
Hezlin mengunci pintu apartemennya rapat-rapat, lalu berjalan menuju tempat parkir. Ia berdiri sejenak menatap mobil sedan mewah yang selama ini dipakainya, kendaraan itu bukan milik pribadinya, melainkan bagian dari fasilitas yang diberikan keluarga Garra selama masa pernikahan.
Ia menghela napas panjang, lalu mengambil keputusan yang lebih aman.
Pagi itu juga, ia mengendarai mobil itu menuju salah satu kantor cabang perusahaan Kingston yang ada di tengah kota.
Sesampainya di sana, ia menyerahkan kunci mobil beserta pesan singkat kepada petugas keamanan yang bertugas.
"Sampaikan kepada Tuan Garra, semua fasilitas yang menjadi hak istri telah saya kembalikan. Mulai hari ini, saya tidak membutuhkannya lagi."
Tanpa menunggu jawaban atau meminta tanda terima secara resmi, ia langsung melangkah pergi begitu saja, membiarkan mobil itu berada di tempat parkir kantor tersebut. Dengan begini, ia sudah melepaskan haknya atas kendaraan itu.
Karena sudah tidak ada kendaraan pribadi lagi, ia memilih naik angkutan umum untuk melanjutkan perjalanannya. Sesuatu yang baru pertama kali ia lakukan, tapi kali ini ia melakukannya dengan sadar sebagai bagian dari hidup barunya yang benar-benar lepas dari segala ketergantungan.
••
Sementara itu, beberapa jam setelah menerima laporan soal mobil yang dikembalikan, Ervan kembali masuk dengan berita lain. Wajahnya terlihat sedikit ragu, seolah takut menyampaikan hal yang bisa memicu kemarahan tuannya.
"Tuan... ada kabar lain yang baru saja kami terima," ucapnya hati-hati.
Garra masih berdiri di dekat jendela, punggung menghadap pintu. "Katakan saja."
"Pagi ini Nyonya Hezlin menyambangi perusahaan Xabiru. Sepertinya beliau hendak mengajukan permohonan lamaran pekerjaan."
Mendengar itu, bahu Garra menegang seketika. Ia berbalik perlahan, tatapannya sudah berubah tajam dan gelap.
"Xabiru... saingan bisnis yang kuat, dan sekarang tempat Hezlin mencari perlindungan?"
Rasa panas menjalar di dadanya, bukan hanya karena persaingan usaha, tapi karena ada rasa terkhianat yang mulai tumbuh. Dalam benaknya, ia kembali menguatkan dugaannya.
'Jadi benar, begitu dia memutuskan pergi, dia sudah menyiapkan tempat lain. Melepaskan semua milikku hanya agar terlihat bersih, lalu segera berpindah ke pihak lain.'
Namun di balik kemarahan itu, ada rasa sesak yang semakin nyata, rasa yang baru ia sadari sejak Hezlin menyampaikan keinginannya itu.
"Pagi tadi Nyonya Hezlin juga mendatangi kantor cabang Kingston. Beliau mengembalikan mobil pemberian Anda. Dan juga memberikan pesan jika semua fasilitas sebagai istri sudah dikembalikan. Beliau sudah tidak membutuhkannya lagi.."
Brakk!
Garra melangkah mendekati meja, lalu menatap Ervan dengan pandangan yang sulit dibaca.
"Jadi dia benar-benar ingin memutuskan segala hal yang menghubungkannya denganku," gumamnya pelan, namun terdengar tegas.
Lalu ia mengangkat wajah, suaranya lebih keras dan penuh penekanan, matanya menyala dengan tekad yang tak terbantahkan.
"Kalau begitu, percepat semuanya. Siapkan pesawat pribadiku. Hari ini juga, setelah pertemuan yang sudah dijadwalkan selesai, kita akan segera terbang pulang ke kota."
Ervan mengangguk cepat, "Siap, Tuan. Segera saya perintahkan tim untuk menyelesaikannya. Saya juga akan mengatur penerbangannya agar siap dalam waktu dua jam ke depan,"
Rasa sesak di dadanya berubah menjadi dorongan kuat untuk segera bertemu. Selama ini ia pikir bisa mengendalikan semuanya dari jauh, tapi kini ia sadar, kehadirannya sendiri justru yang paling dibutuhkan untuk memastikan bahwa Hezlin tidak akan benar-benar pergi ke tempat lain, apalagi ke dekat pria lain.
Begitu Ervan keluar dari ruangan tersebut. Tiba-tiba suara langkah kaki kembali terdengar memasuki ruangan tersebut.
Tap.
Tap.
Tap.
Seorang wanita berjalan masuk dengan langkah perlahan, senyum lembut terukir di bibirnya penuh rasa rindu yang selama ini ia pendam.
Ia berhenti tepat di belakang Garra, tanpa mengucap sepatah kata pun terlebih dahulu. Kedua tangannya terulur, lalu melingkar erat memeluk pinggang Garra dari punggung, menempelkan tubuhnya rapat pada punggung pria itu seolah tak ingin melepaskannya.
"Garra....."
•
•
❤️