[NIKAH KONTRAK]❗
[OBSESI] ❗
[DARK ROMANCE] ❗
start proses : Juni 2026-Ongoing
by Leni Utami
"Cinta yang seharusnya membuat Layla merasa bebas, justru menjadi rantai belenggu yang mengikat erat dirinya. Di antara kekuasaan dan luka masa lalu serta hasrat panas membara, ia terjebak di kobaran asmara yang gelap. Bayangan kelam masa lalu masih menghantuinya. Akankah ia bisa memilih melepaskan diri dari belenggu yang menyiksa batinnya atau memeluk belenggu itu selamanya?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lenny Utami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CDB 14
Kemudian Layla terbangun dari mimpi panjangnya. Hampir ia tidak punya tenaga untuk bangun dari tempat tidur. Dengan lututnya yang masih terasa gemetar, ia berjalan perlahan menghadap cermin besar di walking closet yang ada di kamar itu. Layla melihat bayangan dirinya lewat cermin, bekas cap merah sisa semalam hampir memenuhi di sekujur tubuhnya. Tentu saja cap itu tidak akan hilang dengan mudahnya. Ia merasa agak gelisah karena malu, bagaimana cara ia bisa menutupi bekas itu. Cap yang di tinggalkan Zhao Lee terlalu banyak dan hampir mustahil untuk di tutupi dengan sempurna. Ia juga tak punya banyak waktu untuk menutupinya dengan make-up.
Layla menghela nafas panjang, "Hhhhhuuuuhhh, dia benar-benar keterlaluan," kata Layla sambil bercermin. Zhao Lee sengaja melakukannya untuk memberi tanda wilayah kekuasaannya.
"Jam berapa ini aku harus berangkat kerja," kata Layla. Dengan matanya yang masih terlihat sayu, Layla mengecek jam yang ada di ponselnya. Ia terkejut ternyata itu sudah hampir tengah hari. Buru-buru Layla siap-siap pergi kerja.
Setelah mandi dan berpakaian rapi Layla keluar dari kamar itu dengan terburu-buru. Melihat Nyonya Layla yang sedang buru-buru mau pergi, bibi Tari cepat-cepat menyampaikan pesan dari Tuannya untuk Nyonya Layla, "Nyonya Layla, Tuan berpesan agar anda istirahat dulu di rumah untuk hari ini, saya dengar anda semalam demam lalu jatuh pingsan, Tuan merasa khawatir kepada anda. Jadi Tuan menyuruh saya untuk menjaga anda dengan baik," ucap bibi.
"Tidak apa-apa bi, saya baik-baik saja,'' Layla tersenyum kepada bibi Tari. Batinnya menggerutu, Zhao Lee benar-benar membingkai dirinya seperti seorang yang berhati malaikat, "Yang ada dia yang bikin aku pingsan karena perbuatannya" Batin Layla, ia merasa kesal sambil mengikat tali sepatunya.
''Tapi Nyonya...," bibi Tari merasa khawatir.
"Iam ok. Tidak ada yang perlu di khawatirkan,'' ucap Layla mantap untuk meredam kekhawatiran bibi Tari.
"Baiklah Nyonya, jika itu keinginan anda. Lalu anda ingin di bawakan oleh-oleh apa? Saat ini Tuan Zhao sedang dinas di luar kota selama seminggu," kata bibi Tari.
"Benarkah? Yesss!! Aku bebas," Layla merasa sangat senang, karena ia bisa bernafas lega untuk sementara waktu. "TING!" bunyi notifikasi chat dari Riri masuk ke ponsel Layla. Notifikasi itu sontak membuayarkan euforia di hati Layla. Ia cepat-cepat mengambil langkah untuk pergi bekerja.
Sedangkan di luar kota sana Zhao malah merasa ingin cepat-cepat pulang dan bertemu Layla kembali. Bayangan semalam masih membekas di pikirannya. Zhao Lee menatap keluar jendela kantor dengan tatapan kosong, ia menginginkan kehadiran Layla di sana. Tanpa aba-aba Paman Chen masuk ke ruangan Zhao Lee.
"Paman Chen, kapan kita selesaikan pekerjaan ini lalu pulang," keluh Zhao Lee kepada Paman Chen.
Paman Chen menghela nafas panjang lalu menyuruh Zhao Lee kecil untuk bersabar. "Huuuuhh Tuan kita baru saja berangkat beberapa jam yang lalu. Sabar Tuan, saya tau anda rindu dengan istri anda," kata paman Chen.
"Tch," Zhao Lee berdecak kesal. Ia merasa bosan karena tidak bisa bertemu Layla untuk beberapa hari kedepan. Di depan Layla, ia bertingkah seperti seorang tyrant namun di depan Paman Chen ia masih bertingkah seperti seorang anak kecil yang butuh banyak perhatian dan dukungan. Paman Chen telah mengganggap Zhao Lee sebagai keponakannya sendiri, ia merasa bertanggung jawab untuk menjaga, mendidik dan membesarkan Zhao Lee dengan baik.
"Kalo kita lagi berdua jangan panggil aku Tuan, paman. Panggil saja namaku. Bagaimanapun juga paman yang telah merawatku sedari kecil. Terimakasih paman,'' ucap Zhao tulus.
''Zhao Lee kecilku sudah tumbuh dewasa sekarang. Aku merasa sangat bangga padamu. Sini peluk,'' paman Chen tersenyum sambil menggoda.
''Enggak, jijik,'' Zhao Lee menolak dengan jawaban singkat.
"Kenapa kau dulu memintaku untuk memanggil mu paman," Zhao Lee penasaran.
''Yahh karena waktu kecil kamu sangat mirip dengan mendiang keponakanku," paman Chen tersenyum.
"Ohh begitu rupanya,'' kata Zhao Lee. Lalu Zhao Lee menghela nafas panjang, ''Huuuuuhhhh, andaikan Layla muat di sakuku," katanya.
"Sabar, kita fokus dulu ke pekerjaan kita. Setelah itu kamu bisa bebas menikmati waktu berdua bersama Layla. Dasar pengantin baru,'' ucap Paman Chen.
''Makanya cari pasangan jangan jomblo terus. Ingat umur," Zhao Lee juga tak mau kalah, ia ikut menggoda pamannya.
"Belum ada yang cocok,'' balas Paman Chen.
"Kalo sama Riri gimana?," Zhao Lee bertanya.
"Bukan seleraku," jawab Paman Chen singkat.
''Kalo sama Erika?," Zhao Lee bertanya kembali.
"Dia terlalu berisik,'' jawab paman Chen dengan raut wajah yang jutek.
"Ya sudah kalau begitu sama bibi Tari aja, ia pernah punya pengalaman menikah selama 15 tahun. Wanita seperti dia pasti punya banyak pengalaman di ranjang,'' Zhao Lee kembali menawarkan sebuah pilihan untuk menggoda pamannya itu.
"Dia itu sudah nenek-nenek peyot," kata paman Chen dengan perasaannya yang kesal. Zhao Lee tertawa terbahak-bahak dan paman Chen juga ikut tertawa. Kemudian paman Chen nyeletuk asal, "Bagaimana dengan Layla?,'' ucapnya.
Zhao Lee yang semula masih tertawa seketika menghentikan tawanya dan suasana mendadak serius. "Apa maksud paman?" tanya Zhao Lee.
"Hanya bercanda,'' jawab paman Chen santai.
Tatapan Zhao Lee berubah menjadi dingin.
"Jangan bercanda seperti itu lagi paman,'' ucap Zhao Lee serius.
Ruangan mendadak hening. Mereka kembali serius dan fokus ke tujuan utama.
Sedangkan di sana Layla lari dengan tergesa-gesa hingga nafasnya tak beraturan, ia mengejar waktu sebelum tengah hari berlalu. Layla masuk ke toko dengan keadaan yang agak berantakan.
"TING-KLUNG !'' terdengar suara lonceng yang di pasang di pintu toko untuk menandakan ada pelanggan yang datang. Namun bukannya pelanggan yang datang, Riri mendapati Layla yang baru saja datang. Sontak ia menyindir Layla yang datang sangat terlambat,
"Ya Ampun.., siapa ini yang baru datang? Princes dari mana ini, jam segini baru datang?," ucap Riri.
''Soryy aku telat," ucap Layla menyesal.
"Aku pikir kamu ambil cuti hari ini. Tumben banget datangnya telat banget. Kenapa?," tanya Riri.
"Enggak apa-apa. Cuma abis kerja rodi," kata Layla. Kemudian Layla menghela nafas panjang untuk mengatur ulang ritme nafasnya, ''Hhhhhuuuuuuhhh,''.
Riri agak kesal dan tak terima kalau dirinya di tuduh memperkerjakan karyawannya secara semena-mena, "Kamu pikir aku penjajah Belanda apa? Sembarangan, aku masih manusiawi tau. Semalam lembur juga bukan karena kemauan aku sendiri tapi memang customer yang minta orderannya harus selesai malam itu juga," ucap Riri.
"Iya iya aku tau kok," ucap Layla.
"Eh tunggu, kenapa lehermu? Kok merah gitu," tanya Riri. Lalu Layla dengan sigap menutupi bekas ciuman di lehernya dengan tangannya, peristiwa itu menjadi canggung untuk Layla.
"Gila, bekas cupang!" Riri menutup mulutnya sambil menahan tawa.
"Ohhh jadi semalam kamu habis kerja rodi sama suami?! Ohhh Abang gasak adek Bang. Muah. Muah. Muah. Kamu pasti gitu ya. Hahaha," Riri malah memperjelas keadaan Layla yang sudah berusaha untuk menutupinya. Tidak sampai di situ, sahabat Layla itu juga jail dengan menggoda Layla yang membuat Layla kesal.
Layla menatap tajam ke arah Riri, "Riri! Mau mati cepet ya kamu!," kata Layla kesal. Riri meresponnya hanya dengan menjulurkan lidahnya, mengejek. Kemudian tertawa jahil.
"Dia pasti bikin kamu benar-benar kewalahan ya, sampe-sampe kamu datang telat banget gini. Yah maklum karena sudah uzur," ucap Riri. Ia kembali menggoda Layla. Riri melakukan itu untuk membalas kekesalannya kepada Layla yang datang terlambat, sedari tadi ia kuwalahan menjaga toko itu walaupun sudah ada Bennedict di sana.
Layla mencengkram kerah seragam Riri dengan kuat, lalu menggoncang-goncangkan tubuh Riri dengan kuat. Matanya merah seperti banteng yang akan menyeruduk sasarannya. Sungguh pemandangan yang seru, Bennedict hanya mengamati mereka dari jauh sambil tersenyum. Ia merasakan kehangatan saat berada di dekat mereka. Setelah Layla puas melakukan aksinya, ia lalu menggerai rambutnya untuk menutupi bekas ciuman di lehernya.
"Anuuu... Aku mau ngomong sesuatu," kata Riri canggung.
"Apa!,'' Layla meresponnya dengan ketus, ia masih tak terima candaan yang Riri lontarkan kepadanya.
"Anu...Ben udah tau kalo kamu nikah kontrak sama Zhao Lee," kata Riri, ia melanjutkan apa yang ingin ia ucapkan.
"Sial..! Kamu ya yang ngasih tau. Benar-benar ya kamu," Layla kesal.
"Sorry... Keceplosan, hehe. Tapi tenang, rahasia aman kok. Publik enggak bakal tau," Riri meyakinkan Layla. Kemudian Bennedict menghampiri mereka dan menyapa Layla.
"Hai Layla, selamat siang. Kamu baru datang?," sapa Bennedict.
"Aku kesiangan karena abis begadang main game," kata Layla tersenyum untuk menutupi kebohongannya.
"Halah main game apa main game," kata Riri. Ia mulai mencari gara-gara lagi dengan Layla. Sontak tatapan tajam Layla mengarah ke Riri lagi dan membuatnya bergidik ngeri. Sebelum Layla kembali marah karena celotehannya, Riri lebih memilih untuk menjauh sementara,
"Udah ya aku mau lanjut kerja dulu," Riri kabur dengan alasan ingin melanjutkan pekerjaannya.
"Ohh pantesan kamu kayak keliatan capek banget. Main game apa?," Bennedict bertanya penasaran.
"Ee..., Itu loh game yang lagi viral," jawab Layla ragu-ragu.
"Ohh itu, aku juga main loh. Gimana kalo nanti kita main bareng? Riri juga main game itu," ucap Bennedict.
''Mampus aku....kenapa jadi salah ngomong,'' ujar Layla dalam hati, ia tersenyum kaku.
"Ohh gitu ya. Ternyata bosnya susah banget di kalahin ya. Makannya semalam aku penasaran banget buat ngalahin bosnya tapi enggak bisa-bisa. Akhirnya aku begadang sampe ketiduran deh. Padahal aku penasaran banget gimana rasanya ngalahin bos terakhir," ucap Layla sambil tersenyum untuk menutupi kembali kebongannya, semakin ia berbohong semakin ia memperparah keadaannya sendiri.
Mendengar itu Ben malah bersemangat untuk mengajak main game bersama, "Oh ya udah nanti kita bertiga istirahat main bareng, nanti aku bantu kamu buat ngalahin bosnya," kata Bennedict semangat.
"O-ok ayuk," Riri menyetujui ajakan Ben dan membuat Layla semakin terjebak dalam kebohongannya sendiri.
Layla merasa kesal kepada dirinya sendiri, karena kebohongannya malah memperburuk keadaannya sendiri. Layla seperti merasa di todong pistol di depan mukanya oleh tangannya sendiri. "Mampus aku. Aku enggak tau game yang viral sekarang apaan. Enggak bisa main game juga," kata Layla dalam hati. Otaknya berpikir keras untuk mencari alasan yang tepat agar dirinya lolos dari ini. Akhirnya ia membuat alasan bahwa dirinya tidak enak badan dan meminta ijin pulang lebih awal.
Ben mengambil kunci mobilnya. "Ayo, aku antar,'' kata Ben.
Seketika Layla membeku. Dalam kepalanya hanya ada satu nama.
"Zhao Lee...,". Entah mengapa, firasatnya mengatakan perjalanan pulang kali ini tidak akan sesederhana biasanya.
***************