"Bukan lo yang mutusin buat nolak gue. Gue sendiri yang mutusin apa yang bakal gue lakuin ke lo!"
Arshaka Rumi Wiraguna adalah Presiden BEM yang arogan dan urakan. Bagi Lyana, bendahara BEM yang kaku, Rumi adalah definisi "salah gaul" yang harus dihindari. Namun, takdir memaksa mereka terus bergesekan.
Saat demonstrasi besar membakar kampus, Rumi mempertaruhkan nyawa demi melindungi Lyana. Sejak hari itu, tembok formalitas "Mas" dan "Mbak" pun retak. Apalagi saat KKN memaksa mereka tinggal satu atap di pelosok desa. Tanpa birokrasi kampus, sisi posesif Rumi muncul. Lyana yang awalnya hanya ingin fokus pada beasiswa, perlahan terseret dalam obsesi sang Presiden BEM.
Di antara politik kampus dan ego yang tinggi, mampukah Lyana bertahan? Atau justru ia akan tunduk pada aturan main Arshaka Rumi Wiraguna?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aroma Sambal Goreng dan Pesan di Layar
Suara riuh di dalam ruang sidang Senat mendadak terdengar seperti dengung lebah yang teredam air. Pak Haris, dengan dahi berkerut dalam, sedang membaca map berisi bukti rekaman yang baru saja diserahkan. Satria mematung di tempatnya, wajahnya pias kehabisan darah, tak lagi mampu merangkai kalimat pembelaan yang elegan. Meja pimpinan dipenuhi interupsi dan perdebatan, tetapi bagi Lyana, semua itu kehilangan maknanya.
Pandangannya terkunci pada kaca jendela besar di sisi ruangan.
Mobil hitam yang terparkir di bawah pohon mahoni sana. Pria paruh baya dengan setelan jas rapi. Dan seorang wanita berbalut kebaya lawas warna cokelat pudar, mencengkeram erat sebuah tas anyaman plastik di depan dada seolah itu adalah perisai satu-satunya.
"Lyan?"
Sentuhan Rumi di sikunya membuat Lyana tersentak. Laki-laki itu menatapnya dengan kening berkerut, menyadari perubahan drastis pada napas Lyana.
"Ibuku," bisik Lyana parau.
Tanpa menunggu persetujuan siapa pun, Lyana melepaskan ordner biru kesayangannya hingga jatuh menabrak meja. Bunyi debaknya tertelan oleh keributan ruangan. Gadis itu berbalik, menerobos kerumunan anggota Senat, lalu berlari keluar dari ruang sidang. Rumi memanggil namanya sekali, namun Lyana tidak menoleh.
Ia memacu kakinya menuruni anak tangga gedung rektorat dua-dua sekaligus. Sepatunya berderit kasar di atas lantai marmer. Udara dingin AC seketika berganti dengan kehangatan matahari pagi Solo saat ia mendorong pintu kaca utama hingga terbuka lebar.
Lyana berlari melintasi pelataran paving blok. Jarak dua puluh meter itu terasa seperti berkilo-kilometer.
Wanita berkebaya itu sedang kebingungan melihat plang nama gedung, wajahnya tampak kelelahan dengan peluh yang mengilap di pelipis. Saat mendengar suara langkah kaki yang mendekat dengan tergesa, ia menoleh.
"Ibu!"
Lyana menabrakkan dirinya, memeluk wanita itu erat-erat. Aroma minyak kelapa, kapur sirih, dan samar-samar wangi kayu manis langsung merengkuh indra penciumannya—bau rumah, bau tempatnya pulang. Pertahanan Lyana yang ia jaga mati-matian sejak malam tadi hancur tak bersisa. Ia menangis tersedu-sedu di ceruk bahu ibunya.
"Gusti Allah, Nduk..." Ibunya balas memeluk Lyana dengan tangan yang gemetar hebat. Telapak tangannya yang kasar karena bertahun-tahun mengaduk wajan gorengan kini mengusap punggung Lyana yang bergetar. "Kowe ra popo, tho? Nggak ada polisi yang tangkap kamu kan, Nduk?"
Lyana menggeleng kuat-kuat di bahu ibunya. Ia tak mampu bersuara.
"Saya permisi dulu kalau begitu."
Suara bariton yang tenang itu membuat Lyana perlahan melonggarkan pelukannya. Ia menoleh dan mendapati Hendrik Wiraguna berdiri dua langkah dari mereka, memegang kunci mobilnya. Wajah pria itu tidak sedingin saat di kamar kos Dito semalam. Ada kelembutan yang samar di sudut matanya saat melihat interaksi ibu dan anak tersebut.
Lyana buru-buru menghapus air matanya, tiba-tiba dilanda kebingungan. Bagaimana ayah Rumi bisa datang bersama ibunya?
Menyadari raut wajah Lyana, Hendrik tersenyum kecil. "Saya ada jadwal pertemuan dengan jajaran alumni di gedung pascasarjana pagi ini. Saat mobil saya masuk gerbang depan, saya melihat ibu kamu kebingungan ditanya-tanya oleh satpam karena tidak tahu letak gedung rektorat. Jadi, saya tawarkan tumpangan sampai ke pelataran ini."
Penjelasan itu begitu sederhana, mematahkan segala konspirasi liar di kepala Lyana. Hendrik tidak membawa ibunya ke sini untuk sebuah skema licik. Pria itu murni hanya melakukan kebaikan kecil di jalan.
"Maturnuwun sanget nggih, Pak. Maaf sudah ngerepotin," ucap ibunya sambil membungkuk sopan berkali-kali.
"Sama-sama, Bu. Anak Ibu aman di sini," balas Hendrik lembut. Ia mengangguk sekilas pada Lyana, sebelum akhirnya melangkah pergi menuju gedung lain, membiarkan urusan di ruang sidang menjadi panggung eksklusif bagi putranya.
Lyana kembali menatap ibunya. Ia meraih kedua tangan wanita itu, meraba kulitnya yang dingin. "Ibu ngapain sampai ke Solo? Ini baru jam delapan pagi, Ibu naik apa ke sini?"
"Ibu nggak bisa tidur semalaman, Nduk," suara ibunya masih serak, sarat akan kekhawatiran yang mengendap. "Setelah Nak Rumi telepon tadi malam, Ibu memang agak tenang. Tapi menjelang subuh, Ibu tetap kepikiran. Ibu takut kamu kenapa-napa di sini sendirian. Habis salat subuh, Ibu nekat cegat bis Eka di jalan raya, langsung ke sini."
Dada Lyana terasa sesak. Ibunya mabuk darat parah. Naik bus antarkota selama berjam-jam pasti sangat menyiksa baginya. Lyana menarik napas dalam, mencoba menormalkan suaranya, lalu membimbing ibunya duduk di bangku semen panjang di bawah rimbunnya pohon mahoni.
"Semuanya udah selesai, Bu," Lyana menggenggam tangan ibunya erat. "Surat semalam itu palsu. Orang yang jahatin Lyana udah ketahuan. Ibu nggak usah ganti rugi apa-apa. Beasiswa Lyana aman."
Ibunya menatap mata Lyana lama, mencari kebohongan di sana. Setelah yakin putrinya jujur, wanita paruh baya itu mengembuskan napas panjang yang terdengar sangat melegakan. Bahunya merosot santai. Ia tersenyum, memamerkan kerutan di sudut matanya.
"Syukurlah kalau begitu," gumam ibunya lirih. Tangannya lalu bergerak, membuka ritsleting tas anyaman plastik yang ia bawa dari tadi. Ia mengeluarkan sebuah kotak bekal plastik bening bertutup biru, menyodorkannya ke pangkuan Lyana. "Ibu buru-buru berangkat, cuma sempat bungkusin ini. Semalam Ibu bikin sambal goreng tempe kering kesukaanmu. Kamu pasti belum sarapan mikirin urusan polisi-polisi itu."
Lyana menatap kotak bekal itu. Di tengah kemelut politik kampus, audit dekanat, dan ancaman pemecatan beasiswa, ibunya membelah jalan raya lintas provinsi di subuh buta hanya untuk memastikan anaknya makan sambal goreng tempe.
Tawa renyah, bercampur isak tertahan, lolos dari bibir Lyana. Ia membuka tutup bekal itu. Aroma pedas manis dari tempe dan cabai merah yang terkaramelisasi menguar, membawa Lyana melompat kembali ke meja makan reot di dapur rumahnya.
"Enak banget baunya, Bu," bisik Lyana, matanya kembali berkaca-kaca.
"Lyan!"
Panggilan dari arah pintu kaca rektorat membuat mereka berdua menoleh. Rumi berlari kecil menuruni tangga, jaket almamater birunya tersampir di bahu. Napas laki-laki itu sedikit terengah saat ia berhenti di depan bangku semen. Wajahnya dipenuhi kelegaan yang luar biasa.
Rumi melihat Lyana, lalu tatapannya beralih pada wanita berkebaya di sebelahnya. Tanpa ragu, Rumi membungkukkan badan dalam-dalam, mengambil tangan kanan ibu Lyana, dan mencium punggung tangannya dengan sangat takzim.
"Sugeng enjang, Ibu," sapa Rumi dengan sopan.
Ibu Lyana tampak terkejut sebentar, tapi rautnya langsung berubah semringah. "Oh, ini tho Nak Rumi yang semalam telepon? Yang suaranya mantep banget itu?"
Rumi mengusap tengkuknya dengan canggung, telinganya mendadak memerah. "Nggih, Bu. Maaf semalam sudah bikin Ibu panik."
"Loh, nggak apa-apa. Nak Rumi ini malah yang nenangin Ibu. Maturnuwun ya, Le, sudah jagain Lyana di sini," kata ibunya tulus, menepuk pelan punggung tangan Rumi.
Lyana memakan sepotong tempe keringnya, menyembunyikan senyum geli melihat Rumi—Presiden BEM yang arogan dan keras kepala—kini salah tingkah di hadapan ibunya.
"Gimana di dalam, Mas?" tanya Lyana setelah menelan makanannya.
Ekspresi Rumi kembali serius, namun matanya memancarkan kemenangan yang damai. "Selesai, Lyan. Pak Haris menskors Satria sementara sampai komite disiplin selesai menyelidiki rekaman itu. Stempel BEM akan dikembalikan siang ini. Dan Dito... dia selamat. Hanya peringatan tertulis."
Angin pagi berembus, menggugurkan beberapa daun mahoni ke atas pangkuan Lyana. Semuanya telah kembali pada tempatnya. Dunianya yang semalam runtuh, kini sudah tegak kembali. Ia bersandar di bahu ibunya, mengunyah bekalnya perlahan, sementara Rumi ikut duduk di sisi bangku yang lain, mendengarkan celoteh ibu Lyana tentang mabuk daratnya di bus.
Ini adalah momen yang begitu sederhana, namun terasa teramat mewah bagi Lyana. Ia membiarkan dirinya rileks, menikmati hangatnya matahari pagi.
Hingga sebuah getaran panjang dari dalam saku kemejanya mengganggu momen damai itu.
Lyana meraih ponselnya yang layarnya masih retak di bagian ujung. Sebuah notifikasi surel masuk. Jari Lyana mengusap layar, membuka inbox-nya tanpa berpikir panjang.
Namun, saat matanya membaca nama pengirim dan subjek surel tersebut, kunyahannya terhenti seketika. Hawa dingin merayap naik dari ujung kakinya, membekukan darahnya di detik itu juga.
Dari: Sekretariat Yayasan Lentera Bangsa
Subjek: Panggilan Wawancara Evaluasi Status Penerima Beasiswa.
Berdasarkan surat fisik yang kami terima pagi ini terkait dugaan penyelewengan dana...
Lyana menatap layar itu dengan nanar. Satria memang jatuh, tapi laki-laki itu telah lebih dulu mengirimkan laporan palsunya. Dan mesin birokrasi yayasan yang tak kenal belas kasihan... baru saja mulai berputar untuk menggiling masa depannya.