NovelToon NovelToon
Terlempar Ke Zaman Kuno Di Tolong Pemburu Tampan

Terlempar Ke Zaman Kuno Di Tolong Pemburu Tampan

Status: sedang berlangsung
Genre:Time Travel / Fantasi Isekai
Popularitas:52.2k
Nilai: 5
Nama Author: Tasya Chuky

"Bujur buset!"

​Bukan sulap, bukan sihir. Dinda yang seharusnya sudah 'metong' dihantam mobil tronton, nyatanya masih bernapas. Alih-alih terbangun di rumah sakit dengan tubuh hancur, ia justru mendapati dirinya terduduk di tengah rimbunnya hutan belantara.

​Ia masih mengenakan setelan santai jalan-jalannya lengkap dengan sling bag yang masih tersampir di bahu. Isinya pun masih lengkap: ponsel, uang tunai, set peralatan make-up, hingga parfum sweet vanilla kesukaannya.

​"Gila, gue di mana? Masa iya ketabrak mobil, terus kelemparnya sejauh ini?" gumamnya panik.

​Dinda merogoh ponselnya dengan tangan gemetar, berharap bisa menghubungi seseorang. Namun, saat layar menyala, ia justru mematung. Ponselnya terasa asing—seolah baru keluar dari kotak—kosong, bersih tanpa jejak data, tanpa sinyal, tanpa sisa.

​Tiba-tiba, suara dedaunan kering yang terinjak dari balik semak membuatnya tersentak. Dinda menoleh cepat ke belakang.

​Di sana, ia terpaku. Seorang pria berbadan tegap berdiri

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tasya Chuky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25 Pergi Ke Pasa'

Sore menjelang dengan semburat langit kemerahan yang syahdu. Di dalam kamar, Dinda tengah sibuk bersiap-siap. Gadis itu menata sepuluh batang sabun mandi beraroma bunga miliknya ke dalam sebuah keranjang anyaman bambu kecil milik Mbok Ginem. Agar tidak mencolok dan memicu kecurigaan warga, Dinda telah mengupas seluruh bungkus kemasan plastik modern sabun tersebut, menyisakan batangan sabun polos yang mengembuskan wangi semerbak.

​"Kanda, ayo berangkat!" seru Dinda melangkah keluar kamar.

​Gadis itu telah mengganti pakaiannya dengan kebaya kutubaru kain katun berwarna kuning jeruk cerah, yang seketika membuat kulit putih bersihnya tampak bersinar menawan di bawah terpaan matahari sore. Rambut hitam panjangnya sengaja digerai setengah, sementara bagian atasnya dijepit rapi menggunakan jepitan jedai modern berbentuk bunga kamboja yang indah.

​Wira yang sudah menunggu di ruang depan seketika terpaku sesaat. Matanya tak berkedip memandang keanggunan wanita kota di hadapannya yang terlihat begitu kontras namun teramat elok dengan pakaian tradisional.

​"Kanda? Ada apa? Apa penampilanku aneh?" tanya Dinda bingung sembari menunduk melihat kebayanya.

​"Tidak," sahut Wira cepat, berdeham pelan untuk menguasai kegugupannya. "Sebaiknya kita cepat pergi... perjalanan menuju perbatasan lumayan jauh."

​Wira mengulurkan tangan kanannya yang besar. Dinda tersenyum manis, lalu tanpa ragu menyambut hangat uluran tangan kekar itu ke dalam genggamannya.

​"Mbok! Dinda pergi ke pasa' dulu, ya!" pamit Dinda setengah berteriak ke arah dapur.

​"Ya, Nduk! Hati-hati di jalan! Wir, jaga baik-baik calon istrimu itu!" sahut Mbok Ginem lantang diselingi tawa kecil penuh restu.

​Wira hanya memberikan anggukan mantap. Keduanya kemudian melangkah beriringan, berjalan perlahan menuruni tangga dan mulai menjauhi area rumah pohon milik Mbok Ginem, membelah kesunyian jalan setapak di dalam hutan.

​Setelah beberapa saat hanya keheningan yang menemani langkah mereka, rasa penasaran Wira tampaknya sudah tidak bisa dibendung lagi. "Sebenarnya, barang apa yang ingin kau jual di pasa' nanti, Dinda?" tanya Wirandu menoleh.

​Dinda tersenyum penuh arti. Ia melangkah setapak lebih dekat, merapatkan tubuhnya pada lengan tegap Wira, kemudian dengan tangan kirinya ia membuka sedikit kain penutup dari keranjang anyaman yang didekapnya.

​"Lihatlah," bisik Dinda jenaka.

​Wira melongokkan kepalanya sedikit, menatap ke dalam keranjang. Sepasang mata elangnya seketika menajam menangkap benda-benda padat berbentuk kotak yang sewangi bunga. Pria itu menatap Dinda lebih dalam dengan dahi berkerut. "Apa ini?" tanyanya dengan nada suara rendah penuh selidik.

​"Ini namanya sabun mandi, Kanda. Di zaman ini pasti belum ada yang namanya sabun untuk membersihkan badan, kan?" ucap Dinda santai sembari menatap lurus jalan setapak di depan mereka.

​"Zaman ini...?" ulang Wira datar, menangkap satu frasa yang terasa asing di telinganya.

​Dinda seketika tersentak. Ia menggigit bibir bawahnya, tersadar bahwa dirinya baru saja keceplosan akibat terlalu bersemangat.

​"Ah! T-tidak... Maksudku, di desa ini! Iya, di desa terpencil ini mungkin belum ada benda seperti ini," ralat Dinda cepat, mencoba mengalihkan perhatian Wira sebelum prianya bertanya lebih jauh. "Benda ini bisa dipakai untuk mandi, Kanda. Caranya cukup dibasahi dengan air sedikit, lalu digosokkan ke seluruh bagian tubuh kita agar bersih dan wangi."

​Wira terdiam mendengar penjelasan itu. Pria itu tidak menyahut lagi, ia hanya terus berjalan sembari menundukkan kepala, tampak mengalihkan pandangannya ke arah tanah seolah sedang mencerna kata-kata Dinda yang penuh teka-teki.

​Langkah kaki mereka terus berlanjut membelah hutan yang semakin rimbun. "Kanda... Apa tempatnya masih jauh lagi?" tanya Dinda pelan.

​Sebab, mereka sudah berjalan cukup jauh menembus semak dan medan tanah yang tidak rata. Dinda mulai merasakan otot betisnya terasa kaku, sakit, dan berdenyut nyeri karena tidak terbiasa berjalan kaki sejauh ini di alam liar.

​"Sebentar lagi," jawab Wira pelan.

​Dinda mengangguk pasrah sambil sesekali menahan ringisan kecil di bibirnya setiap kali kakinya menginjak ranting kering.

​Seolah tahu dan peka dengan apa yang tengah dirasakan oleh wanitanya, Wira tiba-tiba menghentikan langkah kakinya. Tanpa aba-aba, pria bertubuh kekar itu langsung menundukkan tubuhnya yang tegap, menyusupkan lengannya di bawah kaki dan punggung Dinda, lalu dengan satu gerakan mudah berkecepatan tinggi, ia langsung mengangkat dan menggendong tubuh ramping Dinda di dekapannya.

​"Eh, Kanda...! Apa yang kamu lakukan? Turunkan aku!" tanya Dinda terkejut bukan main, refleks mengalungkan kedua tangannya di leher Wira agar tidak terjatuh. Pipi gadis itu mendadak memanas karena posisi mereka yang teramat dekat.

​"Diamlah,. Tempatnya masih agak jauh di depan. Kakimu bisa terluka kalau dipaksakan," ucap Wirandu rendah dengan nada posesif yang mutlak, sama sekali tidak berniat menurunkan Dinda dari buaian lengan kekarnya. Ia kembali melangkah lebar dengan santai, menggendong wanitanya menembus sisa jarak menuju perbatasan.

1
Siti Naimah
cuma bisa membayangkan saja.. Dinda masuk di kehidupan jaman dulu kala..entah di jaman Majapahit atau apa.dimana rakyat pedesaan pada heran melihat minuman kopi teh sachet an.. minuman instan..juga makanan biscuit.. apalagi kompor gas🤭...tentu penduduk desa tersebut cuma bisa bengong.



😄😄😄😄
Tasyacysya: Izin Zaman dulu, Tapi bukan majapahit, semacam dunia lain..😄
total 1 replies
Siti Naimah
Gauri..sadar diri dong🤭
masak pengen merebut Wira dari Dinda...kan masih banyak cowok2 yg laen
Siti Naimah
gak habis pikir dengan apa yg lagi dialami oleh Dinda... betul2 sesuatu yg gak masuk akal🤭...tapi aku suka banget.. mestinya banyak hal aneh2 yg lain... ditunggu kelanjutannya 😄
Siti Naimah
semoga kakak author sehat selalu..
ditunggu karyanya🙏
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°HI@TUS🇮🇩
istirahat saja kak... jangan terlalu memaksa diri
Siti Naimah
walah namanya minta sumbangan..dan ngantri gitu aja kok coba2 berniat genit sama Wira...ya tentu aja bikin Dinda jadi sewot 🤭
Siti Naimah
semangat berkarya 💪
Sri rahayu
lumayan jauh Thor 😁😁😁
Siti Naimah
ceritanya Dinda sama Wira bakal menjadi pedagang sembako nih👍
Siti Naimah
kasihan banget prajurit penjaga perbatasan sampai susah untuk mencari makanan.sampai singkong pun tidak dapat.semoga bisa segera mendapat makanan dari Dinda..gak kebayang jika lihat Indomie..tentu pada heran dan bingung.ada makanan aneh tapi enak banget 🤭
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°HI@TUS🇮🇩
belum terlalu jauh kok aman
Dewiendahsetiowati
lanjut Thor
Siti Naimah
semoga mpu Barata lekas sembuh..
dan bisa bekerja kembali
Siti Naimah
mpu Barata seperti nya mulai berangsur sembuh dan keadaannya membaik.makanya jadi lapar dan doyan makan
Siti Naimah
ini si lawe juga baru mengenal barang aneh dan asing.tisu basah...itu model barang jaman modern ya lawe..he..he😄
Siti Naimah
bisa membayangkan... betapa senangnya panji menjumpai makanan yang asing..tapi lezat banget🤭
Siti Naimah
Dinda punya jiwa sosial yang tinggi😍👍
Siti Naimah
biscuit merupakan makanan aneh dan mewah di tempat nya panji😄
Siti Naimah
wah membayangkan system nya Dinda kok gak bisa ya🤭jadi bingung sendiri.tapi ya sudahlah yang penting Dinda berhasil 💪
Siti Naimah
rasain lho Lilis..makanya jangan sombong.berusaha supaya bisa menerima hal2 baru dan mengakui kelebihan orang lain
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!