Lima tahun lalu, Adeline Wijaya dijebak oleh adik tirinya sendiri hingga keguguran dan diusir oleh suaminya, Bramantara, dalam kondisi sekarat. Semua orang mengira Adeline telah tewas di dasar jurang.Lima tahun kemudian, ia kembali ke Kota Jakarta dengan identitas baru sebagai Elena Vance, seorang desainer perhiasan kelas dunia yang genius dan kejam. Tujuannya hanya satu: menghancurkan mereka yang telah merebut kebahagiaannya.Demi melancarkan aksinya, Elena mendekati Nicholas Syailendra, CEO tertinggi di balik konglomerat nomor satu sekaligus musuh bebuyutan mantan suaminya.
Nicholas menawarkan kesepakatan: "Jadilah istriku, dan aku akan memberikan dunia untukmu membalas dendam." Namun, Elena tidak tahu bahwa di balik pernikahan kontrak itu, ada rahasia masa lalu yang jauh lebih besar yang siap menguji hatinya sekali lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Finus Ina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 15
happy reading guys
___________________
BAB 15: Malam Pertama di Kamar yang Sama
Pesta resepsi pernikahan mewah yang melelahkan itu akhirnya usai saat jarum jam hampir menyentuh angka dua dini hari.
Namun, bagi Elena Vance, ketegangan yang sesungguhnya baru saja dimulai ketika mobil limosin hitam yang membawanya kembali berbelok memasuki gerbang kediaman utama keluarga besar Syailendra di Menteng.
Sesuai perintah tertulis dari Nenek Syailendra, sepasang pengantin baru itu diwajibkan untuk menginap di paviliun utama rumah besar tersebut selama satu minggu pertama pasca pernikahan.
Cklek.
Nicholas Syailendra mendorong pintu kayu mahogani kamar tidur utama paviliun tersebut hingga terbuka lebar.
Kamar bernuansa klasik Eropa itu sangat luas, didominasi oleh sebuah ranjang berukuran king size berkelambu sutra putih di bagian tengahnya.
Lilin-lilin aromaterapi beraroma lavendel menyala temaram di sudut ruangan, membangun atmosfer romantis yang justru terasa mencekam bagi Elena.
Elena melangkah masuk, langsung mengembuskan napas panjang sembari melepaskan tas pesta kecilnya ke atas sofa kulit.
"Nicholas... kita harus segera membagi area kamar ini," ucap Elena sembari berbalik menghadap Nicholas.
"Sesuai draf draf kontrak di atas kertas emas kita, kita tidak boleh—"
"Tahan bicaramu, Elena," Nicholas memotong kalimat Elena dengan cepat.
Pria itu menutup pintu kamar dengan rapat, menguncinya dari dalam, lalu melangkah lebar mendekati Elena.
Sebelum Elena sempat melayangkan protes, Nicholas sudah lebih dulu meraih pergelangan tangan lentik Elena, menarik tubuh ramping wanita itu hingga merapat sempurna ke dadanya, lalu berbisik tepat di samping telinganya dengan nada suara yang sangat rendah dan serius.
"Jangan sebut kata 'kontrak' atau 'perjanjian' di dalam rumah ini. Ardi dan ibunya sudah menyuap dua pelayan senior yang bertugas membersihkan paviliun ini. Nenek juga memasang kamera pengawas di koridor luar. Gerak-gerik kita malam ini akan diamati untuk membuktikan apakah pernikahan kita ini asli atau rekayasa," bisik Nicholas, aroma parfum maskulin mahalnya bercampur tembakau tipis seketika mengunci seluruh indra penciuman Elena.
Deg!
Jantung Elena mendadak berdegup kencang secara tidak teratur, bukan hanya karena terkejut mendengarkan informasi mata-mata tersebut, melainkan karena posisi tubuh mereka yang terlalu intim.
Dada bidang Nicholas yang kokoh terasa berdenyut selaras dengan detak jantungnya sendiri di balik gaun pengantin berlian hitamnya yang belum sempat ia lepas.
Elena mendongak, mencoba menjaga jarak wajah mereka yang kini hanya tersisa beberapa senti.
"Maksudmu... kita terpaksa harus tidur di atas ranjang yang sama malam ini, Tuan Nicholas?"
Nicholas menyunggingkan sebuah senyuman miring penuh pesona kemenangan yang terlihat sangat seksi namun dominan.
Ia perlahan melepaskan cengkeramannya dari pergelangan tangan Elena, lalu berjalan santai menuju ke arah lemari pakaian raksasa di sudut kamar.
"Benar, Nyonya Muda Syailendra. Jika salah satu dari kita tidur di sofa malam ini, pelayan yang membersihkan kamar ini besok pagi akan langsung melaporkannya pada Ardi. Kamu tidak ingin rencana balas dendam kita hancur di awal karena masalah tempat tidur, bukan?"
Elena mengepalkan jarinya, merutuki situasi rumit yang tidak pernah ia duga sebelumnya.
Ia menatap ranjang raksasa di tengah ruangan dengan pandangan memicing penuh selidik.
"Baik. Tapi ingat pasal terakhir di kontrak kita. Tidak ada batasan fisik yang nyata di balik pintu kamar pribadi. Kamu tidak boleh menyentuhku tanpa izin."
"Tentu saja, Sayang. Aku adalah pria terhormat yang selalu memegang kata-kataku," balas Nicholas dengan nada suara yang sengaja dilembutkan, namun ada kilat misterius di sepasang mata elangnya yang memancarkan gairah posesif yang teramat sangat.
Satu jam kemudian, suasana di dalam kamar berganti menjadi kesunyian yang sarat akan kecanggungan yang intens.
Elena sudah mengganti gaun pengantin beratnya dengan sebuah gaun tidur satin polos panjang berwarna hitam yang tertutup, namun tetap mengekspos leher jenjang dan tulang selangkanya yang indah.
Ia duduk di sisi kanan ranjang mewah tersebut, menarik selimut beludru tebal hingga sebatas dadanya.
Sret.
Sisi kiri ranjang mendadak ambles saat tubuh tegap Nicholas ikut naik ke atas kasur.
Pria itu kini hanya mengenakan celana panjang hitam kasual dengan kaus dalam hitam tanpa lengan, memamerkan lekuk otot lengan dan dadanya yang atletis berkat latihan keras tahunan.
Nicholas berbaring telentang dengan kedua tangan yang ditopang di balik kepalanya, menatap langit-langit kamar yang temaram.
Elena membalikkan tubuhnya membelakangi Nicholas, meringkuk menghadap ke arah jendela kamar dengan mata yang menolak untuk terpejam.
Jantungnya masih terus berdegup liar setiap kali mencium aroma maskulin Nicholas yang menguar memenuhi ruang tidur di sekitarnya.
"Elena..."
suara berat Nicholas mendadak memecah keheningan malam, terdengar begitu dalam dan serak di dekat telinga Elena.
"Ya?" sahut Elena tanpa membalikkan badannya.
"Ciuman di altar katedral siang tadi... apakah itu benar-benar terasa seperti sandiwara bagimu?"
tanya Nicholas pelan, namun setiap katanya mengandung penekanan yang sanggup membuat urat saraf Elena menegang seketika.
Elena tertegun.
Bayangan ciuman intens Nicholas yang mendominasi di depan altar katedral siang tadi kembali berputar hebat di kepalanya, mengirimkan sensasi hangat yang menjalar ke seluruh tubuhnya.
Elena menelan ludahnya perlahan sebelum memaksakan suaranya terdengar sedingin es.
"Tentu saja itu sandiwara, Nicholas. Kita berdua adalah aktor terbaik di atas panggung pernikahan kontrak ini. Jangan bilang... kamu mulai mencampuradukkan perasaan aslimu ke dalam kerja sama bisnis kita?"
Nicholas tidak langsung membalas jawaban ketus dari wanita di sampingnya.
Ruangan kembali diselimuti kesunyian selama beberapa detik yang terasa berjalan sangat lambat.
Tiba-tiba, Elena merasakan embusan napas hangat menerpa tengkuk lehernya yang sensitif.
Sebelum ia sempat menyadari apa yang terjadi, sebuah lengan kekar yang sangat kuat mendadak melingkar posesif di sekeliling pinggang rampingnya dari arah belakang.
Nicholas menggeser tubuh tegapnya mendekat, menarik tubuh Elena hingga punggung wanita itu menempel sempurna pada dada bidangnya yang hangat dan kokoh.
Sret!
"Nicholas! Apa yang kamu lakukan?! Lepaskan!"
Elena membelalakkan matanya samar karena terkejut, mencoba meronta di dalam dekapan pria di belakangnya.
"Diamlah, Elena. Tetaplah seperti ini jika kamu tidak ingin memicu kecurigaan mata-mata di luar,"
bisik Nicholas rendah, suaranya dipenuhi oleh nada dominasi mutlak yang tidak menerima penolakan sedikit pun.
Nicholas mempererat dekapannya, menyembunyikan wajah tampannya di sela-sela helai rambut panjang Elena yang wangi bunga mawar.
"Tubuhmu sedingin es, Elena. Biarkan aku memberikan kehangatan ini untukmu malam ini."
Elena merasakan seluruh kekuatannya untuk melawan mendadak menguap tanpa sisa saat merasakan kehangatan pelukan Nicholas yang begitu protektif menyelubungi tubuhnya.
Dada bidang Nicholas yang berdenyut selaras di punggungnya memberikan rasa aman yang aneh—rasa aman yang sudah sangat lama tidak pernah ia rasakan sejak malam badai kehancurannya satu bulan lalu.
Elena akhirnya berhenti meronta. Ia membiarkan jemari tangannya bertumpu di atas lengan kekar Nicholas yang mengunci pinggangnya dengan erat.
Di bawah temaram cahaya lilin lavendel yang mulai meredup, Elena perlahan-lahan memejamkan sepasang mata indahnya, tertidur lelap di dalam dekapan posesif sang penguasa kota yang kini resmi menjadi suaminya.
Lembaran malam pertama di bawah satu atap yang sama telah resmi terlewati, mengunci takdir mereka berdua dalam ikatan pernikahan yang perlahan-lahan mulai mengikis batas draf kertas emas di antara hati mereka.