NovelToon NovelToon
Drummer Cantik, Istri Rahasia Ketos Tampan

Drummer Cantik, Istri Rahasia Ketos Tampan

Status: tamat
Genre:Perjodohan / Ketos / Nikahmuda / Tamat
Popularitas:9.6k
Nilai: 5
Nama Author: Moora Lunatia

"Kita butuh ground rules, Al," kata Akram
"Aturan apa?" Almeera bersedekap, memasang posisi bertahan.
Akram mengangkat satu jarinya. "Satu, nggak boleh ada satu orang pun di sekolah yang tahu soal ini. Temen band lo, temen geng gue, siapapun."
"Gue juga nggak sudi ngasih tahu orang-orang," potong Almeera cepat.
Akram mengangguk tipis, "Dua. Di sekolah, kita tetep musuh. Nggak ada tegur sapa manis, nggak ada perhatian. Lo urus urusan lo, gue urus urusan gue."
"Bagus,"
"Dan yang ketiga..." Akram memajukan wajahnya sedikit, "...jangan sampai jatuh cinta. Karena gue nggak mau ribet kalau nanti setelah lulus kita harus pisah."
"Tenang aja, Kram. Selera gue bukan cowok tukang perintah dan manipulatif kayak lo. Cukup lo bayangin aja muka gue jadi setan, dan lo bakal aman dari jatuh cinta."
Akram terkekeh sinis. "Oke. Deal."
"Deal."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moora Lunatia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31

"Mati. Mati. Kita mati sekarang, Kram."

Begitu layar ponsel menggelap karena panggilan video call diputus secara sepihak oleh Almeera, kepanikan tingkat dewa langsung meledak di apartemen 2507.

Almeera berlari memutar meja pantry, menyambar jaket kulit dan seragam Akram yang tergeletak sembarangan di sofa. Wajahnya pucat pasi. Ego dan gengsinya yang setinggi langit sedang berada dalam ancaman kehancuran total.

Dulu, saat pernikahan ini diputuskan, Almeera berteriak di depan Papa Hendra bahwa ia lebih sudi menikah dengan stand mic karatan Nino daripada dengan Ketua OSIS kaku ini. Ia bahkan berjanji tidak akan sudi disentuh sejengkal pun oleh Akram.

Namun sekarang? Apartemen ini penuh dengan jejak-jejak 'kebucinan' mereka. Boneka beruang dari kencan di arcade, selimut di kamar yang selalu mereka pakai berdua, dan jarak di antara barang-barang mereka yang sudah tidak ada lagi batasnya. Jika Papa Hendra melihat ini, riwayat Almeera tamat. Ia akan diledek seumur hidup oleh papanya sendiri!

"Kram! Ngapain lo masih berdiri di situ?! Turun ke bawah jemput Papa!" jerit Almeera sambil melemparkan seragam kotor itu tepat ke wajah Akram. "Beresin kancing kemeja lo! Ingat, di depan Papa kita ini masih musuhan-tapi-terpaksa-akur! Paham?!"

Akram menangkap kemejanya dengan santai, alih-alih panik, cowok itu justru terkekeh pelan melihat istrinya yang berlarian seperti ayam kehilangan induk. Ia merapikan kancing seragamnya dengan gaya elegan.

"Kenapa harus repot-repot pura-pura musuhan, Al?" goda Akram, menyandarkan pinggulnya di meja pantry. "Biarin aja Papa tahu kalau lo udah kemakan omongan lo sendiri. Biar Papa bangga menantunya ini ternyata punya pesona yang mematikan."

"AKRAM PRADANA!" Almeera memelototi suaminya dengan mata menyala-nyala. Ia menyambar boneka beruang dari atas TV dan menjejalkannya ke dalam lemari kabinet terdekat. "Turun sekarang, atau gue cincang lo pakai soal Fisika!"

Melihat Almeera yang sudah benar-benar di ambang batas kewarasan, Akram akhirnya tertawa dan mengangkat kedua tangannya tanda menyerah. "Oke, oke. Ibu Negara jangan ngamuk. Gue turun sekarang. Lo punya waktu tiga menit buat beresin sisa 'barang bukti' kencan kita."

Tanpa menunggu hitungan ketiga, Akram melesat keluar dari apartemen menuju lift.

Sepeninggal Akram, Almeera bergerak dengan kecepatan cahaya. Ia menumpuk buku-buku Fisika di meja pantry agar terlihat seperti sedang belajar dengan khusyuk. Lalu ia berlari ke kamar tidur.

Matanya membelalak melihat kondisi kasur king size mereka. Selimut tebal itu berantakan di tengah, bantal mereka posisinya saling berdekatan. Tembok Berlin yang dulu ia bangun menggunakan guling sudah lama musnah.

"Guling... mana guling?!" gumam Almeera panik. Ia menarik guling dari sudut kasur, lalu dengan kasar menyusunnya kembali di tengah-tengah ranjang, membentuk garis perbatasan buatan yang terlihat sangat dipaksakan.

Setelah memastikan semuanya tampak 'aman dan tidak romantis', Almeera berlari kembali ke meja pantry, duduk manis di kursi bar, memegang bolpoin, dan memasang wajah senaif mungkin.

Tit-tit-tit-tit. Klik.

Suara pintu apartemen terbuka membuat punggung Almeera langsung tegak kaku.

"Permisi... mertua idaman datang bawa bandeng presto!" seru Papa Hendra riang, melangkah masuk ke dalam apartemen dengan tas jinjing besar di tangannya. Di belakangnya, Akram mengekor dengan wajah datar, namun ekor matanya melirik jahil ke arah Almeera.

"Papa!" Almeera melompat dari kursinya, berlari memeluk papanya dengan antusias yang sedikit lebay untuk menutupi rasa gugupnya. "Kok nggak bilang-bilang sih mau mampir? Kan Al bisa siap-siap dulu!"

Papa Hendra tertawa, membalas pelukan putri tunggalnya. "Namanya juga kejutan. Wah, apartemen kalian rapi juga ya. Papa kira bakal kayak kapal pecah karena dua musuh bebuyutan disatuin di satu atap."

Mata elang Papa Hendra menyapu seluruh penjuru ruang tamu dan dapur. Almeera menahan napas.

"Lagi belajar tuh, Pa," celetuk Akram santai, berjalan melewati mereka dan meletakkan tas jinjing bandeng presto itu di atas meja dapur. Ia menunjuk tumpukan buku Fisika Almeera. "Besok lusa UTS. Kalau nilainya jelek, saya yang pusing sebagai Ketos sekaligus tutornya."

Papa Hendra mendelik takjub melihat buku Fisika yang terbuka. "Almeera? Belajar Fisika? Nggak sambil nangis-nangis? Wah, Kram, kamu bener-bener pawang yang hebat. Mama Ratna di rumah aja suka pusing nyuruh anak macan ini belajar."

Wajah Almeera memerah menahan malu. "Ih, Papa! Al kan udah gede! Masa belajar aja harus disuruh-suruh!" kilahnya, padahal sejam yang lalu ia baru saja merengek minta reward pada Akram.

Papa Hendra terkekeh pelan. Ia berjalan menuju area lorong kamar. "Papa numpang cuci tangan di kamar mandi dalam ya, Al. Kamar mandi luar rusak kan flush-nya?"

Jantung Almeera kembali berhenti. Ia lupa! Kamar mandi luar memang sempat rusak bulan lalu.

"E-eh! Pa! Kamar mandi luarnya udah bener kok! Udah dibenerin teknisi!" seru Almeera panik, berusaha mencegah papanya masuk ke kamar utama.

Namun terlambat. Tangan Papa Hendra sudah memutar kenop pintu kamar utama dan mendorongnya terbuka.

Almeera dan Akram kompak menahan napas. Almeera memejamkan matanya rapat-rapat, merapal doa agar susunan 'Tembok Berlin' dadakannya tidak terlihat mencurigakan.

Papa Hendra berdiri di ambang pintu, menatap ranjang king size itu selama beberapa detik.

Hening.

Tiba-tiba, Papa Hendra tersenyum simpul. Ia menoleh ke arah Almeera dan Akram yang berdiri kaku di dekat meja pantry.

"Tembok Berlin dari guling ya?" goda Papa Hendra, matanya berbinar jahil. "Papa kira kalian udah mulai akur. Tapi kalau lihat gulingnya yang disusun rapi banget tapi spreinya lecek cuma di satu sisi... kayaknya ada yang baru buru-buru naruh guling pas Papa datang nih?"

Skakmat.

Wajah Almeera seketika meledak semerah kepiting rebus. Detektif Hendra Kusuma rupanya tidak bisa dikelabui dengan mudah.

Akram, yang menyadari istrinya sudah mati kutu dan nyaris pingsan karena gengsinya hancur, langsung mengambil alih situasi. Dengan sangat natural, Akram berjalan mendekati Almeera dan melingkarkan lengan kokohnya di pinggang gadis itu.

Almeera tersentak pelan, mendongak menatap Akram dengan mata membelalak. Namun cowok itu hanya tersenyum tenang.

"Ketahuan ya, Pa?" Akram merespons dengan nada santai dan luar biasa sopan, sama sekali tidak berniat menyangkal. Ia menatap Papa Hendra, lalu menunduk menatap Almeera dengan sorot mata yang begitu lembut hingga membuat perut Almeera kembali bergejolak. "Almeera masih gengsi, Pa. Makanya dia buru-buru naruh guling tadi. Padahal kita udah lama nggak pakai pembatas. Saya takut dia kedinginan kalau tidur agak jauh."

Papa Hendra tertawa terbahak-bahak mendengar kejujuran frontal menantunya itu. "Bagus, bagus! Papa seneng dengernya. Udah, Al, ngapain gengsi sama suami sendiri? Dulu aja teriak-teriak nolak, sekarang nempel terus kan?"

"PAPA!" jerit Almeera, menenggelamkan wajahnya yang memanas ke dada Akram karena tidak sanggup lagi menanggung rasa malu.

Tawa Papa Hendra semakin keras. Akram ikut terkekeh pelan, mendekap Almeera semakin erat, menikmati aroma sampo stroberi yang menguar dari rambut gadis itu. Malam ini, Akram resmi memenangkan hati mertuanya, sekaligus menghancurkan sisa-sisa tembok gengsi istrinya.

Setelah sesi cuci tangan dan meledek Almeera selesai, ketiga orang itu duduk di meja pantry, menikmati bandeng presto hangat yang dibawa Papa Hendra. Suasana terasa sangat cair dan hangat. Almeera yang tadinya mati kutu, kini sudah kembali cerewet menceritakan kegiatannya di band NOISE (tentu saja ia melewati bagian tentang Devan dan ancaman Heera).

Selesai makan, Papa Hendra menyesap teh hangatnya. Wajah pria paruh baya yang tadinya penuh canda itu perlahan berubah menjadi sedikit lebih serius.

"Nah, karena Papa lihat kalian berdua udah bener-bener rukun dan bisa beradaptasi," Papa Hendra memulai, meletakkan cangkirnya, "Papa mau nyampein pesan dari Mama Ratna dan Oma kalian."

Mendengar kata 'Oma', gerakan tangan Almeera yang sedang membersihkan meja langsung terhenti. Ia menatap papanya dengan horor.

Oma dari pihak Papa Hendra adalah sesepuh keluarga yang sangat, sangat dihormati. Beliau tinggal di Yogyakarta, masih memegang teguh tradisi, dan terkenal dengan aturannya yang sangat ketat.

"O-Oma? Oma mau ngapain, Pa?" cicit Almeera.

"Minggu depan kan kalian libur panjang setelah UTS," jelas Papa Hendra. "Oma dari Jogja mau datang ke Jakarta, nginep di rumah kita seminggu penuh. Dan beliau secara khusus minta kalian berdua—Almeera dan Akram—buat tinggal di rumah selama Oma ada di Jakarta."

Akram mengangguk sopan. "Nggak masalah, Pa. Kami akan pindah ke rumah minggu depan."

"Masalahnya bukan di situ, Kram," Papa Hendra menghela napas, menatap kedua remaja di depannya dengan tatapan berat. "Oma itu... nggak tahu kalau kalian nikah karena perjodohan bisnis keluarga."

Kening Akram berkerut. "Maksud Papa?"

"Dulu waktu Oma sakit keras dan maksa mau lihat Almeera nikah sebelum beliau tutup usia, Papa dan Mama Ratna kebingungan. Kami nggak tega bilang kalau pernikahan ini diatur secara mendadak," Papa Hendra mengusap tengkuknya dengan canggung. "Jadi... kami bilang ke Oma kalau kalian berdua itu emang udah pacaran lama, saling cinta setengah mati, dan emang ngebet pengen nikah muda."

Keheningan yang luar biasa pekat langsung menyelimuti dapur apartemen itu.

Almeera mematung, garpu di tangannya terjatuh ke atas piring dengan bunyi klenting yang nyaring.

"P-pacaran lama? Saling cinta... setengah mati?!" ulang Almeera dengan suara melengking. "Pa! Oma itu radar lie detector-nya lebih canggih dari FBI! Kalau Oma tahu kita nikahnya baru bentar dan sering berantem, Oma bisa serangan jantung, Pa!"

"Makanya itu, Al!" balas Papa Hendra memelas. "Oma ke Jakarta ini bawa misi khusus. Beliau mau ngecek kehidupan rumah tangga cucu kesayangannya. Kalian harus akting jadi pasangan suami istri yang paling romantis, harmonis, dan bucin sejagat raya selama seminggu penuh. Nggak boleh ada perdebatan, nggak boleh ada gengsi-gengsian."

Papa Hendra menatap Akram dengan tatapan penuh harap. "Akram, Papa percayakan ini sama kamu, ya? Tolong kondisikan macan betina ini biar nggak ketahuan Oma."

Akram yang sedari tadi diam mencerna skenario gila ini, perlahan menoleh menatap Almeera yang wajahnya sudah sepucat kapas.

Alih-alih merasa terbebani, sebuah senyum miring yang sangat berbahaya—senyum yang selalu membuat Almeera waspada—terbit di bibir sang Ketua OSIS.

"Tenang aja, Pa," jawab Akram tenang, suaranya mengalun dengan nada bariton yang menjanjikan sebuah petualangan mematikan. "Jangankan akting jadi suami yang bucin. Bikin Almeera beneran bucin sama saya selama seminggu ke depan pun, saya sanggup."

Almeera menelan ludah dengan susah payah. Menghadapi Akram dalam mode tutor Fisika saja sudah membuatnya nyaris kehilangan kewarasan. Kini, ia harus menghadapi Akram dalam mode 'Suami Bucin Paripurna' di bawah pengawasan ketat Oma?

Selamat datang di neraka level selanjutnya, Almeera Azzahra, rutuknya dalam hati.

1
Sri Musdalefi
dasar orang tua ngak punya otak...
Khusnul Khotimah
bukannya Shofia sudah tahu yah rahasia pernikahan waktu ngasih sufres ke apartemennya.
ini kok baru tahu apa kakak salah tulis atau lupa .maaf ya kak cuma mengingatkan kan saja
Aidil Kenzie Zie
sampai jumpa di cerita selanjutnya thor 🥰🥰💓💓💓
Aidil Kenzie Zie
bukannya Shopia udah tau y tor pas bab21 apa pura-pura aja🤔🤔🤔tapi kok histeris gitu
Khusnul Khotimah: iya di baba 21 kan udah tahu shopia
total 1 replies
Aidil Kenzie Zie
Astaga ini orang tuanya kok ndk ngerti posisi anaknya masih sekolah sich 😡😡
Aidil Kenzie Zie
udah mau lulus ternyata 🤭🤭🤭 kirain masih kls 2🤣🤣🤣
Aidil Kenzie Zie
nggak usah mikir kariernya Al takutnya kalian di DO dari sekolah gara-gara nikah masih sekolah 😭😭😭tapi kalo pake kekuasaan papanya Akram mungkin masih lolos 🥰🥰🥰
Aidil Kenzie Zie
Al terima aja perlakuan Akram disekolah toh wajarlah dia kan suami kamu 🤣🤣🥰🥰
Murni Dewita
👣
Aidil Kenzie Zie
bukannya begitu mereka masuk pintu dikunci?kok datang oma bilangnya nggak dikunci apa pake remote y tor🤔🤔🤔🤔
Aidil Kenzie Zie
penasaran itu si Devan emang siswa murni pindahan atau ada campur tangan Heera🤔🤔
Emi Sudiarni
kren kak critanya
Aidil Kenzie Zie
jangan sampai Akram nekat unboxing kamu Al gara-gara cemburu 🥰🥰🥰🥰🥰
Aidil Kenzie Zie
Heera cari mati 😡😡😡
apa nggak bisa pakai kekuasaan papanya Akram untuk ditoleransi oleh Kepsek tentang hubungan mereka 🤔🤔
Aidil Kenzie Zie
jujur Al
lily
cerita yang menarik semoga sampai tamat
Aidil Kenzie Zie
lha si Mak mak nggak paham apa kalo anak sekolah belum boleh nikah kecuali kuliah nggak mungkinkan ngaku kalo mereka suami istri 🤦🏻🤦🏻🤦🏻🤦🏻
Aidil Kenzie Zie
kok Shopia tau tentang Riwayat Bluetooth di Apartemennya mereka 🤔🤔kan dia bukan anak Osis🤔🤔🤔
Enz99
bagus
Aidil Kenzie Zie
kok bisa Shopia masuk ke apartemen mereka 🤔🤔
Moora: Jawabannya ada di bab selanjutnya 🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!