Mengerahkan segenap kekuatannya, Arya menyerang Alam Dewa!
Awalnya Arya ditugaskan para dewa untuk memburu Pangeran Kegelapan yang telah menciptakan berbagai teror di dunia. Namun, di balik tugas ini, ada konspirasi yang busuk!
Para dewa rupanya berusaha melenyapkan keabadian dan kekuatan sang ayah yang ada di dalam dirinya. Kelak Arya akan memimpin perang melawan para dewa. Di perang besar ini dia akan menunjukkan kehebatan dan kesaktiannya yang tiada tara!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SPK 29
Putri Citra sendiri tidak menyangka jika ayahnya bertanya seperti itu kepada Arya. Memang dia menginginkan bisa bersanding dengan Arya, tapi pemuda itu sudah bercerita jika harus meninggalkan istana setelah perang usai. Arya harus melanjutkan perjalanannya yang belum usai.
"Mohon maaf, Paduka. Bisakah hamba menjawabnya setelah perang ini usai?" Arya kebingungan untuk menjawab pertanyaan yang diajukan Raja Gajayana.
Bukan karena dia tidak tertarik kepada Putri Citra yang memiliki kecantikan di atas rata-rata, tapi karena dia belum tahu harus kemana setelah perang usai. Belum lagi Arya juga harus menemui kedua orang tuanya untuk membahas masalah itu.
"Kenapa harus menunggu sampai perang usai?"
Arya semakin terlihat kebingungan dengan pertanyaan demi pertanyaan yang memberondongnya. Beruntung Putri Citra memberi sedikit bantuan kepadanya.
"Kenapa Ayah bertanya masalah itu di saat kerajaan kita akan berperang? Apakah Ayah ingin fokus Arya terpecah hingga dia tidak bisa memimpin pasukan kerajaan Kanjuruhan dengan baik?"
Putri Citra sadar jika Arya belum pernah menunjukkan tanda-tanda menyukai dirinya. Selama ini dia berusaha untuk menarik simpati Arya, tapi sikap yang ditunjukkan pemuda itu belum sesuai keinginannya.
Namun gadis cantik itu tidak mau menyerah begitu saja. Baru kali ini dia menyukai lawan jenis, dan akan memperjuangkannya sampai dapat.
Ganti Raja Gajayana yang kebingungan. Padahal niatnya baik agar putrinya bisa bersanding dengan Arya.
"Ayah tidak punya niat seperti itu, Putriku. Kau tahu sendiri jika ayah sudah tua dan tidak akan hidup selamanya. Ayah butuh sosok pengganti untuk menggantikan ayah memimpin kerajaan ini."
"Apakah tidak boleh seorang wanita memimpin sebuah kerajaan?" tanya Arya tiba-tiba.
"Tidak ada yang melarang seorang wanita menjadi pemimpin, Arya. Tapi legitimasinya masih dipertanyakan, apakah punya kapasitas untuk menjadi pemimpin atau tidak. Selain itu juga rawan terjadinya pemberontakan serta penghianatan," jawab Raja Gajayana.
"Begini, Paduka. Bukannya hamba tidak punya rasa ketertarikan dengan wanita, terutama dengan gadis secantik Putri Citra," Arya melirik Putri Citra sesaat sebelum melanjutkan ucapannya. Gadis cantik itu tertunduk dengan roman muka yang memerah.
"Hamba masih harus menunggu petunjuk ke mana harus melangkah untuk melanjutkan perjalanan. Mungkin Paduka lupa, hamba mendapat anugerah kekuatan, pasti ada konsekuensi besar yang harus hamba tanggung. Seperti halnya ayah yang mendapat tugas mendamaikan bumi dan memusnahkan Raja Kegelapan."
Raja Gajayana bukannya kecewa dengan jawaban Arya, dia sudah bisa mengambil kesimpulan jika pemuda itu ternyata memiliki ketertarikan yang sama dengan putrinya.
"Apakah itu berarti kau meminta putriku untuk menunggu kau menyelesaikan perjalananmu?"
Arya menghela napas berat. Dia terjebak dengan jawabannya sendiri.
Tanpa menunggu Arya menjawab pertanyaannya, Raja Gajayana memberikan pertanyaan susulan kepada Putri Citra. "Putriku, apa kau bersedia menunggu Arya sampai dia kembali?"
"Sampai kapanpun aku bersedia, Ayah. Tapi masalah hati bukankah tidak bisa dipaksakan? Apakah Ayah ingat, ketika Ayah menyodorkan beberapa Pangeran untuk aku pilih?"
Raja Gajayana mengangguk.
"Mereka mungkin menyukaiku, Ayah ... Tapi aku tidak memiliki rasa terhadap mereka. Bisa jadi hal itu juga berlaku kepadaku sekarang. Ayah tidak bisa dan tidak boleh memaksa Arya untuk menerimaku," sambung Putri Citra.
Buliran air mulai menggenangi mata lentik gadis cantik itu. Tiba-tiba dia berlari kecil meninggalkan aula menuju kamarnya. Tetes air matanya mengalir deras membasahi pipinya yang mulus tanpa noda.
Arya dan Raja Gajayana kebingungan melihat sikap Putri Citra. Keduanya saling berpandangan sebelum Arya meminta ijin untuk menyusul Putri Citra ke kamarnya.
Sesampainya di depan kamar Putri Citra, Arya mengetuk pelan pintunya seraya berseru pelan, "Ini aku, Putri ... Tolong buka pintunya!"
Tak kunjung mendapat jawaban, Arya membuka pintu yang tidak terkunci itu. Dia melihat Putri Citra tengkurap di atas ranjang dengan isak tangis yang terdengar pelan.
Perlahan Arya berjalan mendekat, lalu duduk di bibir ranjang. Tangannya mengelus rambut hitam panjang yang berderai menimpa kasur yang empuk.
"Putri, aku tahu perasaanmu padaku. Jika kau ingin tahu bagaimana perasaanku kepadamu, bangunlah dan hapus air matamu," ucap Arya pelan.
Putri Citra mengusap butiran air yang menggantung di sudut kelopak matanya yang indah. Selepas itu dia duduk berhadapan dengan Arya, namun arah pandangannya menatap ke bawah.
Arya memegang lembut dagu Putri Citra dan perlahan mengangkat wajahnya. Mata yang sembab dan sedikit bengkak tidak mengurangi kecantikan gadis itu.
"Putri ... aku sebenarnya tidak paham dengan perasaanku kepadamu. Ketika aku jauh darimu, aku merasa kaulah semangatku untuk secepatnya menyelesaikan apa yang harus aku lakukan dan kembali berada di sampingmu. Tapi ... aku sadar derajat kita jauh berbeda. Selain itu, sebagai pendekar yang mendapat amanah menjaga dan membaktikan ilmu kanuragan yang aku miliki, aku tidak bisa berdiam untuk waktu yang lama di satu tempat. Masih banyak yang harus aku lakukan untuk memberi manfaat dan membantu mereka di luar sana yang mendapat kesusahan."
"Jawablah pertanyaanku, Arya ... jika aku mau menunggu sampai kau selesai menyelesaikan perjalananmu, apakah kau bisa berjanji kepadaku untuk kembali menemuiku dan berikrar janji sehidup semati, seperti yang dilakukan ayah dan ibumu sebelum beliau berdua memutuskan mundur dari dunia persilatan?"
Arya menatap lekat ke dalam kedua bola mata Putri Citra, sebelum senyumnya terurai manis menghanyutkan jiwa gadis cantik di depannya yang meronta untuk dibelai.
Anggukan kecil kepala Arya membuat putri Citra tidak bisa menahan hasratnya yang sangat besar untuk memeluk pemuda yang sudah resmi menjadi kekasihnya.
Arya memeluk erat membenamkan wajah Putri Citra dan membiarkan dada bidangnya basah terkena air mata kebahagiaan terbesar yang dirasakan oleh gadis cantik yang sedang dipeluknya itu.
"Aku berjanji akan kembali, entah untuk berapa tahun lagi. Selama kepergianku, belajarlah menjadi pemimpin yang bijaksana dan jangan mempunyai sifat yang arogan, baik terhadap pejabat atau rakyat. Jika aku tidak pernah kembali ..."
Putri Citra melepaskan pelukannya dan menempelkan jari telunjuknya melintang di bibir merah Arya. Kepalanya menggeleng pelan seraya berucap, "Aku yakin kau pasti kembali untukku, untuk rakyat kerajaan Kanjuruhan, dan untuk semua orang terdekatmu."
Satu kecupan lembut di kening Putri Citra, membawa gadis itu serasa melayang menembus langit ke tujuh. Hasratnya begitu menggelora ingin sesuatu yang lebih, tapi hatinya senantiasa menjadi filter agar tidak sampai terjerumus ke dalam lembah dosa.
Dua hari berselang, seorang lelaki berumur hampir setengah baya yang memiliki wajah tampan, berjalan memasuki kotaraja. Ayunan langkahnya tegap terayun menyingkap debu-debu jalanan yang bertebaran tak bertuan. Pandangan matanya teduh, namun ketajamannya bagai elang yang mengincar mangsanya.
Di punggungnya, tergantung sebuah pedang berwarna hijau yang memancarkan hawa dingin dan sejuk. Berbanding terbalik dengan suasana di kotaraja yang begitu mencekam.
Belasan hingga puluhan pasang mata penduduk Kotaraja Kanjuruhan menatap tajam penuh pertanyaan, siapa orang asing yang melintasi Kotaraja saat ini?
"Apakah aku bisa menemui Paduka Raja Gajayana?" ucapnya bertanya kepada prajurit penjaga gerbang istana.
***
Boleh absen dong dari mana saja Kisanak berasal? Balas di kolom komentar. Siapa tahu nanti bisa mampir untuk minum kopi gratis wkwkwk