~
Nayanika Sadira Pangestu, gadis kaya raya yang cantik, nakal, dan bar-bar, akhirnya kena batunya. Karena saking seringnya bikin pusing, ia "dibuang" orang tuanya ke sebuah pesantren pedalaman untuk bertobat.
~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 15
***
Langkah kaki Gus Zayyan terdengar konstan saat memasuki ruang rapat utama kantor pengurus Pondok Pesantren Al-Falah. Di dalam ruangan berlantai ubin hijau tua itu, beberapa ustadz senior dan ustadzah pengajar sudah duduk rapi mengitari meja kayu panjang. Sinar matahari pagi yang baru terbit menerobos masuk melalui celah ventilasi, membawa serta aroma kopi hitam dan tumpukan kertas dokumen.
Ustadzah Maryam masuk tak lama kemudian. Wajahnya tampak berseri-seri, senyum tipis terus tersungging di bibirnya setelah mengartikan tatapan tajam Gus Zayyan di selasar masjid subuh tadi sebagai bentuk "perhatian khusus". Ia segera mengambil tempat duduk yang tak jauh dari posisi Gus Zayyan, lalu menata berkas-berkas evaluasi madrasah putri dengan gerakan yang sengaja dibuat anggun.
"Selamat pagi, Gus Zayyan, Ustadz Mansur, dan semuanya," sapa Ustadzah Maryam lembut, merapikan ujung jilbab khimarnya.
Zayyan tidak bergeming. Ia duduk tegak, melipat kedua tangannya di atas meja tanpa menyentuh satu pun lembar dokumen yang disodorkan oleh Ustadzah Maryam. Ketika rapat dimulai dan satu per satu pengajar menyampaikan laporan evaluasi mingguan, suasana mendadak terasa mencekam setiap kali giliran Ustadzah Maryam berbicara.
"Untuk perkembangan kelas madrasah aliyah putri, alhamdulillah kurikulum berjalan lancar, Gus. Hanya saja, ada beberapa santri baru yang memang membutuhkan perhatian ekstra terkait kedisiplinan dan adab dasar," ujar Ustadzah Maryam sembari melirik Gus Zayyan dengan pandangan penuh arti, berharap pria itu akan menanggapi opininya.
Zayyan hanya menatap lurus ke depan, melewati wajah Ustadzah Maryam seolah wanita itu adalah udara kosong. Ketika Maryam menyodorkan berkas laporan nilai kedisiplinan santriwati ke arahnya, Zayyan bahkan tidak mengulurkan tangan. Ia justru menoleh ke arah Ustadz Mansur yang berada di sisi kirinya.
"Ustadz Mansur, tolong ambil alih pemeriksaan berkas madrasah putri. Saya ingin fokus meninjau laporan pembangunan gedung asrama barat hari ini," ucap Zayyan dengan nada suara yang sangat dingin dan datar.
Senyum di wajah Ustadzah Maryam mendadak layu. Dadanya berdesir perih karena diabaikan secara terang-terangan di depan para pengajar lain. Sepanjang sisa dua jam jalannya rapat, setiap kali Maryam mengajukan interupsi atau memberikan usulan, Gus Zayyan sengaja memotongnya secara tidak langsung atau langsung beralih ke pembahasan ustadz lain. Sikap dingin dan acuh tak acuh dari Gus muda itu terasa seperti tamparan tak kasat mata yang mengikis habis harga diri Maryam.
Hingga akhirnya, jarum jam dinding berdentang menunjukkan pukul sembilan pagi. Rapat evaluasi resmi ditutup. Satu per satu ustadz dan ustadzah mulai mengemasi barang-barang mereka, saling berpamitan, lalu melangkah keluar dari ruangan.
Ustadzah Maryam berdiri dengan gerakan lambat, hatinya dongkol setengah mati. Namun, baru saja ia hendak melangkah menuju pintu, suara berat Gus Zayyan menghentikan pergerakannya.
"Ustadzah Maryam, tolong tetap di tempat. Ada hal personal terkait kepengurusan yang harus saya bicarakan dengan Anda," tutur Zayyan tanpa nada ramah sedikit pun.
Mendengar hal itu, langkah kaki Maryam terhenti. Rasa dongkolnya menguap seketika, digantikan oleh debaran janggal di dadanya. Apakah Gus Zayyan sengaja bersikap dingin tadi hanya karena menjaga profesionalitas di depan yang lain? Dan sekarang dia ingin berbicara berdua saja denganku? pikir Maryam dengan perasaan yang mendadak berbunga-bunga kembali. Ia berbalik dan berjalan mendekati meja Zayyan setelah ruangan benar-benar sepi.
"Iya, Gus? Ada yang bisa saya bantu terkait madrasah putri?" tanya Maryam dengan nada suara yang sengaja dilembutkan.
Zayyan tidak langsung menjawab. Ia meraih sebuah kertas putih kosong dari tumpukan laci meja, lalu meletakkannya dengan sentakan pelan tepat di hadapan Ustadzah Maryam. Matanya menatap tajam, mengunci pandangan Maryam dengan sorot mata yang begitu pekat oleh kemarahan yang terpendam.
"Ustadzah Maryam, saya menghormati senioritas Anda di sini. Saya tahu Anda sudah mengajar bertahun-tahun di pondok ini," buka Zayyan, suaranya rendah namun bergaung penuh intimidasi di dalam ruangan yang sunyi. "Tapi jika saya mendengar Anda menggunakan wewenang untuk menindas santri lagi—siapa pun itu—saya sendiri yang akan mengantarkan surat pengunduran diri Anda kepada Kiai."
DEG!
Wajah Ustadzah Maryam seketika berubah pucat pasi. Seluruh pasokan udara di paru-parunya seolah tersedot habis. Debaran janggal di dadanya runtuh menjadi rasa ngeri yang luar biasa. "G-Gus... apa maksudnya? Menindas santri? Saya tidak pernah—"
"Jangan memotong kalimat saya," potong Zayyan, nadanya semakin dingin, sanggup membuat nyali siapa pun menciut. "Subuh tadi di selasar samping masjid. Anda dan Fida. Perlu saya putar kembali setiap kata yang keluar dari mulut Anda berdua di tempat suci ini?"
Maryam gemetar hebat. Tangannya yang memegang map dokumen mendadak basah oleh keringat dingin. Kebusukannya, taktiknya memfitnah Nayanika di kantin kemarin, semuanya telah terbongkar utuh di telinga pria di hadapannya ini. Ia menyadari bahwa posisinya di pesantren kini benar-benar berada di ujung tanduk.
"Gus Zayyan... saya... saya hanya menegakkan kedisiplinan," bisik Maryam dengan suara bergetar, mencoba membela diri.
"Memfitnah santri baru demi membela ego santri senior bukan bagian dari kedisiplinan Al-Falah, Ustadzah Maryam," cecar Zayyan, berdiri dari kursinya sehingga postur tubuhnya yang tinggi menjulang menciptakan bayangan yang mengintimidasi Maryam. "Kertas kosong di depan Anda adalah batas toleransi terakhir dari saya. Camkan itu baik-baik."
Tanpa menunggu jawaban lagi, Zayyan melangkah lebar meninggalkan ruangan, membiarkan Ustadzah Maryam berdiri mematung sendirian dengan tubuh yang menggigil menahan malu, takut, sekaligus amarah yang memuncak.
Rasa takut Ustadzah Maryam di dalam ruangan tadi perlahan-lahan bermutasi menjadi dendam yang membara tak terkendali. Begitu keluar dari kantor utama, dadanya bergemuruh hebat. Ego dan harga dirinya sebagai pengajar senior yang dihormati kini hancur lebur hanya karena seorang santri baru dari kota.
"Nayanika... ini semua gara-gara anak sialan itu!" desis Maryam dengan mata memerah penuh kedengkian. Ia tidak terima ditegur begitu keras oleh Gus Zayyan. Di dalam pikirannya yang sudah terhasut amarah, Naya adalah akar dari segala petaka yang menimpanya hari ini. Maryam tidak akan tinggal diam begitu saja.
Langkah kakinya dihentakkan keras menuju kompleks asrama putri. Saat itu, waktu menunjukkan pukul sepuluh pagi, di mana para santriwati tengah bersiap untuk melaksanakan kelas kajian kitab pagi atau beristirahat sebelum duha. Di dekat koridor, Maryam melihat Naya baru saja keluar dari kamar asramanya dengan wajah yang teramat pucat dan langkah kaki yang tampak sedikit gontai akibat kurang tidur dan kelelahan fisik.
"Nayanika! Berhenti kamu!" bentak Ustadzah Maryam dengan suara melengking, menarik perhatian beberapa santriwati yang melintas.
Naya menghentikan langkahnya, mengembuskan napas lelah. "Iya, Ustadzah? Ada apa lagi?" tanya Naya dengan suara serak. Tubuhnya benar-benar lelah. Perutnya terasa perih luar biasa karena sejak kejadian di kantin kemarin siang, ia belum memasukkan makanan apa pun ke dalam lambungnya. Semalam ia terlalu lelah untuk ikut makan malam, dan subuh tadi ia langsung dipaksa menjemur karpet.
"Ikut saya ke halaman utama pesantren sekarang!" perintah Maryam tanpa belas kasihan.
"Mau ngapain lagi sih, Ustadzah? Bukannya hukuman jemur karpet sama dapur umum saya sudah selesai?" protes Naya, mencoba bertahan dengan sisa gengsinya.
"Jangan banyak membantah! Kamu pikir kesalahan kamu kemarin sudah impas?!" bentak Maryam lagi, matanya mendelik tajam. "Saya baru saja memeriksa laporan, dan kebersihan halaman utama depan aula masih berantakan. Sebagai santri baru yang tidak tahu adab, kamu harus membersihkan seluruh halaman pesantren sendirian sekarang juga! Sapu semua daun kering sampai bersih tanpa tersisa satu lembar pun!"
Sarah dan Aliyah yang kebetulan baru keluar dari aula kelas langsung berlari mendekat setelah mendengar bentakan itu.
"Ustadzah, mohon maaf... tapi Naya dari semalam belum makan apa-apa, Ustadzah. Wajahnya pucat sekali," bela Aliyah dengan mata berkaca-kaca, cemas melihat kondisi sahabat barunya.
"Betul, Ustadzah. Tolong izinkan Naya ke kantin sebentar saja untuk sarapan," tambah Sarah memohon.
"Diam kalian berdua! Mau saya tambah juga hukumannya?!" ancam Maryam berapi-api. "Nayanika, ambil sapu lidi di dekat gudang sekarang! Jangan harap kamu bisa makan atau beristirahat sebelum halaman itu bersih sempurna!"
Naya menatap Ustadzah Maryam dengan pandangan sayu namun tetap terselip kilat keras kepala. Ia memegang pundak Sarah dan Aliyah, menahan kedua temannya agar tidak ikut terseret. "Udah, Sar, Al... gue enggak apa-apa. Biar gue kerjain."
Dengan langkah kaki yang dipaksakan, Naya berjalan menuju gudang, mengambil sapu lidi yang panjang, lalu berjalan ke tengah halaman utama pesantren.
Matahari menjelang siang itu mulai naik tinggi, memancarkan terik Duha yang menyengat kulit. Halaman utama Al-Falah yang sangat luas dan dilapisi semen itu terasa seperti pemanggang raksasa. Hawa panas menguar dari permukaan tanah, beradu dengan angin kering yang membuat debu-debu beterbangan.
Srek... srek... srek...
Naya mulai mengayunkan sapu lidinya dengan tangan yang gemetar. Setiap kali ia membungkuk untuk mengumpulkan daun-daun kering pohon mangga, kepalanya berdenyut hebat. Pandangan matanya mulai kabur, berbayang-bayang hitam. Keringat dingin bercucuran deras membasahi dahi dan punggung gamisnya.
"Sial... pusing banget," bisik Naya pada dirinya sendiri. Ia mencengkeram gagang sapu lidi erat-erat, mencoba menjadikan benda itu sebagai penopang tubuhnya yang kian melemah. Lambungnya yang kosong melilit hebat, memicu rasa mual yang mendesak di tenggorokan.
Dunia di sekitar Naya perlahan-lahan mulai berputar. Suara riuh santriwati yang lalu-lalang terdengar samar dan menjauh di telinganya. Warna-warni di sekelilingnya mendadak memudar menjadi abu-abu kegelapan. Tubuh Naya benar-benar sudah mencapai batas kemampuannya.
Tepat saat jam menunjukkan pukul sebelas lewat tiga puluh menit, lonceng tanda persiapan salat duhur berdentang nyaring di area pesantren.
Gus Zayyan, yang baru saja keluar dari rumah ndalem dengan mengenakan jubah abu-abu bersih dan bersiap menuju masjid untuk mengimami salat berjamaah, mendadak menghentikan langkah kakinya di selasar utama. Sepasang matanya menangkap siluet seorang gadis di tengah halaman yang luas di bawah terik matahari yang membakar.
Zayyan menajamkan pandangannya. Jantungnya mendadak mencos seketika saat mengenali postur tubuh dan warna gamis tersebut. Nayanika? Kenapa dia masih di sana?
Belum sempat Zayyan mencerna situasi, di kejauhan sana, tubuh Naya tampak limbung ke kanan. Sapu lidi di genggamannya terlepas begitu saja, jatuh berderak di atas semen panas. Kedua lutut Naya menekuk kaku, dan tubuh ringkih gadis kota itu ambruk, jatuh pasrah menuju permukaan ubin halaman yang keras.
"Nayanika!"
Suara bariton Zayyan yang biasanya tenang dan berwibawa mendadak pecah oleh rasa panik yang amat sangat. Tanpa memedulikan pandangan puluhan santri yang mulai berdatangan menuju masjid, atau batasan ketat antara dirinya sebagai seorang Gus dan santri putri, Zayyan berlari kencang membelah halaman pesantren.
Gerakan tubuhnya begitu cepat, jubah abu-abunya berkibar tertiup angin kering Duha. Tepat sebelum kepala Naya menghantam kerasnya lantai semen yang panas, sepasang lengan kokoh Gus Zayyan meluncur cepat, menangkap tubuh lunglai gadis itu ke dalam dekapannya.
Naya sudah tidak sadarkan diri sepenuhnya. Wajahnya putih pucat bak mayat, bibirnya kering pecah-pecah, dan deru napasnya terdengar tipis serta putus-putus. Saat kulit tangan Zayyan menyentuh dahi Naya, suhunya terasa begitu panas menyengat.
Zayyan mengetatkan rahangnya. Kilat kemarahan dan kecemasan yang belum pernah terlihat sebelumnya kini berkobar hebat di kedua matanya. Tanpa ragu sedikit pun, ia mengangkat tubuh Naya ke dalam gendongannya, membawa gadis itu menjauh dari terik matahari menuju posko kesehatan pesantren dengan langkah lebar yang terburu-buru.
Namun, baru beberapa langkah Zayyan berjalan, segerombolan pengurus pesantren beserta Ustadzah Maryam yang baru keluar dari kantor putri mendadak muncul di ujung koridor, menghentikan langkah mereka dengan mata terbelalak lebar menyaksikan pemandangan tak biasa di depan mata mereka.
"Astagfirullah hal adzim! Gus Zayyan?!" pekik Ustadzah Maryam dengan wajah syok tak percaya melihat Gus pujaan pesantren tengah mendekap erat tubuh Nayanika.
Zayyan menghentikan langkahnya sejenak. Ia tidak membalas pekikan itu dengan kata-kata, melainkan memberikan satu tatapan mata yang begitu tajam, gelap, dan penuh dengan ancaman mutlak kepada Ustadzah Maryam. Sebuah tatapan yang seolah menjanjikan kehancuran bagi siapa saja yang telah membuat gadis di dalam dekapannya menderita.
BERSAMBUNG
ahhhh gus zayyan, naya yg di perhatiin aku yg baperrrrrrr
lanjut thor up yg banyak