NovelToon NovelToon
Azura And The Lost King

Azura And The Lost King

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Misteri / Fantasi
Popularitas:591
Nilai: 5
Nama Author: HikmahToo

Di hari pertama penobatannya sebagai Raja Lunaventia, Leonard Anvincet Hills menghilang tanpa jejak.

Saat membuka mata, ia tidak lagi berada di istana, melainkan di kamar seorang gadis bernama Azura.

Bagi Leonard, dunia ini benar-benar gila.

Kereta berjalan tanpa kuda.
Air mengalir dari dinding.
Orang-orang berpakaian aneh.
Dan yang paling keterlaluan, semua orang menganggapnya gila saat ia mengaku sebagai seorang raja.

Sementara Leonard mati-matian mencari jalan pulang ke kerajaannya, Azura justru harus menghadapi pemuda keras kepala yang selalu berbicara dengan bahasa bangsawan dan menganggap semua teknologi modern sebagai sihir.

Hari demi hari, pertengkaran mereka berubah menjadi kedekatan yang tidak pernah mereka duga.

Namun di balik hilangnya Leonard, tersimpan rahasia besar yang dapat mengubah dua dunia sekaligus.

Ketika kesempatan untuk kembali akhirnya muncul, apa yang akan dipilih seorang raja?

Takhtanya...

Atau gadis yang berhasil mencuri hatinya?

up rutin. 06:00

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HikmahToo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

ponsel ditempat sampah

Angin malam berembus pelan. Meski hari sudah gelap, jalanan ibu kota masih dipenuhi kendaraan yang mengular panjang.

Di rumah keluarga Maelvianne Eleanor.

Azura di ambang pintu kamar Monica, terdiam mematung dengan mulut terbuka lebar, menatap lurus pada kedua orangtuanya yang tengah berjoget ria di depan hp yang di letakkan di tripod.

Mereka belum menyadari kehadiran Azura yang menatap mereka tak percaya.

Azura perlahan mendekat, suara musik yang berasal dari ponsel terdengar.

Azura mendelik sebal, menyilangkan kedua tangannya menatap malas pada orangtuanya yang tengah tiktokan.

"Papi yang bener dong! Kita gagal terus, yang konsisten!" Omel Monica yang mengulang kembali rekamannya.

Jody menghela nafas pasrah, dia kembali mengikuti gerakan Monica yang lincah dengan terpaksa, bahkan wajahnya menampilkan senyum tertekan.

Saat sedang asik, Azura muncul di tengah-tengah mereka, membuat mereka berdua kaget.

"Eh burung papi burung papi" latah Monica, menatap Azura dengan melotot.

Jody dan Azura melotot sangar pada Monica karna mendengar perkataan nya.

Monica langsung gugup, dia buru-buru mematikan ponselnya, dengan salah tingkah.

"Mami ngapain sih joget-joget gitu? Inget umur yaampun!" Sinis Azura dengan mata menyipit.

Monica manyun kesal sekaligus malu, sementara Jody mengusap tengkuknya, berusaha cool, bingung harus menjelaskan apa.

"Mami- lagi cari hiburan, kenapa?" Ucapnya gelagapan "Kamu ngapain sih masuk gak ketok pintu? Gak sopan banget!" Katanya berusaha marah, walau tak di pungkiri kini wajahnya memerah.

"Cari hiburan!" Cibirnya tak suka." Aku nyari ponsel aku! Gak ada di kamar, tadi terakhir mami yang pinjem kan?" Rengeknya sedikit memekik.

"Kan mami taro di meja ruang tamu, udah kamu cari di sana?"

"Belum"

"Yaudah cari dulu makanya, kalo masih gak ketemu baru nanya ke mami. Kamu itu harus berusaha sendiri dulu, kalo emang gak bisa, baru minta tolong sama orang lain"

Azura mengangga, alisnya menukik tak senang.

"Apa sih? Mami gak nyambung" katanya sembari melengos pergi.

Sepeninggalan Azura, Jody langsung menutup pintu kamar, dan berlari ke kasur menenggelamkan kepalanya pada selimut.

"Papi malu mih! Anak gadis kita liat kita joget-joget!" Teriak Jody, namun tertahan karna dia menekan kepalanya pada selimut.

Monica shock melihat suaminya yang malah seperti remaja yang tengah salting brutal.

Dia melebarkan matanya dengan mulut terbuka.

Di tangga, Azura berpapasan dengan Leon yang juga hendak ke atas.

Mereka saling tatap sejenak.

Sebelum gadis itu memutus kontak terlebih dahulu.

" Kemana Lo?"

"Di bawah ada teman-temanmu. mereka sudah menunggu sejak tadi. Aku tadinya ingin memberitahumu jika saja kau belum tau."

Azura mengangguk pelan, turun ke bawah di ikuti Leon. "Tau kok, kita udah janjian tadi sore."

Leon tak merespon, dia hanya diam sembari turun.

Saat akan berjalan menuju kamarnya, Azura keburu menghentikan langkahnya.

"Eeh... Lo mau ke mana?" Tanya Azura menatap Leon heran.

Leon mengangkat alis samar. "Aku ingin ke kamar."

"Ngapain? Buru ikut kumpul sama gue, Lo gak sumpek apa tiap hari ngurung diri di kamar? Jagain telur, ya?" Celetuknya asal.

Leon hendak menolak, namun Azura terlanjur menarik tangannya.

"Udah yu, temen gue gak makan orang kok"

Leon terseret pasrah mengikuti Azura ke ruang tamu.

Azura mendekati teman-temannya yang tengah duduk di kursi, dengan Excel di tengah-tengah mereka.

"Kak Fafa sama ka irin nginep aja di sini. Ada om ganteng tau." Celetuk Excel polos.

Sherina dan Tiffany saling menatap sengit.

" Cel, menurut kamu, ka Fafa sama Irin cantikan siapa?" Tanya Tiffany.

" Cantikan gue lah! Lo mah berisik, mana mau dia sama Lo! Lagian Lo kan udah ada Gabriel" Kata Sherin mengibaskan rambutnya.

Tiffany tak terima, mendorong kepala Sherin hingga hampir terjungkal."jangan sembarangan ya Lo anjing, gini-gini gue menarik, gak kayak Lo. Item, burik lagi" ucapnya menohok dengan bibir ke atas.

Sherin berdiri, menatap Tiffany tajam dengan berdecak pinggang. "Maksud Lo apa dorong-dorong? Ngajak ribut?!" Sinis Sherina melotot, seraya mengepalkan kedua tangannya didepan.

Tiffany ikut berdiri, matanya menantang pada Sherina. "Ayok! Siapa takut!"

Excel yang berada di tengah-tengah mendongkak, menatap Tiffany dan Sherina bergantian. Dia juga ikut berdiri seraya merentangkan tangannya.

" Ihk! Kok berantem sih? Sok jago ya kalian!"

"Kenapa si? Mau gelud di sini? Duduk!" Tanya Azura yang baru saja tiba di sana.

Sudah mendapati kedua temannya tengah beradu argumen.

Tiffany dan Sherina saling menatap sinis, kemudian saling membuang muka judes dan kembali duduk dengan saling membelakangi.

"Om Leon!" Pekik Excel ceria, langsung mendekati pria itu yang masih berdiri.

Yang langsung menarik perhatian Sherina dan Tiffany.

Excel menuntun pria itu untuk duduk di sofa.

Dan dia duduk di sebelahnya, tangannya menunjuk ke arah Tiffany juga Sherina yang tengah menatap Leon malu-malu.

"Mereka ngerebutin om tau, katanya mereka suka sama om" kata Excel tiba-tiba.

Membuat mereka membelalakan matanya menatap satu sama lain.

Membuat Leon menatap datar mereka.

'kapan gue bilang bilang gitu anjim?' batin Tiffany histeris, seraya menundukkan kepalanya.

Tak berbeda jauh dengan Sherina yang juga sama terkejutnya. Bahkan dia kini sudah membuang pandangannya dengan pipi bersemu. 'Excel!....' batinnya geram.

Azura berdecak jengah, memelototkan mata pada Excel. "Tidur sana! mami manggil tadi, jangan suka ikut campur sama orang dewasa deh dek"

Excel cemberut, menatap Azura sinis. "Kan Om Leon sendirian. Kasihan nanti gak punya temen."

"Gak usah banyak alesan, entar temen cowo kaka juga ke sini. Sana ah ke mami"

"Gak mau!"

"Adek!"

"Gak mau Kaka!"

"Tadi kata mami tab kamu udah di charge, sana main mario"

Mendengar itu, Excel antusias berdiri, menatap Azura dengan mata berbinar. "Kaka serius?"

"Serius"

"Gak bohong?"

"Enggak!"

"Kaka bohong pasti"

Azura menukik alis geram. "Enggak! sana liat aja sendiri!"

Excel langsung berlari menuju kamar Monica.

Azura menggeledah meja, menyingkirkan buku-buku yang berada di atas meja.

Membuat Tiffany refleks mengambil bukunya dengan heran.

Leon yang memperhatikan itu mengangkat alis samar."kau mencari sesuatu?" Tanyanya datar.

Azura mendongkak sejenak, mengangguk pelan sambil terus mencari ponselnya."gue nyari ponsel, Lo ada liat?"

"Ponsel?"

"Iya, benda kotak segi panjang" katanya, sembari mengambil ponsel Sherina yang tergeletak."yang kayak gini. Lo liat? kata mami di simpan di sini" tanya Azura sambil memperlihatkannya pada Leon.

Leon terlihat berpikir sejenak, kemudian melotot samar.

'apa gadis ini tidak akan langsung membunuhku jika aku mengatakannya? Sepertinya benda itu sangat berguna'

Leon terlihat menelan ludah berat, berusaha tidak bersitatap dengan Azura.

Namun Azura yang melihat gelagat aneh Leon segera menyipitkan matanya.

"Lo liat ponsel gue kan?" Tanya Azura.

Leon merasa tatapan gadis itu terasa mengintimidasi, membuatnya gugup.

"Aku-"

"Liat gak? Buru... Gue mau nelpon temen gue"

"Lo yakin nyimpen ponsel di sini?" Tanya Sherina, yang tengah ikut mencari.

Azura mengangguk. "Hemm... Mami gue yang nyimpen di sini"

"Yaudah gue telpon" Tiffany mencari kontak Azura, dan mulai menelponnya.

Leon menggenggam kedua lututnya pelan di balik meja. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia berharap benda itu tidak berbunyi.

Tak lama, terdengar suara dering ponsel Azura. Yang membuat mereka aneh, ponselnya seperti berada jauh dari ruang tamu.

Mereka saling pandang sejenak, berdiri serentak mengikuti suara dari ponsel Azura yang entah ada di mana.

Sementara Leon tengah panik di tempatnya, dia berusaha menetralkan ekspresi supaya tetap tenang, walaupun jantung berdetak tak karuan.

Leon yang tidak pernah punya rasa takut akan hal apapun sebelumnya, setelah Sampai di rumah ini dia mendadak takut akan semua hal, terutama pada gadis bernama Azura.

Karna gadis itu galaknya melebih apapun yang pernah Leon temui.

Azura melotot, ketika mendapati ponselnya berada di tempat sampah dapur.

Dia menatap ngeri dan mengambilnya.

"INI SIAPA YANG BUANG PONSEL GUE KE SINI!!!" teriaknya nyaring, Tiffany dan Sherina sampai menutup kedua telinga mereka.

Bersambung...

1
gendiz
semangat lanjutkan menulisnya 💪 kalau sempat mampir baca karyaku juga ya
HikmahToo: iya kak✨ makasih udah mampir
total 1 replies
MayAyunda
mampir tor
HikmahToo: makasih kak🙏😍
total 1 replies
HikmahToo
guys jangan lupa kasih bintang nya ya, maacih
MayAyunda
lanjut kak
Yue xin🥀(⁠.⁠ ⁠❛⁠ ⁠ᴗ⁠ ⁠❛⁠.⁠)
semangat buat penulis 💚
HikmahToo: makasih ka✨
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!