"Cinta yang seharusnya membuat Layla merasa bebas, justru menjadi rantai belenggu yang mengikat erat dirinya. Di antara kekuasaan dan luka masa lalu serta hasrat panas membara, ia terjebak di kobaran asmara yang gelap. Bayangan kelam masa lalu masih menghantuinya. Akankah ia bisa memilih melepaskan diri dari belenggu yang menyiksa batinnya atau memeluk belenggu itu selamanya?"
[DARK ROMANCE]
[OBSESI]
[CEO]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lenny Utami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CDB 28
Layla mengurung diri di kamar, ia meringkuk di lantai tatami dengan matanya yang sembab. Kata-kata terakhir yang di ucapkan Bennedict masih membekas di ingatan Layla. Kalimat itu seolah-olah menghantuinya setiap waktu.
Zhao Lee berdiri dekat di balik pintu kamar Layla dan berkata...
"Layla, ijinkan aku masuk," ucap Zhao Lee lembut, ia membawa nampan berisi makanan dan obat.
Layla menoleh ke arah sumber suara. Ia menjawab lirih.
"Pergilah, aku tidak ingin di ganggu."
Zhao Lee menghela nafas panjang lalu membuka pintu dengan keras.
SRETT...
Zhao Lee menegur tegas Layla.
"Sampai kapan kau akan terus murung begini Layla?"
"Bahkan malam ini kau tak menyentuh dan meminum obat mu, Layla. Haruskah aku yang menyuapi mu?" ucap Zhao Lee.
Rasa kesal bercampur khawatir menyelimuti Zhao Lee.
Zhao Lee mengambil nafas panjang.
Ia menghampiri Layla. Menempatkan nampan itu di samping Layla dan duduk didepan Layla.
"Layla... ada kabar dari lapas." ucap Zhao Lee pelan.
Layla langsung mengangkat wajahnya.
"Apa maksudmu?" tanya Layla.
Zhao Lee terdiam beberapa detik sebelum menjawab pelan.
"Bennedict meninggal." ucap Zhao Lee.
"Lupakan dia Layla, dia sudah tenang di alam sana,'' ucap Zhao Lee.
"Depresi berat mendorongnya membuat keputusan ekstrim di balik jeruji besi penjara yang dingin," ucap Zhao Lee.
Layla menggeleng tak percaya.
"Tidak, dia bukan orang yang seperti itu," ucap Layla.
"Apa kau yakin, Layla?" tanya Zhao Lee.
Layla ingat sorot mata Bennedict yang gelap waktu itu.
Layla tertunduk lesu, air matanya kembali jatuh menetes.
Zhao Lee meletakan nampan itu lalu memeluk Layla sambil mengusap lembut punggung Layla.
"Ini bukan salah mu, Layla," ucap Zhao Lee.
Layla hanya menangis.
"Cuaca malam ini cerah, mau jalan-jalan bersama ku?" kata Zhao Lee lembut.
Layla menggeleng.
"Ada sesuatu yang indah ingin aku tunjukkan pada mu." ucap Zhao Lee.
Layla menggeleng kembali.
"Aku bukan sedang diskusi Layla," ucap Zhao Lee lembut sedikit mengintimidasi.
Malam itu Zhao Lee dan Layla berjalan berdua di bawah sinar rembulan.
Zhao Lee merangkul mesra pinggang Layla, tatapannya seakan tak ingin berpaling melihat Layla yang berjalan menunduk.
"Singkirkan tangan mu dari dari pinggang ku, Zhao Lee,'' ucap Layla tegas.
"Aku hanya menjagamu, Layla," ucap Zhao Lee lembut.
Layla mengeryitkan dahi..
"Pembohong!" ujarnya dalam hati.
Layla melihat sekitar, ia tampak asing dengan sekelilingnya.
"Dimana kita?" tanya Layla.
Zhao Lee tersenyum manis...
"Bisa di bilang halaman belakang rumah,''
Layla agak terkejut...
"Dia bahkan punya taman hutan pribadi di belakang rumahnya," kata Layla dalam hati.
"Aku membangun ini untuk hobi berburu ku, namun beberapa tahun belakangan aku sudah jarang ke sini lagi. Pekerjaan membuat ku sibuk.'' ucap Zhao Lee.
Layla hanya diam..
"Mau ikut berburu, Layla. Aku rasa akan mendapat tangkapan besar kali ini. Kita bisa menjumpai hewan-hewan unik di hutan ini." ucap Zhao Lee.
Layla menggelengkan kepala..
"Kalau begitu ini perintah, tidak ada kata menolak," ucap Zhao Lee
Kemudian beberapa saat kemudian mereka sampai di suatu ladang bunga hortensia putih di tengah hutan, bunga itu memancarkan warna perak yang indah di bawah sinar bulan.
Layla terpana melihat kecantikan di setiap sinar kelopak bunga itu.
"Mau turun, Layla?"
Zhao Lee mengulurkan tangannya. Ia sudah maju lebih dulu turun ke bawah.
Seolah di hipnotis, Layla refleks menyambut tangan Zhao Lee tanpa ragu. Zhao Lee tersenyum melihat ekspresi wajah Layla.
Kemudian mereka duduk di kursi panjang yang ada di sana. Zhao Lee membuka kotak bekal yang ia bawa sedari tadi.
"Makanlah Layla,'' ucap Zhao Lee
Layla melirik kotak bekal itu..
"Haruskah aku yang menyuapi mu?" Zhao Lee tersenyum.
Layla berbalik melirik ke arah Zhao Lee.
Tanpa sepatah kata pun ia makan dan menghabiskan semua isi kotak bekal itu. Zhao Lee kembali tersenyum, misinya sukses untuk membuat Layla makan.
Layla memandang ladang bunga hortensia di depannya. Bunga itu mengingatkannya akan sesuatu yang penting dalam hidupnya.
Layla teringat taman kecil di rumah lamanya. Di sudut taman itu, Hendi pernah menanam beberapa rumpun hortensia untuknya. Setiap kali bunga-bunga itu bermekaran, Hendi selalu berkata bahwa keindahan tidak selalu lahir dari kehidupan yang mudah. Kini, bunga yang sama kembali hadir di hadapannya, tetapi orang yang dulu menemaninya menikmati keindahannya telah lama tiada.
Layla menghela nafas panjang..
Tiba-tiba bayangan Bennedict terlintas di pikirannya.
"Katakan padaku Zhao Lee, apa kau terlibat dalam kasus Bennedict?''
Zhao Lee tersenyum tipis.
"Menurutmu bagaimana?"
Layla menatap tajam ke arah Zhao Lee, ingin rasanya ia menampar wajah tampan itu...
"Ada yang menantang ku bermain bidak catur Layla. Aku hanya menerima tantangan itu. Aku hanya memastikan bidak itu tidak sampai menyentuh, mu" ucap Zhao Lee tenang.
"Mengapa anda begitu brengsek, saya benci anda," ucap Layla tegas.
Zhao Lee melihat ke arah Layla.
"Apa kau tau? Aku melakukan semua ini hanya untuk melindungi mu, Layla," ucap Zhao Lee.
"Melindungi dari siapa?! Justru ancaman saya adalah anda, Tuan Zhao Lee yang terhormat," Layla menekankan kalimat terakhir dengan rasa kesal.
Zhao Lee tersenyum tipis.
"Sudah saatnya kita kembali, Layla," ucap Zhao Lee tenang.
Zhao Lee mengulurkan tangannya kembali, namun kali ini Layla menolak.
"Saya bisa jalan sendiri,'' ucap Layla tegas.
Zhao Lee hanya tersenyum. Ia melirik ke sekeliling, meningkatkan kewaspadaannya. Pistol di balik jaketnya siap ia kenakan sewaktu-waktu.
Zhao Lee menghela nafas panjang.
Dalam hati Zhao Lee berkata...
"Kapan mereka akan berhenti menganggu ku. Aku sudah muak."
Kemudian mereka berjalan pulang.
Zhao Lee merangkul kembali pinggang Layla.
"Apa yang anda lakukan, Tuan,'' ucap Layla ketus.
"Aku hanya berjaga, Layla. Aku sudah mencampurkan obatmu ke dalam makan malam tadi. Aku tahu kalau kuberikan langsung, kau pasti tidak akan meminumnya," ucap Zhao Lee sambil tersenyum.
Layla kembali mentap tajam mata Zhao Lee.
"Bukan obat yang aneh-aneh, itu hanya obat yang kamu konsumsi akhir-akhir ini, Layla. Beberapa hari ini kamu melewatkan jam minum obat mu, kan. Aku hanya membantu," ucap Zhao Lee.
Tak lama kemudian, kelopak mata Layla terasa semakin berat. Tubuhnya kehilangan tenaga hingga tak mampu lagi menopang dirinya.
Zhao Lee menangkap tubuh Layla sebelum terjatuh, lalu menggendongnya kembali ke kamar.
Dengan hati-hati ia membaringkan Layla di atas kasur dan menarik selimut hingga menutupi tubuhnya.
Zhao Lee kemudian berbaring di sisi lain ranjang. Ia tidak memejamkan mata. Dalam gelap, tatapannya terus tertuju pada wajah Layla yang akhirnya tertidur lelap.
Perlahan ia menyelipkan sehelai rambut yang menutupi wajah Layla ke belakang telinganya.
"Selamat malam, Layla," bisiknya pelan.
Di luar kamar, angin malam kembali berembus pelan. Namun Zhao Lee tahu, selama musuh-musuhnya belum benar-benar lenyap, tidak ada satu malam pun yang benar-benar tenang.
*"*"*"*"*"**"
Ini novel pertama ku semoga kalian enjoy bacanya ya temen-temen.
Terimakasih yang udah dukung aku
semoga hidup kalian lancar jaya..❤️
Jangan lupa like, komen, share, gift juga boleh, kasih bintang juga boleh...☺️
bener² keinginan author yang dicurahkan ke tulisan loh gaa🤭🤭