NovelToon NovelToon
Alea & Adrian

Alea & Adrian

Status: tamat
Genre:Nikah Kontrak / Percintaan Konglomerat / Pernikahan rahasia / Tamat
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Althea Shalmaira

"Alea & Adrian" mengisahkan dua pewaris tunggal imperium bisnis terbesar di Kota Valerika, Alea Corisand dan Adrian Hutama. Terikat wasiat mutlak sang kakek, mereka dipaksa menikah demi penyatuan korporasi. Padahal, keduanya telah memiliki kekasih masing-masing dari kalangan elit.

Enggan mengorbankan cinta, Alea mengusulkan ide nekat: pernikahan kontrak di atas kertas selama enam bulan. Setelah meyakinkan pasangan masing-masing, mereka pindah ke sebuah penthouse mewah dan hidup dalam batasan kamar terpisah yang ketat.

Namun, sandiwara profesional ini perlahan retak. Intensitas kebersamaan memicu getaran aneh yang tak terduga di antara keduanya. Di saat garis batas hati mulai kabur, sebuah ancaman misterius dari masa lalu mengintai, memaksa mereka saling bersandar demi bertahan hidup. Siapakah yang akan bertahan hingga akhir kontrak?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Althea Shalmaira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

25. Saksi Terakhir Aurora

Hujan turun tanpa henti sejak dini hari.

Butiran air menghantam dinding kaca The Obsidian, menciptakan alunan ritmis yang biasanya menenangkan.

Namun malam ini, suara itu justru terdengar seperti hitungan mundur menuju sesuatu yang tidak dapat dihindari.

Di ruang kerja, Adrian masih menatap koordinat yang tersisa di layar monitornya.

Pesan misterius itu telah menghilang.

Tidak ada jejak digital.

Tidak ada alamat IP.

Tidak ada metadata.

Seolah seseorang muncul dari kehampaan, menyampaikan pesan, lalu menghilang kembali ke dalam kegelapan.

Tetapi koordinat itu nyata.

Dan mereka berdua mengetahuinya.

"Aku tidak suka ini."

Alea berdiri di dekat jendela dengan kedua tangan menyilang di depan dada.

"Orang yang sama sudah dua kali mencoba membunuh kita. Sekarang dia mengundang kita bertemu?"

Adrian mengangguk pelan.

"Secara logika, ini memang jebakan."

"Lalu kenapa wajahmu terlihat seperti sudah memutuskan untuk pergi?"

Karena Adrian mengetahui sesuatu.

Sesuatu yang juga dipahami Alea meski enggan mengakuinya.

Mereka sudah terlalu jauh melangkah.

Terlalu banyak rahasia yang terbuka.

Terlalu banyak orang yang terluka.

Dan kini mereka berada di titik di mana mundur bukan lagi pilihan.

"Aurora dimulai dua puluh tahun lalu."

Suara Adrian tenang.

"Dan untuk pertama kalinya seseorang menawarkan jawaban langsung."

Alea mengembuskan napas panjang.

Ia membenci ketika Adrian menggunakan logika yang masuk akal.

Karena itu membuatnya sulit membantah.

Satu jam kemudian.

SUV hitam milik Adrian melaju meninggalkan pusat kota Valerika.

Hujan semakin deras.

Jalanan semakin sepi.

Gedung-gedung pencakar langit perlahan tergantikan oleh kawasan industri tua yang sudah lama ditinggalkan.

Lampu jalan mulai jarang terlihat.

Bangunan-bangunan kosong berdiri seperti kerangka raksasa yang dilupakan waktu.

Alea duduk di kursi penumpang.

Foto Helena Armand berada di pangkuannya.

Entah mengapa, semakin lama ia memandangi foto itu, semakin besar perasaan bahwa wanita tersebut adalah kunci dari seluruh misteri ini.

"Bukankah aneh?"

gumam Alea.

"Apa?"

"Selama ini kita fokus pada Leonard."

Adrian meliriknya sekilas.

"Tapi orang misterius itu justru meminta kita membawa foto Helena."

Adrian tidak menjawab.

Karena ia memikirkan hal yang sama.

Jika Leonard adalah ancaman...

maka Helena kemungkinan adalah jawaban.

Dua puluh menit kemudian.

Mereka tiba.

Bangunan yang ditunjukkan koordinat itu ternyata adalah sebuah pabrik pengolahan data lama milik pemerintah.

Setidaknya itulah yang tertulis pada papan logam berkarat di depan gerbang.

Pabrik itu sudah tidak beroperasi selama bertahun-tahun.

Sebagian dindingnya runtuh.

Jendela-jendelanya pecah.

Cat abu-abunya mengelupas dimakan usia.

Namun ada satu hal yang membuat Adrian langsung waspada.

Lampu menyala.

Satu jendela di lantai dua memancarkan cahaya redup.

Seseorang berada di dalam.

Mereka memasuki bangunan dengan hati-hati.

Langkah kaki mereka bergema di lorong kosong.

Aroma debu dan logam tua memenuhi udara.

Di ujung koridor terdapat tangga menuju lantai dua.

Saat mereka mendekat, suara seseorang terdengar.

"Tepat waktu."

Alea langsung menegang.

Adrian refleks bergerak sedikit di depan Alea.

Melindunginya.

Gerakan kecil yang kini mulai terjadi secara alami.

Tanpa disadari keduanya.

Di ujung ruangan lantai dua, seorang pria tua duduk di belakang meja kayu.

Usianya mungkin sekitar tujuh puluh tahun.

Rambutnya memutih.

Wajahnya dipenuhi garis-garis usia.

Namun matanya masih tajam.

Terlalu tajam.

Mata seseorang yang telah menyimpan rahasia terlalu lama.

Pria tua itu memandang mereka lama.

Lalu tersenyum tipis.

"Aku mulai khawatir kalian tidak datang."

Adrian tetap berdiri.

"Siapa Anda?"

Pria itu tidak langsung menjawab.

Tatapannya justru berpindah ke foto Helena yang dibawa Alea.

Ada kesedihan yang begitu dalam di wajahnya.

Kesedihan yang telah hidup selama puluhan tahun.

"Kalian benar-benar membawanya."

Alea mengerutkan dahi.

"Anda mengenalnya?"

Pria tua itu menutup mata sesaat.

Seolah sedang mengumpulkan keberanian untuk menghadapi masa lalu.

"Kami bertunangan."

Ruangan langsung sunyi.

Alea dan Adrian saling berpandangan.

Mereka tidak mengira jawaban itu.

Sama sekali tidak.

Pria tua itu tersenyum pahit.

"Namaku Victor Hale."

"Dan aku adalah orang terakhir yang melihat Helena Armand hidup."

Detik berikutnya terasa lebih berat daripada seluruh perjalanan mereka menuju tempat ini.

Karena kini mereka akhirnya berhadapan dengan seseorang yang benar-benar berada di sana dua puluh tahun lalu.

Seseorang yang menyaksikan semuanya.

Saksi hidup terakhir Aurora.

Victor bangkit perlahan.

Ia berjalan menuju jendela.

Hujan masih turun deras di luar.

"George Corisand."

"William Hutama."

"Leonard Voss."

"Tiga pria paling cerdas yang pernah kutemui."

Nada suaranya dipenuhi nostalgia.

Namun juga penyesalan.

"Dan ketiganya membuat kesalahan terbesar dalam hidup mereka."

Adrian melangkah maju.

"Apa sebenarnya Aurora?"

Victor terdiam beberapa saat.

Kemudian tertawa kecil.

Bukan tawa bahagia.

Melainkan tawa seseorang yang sudah terlalu lama memikul beban.

"Kalian masih mengira Aurora adalah proyek bisnis."

"Ternyata bukan?"

Victor menggeleng.

"Aurora adalah eksperimen."

Alea merasakan dadanya menegang.

Eksperimen.

Kata itu langsung mengubah segalanya.

Victor melanjutkan.

"Dua puluh tahun lalu, dunia sedang berubah."

"Internet berkembang pesat."

"Media digital mulai lahir."

"Data menjadi komoditas baru."

"Dan Leonard memiliki sebuah ide."

Victor menatap mereka.

Tatapannya perlahan berubah suram.

"Ide yang terlalu maju untuk zamannya."

"Apa idenya?"

tanya Adrian.

Victor menarik napas panjang.

Lalu menjawab.

"Memprediksi manusia."

Keheningan.

Alea berkedip.

Adrian membeku.

Victor melanjutkan.

"Leonard percaya bahwa setiap manusia meninggalkan pola."

"Kebiasaan."

"Pilihan."

"Keputusan."

"Ketakutan."

"Keinginan."

"Jika semua data itu dikumpulkan, maka perilaku seseorang dapat diprediksi."

Alea perlahan mulai memahami.

"Seperti algoritma media sosial?"

Victor tersenyum tipis.

"Jauh sebelum media sosial berkembang."

Jantung Adrian berdegup lebih cepat.

Karena sekarang semuanya mulai masuk akal.

Aurora.

Data.

Manipulasi.

Kontrol.

Prediksi.

"Leonard ingin menciptakan sistem yang mampu memperkirakan keputusan manusia sebelum keputusan itu dibuat."

Victor menatap mereka.

"Dan yang lebih mengerikan..."

Ia berhenti.

Lalu melanjutkan dengan suara pelan.

"Sistem itu berhasil."

Alea langsung membeku.

"Tidak mungkin."

"Aku berharap kau benar."

Victor mengusap wajahnya.

"Karena saat itulah semuanya berubah."

Ia berjalan menuju lemari tua di sudut ruangan.

Mengambil sebuah map lusuh.

Lalu meletakkannya di atas meja.

"Helena ingin menghentikan proyek itu."

"George mulai ragu."

"William takut."

"Hanya Leonard yang tetap melanjutkan."

Victor membuka map tersebut.

Di dalamnya terdapat puluhan foto.

Dokumen.

Grafik.

Laporan penelitian.

Dan sebuah foto yang membuat Adrian berhenti bernapas sesaat.

Foto itu memperlihatkan empat orang berdiri bersama.

George.

William.

Helena.

Leonard.

Namun di belakang foto terdapat tulisan tangan.

Tulisan Helena.

Jika Leonard menyelesaikan fase ketiga, manusia tidak lagi memilih masa depannya sendiri.

Ruangan mendadak terasa lebih dingin.

Victor memejamkan mata.

"Seminggu setelah Helena menulis kalimat itu..."

"Semuanya runtuh."

"Apa yang terjadi?"

tanya Alea.

Victor menatap mereka.

Tatapannya dipenuhi kesedihan.

Luka lama yang belum pernah sembuh.

Kemudian ia mengucapkan kalimat yang mengubah segalanya.

"Helena dibunuh."

Alea membeku.

Adrian terdiam.

Hujan di luar terdengar semakin keras.

Seolah seluruh dunia ikut menahan napas.

"Siapa yang membunuhnya?"

Suara Alea hampir tidak terdengar.

Victor menunduk.

Lama.

Sangat lama.

Lalu perlahan mengangkat wajahnya.

Air mata terlihat di sudut matanya.

Dan untuk pertama kalinya sejak mereka tiba, pria tua itu tampak benar-benar ketakutan.

"Bukan itu pertanyaan yang harus kalian ajukan."

Jantung Adrian langsung berdegup lebih cepat.

Victor menatap keduanya.

Lalu berkata:

"Pertanyaan yang benar adalah..."

"Bagaimana jika Helena tidak pernah mati?"

Keheningan langsung menghantam ruangan.

Alea merasa seluruh tubuhnya membeku.

Sementara Adrian menatap Victor tanpa berkedip.

Karena kalimat itu hanya memiliki satu kemungkinan.

Satu kemungkinan yang tidak masuk akal.

Tidak logis.

Dan sangat berbahaya.

Victor menggenggam foto Helena erat-erat.

Lalu berbisik pelan,

"Aku melihat makamnya."

"Aku menghadiri pemakamannya."

"Tapi selama dua puluh tahun terakhir..."

Ia menatap langsung ke mata Adrian dan Alea.

"...aku terus menerima pesan darinya."

1
Vanni Sr
bnr² woyyyy di bab ini blg lg wallianm ayah adrian , gmn sih nulis ny
꧁𖣔⃟⃝⃞𒈙᭄404᭄𒈙⃞⃝𖣔꧂: 🤣🤣🤣🤣🤣
total 3 replies
Vanni Sr
g nyambungggg, george itu kakek apa ayah alea?? clarissa itu apa bianca ganti² , ngaco sih ini
typ
apa part 40 dan 41 terbalik?
Althea Shalmaira: benar, terima kasih mengingatkan,, akan saya coba althe perbaiki yah🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!