"Angka? "
angka yang muncul diatas kepala Ivy, setelah mendapatkan diagnosa dari dokter tentang batas akhir hidupnya.
Ivy yang menghargai setiap waktu, memutuskan untuk hidup untuk dirinya. karena selama ini dia setelah kembali ke keluarga Dermawan. Ivy hidup seperti boneka, membahagiakan orang lain dan bersaing dengan Oliv saudara angkatnya.
Dengan bantuan mamanya yang mengetahui penyakitnya, Ivy melepaskan diri dari otoriter ayahnya.
Hidupnya berwarna disaat akhir hidupnya, saat bersama warga desa Gemilang. sambil memikirkan cara menambah angka hidupnya, sampai suatu hari dia tidak sengaja mencium Rama cahya yang merupakan paman mantan tunangannya.
Yang bisa menambah hari angka kehidupannya,akhirnya Ivy mendapatkan cara agar dirinya bisa hidup lebih lama.
Tapi sepertinya Ivy mengalami kesulitan, karena Rama bukan pria yang mudah didekati wanita.
Bisakah Ivy terus dekat dengan Rama?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anastasia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 23.Hangat dan nyaman.
Sejak keputusan itu disepakati, Ivy merasa hidupnya seolah memiliki tujuan baru. Ia tidak lagi menunggu kesempatan datang begitu saja, melainkan berinisiatif sendiri mendekati Rama setiap hari. Melalui bantuan Larry, asisten pribadi Rama yang sudah lama melayani keluarga Cahya, ia mendapatkan jadwal dan lokasi keberadaan pria itu secara akurat setiap jamnya—entah sedang berada di kantor pusat, di ruang rapat, atau bahkan di rumah pribadinya.
Setiap hari, Ivy selalu menyiapkan bekal makan siang sendiri, membawanya dalam kotak rantang yang rapi, lalu berangkat menemui Rama. Awalnya, usahanya selalu ditolak. Begitu sampai di depan pintu ruangan, ia mendengar jawaban dingin dari Rama: “Katakan padanya aku sedang sibuk, suruh pulang saja.” Namun, Ivy tidak pernah menyerah. Ia hanya akan menunggu di luar hingga waktu istirahat tiba, atau datang lagi keesokan harinya dengan senyum yang tetap sama. Lama-kelamaan, Rama merasa tidak tega melihat gadis itu terus diusir namun tetap datang kembali dengan ketekunan yang luar biasa.
Hingga suatu hari, ketika Ivy kembali muncul di lobi kantor utama, Larry sudah menunggu dengan senyum tipis. “Nyonya… maksud saya, Nona Ivy, Tuan Rama mengizinkan Anda masuk hari ini. Silakan ikut saya.”
Di antara para karyawan yang melihat, hanya ada rasa penasaran. Mereka mengira Ivy adalah keponakan atau kerabat dekat bos mereka, karena jarang ada orang yang diberi izin masuk ke ruang kerja pribadi Rama di jam-jam sibuk seperti itu hanya untuk mengantarkan makanan.
Begitu pintu ruangan besar itu terbuka, Ivy melihat Rama duduk di balik meja kerjanya yang luas, tenggelam dalam tumpukan dokumen dan laporan yang menumpuk. Suasana terasa hening dan resmi. Ivy melangkah masuk dengan santai, lalu melambaikan tangan seolah sedang menyapa teman lama.
“Hai, Rama! Hari ini aku datang lagi,” ucapnya dengan nada ringan dan tidak tertekan.
Rama hanya melirik sekilas tanpa mengangkat kepalanya, tatapannya tetap dingin dan datar. “Masuk saja, jangan berisik. Letakkan saja di meja samping dan segera pulang,” jawabnya singkat, seolah tidak ada hal penting yang perlu dibahas.
Namun, Ivy tidak berniat pergi begitu saja. Ia berjalan mendekat hingga berdiri tepat di depan meja kerja itu, lalu meletakkan rantang makanannya dengan pelan. Tanpa basa-basi lagi, ia menatap lurus ke arah Rama dan berbicara dengan nada yang serius namun tenang.
“Dengar, Rama. Aku datang ke sini bukan hanya sekadar mengantarkan makanan. Aku butuh kamu. Bagi orang lain, waktu terasa berjalan lambat, tapi bagiku setiap detik sangat berharga dan terbatas. Satu-satunya cara agar aku bisa terus hidup dan melanjutkan waktuku adalah dengan mendapatkan sentuhan dari dirimu.”
Mendengar penjelasan yang terus terang itu, Rama mulai merasa terganggu. Ia meletakkan pulpennya perlahan, lalu menutup dokumen yang sedang dibacanya. Tatapannya kini tertuju penuh pada Ivy, menyiratkan rasa ingin tahu sekaligus rasa waspada.
“Baiklah, aku sudah mendengarnya. Apa sebenarnya yang kau inginkan dariku? Katakan saja dengan jelas,” tanyanya dengan nada tegas.
Ivy mengangguk mantap. “Yang aku minta sederhana saja. Berikanlah waktumu sedikit saja untukku. Setiap kali kita bersentuhan—bahkan hanya sekadar berpegangan tangan selama satu detik saja—angka umurku akan bertambah satu hari. Semakin lama kita bersentuhan, semakin banyak pula hari yang aku dapatkan. Itu saja.”
Rama mendengarkan penjelasan itu dengan wajah datar, tidak menunjukkan rasa curiga sedikit pun. Baginya, meskipun terdengar aneh, ia sudah tahu kondisi kesehatan Ivy, dan ia menganggap ini hanyalah keyakinan gadis itu yang berusaha bertahan hidup. Ia mengangguk setuju dengan mudah.
“Baiklah, aku mengerti. Aku setuju. Lalu bagaimana aturannya?”
“Setiap hari, baik pagi maupun malam, aku harus bertemu denganmu. Tidak perlu lama, cukup bersentuhan saja. Entah itu di kantor, di rumah, atau di mana pun kau berada,” jawab Ivy tegas.
Rama tersenyum kecil, lalu mengajukan pertanyaan yang membuat Ivy langsung menegang. “Kalau begitu, kenapa kita tidak segera menikah saja? Jika sudah resmi, kau bisa tinggal bersamaku dan bertemu kapan saja tanpa perlu susah payah datang ke sini setiap hari.”
Ivy langsung menggeleng cepat, menolak dengan tegas. “Tidak bisa! Aku masih duduk di bangku Sekolah Menengah Atas. Usiaku masih terlalu muda untuk menikah. Selain itu, aku punya mimpi yang ingin aku capai—menjadi dokter. Jika aku menikah sekarang, banyak hal yang akan terhambat, dan aku tidak ingin hidupku hanya dihabiskan di balik dinding rumah tanpa bisa mewujudkan cita-citaku.”
Mendengar jawaban itu, senyum di bibir Rama berubah menjadi nada meremehkan yang terasa menusuk. “Menjadi dokter? Orang yang kondisinya sudah seperti ini, yang umurnya bisa dihitung jari, masih punya keinginan setinggi itu? Apakah kau yakin sanggup menjalani pendidikan yang berat dan melelahkan itu?”
Kata-kata itu membuat amarah kecil menyala di hati Ivy. Ia menegakkan badannya, matanya memancarkan semangat yang tidak tergoyahkan. “Usia atau kondisi tubuhku tidak akan pernah membatasi keinginanku. Selama aku masih bisa bernapas, selama kakiku masih mampu berdiri, dan selama pikiranku masih bisa berpikir, aku pasti akan berusaha mewujudkannya. Jangan meremehkan orang yang sedang berjuang untuk bertahan hidup, Rama.”
Rama terdiam seketika, menyadari bahwa ucapannya tadi memang keterlaluan. Ia merasa sedikit bersalah, lalu mengalihkan pembicaraan dengan membuka tutup rantang yang diletakkan Ivy tadi. Namun, begitu tutupnya terbuka, ia tertegun kebingungan. Di dalamnya kosong melompong, tidak ada sedikit pun makanan.
“Mana makanannya? Kenapa isinya kosong?” tanya Rama dengan nada bingung.
Ivy hanya tersenyum santai, lalu menjawab dengan nada yang tajam namun tetap tenang. “Memangnya kau merasa layak memakan masakanku? Kotak rantang ini terlihat bagus dan terasa penuh dari luar, tapi isinya kosong. Sama seperti dirimu—terlihat sempurna, berwibawa, dan terhormat di mata semua orang, tapi hatimu terasa kosong dan dingin, tidak ada kehangatan sedikit pun di dalamnya.”
Tanpa menunggu izin atau meminta persetujuan lagi, Ivy melangkah lebih dekat, lalu dengan berani menggenggam kedua tangan Rama yang tergeletak di atas meja. Tatapan mata mereka bertemu, dan pada detik itu juga, waktu seolah melambat bahkan terasa berhenti bagi Rama. Ia merasakan aliran energi hangat yang mengalir dari telapak tangan Ivy, menyebar ke seluruh tubuhnya dan membuat rasa lelah yang biasanya ia rasakan perlahan menghilang.
Sementara itu, di atas kepala Ivy, angka yang tertera mulai bergerak naik perlahan: dari 60 hari menjadi 65, lalu terus bertambah hingga berhenti di angka 72 hari. Ivy menunggu hingga angka itu berhenti naik, lalu perlahan melepaskan genggamannya.
“Cukup untuk pagi ini,” ucapnya santai sambil menutup kembali rantang kosong itu. “Aku akan pergi dulu. Sampai jumpa nanti sore.”
Tanpa menunggu jawaban, Ivy berbalik dan berjalan keluar ruangan dengan langkah ringan dan penuh percaya diri, meninggalkan Rama yang masih terdiam di tempatnya.
Rama masih menatap pintu yang baru saja tertutup, lalu perlahan mengangkat tangannya dan meraba telapak tangannya sendiri. Ia masih bisa merasakan kehangatan yang tersisa, sensasi yang jarang sekali ia rasakan seumur hidupnya. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum lembut yang muncul tanpa sadar, lalu ia berbisik pelan hanya untuk dirinya sendiri.
“Hangat… dan terasa sangat nyaman.”
kalo berkenan mampir juga thor🤭😉