Sebagai wedding planner, Cala Danendra percaya pada kisah bak dongeng. Namun, hidupnya berubah mencekam dalam semalam setelah ia tak sengaja merekam aksi pembunuhan di pesta kliennya.
Demi melindunginya dari kejaran pembunuh bayaran, kepolisian menawarkan solusi ekstrem: menyembunyikan Cala dalam ikatan pertunangan palsu dengan Dr. Ronan Maheswara, ahli forensik jenius yang dingin dan antisosial. Kini, Cala si perangkai romansa harus hidup di apartemen Ronan yang steril bagai ruang operasi, lengkap dengan aturan ketat dan foto TKP yang berserakan.
"Cinta itu hanyalah lonjakan hormon oksitosin dan reaksi kimiawi di otak yang akan memudar dalam waktu empat tahun," ucap Ronan datar tanpa mengalihkan pandangan dari mikroskopnya. "Dan tolong, sepatumu mengontaminasi karpetku."
Cala memutar bola matanya. "Kalau begitu, mari kita lihat reaksi kimiawi apa yang terjadi kalau aku nekat memelukmu sekarang, Dokter."
Namun, ketika ancaman maut semakin mendekat, batas antara sandiwara dan k
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25: Penemuan
Cala tidak habis pikir, Ronan lebih rela tangannya mati rasa total daripada harus membangunkannya yang sedang kelelahan parah.
Ronan berdeham keras, mencoba mengalihkan situasi canggung yang mendadak menebal di udara ruangan steril tersebut. Ia memutar kembali kursinya menghadap meja kaca, mengetuk papan ketik dengan jari telunjuk kirinya.
"Simpan analisis emosionalmu untuk nanti. Kita punya masalah investigasi yang jauh lebih mendesak sekarang," potong Ronan mengalihkan pembicaraan dengan sangat cepat. Tangan kirinya menggeser mouse dengan lincah, membuka sebuah dokumen rahasia yang penuh dengan logo resmi otoritas pelabuhan kota.
Cala langsung menarik kursinya mendekat, membuang jauh-jauh rasa malunya. Insting perencana acaranya kembali menyala terang, memusatkan fokus murni pada misi bertahan hidup mereka. "Kamu berhasil meretas manifes kargo mereka? Apa yang kamu temukan di dalam gudang pelabuhan barat itu?"
"Butuh waktu ekstra karena sistem pertahanan siber pelabuhan ini menggunakan enkripsi ganda tingkat militer," jelas Ronan, sengaja menghilangkan fakta bahwa ia melumpuhkan enkripsi itu hanya dengan satu tangan. "Tapi menjelang subuh tadi, aku berhasil menembus server utama perusahaan penyewa gudang tersebut. Nama perusahaannya adalah PT Logistik Makmur Terpadu."
"Nama perusahaan cangkang yang sangat standar untuk menutupi kejahatan," komentar Cala sambil mengusap matanya yang masih sedikit lelah. "Lalu? Barang gelap apa yang mereka sembunyikan di sana? Tumpukan uang tunai hasil pencucian Zeta Katering? Narkotika? Atau senjata api ilegal dari pasar gelap?"
Ronan menggelengkan kepalanya. Layar monitor memantulkan cahaya biru ke wajah pria itu, membuat gurat ketegangannya terlihat semakin nyata. "Bukan uang. Bukan juga senjata api biasa. Logika sindikat Valera Group beroperasi pada tingkat yang jauh lebih destruktif dari perkiraan komandan kepolisian."
Cala menahan napasnya keras-keras. "Lalu benda mematikan apa isinya, Dokter?"
Ronan menekan tombol perbesar pada layar komputernya. Sebuah tabel daftar manifes barang impor muncul dengan huruf cetak tebal berwarna hitam legam. Pria itu menunjuk satu baris khusus di layar tersebut dengan jari telunjuk kirinya.
"Lihat daftar barang kargo yang masuk dua hari lalu dari kapal kargo internasional," perintah Ronan datar.
Cala menyipitkan matanya, membaca deretan teks yang tercetak di layar. "Pupuk pertanian? Mereka mengimpor pupuk pertanian kelas atas dari Eropa? Untuk apa sindikat pembunuh bayaran bermain-main dengan pupuk tanaman? Mereka mau beralih profesi menjadi petani?"
"Itu bukan sekadar pupuk tanaman biasa, Cala," suara Ronan terdengar sangat berat dan membekukan udara di sekitarnya. "Dalam dunia forensik dan bahan peledak, senyawa utama yang terkandung dalam pupuk tersebut memiliki sifat kimia yang sangat tidak stabil jika dicampur dengan bahan bakar minyak cair dalam takaran yang presisi. Ledakannya bisa meratakan satu blok gedung bertingkat hingga rata dengan tanah dalam hitungan sekejap mata."
Cala tertegun kaku. Ia bukan ahli kimia forensik, tapi otaknya cukup pintar untuk menangkap arah pembicaraan mematikan ini. Kepingan teka-teki itu mulai menyusun sebuah gambar ancaman yang membuat bulu kuduknya berdiri tegak.
Ronan memutar tubuhnya, menatap Cala lurus-lurus tepat di manik matanya. Sorot mata pria itu memancarkan bahaya yang tidak bisa dinegosiasi.
Ronan menunjuk deretan angka merah di layar. "Mereka tidak menyimpan uang atau narkoba di gudang pelabuhan itu. Mereka baru saja memindahkan dua ton amonium nitrat berkedok pupuk pertanian kelas atas."