NovelToon NovelToon
Derita Istri Pengganti

Derita Istri Pengganti

Status: tamat
Genre:Romantis / Sudah Terbit / Tamat
Popularitas:25.6M
Nilai: 4.8
Nama Author: Ina Ambarini (Mrs.IA)

Sebuah rasa, yang mungkin tidak seharusnya ada.
Kenapa? karena aku sadar tidak ada yang bisa memaksa cinta hadir kepada siapa, dan harus seperti apa.




Menikah adalah impian setiap orang. Aku selalu memimpikan menjadi pengantin wanita yang sangat bahagia.



Bagaimana perasaan kalian jika harus menikah, karena keadaan yang memaksa.






Ok, penasaran bagaimana kelanjutannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ina Ambarini (Mrs.IA), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

25. Jangan Panggil dia Rein !

"Kalian sudah saling mengenal sebelumnya?" tanya Gibran yang masih memperhatikan Al dan Kirei secara bergantian.

"Belum !" "Sudah !" jawab Kirei dan Al bersamaan lagi.

Gibran semakin dibuat penasaran dengan kedua orang yang ada didepannya kini, ia malah merasa geram saat keduanya selalu menjawab bersamaan.

"Jadi yang benar yang mana? kalian sudah saling mengenal atau belum?" tanya Gibran dengan kesal.

"Sudah !" "Belum!" untuk kedua kalinya mereka menjawab bersamaan lagi, dan Gibran semakin merasa kesal dibuatnya.

"Astaga ! Siapa yang akan menjawab ?" Gibran bertanya sembari bertolak pinggang, ia benar-benar kesal karena ulah mereka.

"Aku !" Kirei dan Al kini saling menatap, lagi-lagi menjawab bersamaan.

"Cukup ! Aku yang akan bertanya pada kalian ! Kau Al, apa kau sudah mengenal dia sebelumnya?" mata elang Gibran kini tertuju pada Al.

"Sebenarnya belum! tapi kami pernah bertemu sebelumnya," tutur Al pada Gibran.

"Bertemu dengannya? Dimana?" tanya Al lagi.

"Di kantin kampusmu! aku tidak sengaja bertabrakan dengannya waktu itu," Tutur Al.

"Dan aku menjatuhkan ponsel miliknya, maafkan aku Pak !" Kirei menyela saat Gibran akan melontarkan pertanyaan lagi pada Al, lalu ia membungkukkan tubuhnya di hadapan Al.

Gibran yang melihat adegan itu, segera mencengkram bahu Kirei dan menegakkan tubuhnya.

"Tidak usah berlebihan seperti itu !" titah Gibran pada Kirei.

"Gib, yang kau maksud temanmu itu dia ?" tanya Al pada Gibran.

"Hem."

Gibran menarik tangan Kirei dan menyuruhnya untuk kembali beristirahat, Kirei hanya bisa menuruti setiap perintah Gibran tanpa menolak sedikitpun.

"Tadi aku dengar Gibran memanggilmu dengan nama Rein, apa itu namamu?" tanya Al pada Kirei yang kini sudah kembali berbaring di atas tempat tidurnya.

"Namanya Kirei, panggil dia Kirei jangan Rein !" Gibran menjawab pertanyaan yang Al tujukan pada Kirei.

"Kenapa?" tanya Al pada Gibran.

"Tidak apa-apa ! Tidak sembarang orang boleh memanggil nama pendeknya, jadi kau panggil dia Kirei saja !" tutur Gibran dengan tegas.

Kirei yang menyaksikan adegan itu, hanya diam dan tidak berniat untuk ikut berbicara dengan mereka.

"Baiklah! aku akan memanggilmu, Kirei !" Al melontarkan senyum termanisnya pada Kirei dan disambut senyuman tipis oleh Kirei.

"Sudah, kau istirahat lagi ! Atau kau ingin memakan sesuatu?" tanya Gibran pada Kirei.

"Tidak ! aku ingin tidur saja !" sahut Kirei.

Gibran dan Al kembali duduk di sofa, entah apa yang terjadi namun suasana mereka kini terasa canggung.

"Kirei, apa kau sudah tidur?" tanya Al pada Kirei, membuat Gibran yang sedang memainkan ponsel seketika menghentikan aktifitasnya.

Kirei yang tadinya tidur membelakangi Gibran dan Al, kini berbalik menjadi menghadap mereka.

"Apa apa?" tanya Kirei dengan nada datar.

"Waktu itu kau pernah bilang, kalau next time kita bertemu lagi, kau akan memberikan nomor ponselmu !" tutur Al pada Kirei.

Kirei mengangkat alisnya, ia mengingat kembali ucapannya pada Al tempo hari. Saat ia hendak membuka mulutnya untuk menjawab pertanyaan Al, tiba-tiba Gibran lebih dulu menyela.

"Nanti saja ! Biarkan dia istrirahat Al !" titah Gibran pada Al.

"Gib, kau ini kenapa sih? Biarkan aku mengenal Kirei, aku juga kan mau berteman dengannya ! Temanmu itu temanku juga! lagipula kau sudah memiliki istri, tapi tetap saja mencari dan memikirkan pacarmu yang pergi itu !" sahut Al dengan sinis.

Kirei yang mendengar perkataan Al, seketika kembali membalikkan tubuhnya membelakangi mereka.

"Ternyata, Gibran memperkenalkan aku hanya sebagai temannya."

Kirei memejamkan matanya, ia tidak ingin ambil pusing ! toh memang sedari awal Gibran tidak pernah menganggapnya.

"Dia memang temanku, makannya nanti saja meminta nomornya !" sahut Gibran, ia merasa aneh dengan sikapnya saat ini.

"Kenapa kau yang mengatur ? Sudah, Sebaiknya kau pulang ! Istrimu menunggumu di rumah !" Al berbicara dengan nada yang terdengar kesal.

"Kau..."

Gibran hendak menimpali kata-kata Al, namun terhenti saat Kirei tiba-tiba menyela perkataanya.

"Berisik ! Kalau kalian masih terus berdebat, sebaiknya kalian keluar sekarang juga !" bentak Kirei pada Al dan Gibran.

Seketika mereka berdua membungkam mulutnya rapat, mereka kini memilih memainkan ponselnya masing-masing tanpa ada yang berani berbicara sedikitpun.

****

Jam menunjukan pukul tujuh malam, dan para karyawan di Resto mulai membubarkan dirinya.

Sama halnya dengan Kayla, ia segera mengemasi barang-barangnya dan bergegas untuk pulang.

"Kay, kau sudah selesai? Aku akan mengunci Resto sekarang !" ujar salah satu karyawan.

"Sudah selesai kok."

Kayla berjalan keluar Resto, ia segera berjalan menuju halte bus. Kayla memang selalu menggunakan bus untuk bekerja, ia sudah mulai membiasakan diri dengan keadaanya saat ini.

Sesekali ia melirik jam yang tertempel di lengannya, sudah hampir setengah jam ia menunggu namun belum juga ada bus yang lewat.

"Kenapa busnya lama sekali," Kayla menggerutu kesal sembari menghentak-hentakan kakinya di atas tanah yang ia pijak.

"Ah lama ! Aku jalan kaki saja !" Kayla meninggalkan halte bus dengan perasaan kesal. Dengan sisa tenaganya, ia menyeret kakinya untuk berjalan menuju rumah.

Tin tin tin.

Suara klakson mobil menggema di telinga Kayla, sorot lampu kuning juga menerangi jalan yang sedang ia susuri.

"Kay, kamu kenapa jalan kaki?" tanya seseorang yang suaranya sudah tidak asing ditelinga Kayla.

Kayla menoleh ke arah sumber suara, sebuah mobil berhenti tepat di sampinya.

"Randu? sedang apa kau disini?" tanya Kayla saat tahu pria yang ada di dalam mobil.

"Aku kebetulan lewat sini, kamu mau pulang?" tanya Randu, ia juga keluar dari mobil dan berjalan mendekati Kayla.

"Iya, aku tadi menunggu bus di halte tapi tidak ada yang lewat, jadi aku memutuskan untuk berjalan kaki." Tutur Kayla.

"Yasudah, pulang bersamaku saja !" ajak Randu.

"Tidak usah Ran, nanti aku merepotkanmu !" sahut Kayla.

"Aku tidak merasa direpotkan Kay, ayo masuk !" pinta Randu sambil membukakan pintu mobil untuk Kayla.

"Yasudah, terimakasih Ran."

Kayla berjalan masuk kedalam mobil, dan di ikuti oleh Randu. Mereka kini sudah berada didalam mobil, dan Randu segera menyalakan mesin mobilnya.

Sebelum melajukan mobilnya, Randu tidak sengaja melihat Kayla yang belum menggunakan sabuk pengamannya. Ia segera mendekatkan tubuhnya pada Kayla, dan tangan Randu meraih tali pengaman yang ada di samping Kayla.

Mata mereka kini beradu, Kayla yang terkejut dan hanya bisa menahan nafasnya, ia merasa jantungnya kini serasa akan jatuh dari tempatnya.

"Maaf, aku hanya ingin memasangkan ini."

Tutur Randu sembari memasangkan sabuk itu pada Kayla.

"Kenapa dengan jantungku?"tanya Kayla pada dirinya sendiri, ia merasakan getaran yang sangat aneh di dalam dadanya.

Randu merasa suasana diantara mereka mulai canggung, ia mulai melajukan mobilnya menuju rumah Kayla.

"Kayla, aku akan terus berusaha agar kau mau menerimaku sebagai teman hidupmu !" Randu meyakinkan hatinya yang kini sudah jatuh terlalu dalam pada Kayla.

Selama diperjalanan, tidak ada satu katapun yang terucap dari mulut Randu dan Kayla. Randu memarkirkan mobilnya di depan rumah Kayla, dan ia segera turun lalu membukakan pintu untuk Kayla.

"Terimakasih Randu, maaf aku merepotkanmu !" Ujar Kayla pada Randu.

"Kay, jangan sungkan padaku ! Aku juga mau kalau harus mengantar jemputmu setiap hari !" tutur Randu pada Kayla.

"Tidak usah Ran, kau itu temanku bukan supirku !" sahut Kayla.

"Baiklah, kalau begitu aku pulang dulu !" Randu membalikkan tubuhnya dan melajukan kembali mobilnya.

"Hati-hati !" teriak Kayla pada Randu sambil melambaikan tangannya pada mobil Randu yang kini mulai menjauh.

"Randu kau sangat baik, tapi maaf untuk saat ini hatiku masih belum bisa melupakan Gibran."

Kayla masuk kedalam rumah, dan mengunci pintunya.

Ia segera merebahkan tubuhnya di atas kasur yang empuk, ia meregangkan tangan juga kakinya.

Kayla menghela nafasnya, ia teringat dengan seseorang yang kini sudah bukan miliknya.

"Gibran, bagaimana kabarmu sekarang? Apa kau sudah mulai bisa menerima kakakku?"

Bersambung...

1
Shifa Burhan
happy ending ❌
sad ending ❌
aneh ending ✔️
falea sezi
males peran utama meninggal di gantian lainnya feel gk dapet thor
Asmu'ah Mu'ah
Luar biasa
Titi Ati
apa kembaran kirei
Titi Ati
mending kirei sm sl al aja thpr
Emi Emiemi
yah mewek lagi aku 😭😭😭
Emi Emiemi
sedih Bae aing mah😭😭😭😭
Emi Emiemi
lah sia Gibran emisi aing😡😁
Emi Emiemi
hewa kulamah Kasi Gibran 😡🥴
Emi Emiemi
,😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭
Emi Emiemi
seru seru aku suka aku suka😁
Emi Emiemi
aku suka kata"mu Al☺️
Emi Emiemi
nyesek banget kata"mu Gibran 🥺
Emi Emiemi
makin seru ni....
Emi Emiemi
lanjut ka...
Emi Emiemi
kenapa aku klo nulis rangdu dangdut aja yah❓😅🤭
Emi Emiemi
dangdut rangdu apa kmu sudah berbuah😅🤭 maaf ya Thor canda dikit🙏
Emi Emiemi
apa s dangdut kka nya kirei yah😁🤔
leni kusumajaya
novel yang menguras air mata
Afiqah Herni
puas
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!