NovelToon NovelToon
Aku Pergi, Mas!

Aku Pergi, Mas!

Status: tamat
Genre:CEO / Mengubah Takdir / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:17.4k
Nilai: 5
Nama Author: Danie A

Pernikahan yang terlihat harmonis, ternyata penuh penghianatan. Celsi memilih pergi saat mengetahui suaminya berselingkuh dengan sepupunya sendiri.

"Aku pergi, Mas!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danie A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 25

Mobil akhirnya berhenti di depan rumah kontrakan sederhana. Aska mematikan mesin. Keheningan menyelimuti mereka berdua.

"Ayo," ajak Aska lembut.

Dia turun dan berkeliling membukakan pintu untuk Celsi. Gadis itu keluar dengan langkah yang masih belum stabil. Aska tidak langsung pergi. Dia mengikuti Celsi masuk ke dalam rumah, memastikan semua pintu dan jendela terkunci rapat. Dia membiarkan Celsi duduk di sofa, lalu mengambilkan segelas air hangat.

"Minum dulu," kata Aska sambil menyodorkan gelas itu.

Celsi menerimanya dengan tangan yang masih gemetar. "Ko..."

"Hm?"

"Aku takut," isaknya pelan. Air mata kembali jatuh membasahi pipi. "Aku pikir aku nggak bakal bisa balik lagi ke sini. Mereka... mereka kelihatan sangar banget."

Aska duduk di hadapan Celsi, menatap mata gadis itu dalam-dalam. "Udah lewat, Cel. Sekarang kamu di rumah. Aman. Aku di sini sama kamu. Nggak ada yang bakal nyakitin kamu lagi."

"Tapi kenapa harus terjadi sama aku?" tangis Celsi pecah. "Aku cuma mau ambil cabai buat dagang. Aku nggak ngapa-ngapain."

"Aku tahu, aku tahu," Aska mengusap punggung Celsi pelan. "Kamu gadis baik. Orang jahat emang suka cari mangsa yang lemah. Tapi untungnya, kamu nggak semudah itu dikalahin. Dan untungnya, aku ada di sana tepat waktu."

Celsi menunduk, menyembunyikan wajahnya di balik telapak tangan. "Makasih ya Ko. Kalau nggak ada kamu... ah, aku nggak berani bayangin."

"Udah jangan dipikirin dulu," potong Aska lembut. "Istirahat. Tenangin diri. Aku nggak bakal pergi sebelum kamu kelihatan lebih baik."

Aska menunggu cukup lama. Dia menunggu sampai tangisan Celsi mereda, sampai napas gadis itu mulai teratur, dan sampai wajah pucat itu mulai mendapatkan sedikit warna kembali. Hanya ketika Celsi sudah bisa tersenyum tipis dan mengatakan dia tidak apa-apa, Aska baru berdiri untuk pamit.

"Aku pulang dulu ya. Kunci pintunya baik-baik. Kalau ada apa-apa, atau kalau kamu ngerasa takut sendirian, telepon aku. Kapan pun, jam berapa pun, aku langsung datang."

"Iya Ko. Hati-hati," jawab Celsi pelan.

Setelah pintu tertutup dan suara mobil Aska menghilang, Celsi menyandar lemas. Dia membersihkan diri dan segera naik ke tempat tidur. Namun matanya sulit terpejam. Bayangan kejadian tadi masih menghantuinya.

Belum lama dia memejamkan mata, ponselnya bergetar. Nama 'Aska' tertera di layar. Dengan ragu, Celsi mengangkatnya.

"Assalamualaikum," suaranya masih serak.

"Wa'alaikum salam, kok belum tidur?" suara Aska terdengar dari seberang sana.

"Belum... Nggak bisa tidur, Koh."

"Aku baru kepikiran deh."

"Apa?"

"Kemarin aku lihat video orang debat serius soaL mie ayam."

"Kenapa?"

"Dia bilang mie ayam diaduk itu kriminal."

Celsi mengernyit. "...Hah?"

"Ada yang bilang kalau mie ayam diaduk sebelum difoto itu nggak sopan."

Celsi menatap langit-langit. Beberapa saat kemudian... mulai terdengar tawa kecil.

Sangat kecil.

Aska ikut tersenyum. "Nah. Bagus."

Celsi sadar. Aska sengaja mengalihkan pikirannya.

Malam itu, Aska tidak membahas kejadian mengerikan tadi. Dia justru bercerita tentang hal-hal remeh dan lucu. Dia bercerita tentang kucing tetangga yang suka nyolong ikan asin, tentang temannya yang ketagihan ayam geprek Cinta seperti nya, tentang hal-hal konyol yang berhasil membuat Celsi tersenyum kecil di balik selimut.

Percakapan itu mengalir begitu saja. Suara Aska yang rendah dan tenang menjadi obat yang paling mujarab. Perlahan rasa kantuk mulai menyergap. Mata Celsi semakin berat.

"Ko..." panggilnya pelan.

"Hm?"

"Aku ngantuk..."

"Iya, tidur aja," jawab Aska lembut.

"Telpon nya?"

"Mmm, nggak usah ditutup. Dengerin aku lagi ndongeng."

Celsi tertawa kecil lagi. "Kalau aku ketiduran, jangan bilang kalau aku nggak sopan."

"Nggak. Tenang aja."

Aska lanjutkan bercerita, suara Celsi masih menyahuti walau samar dan sesekali saja. Sampai... Suara itu berganti jadi suara napas yang teratur. Aska tidak mengakhiri. Dia membiarkan telepon itu terhubung sepanjang malam.

.

.

.

Matahari pagi mulai meninggi. Suara hiruk pikuk di Gerai Geprek Cinta mulai terdengar. Namun hari itu suasana terasa berbeda. Kabar tentang apa yang menimpa Celsi kemarin malam akhirnya sampai ke telinga semua karyawan, termasuk Joko.

Saat Celsi datang, Joko dan rekan kerjanya langsung mendekat dengan wajah cemas dan penuh penyesalan.

"Ya ampun Teteh!" seru Joko dengan mata terbelalak. "Beneran kejadian kemarin? Kami baru tahu loh!"

Celsi mengangguk pelan sambil tersenyum mencoba terlihat kuat. "Tau dari mana?"

"Kami nanya sama Koh Aska. Sebelum koh Aska sampai sana kan, kami kasih cerlok livenya Teteh. Makanya Koh Aska nyusul."

"Oh, begitu..."

"Teteh gimana? Duuh, maaf ya Teh. Harusnya aku ikut. Biar aku tempeleng mereka macam-macam sama Teteh."

"Betul teh. Gilak sih."

Celsi terkekeh pelan. "Udah. udah berlalu juga. Lagian sekarang teteh juga nggak papa, kan?"

"Terus cabenya gimana, teh?"

"Cabai diangkut ke polsek. Motornya juga."

"Alhamdulillah, berarti masih selamat ya, Teh."

"Iya, Alhamdulillah."

"Teh... maafin kami ya. Kami salah besar. Kemarin harusnya kami nahan Teteh, harusnya ada yang nemenin pergi ambil cabai. Kami lalai, Teh. Maafin kami."

"Iya Teh, maafin kami," timpal karyawan lain. "Kami kepikiran banget semalam. Nggak kebayang kalau apa-apa sama Teteh."

Celsi menggeleng pelan. "Udah kok, jangan disalahin diri terus. Kerugiannya kecil."

"Tapi kan bahaya banget Teh!" kata Joko lagi. "Untung... untung ada Koh Aska. Kalau Koh Aska nggak cepet-cepet dateng... ah nggak kebayang deh."

Mereka menghela napas panjang, rasa lega terlihat jelas di wajah mereka. "Teh, mending kalau pergi-pergi mulai sekarang jangan sendiri deh."

"Betul ajak Koh Aska," kata salah satu karyawan sambil tersenyum menggoda. "Iya loh, koh Aska tuh perhatian banget kan? Waktu kukasih tau kalau Teteh pergi sendiri dia langsung gas mobilnya nyusul. Nggak banyak ita itu."

"Betul teh, kelihatan banget kalau koh Aska tuh suka banget sama Teteh."

"Ih apaan sih kalian."

Joko terkekeh. "Lihat aja perhatiannya. Bukan cuma kemarin doang. Dari dulu juga Koh Aska itu sayang banget sama Teteh. Mata nya kalau liat Teteh itu beda lho. Itu namanya cinta, Teh."

"Udah ah banyak omong!" Celsi memukul pelan lengan Joko. "Mending kalian kerja yang bener. Tumpukan piring belum dicuci tuh, sama bumbu juga kurang. Cepet kerja!"

Mereka semua tertawa melihat tingkah Celsi yang berusaha mengelak. Meski Celsi menyuruh mereka bekerja, di dalam hatinya ada perasaan hangat yang meletup-letup. Dia tahu, Aska memang spesial. Tapi, dia juga masih sangat takut, sangat trauma dengan masa lalunya.

.

.

.

 

Hari demi hari berganti. Bulan demi bulan berlalu. Luka fisik di tubuh Celsi sudah sembuh total, namun kejadian itu menjadi kenangan yang mengikat hati mereka berdua semakin kuat.

Namun, anehnya hubungan mereka tidak kunjung berubah menjadi lebih jelas. Aska semakin sering memberi kode. Kalimat-kalimat manis, perhatian yang berlebih, tatapan yang dalam. Namun setiap kali Aska mencoba mendekat, Celsi selalu mundur.

Celsi takut. Takut dengan masa lalu yanh kejam mungkin akan terulang lagi. Jadi setiap kali ada kesempatan, Celsi selalu mengalihkan topik atau berpura-pura tidak mengerti.

Aska hanya bisa tersenyum kecut melihatnya. Dia sabar. Dia menunggu. Dia tahu Celsi butuh waktu untuk percaya bahwa perasaannya tulus.

Hingga suatu sore yang tenang. Aska datang ke kontrakan Celsi. Mereka duduk berdua di teras kecil, menikmati angin sore yang sepoi-sepoi.

"Cel," panggil Aska pelan.

"Hm?" Celsi menoleh.

"Apa sih, yang sebenarnya kamu takutkan?" kata Aska tiba-tiba.

"Maksud Koh Aska?"

Aska menatap mata Celsi dalam-dalam, menatap dengan serius yang membuat jantung gadis itu berdegup kencang tak karuan. Ia tau arti tatapan itu, dan ia takut.

"Apa kamu takut memulai hubungan baru?" ucap Aska pelan namun tegas. "Aku bukan mantan suamimu. Katakan apa yang kamu takutkan?"

Celsi membeku. Wajahnya memanas. Dia ingin menunduk, ingin mengalihkan pandangan, tapi matanya seakan terpaku pada tatapan Aska.

"Koh..."

"Aku nggak mau main-main Celsi," lanjut Aska. Dia menarik napas panjang, mengumpulkan keberanian untuk mengucapkan apa yang sudah lama terpendam di hatinya. "Aku bilang akan nunggu kamu siap. Aku pernah bilang akan nunggu kamu kasih jawaban. Bahkan walau aku sampai tua sekalipun."

Aska tersenyum tipis, senyum yang paling tulus dan paling indah yang pernah dilihat Celsi.

"Aku nggak akan nikah... jika bukan dengan kamu."

Dunia seakan berhenti berputar. Celsi terpaku. Jantungnya serasa mau meledak keluar dari rongga dada.

1
sunaryati jarum
Hubungan diawali kurang baik akan berakhir kurang baik juga, sungguh sangat adil
Lyeend
menantu? bukankah aska husband nya celsi,🤦🏻‍♀️🤦🏻‍♀️
sunaryati jarum
Sifat iri kok piara Bu Weni,buang yang jauh toh cari Syukur , hidupmu akan nyaman
Susilawati Arum
kan bukannya Aska pernah bertemu sebelumnya dengan Rangga dan Vena..kok Aska nggak tau kalau itu Rangga
sunaryati jarum
Nah kan kecebong Aska sudah ada yang tumbuh di rahim Celsy,dia nggak ngalami tanda- tanda kehamilan
Dilla Fadilla
lanjut thor yg bnyk 💪
sunaryati jarum
Nah ketahuan jika kau memalsukan hasil tes kesuburan Rangga dan Celsi.
Ambo Nai
hamil kembar
sunaryati jarum
Semoga Chelsi hamil
sunaryati jarum
Nah benar perkiraan emak, yang mandul itu Rangga.Anak dulu yang dituduhkan anaknya, ternyata jebakan
sunaryati jarum
Ayo semangat buat adonan bayi Koh Aska,benih anda semoga tok cer langsung tumbuh Walau difonis mandul siapa tahu ada kesalahan.Dan kandungan Vena bukan benih Rangga.
Syahdu: Gak akan bosen deh, Novel ada chat lucunya😆 di I Love you Brutally. Cewek yang naksir kakak kelas secara terang-terangan! Terima kasih dukungannya🤍🫶🏻😆
total 1 replies
sunaryati jarum
Bagus
sunaryati jarum
Nah ,sadar diri gitu Rangga.Prnyesalan tidak ada gunanya.Apalagi entar kamu sama Vera tak kunjung punya anak,tapi Celsi yang langsung hamil.Emak ingin tahu reaksi kamu dan ibumu.
Ma Em
Rangga kamu sdh menceraikan Celsi dan kamu sdh ada Vena perempuan pilihan mu sekarang Celsi sdh dapat pengganti mu jauh lbh baik seorang pengusaha properti yg sukses .
Lyeend
omongan yang mantap dan padu😂😂
sunaryati jarum
Ingin hati memprovokasi dan membatalkan pernikahan.Celsi ,belum keluar ucapannya sudah dikunci ,Asaka.Bravo Aska, sepertinya kamu tahu siapa yang mengaku Rian.
sunaryati jarum
Astaga saudara kok kaya gitu , tidak menghargai kakaknya,bukan itu anaknya yang merebut mantan suami Celsi
sunaryati jarum
Kukira tetangga julid ternyata baik malah memberi nasehat walau melalui candaan, segera menikah ya
sunaryati jarum
Ayo Celsi gugup ta, orang yang kau rindu menepati janjinya
sunaryati jarum
Ayo Celcy, terima .Toh kamu juga sudah ada rasa sama Aska
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!