Aruna mencoba segala cara agar pertunangannya dengan seorang Panglima TNI bernama Axel dibatalkan. Dia datang menemui sang panglima bukan dengan gaun anggun atau busana yang sopan, wanita itu justru mengenakan dress hitam ketat yang terbuka. Riasan wajah tebal yang terlihat berlebihan. Yang paling mencolok adalah pipi dan bibirnya yang dicat dengan lipstik merah menyala kontras dengan kulitnya yang putih. Axel masih bisa menerima. Trik Aruna berlanjut dengan mengajak si pria berburu belanjaan mewah. Bagaimana kelanjutan kisahnya? Apakah Axel mampu mengikuti setiap alur cerita yang dibuat gadis itu? atau justru menyerah? ikuti terus kisah serunya hanya disini..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nakorang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25 : Hati yang seluas samudra.
Aruna turun dari taksi dengan langkah anggun. Ia sudah siap hendak masuk ke dalam mal megah yang berdiri gagah di depannya. Namun baru saja ia melangkah beberapa langkah tiba-tiba seseorang mendekat ke arahnya.
Itu adalah seorang pengamen berpakaian agak lusuh dan sederhana membawa gitar tua. Biasanya orang lain akan menghindar atau pura-pura tidak melihat, bahkan melirik dengan tatapan jijik. Tapi tidak dengan Aruna.
Gadis itu justru tetap berdiri tenang bahkan menberikan senyuman ramah yang sangat tulus dan hangat. Senyuman itu membuat si pengamen jadi salah tingkat sendiri. Ia sampai menghentikan lagunya sejenak, yang terdengar cempreng dan pas-pasan itu. Ia tertegun sejenak melihat kebaikan yang terpancar dari wajah wanita cantik di depannya.
Pengamen itu sepertinya seusia dengan Aruna atau mungkin sedikit lebih tua. Hanya saja nasib yang membedakan keduanya.
"Senyuman Nona indah sekali... sama seperti orangnya..." puji si pengamen dengan tulus. Ia kembali melanjutkan menyanyikan lagu dangdut dengan suaranya yang apa adanya tapi tetap berusaha menghibur.
Aruna tersenyum lebar mendengarnya. Namun saat ia merogoh tas kecilnya, wajahnya berubah sedikit kecewa.
"Aduh maaf ya Kak..." ucap Aruna polos. "Aruna gak punya duit cash nih... lupa bawa."
Jika dipikir lagi naik taksi saja tadi sudah dibayarkan oleh Axel. Ia juga lupa minta atau 'morotin' uang tunai dari calon suaminya itu. Dompetnya kosong melompong.
"Nggak apa-apa nona..." ucap si pengamen dengan sabar dan rendah hati. Ia mengangguk paham, lalu hendak pergi meninggalkan Aruna. Ia tidak menuntut banyak dan mengerti situasi.
Tapi Aruna justru menghentikannya.
"Ah jangan pergi dulu Kak! Nih... ada sesuatu buat kamu." ucap Aruna cepat.
Dengan santai dan tanpa beban sedikitpun, Aruna mendekat lalu menyodorkan sebuah emas batangan seberat 100 gram yang berkilau indah ke tangan pengamen itu.
Mata si pengamen sontak membelalak lebar, mulutnya menganga kaget, tak percaya melihat benda berharga itu ada di hadapannya.
"No-Nona bercanda kan...?" ucapnya terbata-bata, tangan gemetar tak berani menyentuh. "Mana pantas saya menerimanya. Orang sepertinya saya dapat barang seberharga begini rasanya tak mungkin..."
"Alah ini cuman emas doang Kak..." jawab Aruna santai banget, seolah itu hanyalah permen atau batu biasa. "Bukan barang berharga kok buat aku. Mau gak nih? Aku seriusan loh mau ngasih. Kalau gak mau yasudah... aku masukin lagi ke tas ya..."
Aruna pura-pura mau menarik tangannya kembali.
"EH MAU! MAU NONA! MAU!" seru si pengamen panik. "Ta-tapi... rasanya seperti di dalam mimpi saja..."
Dengan tangan gemetar hebat, akhirnya ia menerima emas itu. Ia memegangnya erat seakan takut benda itu akan hilang begitu saja.
"Yasudah terima ya kak..." ucap Aruna lembut sambil tersenyum. "Nanti kamu jual saja, uangnya bisa buat modal buka usaha biar hidup lebih baik lagi."
Si pengamen hanya bisa mengangguk-angguk kaku, matanya berkaca-kaca penuh haru, masih tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi.
Aruna pun melambaikan tangan kecilnya, lalu berbalik badan dan melenggang masuk dengan santai ke dalam mal, seolah baru saja melakukan hal biasa.
Sementara itu, si pengamen masih berdiri mematung di tempatnya, menatap emas di tangannya dengan wajah tak percaya dan penuh syukur.
Sedangkan wanita baik hati itu mulai sibuk menjelajahi butik-butik mewah di dalam mal. Tanpa tahu jika apa yang dilakukannya hari ini, akan berdampak pada kehidupannya di masa depan. Ia dengan santainya mulai memilih baju-baju cantik, sepatu hak tinggi terbaru, hingga tas-tas bermerek yang sedang tren.
Beberapa saat kemudian, matanya langsung berbinar saat melihat sebuah aksesoris rambut. Bentuknya seperti jepitan bentuk bunga mawar, warnanya merah menyala. Namun harga yang tertulis justru tidak masuk akal. Ternyata aksesoris itu terbuat dibuat dari batu mulia langka yang sulit dicari, itulah sebabnya harganya melambung sangat tinggi.
Tapi Aruna? Ia sama sekali tidak peduli. Kartu hitam pemberian Axel memang tak terbatas, jadi dia bebas beli apa saja yang dia mau, seperti yang dikatakan Axel sebelumnya.
"Yah, memang buat apa dipikirin... Kalau suka ya dibeli saja." gumamnya santai.
Dengan sigap ia mengambil jepit rambut itu, beserta semua barang lain yang ia suka. Ia membeli semuanya tanpa ragu sedikitpun.
Tentu saja, setiap transaksi yang dilakukan tercatat otomatis dan notifikasinya masuk ke ponsel pintar Axel. Namun sayang, sang Panglima saat itu sedang sangat sibuk memimpin rapat penting dan meninjau berkas-berkas strategis.
Ia belum sempat membuka ponselnya, sama sekali tidak menyangka kalau tunangannya itu baru saja membeli sebuah aksesoris yang harganya setara dengan satu mobil Ferrari.
Setelah puas berbelanja, Aruna keluar dari mal dengan wajah sumringah bahagia. Tangannya penuh membawa paper bag berisi tumpukan barang belanjaannya yang banyak sekali.
"Hasil ngebolang hari ini mujur banget!" serunya girang sambil melompat kecil. "Dapet jepit rambut yang langka juga aaaahh.. rasain kamu Axel! Mau marah mau kesal hoooo... aku gak perduli. Siapa suruh nantangin aku kasih kartu seenaknya."
Aruna tertawa puas, merasa sangat berhasil sudah menguras harta sang Panglima yang dingin itu sampai kering.
Tiba-tiba...
"Aruna?" panggil seseorang dari arah samping.
Aruna berbalik badan dengan penasaran.
Jeng Jeng Jeng.
Ternyata itu adalah Ajeng, sahabat karibnya waktu SMA dulu. Wajah mereka sama-sama terlihat kaget dan senang campur aduk.
"OMG! ini kamu Ajeng kan? Beneran kamu?!" seru Aruna heboh, langsung meletakkan barang bawaannya sebentar lalu memeluk erat sahabatnya itu.
"Iya ini aku Run..." jawab Ajeng sambil tersenyum lebar, membalas pelukan sahabat lamanya.
"Ya ampun Ajeng... udah lama banget kita gak ketemu. Gimana kabar kamu? Sehat kan?" tanya Aruna antusias sekali, matanya berbinar-binar bahagia bisa bertemu teman lama.
"Baik Run..." jawab Ajeng, lalu wajahnya berubah sedikit masam dan manja. "Tapi... aku dengar dari Mitha kamu mau menikah ya? Kenapa gak undang aku sih? Padahal kita bestie banget loh waktu SMA dulu, kemana-mana bareng terus..."
"Soal itu... kita ngobrol di tempat lain saja ya, gak enak lho ngomongin hal penting di jalanan begini," jawab Aruna santai.
"Oh yasudah kalau begitu," sahut Ajeng cepat. "Ayo ke rumahku saja. Kebetulan rumahku gak jauh dari sini kok."
"Hah? Kamu pindah rumah ya Jen?" tanya Aruna kaget, matanya mengerut bingung. "Dulu kan tinggalnya agak jauh."
"Iyalah..." jawab Ajeng tersenyum misterius. "Aku kan sudah jadi istri seseorang sekarang Aruna... jadi ya tinggal sama suami."
"Tuh kan... aku saja gak di undang loh..." seru Aruna sambil mencubit lengan sahabatnya gemas. "Kamu juga gak undang aku ke pernikahan kamu... pelit banget sih!"
"Haha... maaf maaf... nanti aku jelasin panjang lebar. Ayo kita ke rumahku dulu, " ajak Ajeng akhirnya sambil menarik tangan Aruna.
Mereka berdua lalu berjalan menuju tempat parkir. Ajeng mengajak Aruna masuk ke dalam mobil mewah yang sudah menunggu, dan ternyata mobil itu dikemudikan oleh supir pribadi.
Perjalanan pun dimulai. Tak butuh waktu lama, mobil itu memasuki sebuah kawasan perumahan elit yang sangat asri dan tertata rapi, lokasinya memang sangat dekat dari mal tempat mereka berbelanja tadi.