Maara Hayuning menikah dengan putra wanita yang telah menyebabkan ibunya mengalami koma.
Mira, ibunda Revan tak sengaja menabrak Maara dan ibunya karena kurang berkonstrasi hingga menyebabkan rahim Maara bermasalah dan ibunya koma lalu meninggal setelah berjuang untuk hidup.
Tak ingin rasa bersalah itu makin menderanya, Mira memaksa putranya Revan Adiyasa menikahi Maara sebagai bentuk tanggung jawab meski pria itu awalnya menolak karena telah memiliki kekasih.
Akankah Maara bertahan atau justru menemukan cinta yang bisa menerima kekurangannya?
Lalu bagaimana perjuangan seorang duda bernama Kenan Jayadi demi bisa menadapatkan hati Maara?
yuk simak....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon neng_86, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
rencana pernikahan
Matahari sudah lama kembali ke peraduannya meninggalkan sisa-sisa cahaya jingga yang mulai hilang ditelan gelapnya malam.
Butiran air halus jatuh perlahan. Tak deras namun tak mau berhenti menyebabkan kabut tipis yang menyelimuti jalanan.
Kaca mobil yang Maara tumpangi sedikit berembun.
Dia merapatkan sweater rajut miliknya lalu mendekap tas ransel yang berisi pakaian ganti.
Pesta telah usai sejak dua jam lalu.
Dan kedua pengantin mungkin saja kini sedang beristirahat atau bahkan sedang 'bercengkrama manja' dikamar hotel yang telah mereka sewa.
Maara harus tertahan cukup lama karena orangtua dan keluarga Lisa yang mengajaknya makan malam terlebih dahulu.
Maara tak kuasa menolak dan hasilnya, dia jadi terlambat pulang.
Awalnya dia ditawari untuk diantar oleh sepupu Rio namun Maara menolak halus karena tak enak pulang dengan laki-laki yang bukan muhrimnya apalagi ini malam hari dan statusnya masihlah istri laki-laki lain.
Dia tidak ingin dicap jelek oleh orang-orang dan yang lebih utama, dia tidak ingin siapapun tahu dimana dirinya tinggal saat ini.
Hela nafas kasar keluar dari mulutnya.
Tatapannya begitu lelah.
Tanpa terasa, setetes airmata jatuh disudut matanya.
Cepat-cepat dia menghapusnya dan kembali bersikap biasa.
Taksi online tiba didepan rumah Revan.
"Terimakasih pak..." ucap Maara pada supir taksi online.
Mata Maara tertegun karena melihat mobil Revan yang terparkir di teras rumah.
Maara mendongak kearah jendela kamar laki-laki itu.
Lampu kamar menyala yang artinya, dia sedang ada dirumah.
Tiba-tiba saja jantungnya berdegup dua kali lebih kencang.
Kaki dan tangannya gemetar hebat.
Nafasnya memburu.
Ada rasa was-was yang bercokol di dalam kepalanya.
Susah payah Maara menelan ludahnya.
Pelan, Maara membuka pintu samping dekat garasi agar tidak menimbulkan suara gaduh.
"Kenapa baru pulang?!" suara bariton Revan membuat Maara hampir saja melompat sangking terkejutnya.
"Mas... Sudah pulang? " tanyanya pelan.
Revan berdiri sambil bersidekap tangan di dada persis seperti seorang ayah yang memergoki anak perempuannya pulang telat.
Maara menghirup udara demi mengisi paru-parunya yang mendadak kosong.
"Ternyata begini kelakuan mu selama aku tidak dirumah!" tuding Revan hingga membuat Maara memberanikan diri menatap manik hitam laki-laki itu.
"Aku tidak melakukan apa-apa... Memang aku salah karena pulang telat, tapi aku tidak melakukan hal buruk" ujar Maara membela dirinya.
Revan berdecih.
"Ikut aku, ada yang harus kita bicarakan!" titah Revan yang telah berjalan menuju ruang tamu terlebih dahulu diikuti oleh Maara dibelakangnya.
"Kenapa kamu menemui pengacara dari kantor firma Kenan? Apa yang kamu rencanakan?" cecar Revan secara tiba-tiba.
Maara tentu terkejut karena selain Rio dan Lisa tidak ada yang tahu soal dirinya menemui pengacara untuk berkonsultasi. Ah, atau jangan-jangan, Revan sudah menerima pesan atau surat dari kantor hukum tersebut. Begitu isi pikiran Maara.
"Kenapa? Kaget aku tahu?" Revan menaikkan sebelah alisnya.
Maara memberanikan diri memandang wajah Revan.
"Mas udah terima surat dari kantor hukumnya?" tanya Maara.
"Jika iya kenapa?"
"Baguslah kalau mas sudah terima suratnya, Aku ingin kita cerai mas...!" ujar Maara pelan namun tegas.
Revan sepertinya tidak terlalu kaget. Wajahnya biasa saja seolah ini bukan hal besar baginya.
Revan mendengus. "Cerai? Lalu kamu mau melaporkan mama ke polisi, dan mama dipenjara. Begitu maumu?" cerca Revan.
Kening Maara berkerut dalam atas tudingan Revan barusan.
"Demi Allah, aku nggak pernah kepikiran hal demikian. Aku hanya ingin melepas pernikahan yang membebani mu dan juga aku.... Buat apa kita menikah tapi kamu asik dengan kekasihmu bahkan kamu nggak menganggap kehadiran ku sama sekali..." seru Maara meluapkan apa yang selama ini tertahan.
Prok... prokk...
Revan bertepuk tangan dengan senyum mengejek yang terlihat jelas diwajahnya.
"Sudah berani rupanya kamu meninggikan suara dihadapan suamimu! Jangan munafik Maara! Aku tahu isi kepalamu itu!" gestur Revan menunjuk sisi kapalanya
"Kamu ingin cerai lalu menikah dengan pria incaranmu, iya kan...? Laki-laki mana lagi yang harus ketiban sialmu itu hah?! Dasar munafik! Jilbab saja yang lebar tapi tubuh sering di obral kesana kemari" ucap Revan tak berperasaan.
Plak!!!
Sebuah tamparan dilayangkan oleh Maara.
Wajahnya yang selalu tenang kini menegang karena emosi.
Kali ini, ucapan Revan sungguh keterlaluan.
"Jaga bicaramu mas! Jangan menghinaku hanya karena aku diam selama ini atas semua perlakuanmu! Aku bukan kamu yang dengan tak tahu malu menggandeng gadis lain sementara kamu masih terikat status pernikahan denganku, Walaupun kamu nggak menginginkan pernikahan ini, nyatanya kita tetap sah didepan Tuhan... Dan kamu akan sangat berdosa jika mengingkari janji mu pada Sang Maha Pencipta... Aku bukan kamu yang pengecut dan tak mau mengambil sikap tegas... Biarpun aku miskin tapi aku punya harga diri... Sejak awal aku diam bukan berarti aku lemah. Aku hanya ingin menghormatimu karena kamu suamiku, surga bagiku. Tapi melihat sikapmu hari ini, hormatku padamu luntur secara perlahan. Jika kamu laki-laki maka ambil satu keputusan. Ceraikan aku baru kamu bisa bebas menggandeng kekasihmu itu! Jangan mengukungku didalam pernikahan ini!" tegas Maara dengan nafas memburu dan suara bergetar.
Revan terdiam sejenak. Rahangnya mengetat. Matanya memancar kilat amarah.
Perempuan yang selama ini tidak banyak bicara hari ini sedang mengungkap semua isi hatinya karena satu kalimat darinya barusan.
Tapi demi ego, Revan tetap tak perduli.
Dia mendekat pada Maara lalu mencengkram rahang perempuan itu hingga dia meringis kesakitan.
"Cerai?" Revan mendengus "Jangan mimpi kamu Maara! Aku tidak akan pernah menceraikan mu, dan kali ini bukan lagi karena mama tapi karena ucapan mu barusan"
"Jangan lupa Maara, kamu lah yang telah lebih dulu masuk kedalam hubungan kami, maka selamat menikmati kesengsaraan!" ujarnya melepas kasar cengkramannya hingga kepala Maara terhuyung kebelakang dan membentur dinding.
Revan berlalu dari hadapan Maara yang meringis sakit meraba rahangnya yang terasa kebas dan punggung yang sakit.
"Aa, satu lagi... Siapkan dirimu karena bulan depan aku dan Laura akan menikah dan kami akan tinggal disini setelahnya!" ujar Revan dengan senyum kemenangan. Tanpa beban dan tanpa rasa bersalah.
Tas ransel yang Maara pegang akhirnya jatuh kelantai setelah mendengar ucapan Revan barusan.
Laki-laki itu sungguh keterlaluan kali ini.
Kepala Maara tertunduk dalam.
Revan benar-benar kejam.
Berkali-kali, Maara melafalkan kata-kata istighfar dalam hatinya demi menahan agar tidak lagi meledak seperti tadi.
Dirinya tak menyangka akan begitu sulit meminta cerai dari Revan.
Padahal dulu Revan pernah berkata akan berpisah begitu kekasihnya kembali namun hingga detik ini tak kunjung terselesaikan.
********^*******
Rumah keluarga Adiyasa....
"Revan... Tolong kamu pikirkan lagi nak. Jika kamu dan Laura menikah, lalu bagaimana dengan Maara..?Apa yang harus mama katakan kepadanya?"
Mira terus memohon ada putranya agar memikirkan ulang rencananya.
"Keputusan ku sudah bulat! Dan besok malam, kita akan menemui keluarga Laura untuk melamarnya"
"Mana bisa begitu Revan! Kamu jangan melangkahi papa dan mamamu! Ingat, kamu harus izin kepada Maara terlebih dahulu sebelum kamu memutuskan menikahi perempuan lain karena dia istrimu sekarang!" seru Rendra yang baru saja pulang dari bekerja.
Revan tersenyum kecil seperti mengejek " Izin perempuan itu? Siapa dia memangnya? Papa lupa kalau dia yang jadi penyusup dalam hubungan ku dan Laura... ?!" ujarnya.
"Revan!! Jangan kurang ajar kamu! Papa tidak pernah mengajari kamu untuk tidak bertanggung jawab seperti ini! Lagipula kamu yang akhirnya mengajak dia menikah, lantas kenapa sekarang kamu keterlaluan tak menganggapnya sebagai istri!" hardik Rendra begitu lantang dan keras.
"Kalian yang jahat! Aku terpaksa menikahinya demi menutupi kejahatan mama. Kalian yang tega mengurungku dalam pernikahan dengan perempuan yang sama sekali tidak aku kenal. Korbannya disini aku dan Laura... Harusnya kalian berempati pada Laura yang tak tahu apa-apa tapi dia harus berkorban terlalu banyak..." balas Revan dengan suara tak kalah lantangnya.
"Revan.... Mama mohon, tolong jangan begini nak.... " pinta Mira memohon dengan mata berkaca-kaca.
"Maa... Jika kalian menyayangiku, tolong restui pernikahan ku dan Laura... Lagipula, jika aku dan perempuan itu bertahan, aku tidak akan pernah memiliki keturunan karena dia cacat... Jadi jalan satu-satunya adalah, membiarkanku menikahi Laura agar garis keturunan Adiyasa tetap terjaga. Hanya itu saja..." pinta Revan yang kali ini berusaha melunakkan wajahnya yang semula tegang karena amarah.
Mira memandang kearah suaminya.
"Baiklah..! Tapi mama juga mohon, setelah kalian menikah, biarkan Maara tinggal dirumah mama...!" tawar Mira tegas tak ingin dibantah.
"Papa setuju!" sahut Rendra menyetujui ide istrinya.
"Terserah mama..."
bersambung...