Seorang pemuda dari Klan Lin, Lin Huang mencoba mencari jalannya sendiri di tengah keputusannya. Hingga suatu hari, kejadian tak terduga yang dia alami justru menjadi titik balik baginya untuk hidup di tempat yang hanya peduli pada kekuatan ini... Apa yang sebenarnya terjadi padanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yann_Story, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ngarai Tengkorak Merah
Bisik-bisik langsung terdengar. Status Huang sebagai satu-satunya murid dari seorang master legendaris eksentrik membuatnya tetap menjadi bahan pembicaraan hangat, meskipun faksi Gagak Hitam tidak berani menyentuhnya secara terang-terangan di dalam wilayah akademi.
Huang mengabaikan pandangan mereka dan berjalan menuju dinding misi untuk Murid Luar tingkat atas. Matanya menyusuri daftar misi hingga pandangannya berhenti pada sebuah teks yang menyala merah darah—tanda misi tingkat bahaya tinggi.
Misi Tingkat Bahaya: Tinggi (Khusus Fondasi Jiwa Puncak / Formasi Inti Awal)
>Tugas: Menyelidiki hilangnya beberapa tim penambang di Ngarai Tengkorak Merah (wilayah perbatasan netral) dan membasmi dalangnya.
> Hadiah: 5.000 Poin Kontribusi & 1 Buah Pil Kristal Bumi Tingkat Bumi.
‘Pil Kristal Bumi!’ Mata Huang berkilat. Pil itu adalah katalis terbaik untuk kultivator berat sepertinya guna menembus Ranah Formasi Inti.
Tepat ketika tangan Huang hendak terulur untuk mengambil gulungan misi tersebut dari dinding batu, sebuah tangan lain yang dilapisi zirah perak tipis mendahuluinya, menyambar gulungan itu lebih cepat.
"Misi ini terlalu berbahaya untuk seorang pemula yang baru tiga bulan mencicipi akademi, Junior Lin."
Huang menoleh. Berdiri di sampingnya adalah seorang pemuda jangkung berwajah tampan dengan rambut pirang yang dikuncir rapi. Dia mengenakan jubah putih Murid Dalam dengan sulaman lambang matahari emas. Tekanan energinya berada di Ranah Formasi Inti Tingkat Awal yang sangat stabil.
Di belakang pemuda itu, berdiri tiga murid senior lainnya, dan salah satu dari mereka adalah Lu Chen—pemuda angkuh yang pernah dihajar Huang di gerbang akademi. Lu Chen menatap Huang dengan pandangan yang kini dipenuhi rasa puas dan dendam yang tertahan.
"Dia adalah Mo Rong," bisik beberapa murid di sekitar dengan nada segan.
Huang menyipitkan matanya. Mo Rong, orang yang berada di peringkat pertama dalam ujian Lencana Jiwa tiga bulan lalu, jenius nomor satu dari Kekaisaran Langit Pusat Ras Manusia.
"Kakak Senior Mo benar," Lu Chen melangkah maju dengan angkuh dari belakang Mo Rong.
"Lin Huang, kau pikir karena kau beruntung menjadi murid Penatua Jiu, kau bisa bertindak sesukamu? Ngarai Tengkorak Merah adalah wilayah yang sangat berbahaya. Faksi Matahari Emas kami telah mengambil misi ini terlebih dahulu."
Mo Rong memutar gulungan misi di jarinya, lalu menatap Huang dengan senyum tipis yang tampak ramah namun menyimpan keangkuhan yang dingin. "Tentu saja, akademi tidak melarang adanya persaingan sehat. Jika Junior Lin sangat menginginkan misi ini... bagaimana kalau kita berlomba? Siapa pun yang berhasil membawa kepala dalang di ngarai tersebut, dialah yang berhak mengklaim seluruh hadiahnya."
Huang menatap Mo Rong, lalu beralih pada Lu Chen. Melalui indra batinnya yang tajam, Huang bisa merasakan ada aliran Qi kegelapan yang sangat samar dan tersembunyi di balik zirah perak Mo Rong—sebuah riak energi yang sangat mirip dengan milik faksi Gagak Hitam dari Ras Iblis.
Huang seketika mengerti. Ini bukan sekadar perebutan misi biasa. Mo Rong kemungkinan besar adalah bidak tingkat tinggi yang dikirim faksi Iblis untuk memancingnya keluar dari zona perlindungan Penatua Jiu di dalam akademi. Ngarai Tengkorak Merah akan menjadi tempat eksekusi yang telah mereka siapkan.
Namun, alih-alih mundur, darah Asura di dalam tubuh Huang justru berdesir panas. Menembus Ranah Formasi Inti membutuhkan tekanan pertempuran yang sesungguhnya, dan Mo Rong adalah batu asahan yang sempurna.
Huang menyunggingkan senyum tipis, sepasang matanya menatap tajam langsung ke bola mata Mo Rong.
"Tawaran yang menarik, Kakak Senior Mo," jawab Huang, suaranya tenang namun sarat akan tantangan. "Mari kita lihat... siapa yang akan menjadi pemburu, dan siapa yang akan menjadi mangsa di Ngarai Tengkorak Merah."
Kata-kata Huang yang tenang namun tajam bagai sembuan angin dingin di Paviliun Misi yang bising. Riuh bisik-bisik para murid senior mendadak senyap. Mereka tidak menyangka bahwa seorang murid baru, sekalipun statusnya murid langsung Penatua Jiu, berani menantang Mo Rong—sang jenius peringkat pertama yang telah menembus Ranah Formasi Inti.
Mo Rong tidak marah. Senyum ramah di wajah tampannya justru semakin melebar, walau kilatan di matanya sedingin es di puncak gunung.
"Keberanian yang luar biasa, Junior Lin. Kuharap tulang-tulangmu sekeras ucapanmu," ujar Mo Rong lembut. Dia membalikkan badannya, melambaikan tangan kepada tiga pengikutnya. "Sampai jumpa di Ngarai Tengkorak Merah. Jangan membuatku menunggu terlalu lama di sana... jika kau tidak mati di perjalanan."
Lu Chen memberikan tatapan penuh dendam sebelum akhirnya melangkah pergi mengikuti Mo Rong, keluar dari Paviliun Misi.
Huang tidak membuang waktu. Setelah mencatatkan keikutsertaannya dalam misi tersebut pada tetua penjaga paviliun, dia segera kembali ke Puncak Arak untuk bersiap. Dia tahu, perjalanan ini tidak akan menjadi perburuan monster biasa; ini adalah jebakan maut yang sengaja digelar untuknya.
---
Malam itu, di tepi tebing Puncak Arak, Penatua Jiu duduk sambil memanggang seekor ikan spiritual di atas api unggun kecil. Bau harum daging berpadu dengan aroma arak dari kendinya.
"Jadi, kau mengambil misi Ngarai Tengkorak Merah?" tanya Penatua Jiu tanpa menoleh, matanya tetap tertuju pada ikan panggang.
"Benar, Guru. Murid membutuhkan Pil Kristal Bumi untuk menembus kemacetan ranah ini," jawab Huang yang berdiri tegak di belakangnya.
Penatua Jiu meneguk araknya, lalu tertawa kecil. "Pil itu bagus, tapi niat membunuh tersembunyi dari bocah Kekaisaran Langit Pusat itu jauh lebih menarik, bukan? Kau pikir aku tidak tahu kalau faksi Gagak Hitam sedang menggunakan Mo Rong untuk memancingmu keluar?"
Huang tertegun sejenak, namun segera membungkuk. "Guru mengetahui segalanya."
"Bocah, dunia kultivasi ini luas, dan konspirasi adalah bumbunya," Penatua Jiu membalik ikannya. "Aku bisa saja melarangmu pergi, atau menekan faksi Gagak Hitam dengan satu jariku. Tapi itu tidak akan membuatmu tumbuh. Kursi empuk tidak akan pernah melahirkan seorang penguasa. Pergilah. Jika kau mati di sana, itu berarti kau memang hanya sampai di sini. Tapi jika kau kembali..."
Penatua Jiu melemparkan sebuah botol giok kecil berwarna hitam ke arah Huang. "Minum ini saat kau berada di puncak pertempuran. Ini bukan obat, melainkan Arak Pemurnian Sumsum buatanku. Ini akan membakar sisa kotoran di meridianmu."
Huang menangkap botol giok itu, meresapi kehangatan yang menjalar dari permukaannya. "Murid tidak akan mengecewakan Guru."
---
Keesokan paginya, Huang bergerak menuju perbatasan selatan wilayah netral. Ngarai Tengkorak Merah adalah sebuah celah bumi raksasa yang tanah dan dinding batunya berwarna merah karat akibat konsentrasi elemen besi dan darah dari pertempuran masa lalu. Angin yang berembus melintasi ngarai ini mengeluarkan suara melolong panjang yang menyerupai jeritan minta tolong, menambah kesan angker tempat tersebut.
Begitu Huang melangkah masuk ke dalam celah ngarai, indra batinnya yang tajam segera mendeteksi kejanggalan. Udara di sini tidak hanya dingin, tetapi juga berbau anyir yang sangat pekat. Kabut darah tipis melayang di atas tanah.
SRET... SRET...
Dari balik bebatuan merah di depannya, muncul belasan sosok manusia. Namun, mereka tidak lagi berjalan seperti layaknya manusia. Kulit mereka pucat pasi dengan urat-urat hitam yang menonjol di sekujur tubuh, dan mata mereka kosong tanpa pupil. Mereka adalah para penambang yang hilang, yang kini telah diubah menjadi Wayang Darah—mayat hidup yang dikendalikan oleh teknik hitam.
"Auuuuurrrgh!"
Dengan raungan serak, belasan Wayang Darah itu melesat maju ke arah Huang dengan kecepatan yang menyamai kultivator Ranah Kondensasi Qi tingkat akhir, kuku-kuku jari mereka yang menghitam memancarkan racun mayat yang mematikan.