NovelToon NovelToon
Wanita Miskin Pengganti Nyonya Mahesa

Wanita Miskin Pengganti Nyonya Mahesa

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Diam-Diam Cinta / Duda
Popularitas:4.8k
Nilai: 5
Nama Author: Quin

Nadira, gadis miskin dari desa, datang ke kota demi biaya pengobatan ibunya. Hidupnya berubah ketika ia menemukan seorang wanita tewas di pinggir jalan dan tanpa sengaja menjadi tersangka pembunuhan karena DNA-nya ditemukan di tubuh korban.

Korban itu adalah Nayla Adiprana, istri Mahesa Adiprana, pengusaha kaya yang dipenuhi duka dan amarah. Sebagai hukuman, Mahesa memaksa Nadira menikah dengannya dan hidup menderita di rumahnya.

Namun seiring waktu, Mahesa mulai melihat ketulusan Nadira yang merawat putranya dengan penuh kasih. Saat benih cinta tumbuh, kebenaran mengejutkan terungkap.

Akankah Nadira memaafkannya atau justru Nadira akan menjauh darinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Quin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 2

Lampu ruangan interogasi tempat Nadira berada saat ini terasa menyilaukan mata. Nadira duduk gemetar di kursi besi dingin sambil memeluk tubuhnya sendiri. Pakaiannya masih sedikit basah akibat embun malam dan keringat dingin yang sejak tadi terus mengalir dari tubuhnya.

Sudah hampir dua jam Nadira berada di kantor polisi, ia sudah berusaha menjelaskan kejadian sebenarnya namun tak ada yang mempercayainya.

Seorang polisi datang dan duduk di hadapan Nadira di dalam ruang interogasi. “ Nama?” Polisi itu terlihat membuka catatan kecil sambil menulis sesuatu.

Nadira menelan ludah dengan susah payah, sejak tadi ia sudah haus hingga bibirnya mengering namun tak ada yang memberikan segelas air putih kepadanya. “ Nadira…” jawabnya takut takut.

“ Nama lengkap!.” Ujar polisi itu dengan mata melotot.

Nadira sangat takut. “Nadira Anindya”.

Nadira melihat sang polisi yang sedang mencatat sesuatu dalam buku kecilnya.

“ Apa kamu kenal korban?.” Tanya sang polisi dengan tatapan tajam.

Nadira menggeleng, “ Saya sama sekali tidak kenal pak. Baru semalam saya bertemu dengannya dan dia terbaring di pinggir jalan dekat semak semak.” Jawaban yang tetap sama dari Nadira.

“ Kami menemukan DNA mu di tubuh korban, tepat pada luka tusuknya. Bagaimana itu bisa terjadi?. Dan pisau yang menempel di tubuh korban juga ada DNA mu.” Ujar sang polisi.

Nadira pucat, ia ingat saat ia menyentuh bagian luka wanita itu dan pisau yang melekat di luka korban juga sempat ia sentuh. “Saya hanya coba menolongnya dan memeriksa keadaannya, saya tidak tahu apa apa mengenai pisau itu saya tak sengaja menyentuhnya. Tolong percayalah pak…”

“Menolong?” Polisi itu tertawa sinis. “Korban sudah meninggal saat kamu ditemukan di lokasi. Barang bukti ada, jangan mengelak.”

Air mata Nadira mulai jatuh lagi, “ Saya tidak membunuhnya…”

“ Semua tersangka juga bilang begitu…” ujar sang polisi seolah menyudutkan Nadira.

Nadira menggigit bibirnya kuat kuat menahan tangisan ketidakberdayaannya. Nadira benar benar ketakutan. Baru kemarin ia datang ke Jakarta dengan harapan mendapatkan pekerjaan demi ibunya, namun sekarang ia malah duduk di kantor polisi sebagai tersangka pembunuhan. “ Pak, saya mohon percayalah. Saya tidak mengenal wanita itu dan saya tidak membunuhnya.”

Bukannya mendengarkan penjelasan Nadira, polisi itu malah menghela nafas kasar. “Korban adalah istri Mahesa Adiprana. Tuan Mahesa adalah orang paling berpengaruh di kota ini, dan dia sangat kaya raya. Pasti banyak yang mengincar nyawa keluarganya.”

Nadira terdiam, ia benar benar tidak mengenal Mahesa ataupun istrinya yang baru saja meninggal. Namun dari cara polisi ini dan orang orang yang Nadira lihat menghormatinya tadi malam, Nadira mulai paham jika pria itu bukan orang biasa.

“ Tuan Mahesa menuntut kasus ini cepat diselesaikan!.” Ujar sang polisi dengan sinis.

Jantung Nadira semakin berdebar, “ Apa saya…akan di penjara?.”

Tak ada jawaban yang terdengar dari polisi di hadapan Nadira, dan justru semakin hening yang membuat ketakutan nadira semakin besar.

***

Disisi lain, Suasana rumah duka keluarga Adiprana dipenuhi tangisan dan aroma bunga kematian. Rumah mewah bak istana itu dipenuhi pelayat penting dari berbagai kalangan. Namun ditengah keramaian tersebut, suasana terasa mencekam karena keberadaan satu orang. ‘Mahesa Adiprana’

Pria itu duduk diam di depan foto besar mendiang istrinya. Tatapannya kosong, rahangnya mengeras, matanya merah karena semalaman tidak tidur. Disampingnya seorang bayi laki laki berusia delapan bulan sedang tertidur dalam gendongan pengasuh. Nama bayi itu adalah Keano Adiprana, putra satu satunya Mahesa dan Nayla.

“Mahesa…” Tiba tiba seorang pria paruh baya datang.

Mahesa mengangkat kepalanya perlahan, yang datang adalah Dion, sahabat sekaligus tangan kanannya di perusahaan.

“ Polisi masih menyelidiki wanita itu.”

Tatapan Mahesa langsung berubah dingin. “Pastikan dia tidak lolos!.”

Dion mengangguk pelan. “ Mahesa…saya rasa wanita itu memang tidak bersalah.”

“Diam!.” Suara mahesa terdengar rendah namun penuh dengan tekanan.

“ Aku melihat sendiri dengan mataku, Nayla ditemukan meninggal dan satu satunya orang yang ada di tempat kejadian adalah wanita itu dan tangannya sudah di lumuri darah, bahkan polisi mengirimkan bukti DNA wanita itu ada di luka Nayla dan di tubuhnya, juga pada pisau yang menancap di tubuh Nayla.”

Dion terdiam mendengar ucapan Mahesa, ia tahu Mahesa sangat mencintai istrinya, bahkan sangat mencintainya. Semua orang juga tahu Mahesa rela melakukan apa saja demi Nayla. Karena itu kematian nayla membuatnya seperti kehilangan separuh hidupnya.

“ Aku ingin wanita itu di hukum!. Siapapun yang telah berani membunuh istriku, tidak akan pernah aku maafkan!.”

***

Sementara itu, Nadira masih duduk sendirian di ruang tahanan. Matanya bengkak karena menangis. Perutnya lapar sejak tadi malam, tetapi ia sama sekali tak nafsu makan. Pikirannya terus tertuju pada ibunya yang ada di desa. Bagaimana kalau ibunya tahu dirinya di tangkap polisi?. Ibunya pasti akan drop, Nadira menunduk sambil memeluk lututnya. Ia tak ingin ibunya kenapa napa karena dirinya. “Ya Allah… tolong aku, lindungi ibu.”

Suara Langkah kaki mendekat, pintu besi perlahan terbuka, seorang polisi terlihat masuk ke dalam jeruji tahanan. “ Nadira…” panggilnya.

Nadira spontan berdiri panik, “ I…iya pak.”

“ Ada yang ingin bertemu denganmu.”

Belum sempat Nadira bertanya, sosok tinggi sudah muncul di balik pintu.

Deg

Nafas Nadira tercekat, ia ingat dengan wajah pria itu, dia adalah Mahesa Adiprana yang istrinya adalah wanita yang Nadira temukan tak sengaja di pinggir jalan.

Pria itu masuk dengan tatapan dingin yang menusuk. Nadira refleks mundur satu Langkah. Mahesa berdiri di hadapannya tanpa bicara selama beberapa detik. Tatapannya begitu tajam hingga membuat Nadira gemetar.

“ Wanita pembunuh!.” Suara mahesa terdengar rendah namun penuh tekanan.

Nadira menelan ludah dengan gugup “ Saya tidak membunuh istri anda!.”

Mahesa tertawa kecil, namun bagi Nadira tawa itu terdengar menyeramkan. “ Kamu pikir aku datang untuk mendengar kebohongan murahanmu?.”

“ Aku tidak berbohong, aku mengatakan yang sebenarnya!.” Tubuh Nadira bergetar.

“ Kamu menyentuh istriku, kamu telah membunuhnya!.”

“ Tidak!, aku hanya mencoba menolongnya pak!.” Nadira menggeleng cepat.

Mahesa mendekat dengan perlahan ke arah Nadira. Tatapannya penuh dengan kebencian. “Kalau kamu tidak membunuh istri ku malam itu, dia masih ada di sisiku sekarang!.”

Deg

Air mata Nadira Kembali jatuh untuk kesekian kalinya. “ Saya benar benar tidak tahu apa yang terjadi.”

Mahesa tidak perduli apa yang dikatakan oleh Nadira, ia terlalu hancur untuk berpikir jernih. “Kamu tahu apa yang paling menyakitkan?.” Tanya Mahesa pelan.

Nadira terdiam tanpa berani menatap mata Mahesa yang kini sangat dekat dengannya.

“ Aku bahkan tidak ada di sampingnya saat dia meninggal.” Suara berat dan dalam dari Mahesa mengalihkan pandangan Nadira.

Untuk sesaat Nadira dapat melihat luka mendalam di mata pria itu. Namun rasa iba di hati Nadira langsung kalah karena rasa takutnya. Di detik kemudian Mahesa Kembali menatapnya dingin.

“Dan kamu adalah orang yang telah membunuhnya!.”

Nadira Kembali menggeleng cepat di sertai air mata yang terus mengalir di pipinya. “ Saya tidak membunuhnya…” lirih nadira putus asa.

Mahesa menatap Nadira lama, lalu tiba tiba…”Aku bersumpah, aku tidak akan membiarkanmu hidup tenang.”

Deg

Nadira membeku “Maksud…maksud anda?.”

Mahesa tersenyum tipis, namun senyum itu terlihat sangat menyeramkan. “Penjara terlalu ringan untukmu, dan hukuman mati terlalu singkat untukmu merasakan rasa sakit.”

“ A…apa maksud anda?.” Nadira mulai bergetar hebat.

“ Aku ingin kamu merasakan yang Namanya Neraka!.” Mahesa berbalik lalu berjalan keluar begitu saja meninggalkan Nadira yang sedang dilanda ketakutan hebat hingga ia hanya terlihat mematung di tempatnya tanpa berkedip.

1
NN
lanjut
Quin: okeyy best👍😍
total 1 replies
Ma Em
Semoga kebenarannya segera terungkap agar Nadira bisa cepat bebas dari siksaan Mahesa , dan bisa pulang kerumah ibunya .
Quin: terimakasih 🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!