NovelToon NovelToon
Mr And Mrs Adiputra

Mr And Mrs Adiputra

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak / Obsesi
Popularitas:7k
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira Ramadhani

Bagi Arunika Nirmala, mencintai Marsellino adalah luka yang paling dalam. Namun, saat Marsellino memilih wanita lain, sebuah tawaran gila datang dari Thomas Adiputra—kakak Marsel sekaligus CEO dingin bermulut pedas yang selalu menghinanya.
Sebuah kontrak pernikahan disodorkan. Thomas butuh tameng dari perjodohan ibunya, dan Arunika butuh harga diri di depan pria yang membuangnya.
Arunika pikir ini hanya transaksi bisnis dua tahun yang hambar. Ia tidak tahu bahwa bagi Thomas, kontrak ini adalah rencana sepuluh tahun untuk menjerat satu-satunya gadis yang pernah ia cintai dalam diam.
"Hapus sampah itu dari ponselmu, Arunika. Sekarang, kamu adalah milikku."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 10

Thomas melangkah keluar dari ruang VIP dengan langkah tenang, bermaksud menyusul Arunika yang sudah lebih dulu menuju lobi hotel karena merasa gerah dengan suasana makan malam tadi. Namun, baru beberapa langkah di koridor sunyi yang beralaskan karpet beludru merah itu, sebuah bayangan muncul dari balik pilar besar.

Marsel berdiri di sana dengan wajah yang memerah padam. Napasnya memburu, dan tangannya mengepal kuat di sisi tubuhnya.

"Jelasin sama gue, Kak. Maksud lo apa?!" suara Marsel tertahan, namun penuh dengan nada tuntutan.

Thomas menghentikan langkahnya. Ia memasukkan sebelah tangannya ke saku celana kainnya, tetap terlihat sangat tenang dan dominan. Ia menatap adiknya dengan tatapan datar yang sulit ditembus.

"Maksud yang mana? Soal menu makan malam tadi? Atau soal Arunika?" tanya Thomas santai, suaranya dingin seperti es.

"Jangan pura-pura bego! Soal Arunika!" Marsel maju selangkah, menantang kakaknya. "Kenapa lo mendadak banget nikah sama dia? Satu minggu? Lo gila?! Setau gue, Arunika itu ngejar-ngejar gue selama tiga tahun ini! Dia cinta mati sama gue, Kak!"

Thomas sedikit memiringkan kepalanya. "Dia pernah mengejarmu, Marsel. Gunakan bentuk waktu yang tepat dalam bicaramu. Dulu dia mengejarmu, dan kamu... apa yang kamu lakukan? Kamu membuang waktunya, membiarkannya menunggu seperti orang bodoh, sementara kamu asyik dengan wanita lain."

"Tapi bukan berarti lo bisa ambil dia gitu aja!" bentak Marsel. "Lo nggak pernah deket sama dia. Lo bahkan sering ngatain dia berisik. Gue tahu lo, Kak. Lo cuma mau manfaatin dia buat penuhin syarat Mami kan? Lo tega jadiin Arunika alat?"

Thomas tertawa kecil, tawa yang tidak sampai ke matanya. "Alat? Justru aku sedang menyelamatkannya. Menyelamatkannya dari rasa sakit hati karena laki-laki tidak punya pendirian sepertimu. Kenapa? Kamu merasa kehilangan mainan?"

"Dia bukan mainan!"

"Kalau dia bukan mainan, kenapa kamu marah saat aku menjadikannya prioritasku?" Thomas melangkah maju, kini ia yang mendominasi ruang di antara mereka. Ia lebih tinggi dan jauh lebih mengintimidasi. "Kamu sudah punya Aletta, Marsel. Bukankah itu pilihanmu? Jadi, berhentilah bersikap seolah-olah kamu punya hak atas Arunika."

"Gue nggak percaya lo cinta sama dia," desis Marsel. "Ini pasti cuma bisnis. Gue bakal bilang ke Arunika kalau lo cuma manfaatin dia!"

"Silakan," tantang Thomas. "Bilang padanya. Tapi sebelum kamu melakukannya, ingatlah satu hal. Saat dia menangis karena kamu di kampus minggu lalu, siapa yang ada di sana? Saat dia butuh tempat tinggal dan perlindungan, siapa yang membukakan pintu? Itu aku, Marsel. Bukan kamu."

Marsel terdiam, wajahnya mengeras. Ia tidak tahu soal kejadian di kampus itu.

Di tengah suasana yang kian memanas dan hampir meledak menjadi perkelahian fisik, ponsel di saku jas Thomas bergetar. Thomas menariknya keluar dengan gerakan tenang. Matanya melembut sesaat saat melihat notifikasi di layar.

Gorgeous wife 💙: Mas dimana? Kok lama?

Gorgeous wife 💙: Ayoo dingin banget nih. Aku juga udah ngantuk.

Thomas menatap layar itu beberapa detik, mengabaikan Marsel yang masih menatapnya dengan penuh kebencian. Ia mengetik balasan singkat dengan satu tangan.

Thomas: Tunggu di lobi. Aku segera ke sana, Baby.

"Lo lihat ini?" Thomas memutar layar ponselnya, memperlihatkan pesan singkat dari Arunika kepada Marsel. Ia sengaja memperlihatkan nama kontak yang tersimpan di sana.

Marsel tertegun. Matanya tertuju pada nama kontak 'Gorgeous wife 💙'. Dadanya terasa seperti dihantam godam besar. Ia tidak pernah melihat kakaknya yang kaku dan dingin itu menyimpan nama seseorang dengan sebutan se-ekstrem itu.

"Dia menungguku, Marsel. Dia kedinginan dan dia ingin pulang... bersamaku. Ke rumah kami," ucap Thomas dengan penekanan pada setiap kata.

"Kak, lo bener-bener—"

"Satu peringatan terakhir untukmu, adikku tersayang," potong Thomas, suaranya kini sangat rendah dan berbahaya. "Jangan pernah berani mendekati atau mengganggu calon istriku lagi. Jika aku melihatmu membuatnya sedih atau ragu lagi, aku tidak akan segan-segan menghapus namamu dari daftar keluarga Adiputra. Aku tidak bercanda."

Thomas menepuk bahu Marsel dengan keras, lalu berjalan melewati adiknya tanpa menoleh lagi. Ia melangkah menuju lobi dengan terburu-buru, rasa cemas tiba-tiba muncul memikirkan Arunika yang sedang kedinginan di luar.

Begitu sampai di lobi, ia melihat Arunika sedang duduk di sofa besar, memeluk tubuhnya sendiri karena AC hotel yang memang cukup menusuk. Kepalanya terkantuk-kantuk, membuat rambutnya yang sudah tertata rapi sedikit berantakan.

Thomas segera melepas jas jas midnight blue-nya dan menyampirkannya ke bahu Arunika.

"Eh, Mas?" Arunika terbangun, matanya yang sayu menatap Thomas. "Lama banget. Aku kira Mas masih debat sama Om-om di dalam."

"Maaf," ucap Thomas lembut. Ia membantu Arunika berdiri dan merapatkan jasnya agar menutupi tubuh gadis itu. "Ada sedikit gangguan teknis tadi."

"Gangguan apa?"

"Hanya seekor lalat yang berisik," jawab Thomas singkat. Ia merangkul bahu Arunika, menuntunnya menuju mobil yang sudah menunggu di depan lobi.

"Mas, tadi di depan Mama Papa... akting kamu oke juga ya," bisik Arunika saat mereka masuk ke dalam mobil. "Tapi panggilan 'baby girl' tadi... itu nggak masuk di briefing kita tahu!"

Thomas menyandarkan punggungnya di kursi mobil, ia menarik napas panjang. "Itu improvisasi. Agar mereka makin yakin."

"Tapi Marsel mukanya tadi beneran kayak mau meledak, Mas. Aku jadi ngerasa nggak enak," gumam Arunika jujur.

Thomas menoleh, menatap Arunika di kegelapan kabin mobil. "Kenapa harus nggak enak? Dia yang memilih jalannya sendiri. Sekarang, fokuslah pada pernikahan kita minggu depan. Kamu sudah janji untuk tidak melepas tanganku, kan?"

Arunika menatap tangan Thomas yang kini menggenggam tangannya dengan erat. "Iya, Mas. Aku janji."

"Bagus. Sekarang tidur. Perjalanan ke apartemen cukup jauh," Thomas menarik kepala Arunika agar bersandar di bahunya.

Arunika perlahan memejamkan mata, merasa hangat di balik jas Thomas yang masih menyimpan aroma parfum pria itu. Ia tidak tahu bahwa di balik sikap protektif ini, Thomas baru saja melakukan peperangan besar untuk memastikannya tetap berada di sisinya.

Sedangkan di hotel, Marsel masih berdiri di koridor yang sama, menatap kosong ke lantai. Kata-kata Thomas terus terngiang di kepalanya. Ia mulai menyadari bahwa ia baru saja kehilangan sesuatu yang sangat berharga, dan kakaknya adalah orang yang paling tahu cara menjaga barang berharga itu—bahkan dengan cara yang paling egois sekalipun.

***

Mobil sedan mewah itu meluncur mulus memasuki area parkir bawah tanah apartemen. Suasana di dalam kabin sangat tenang, hanya terdengar suara napas teratur dari Arunika yang masih terlelap. Kepalanya bersandar nyaman di bahu Thomas, sementara jemarinya masih sedikit mengait di ujung kemeja pria itu.

Thomas tidak langsung bergerak. Ia menatap wajah Arunika dalam temaram lampu mobil. Gadis itu terlihat sangat damai saat tidur—tidak ada kerutan kesedihan karena Marsel, tidak ada ocehan berisik tentang TikTok. Hanya ada Arunika yang polos.

"Kita sudah sampai, Pak," bisik sopir pribadi Thomas pelan.

"Buka pintunya perlahan. Jangan sampai ada suara," perintah Thomas dengan suara yang sangat rendah.

Thomas turun lebih dulu, lalu dengan gerakan yang sangat hati-hati, ia menyusupkan satu lengannya di bawah lutut Arunika dan lengan lainnya menopang punggung gadis itu. Ia mengangkatnya dalam sekali gerakan. Bridal style.

Arunika menggeliat pelan, merasa posisinya berubah. Namun, alih-alih terbangun, ia justru semakin merapatkan tubuhnya ke dada Thomas. Wajahnya terbenam di ceruk leher Thomas, mencari kehangatan dari embusan napas pria itu.

Deg... deg... deg...

Thomas mematung di samping mobil. Jantungnya mendadak berdegup kencang, suaranya seolah berdisko di dalam rongga dadanya sendiri. Kulit lehernya yang sensitif merasakan napas hangat Arunika dan sentuhan ujung hidung gadis itu. Aroma stroberi dari rambut Arunika kini bercampur dengan wangi parfum yang baru saja ia pakai, menciptakan sensasi yang memabukkan bagi Thomas.

"Sialan..." umpat Thomas sangat pelan, suaranya serak. Ia memejamkan mata sejenak, mencoba mengatur napasnya yang mulai berantakan. Ia adalah seorang CEO yang bisa menghadapi ratusan investor tanpa gemetar, tapi hanya dengan napas seorang gadis di lehernya, pertahanannya runtuh seketika.

Thomas melangkah menuju lift khusus dengan langkah lebar namun tetap stabil agar tidak membangunkan "beban manis" di lengannya. Begitu pintu lift tertutup, cermin di dalam lift memperlihatkan pantulan mereka berdua. Thomas melihat dirinya sendiri—seorang pria yang biasanya angkuh, kini menatap gadis di pelukannya dengan tatapan yang begitu protektif dan... penuh damba.

Sesampainya di dalam apartemen, Thomas tidak langsung membawa Arunika ke kamar gadis itu. Ia berhenti sejenak di tengah ruang tamu yang gelap, hanya diterangi cahaya kota dari balik jendela besar.

Arunika kembali menggeliat. Tangan kecilnya tanpa sadar melingkar di leher Thomas, menarik pria itu sedikit lebih dekat. "Marsel..." gumamnya lirih dalam tidur.

Langkah Thomas terhenti. Rasa hangat di dadanya seketika digantikan oleh rasa nyeri yang tajam. Bahkan dalam tidur pun, nama adiknya yang keluar?

Thomas menarik napas panjang, lalu ia menunduk, menatap wajah Arunika dengan intens. "Berapa kali harus kubilang, Arunika? Di sini, di tempat ini... hanya ada aku. Berhenti memanggil nama orang lain saat kamu sedang berada di pelukanku."

Ia melanjutkan langkahnya menuju kamar Arunika. Ia meletakkan gadis itu di atas tempat tidur dengan sangat lembut, seolah Arunika adalah porselen yang mudah pecah. Ia melepas sepatu hak tinggi yang masih dikenakan Arunika, lalu menyelimuti gadis itu hingga sebatas dada.

Thomas baru saja akan berdiri saat tangan Arunika menahan ujung kemejanya.

"Mas... Thomas?" panggil Arunika dengan suara parau. Matanya terbuka sedikit, menatap Thomas dengan pandangan kabur.

Thomas membeku di posisinya, setengah membungkuk di atas tubuh Arunika. "Ya. Ini aku. Tidurlah lagi."

Arunika tersenyum tipis, matanya masih setengah terpejam. "Tadi di hotel... Mas keren banget. Makasih ya udah jagain aku di depan Marsel."

Thomas terdiam. Ia bisa merasakan jantungnya kembali berdetak tidak keruan. "Itu bagian dari kontrak, Arunika. Jangan dipikirkan."

"Kontrak ya?" Arunika tertawa kecil, suara tawanya terdengar sangat manis di keheningan malam. Ia menarik tangan Thomas, menempelkan telapak tangan pria itu ke pipinya yang hangat. "Tapi Mas Thomas baik banget. Omeletnya enak... semurnya enak... panggilannya juga... lucu."

"Lucu?"

"Iya... baby girl," gumam Arunika sebelum matanya kembali terpejam rapat. Ia kembali terlelap, kali ini dengan senyum yang masih tersisa di sudut bibirnya.

Thomas tetap diam di sana, membiarkan tangannya dielus oleh pipi Arunika yang halus. Ia merasa seperti seorang pencuri—pencuri momen yang seharusnya bukan miliknya. Namun, ia tidak peduli.

"Kamu menyebutnya akting, kamu menyebutnya lucu," bisik Thomas sambil mengusap kening Arunika dengan ibu jarinya. "Tapi bagiku, setiap detik bersamamu adalah perjuangan untuk tidak menarikmu ke dalam pelukanku dan mengatakan bahwa aku mencintaimu sejak sepuluh tahun yang lalu."

Thomas berdiri, ia merapikan kemejanya yang sedikit kusut. Sebelum keluar dari kamar, ia sempat menoleh sekali lagi.

"Satu minggu lagi, Arunika. Setelah itu, tidak akan ada lagi kontrak yang bisa kamu jadikan alasan. Kamu akan benar-benar menjadi istriku, dan aku akan pastikan namaku adalah satu-satunya yang kamu sebut—baik saat kamu bangun, maupun saat kamu bermimpi."

Thomas menutup pintu kamar Arunika dengan pelan. Ia berjalan menuju balkon, menyalakan sebatang rokok untuk menenangkan sarafnya yang tegang. Ia menatap lampu-lampu kota Jakarta yang gemerlap, memikirkan rencana pernikahannya yang tinggal tujuh hari lagi.

Ia tahu Marsel tidak akan tinggal diam. Ia tahu keluarganya akan banyak bertanya. Tapi melihat bagaimana Arunika membenamkan wajah di lehernya tadi, Thomas tahu bahwa ia tidak akan pernah melepaskan gadis itu. Tidak untuk Marsel, tidak untuk siapa pun.

"Satu minggu," gumamnya pada kegelapan malam. "Satu minggu lagi, dan permainan ini akan berakhir menjadi kenyataan selamanya."

Thomas membuang puntung rokoknya, lalu masuk kembali ke dalam apartemennya yang kini terasa lebih hangat hanya karena kehadiran seorang gadis yang sedang bermimpi tentang semur daging dan panggilan 'baby girl' di kamar sebelah.

***

Jangan lupa tinggalkan jejak 😘

1
Alex
ku tunggu thor🤭
merry
/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/nungu dh lm tu ank org Ardi 🤣🤣🤣 dh lm bljr juga jdi bisa bkin ank perwan org baper🤣🤣🤣
merry
klo dh cinta diksh hal kcil pun dh bhgia y tom 🤭🤭🤭🤭
merry
moga aj nika gk terpengaruh lg sm Marcel biar Marcel nyesel dan Aleta nyesel yg di incar bukn CEO🤣🤣🤣
merry
msh polos 🤣🤣🤣mklum blm pnh pcran trs yg di kejar mn cuek Bebek
merry
jgn hrpin mercel lg nika,, trs jjur aj sm pernikahan mu sm orgtua mu
Alex
wkwkwkwkwkwkwk
gagal
coba lagi dong 🤭
Alex
sweet bgts pak CEO ini
Alex
suka bgtss ceritanya
Nasya
selamat pegantin baru
Dyou Tatik
lanjut kak
Nasya
diihh marsel 🙄
Nasya
🤣
bunga citra
sabar ya mas Thomas
bunga citra
bagus
bunga citra
lanjut
Nasya
aaawww so cutee 🥰
English Lesson
Kak, nggak update?
Nasya
co cuit mas thomas, smngat 😁💪🏻💪🏻
English Lesson
Sweet💕
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!