NovelToon NovelToon
Dikhianati Suami, Dicintai Chef Eksekutif

Dikhianati Suami, Dicintai Chef Eksekutif

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh / Crazy Rich/Konglomerat / Penyesalan Suami
Popularitas:13.3k
Nilai: 5
Nama Author: Tulisan_nic

"Luka ini masih menganga, kata maaf dan khilaf tidak bisa menguburkanya. Pengkhianatan ini terlalu pahit, hingga aku susah untuk lupa!"

Ini adalah kisah Isana, seorang wanita yang dikhianati Andreas dengan begitu pahit, saat sedang mengandung anaknya. Namun menemukan kisah manis dibalik Cupcake kegemarannya, bersama Althaf Rafardhan, seorang chef yang terkenal dingin dan tidak banyak bicara.
Andreas yang terpuruk karna menyadari, cintanya hanyalah untuk Isana, bukan Risa perempuan penggoda. Ingin kembali lagi, memperbaiki hubungan yang kandas. Mencoba membujuk Isana untuk rujuk, dengan dalih sebagai Ayah biologis anak laki-laki mereka.
Akankah Althaf membiarkan wanita yang ia cintai itu kembali pada pria yang sudah mengahancurkanya?
Dan apa keputusan Isana?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tulisan_nic, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Muak!

*

*

*

Rumah mereka, menyambut dengan kesunyian yang terasa asing.

Isana masih berdiri mematung setelah pintu itu tertutup. Tatapannya terpaku pada daun pintu berwarna gelap di hadapannya. Ia menelan ludah yang terasa pahit di indera pengecapnya.

Rumah itu tidak pernah berubah. Tata letak furniturnya masih sama. Aroma pengharum ruangan yang Isana pilih beberapa bulan lalu masih samar tercium. Lampu gantung di ruang tamu masih memancarkan cahaya kekuningan yang hangat.

Tapi entah kenapa malam ini semuanya terasa asing.

Ia merasa sedang berdiri di rumah orang lain.

"Bu Isana sudah kembali Bu? Syukurlah..."

Suara wanita paruh baya, keluar dari arah dapur. Isana kenal dengan suara itu, suara Bik Marni— Art yang biasanya selalu pulang, jika pekerjaan rumahnya sudah selesai.

Isana mengernyit kan dahi, "Loh Bik Marni kok masih ada disini?"

"Iya Buk, Bibik diminta sama Pak Andreas untuk menginap disini. Katanya, Ibuk sekarang kan punya bayi jadi repot kalo nggak ada yang bantu-bantu."

Isana tertegun, menoleh pada Andreas yang sudah berada dibelakangnya.

"Aku yang minta, Bik Marni supaya menginap saja." Andreas menimpali, "Supaya kamu ada yang bantuin jagain Ghazi. Kamu nggak boleh capek kan? Setelah melahirkan, tubuh kamu harus banyak istirahat."

Isana merasakan perubahan sikap Andreas, sejak kepulangannya dari Serang, pria itu begitu perhatian. Berbanding terbalik dengan sikapnya saat sebelum ia melahirkan.

Seharusnya Isana senang, namun ... justru membuat dinding kecurigaannya menebal.

"Bik, tolong bantu gendong Ghazi dulu ya ... biar Isana bisa istirahat." titah Andreas, yang langsung dijawab dengan anggukan kepala oleh Bik Marni.

"Sini Buk, Ghazi biar sama saya ..."

Bik Marni menyelipkan tangannya ditubuh mungil itu. Dalam waktu singkat, Ghazi sudah berpindah ke gendongannya.

Ghazi, bayi yang seolah tahu dengan pergolakan yang dirasakan Ibunya itu sangatlah tenang. Tangisnya hanya sesekali. Bahkan bisa dibilang jarang. Isana tidak terlalu kepayahan mengasuhnya.

Perlahan Isana menjatuhkan tubuh ke sofa. Bantalan empuk itu menyambut punggung yang baru saja menghabiskan waktu satu setengah jam perjalanan.

Pandangannya tanpa sadar jatuh pada vas bunga di atas meja. Mawar merah muda. Kelopaknya masih segar.

Jemari tangannya bergerak menyentuh salah satu tangkainya. Lantas menarik secarik kertas berwarna pink, yang tergantung disela tangkai.

Isana membaca tulisan yang berada dikertas itu.

"Gimana, suka nggak sama bunganya?"

Isana mendongak, menatap manik mata suaminya. Seharusnya hatinya bergetar oleh haru saat menerima kartu itu. Namun yang datang justru rasa sesak yang semakin menghimpit dadanya.

Terlebih ketika pandangannya jatuh pada tulisan kecil di sudut kartu. With love.

Dua kata sederhana itu tidak mampu menghangatkan hatinya. Sebaliknya, Isana merasa seperti sedang diolok-olok oleh keadaan. Seperti seorang anak kecil yang berhasil dibujuk dengan sebatang lolipop setelah lebih dulu dikelabui dan dibuat menangis. Manis di luar, tetapi tak mampu menghapus luka yang telanjur tertinggal.

Isana memaksakan senyum, meski yang terlihat oleh Andreas adalah senyuman getir.

Andreas ikut duduk disamping istrinya itu, tangannya terangkat. Memijit pelan pundak Isana dengan lembut.

"Isa ... aku sadar, kemarin aku sudah bersikap melukai kamu. Karna, akhir-akhir ini, pekerjaan ku sangat padat. Aku minta maaf, kalau ..."

"Kalau pada akhirnya Mas lebih memilih berada di samping perempuan lain daripada di samping aku?"

Andreas terhenyak,

Kata-kata itu terus memotong, setiap Andreas ingin merajut kembali hubungan mereka.

Rahangnya mengeras samar, sementara dadanya terasa sesak oleh sesuatu yang sulit dijelaskan. Setiap kali Isana mengucapkan kalimat itu, ada bagian dalam dirinya yang terkoyak. Karena semua penjelasan, perhatian, dan usaha yang ia berikan seolah tidak pernah cukup untuk menghapus kecurigaan di mata istrinya.

"Tidak seperti itu Isa, bukan seperti yang kamu pikirkan."

Suara Andreas begitu pelan, namun terdengar begitu palsu ditelinga Isana.

"Kamu selalu saja ... selalu merasa menjadi korban dari semuanya." Andreas memijit pelipisnya, pelan. "Padahal aku juga lelah, tapi kamu tidak sedikit pun membuka ruang buat aku."

Mendengar penuturan Andreas, Isana justru tertawa sumbang.

"Apa Mas? Aku nggak kasih ruang buat kamu?"

Andreas menahan nafas, mulutnya ternganga tapi suaranya berhenti di tengah tenggorokan.

"Ruang yang seperti apa yang kamu mau? Ruang yang membiarkan istrinya berjuang sendirian di rumah sakit?"

Andreas menggeleng,

"Ruang yang, antusias ku membicarakan perkembangan kehamilan anak kita tapi kamu anggap sebagai gangguan?"

Isana tersenyum sinis, "Bahkan, telpon dan pesan-pesan ku tidak kamu gubris saat aku mempertaruhkan nyawa kehabisan darah demi melahirkan anak kita?"

Suara Isana terdengar parau, menahan gejolak amarah yang mendidih didada.

Andreas menjatuhkan tubuhnya, berlutut dikaki Isana.

"Aku minta maaf, pekerjaan yang menumpuk membuat aku bersikap seperti itu padamu–" Andreas kesusahan menelan ludah, "Tapi ... apa yang aku lakukan ini, semata-mata untuk membahagiakan kamu, anak kita ..."

Isana tersenyum getir, menatap plafon diruangan itu dengan pandangan kosong. Kebohongan yang begitu rapi, padahal jelas-jelas Risa adalah sesuatu kejujuran yang Andreas tutup-tutupi.

Isana memejamkan mata, belum saatnya semuanya terbongkar. Untuk sementara, ia menuruti saja ... omong kosong yang dilontarkan suaminya. Karna ia yakin, sepandai-pandainya menutup bangkai, suatu saat akan tercium juga.

"Lalu bagaimana dengan kamu Mas? Apa kamu juga bahagia?"

Datar suara Isana, emosi yang hampir meledak sebisa mungkin ia redam.

"Tentu ... Isa.. Tentu aku akan bahagia, karna kebahagiaanku terletak padamu."

Muak, Isana muak mendengarnya. Namun keadaan selalu berhasil menahan untuk ia meluapkannya.

"Gimana ya caranya, supaya kamu nggak lagi nuduh-nuduh aku ada hubungan sama perempuan lain? Jujur aku capek, kalo kamu curiga terus begini."

Ucapan buaya dari seorang Andreas. Tentu semakin menambah daftar kebencian dihati Isana.

"Kalau kamu memang nggak ada apa-apa sama Risa, terus kenapa kamu harus panik pas dia datang ke rumah Abah?!" Isana menatapnya tajam.

"Risa lagi, kenapa kamu malah bawa-bawa Risa?"

"Karna Risa, aroma parfumnya sama dengan yang nempel ditubuh kamu!"

"Aroma parfum apa? Itu nggak bisa buat bukti kalau aku ada apa-apa sama dia ..."

Andreas selalu memastikan suaranya tidak meninggi, berbeda sekali dengan waktu lalu. Yang memilih suara tinggi untuk membungkam kecurigaan Isana.

"Oke ... Sekarang memang belum ada bukti. Asal kamu tahu Mas, filling seorang istri selalu kuat jika suaminya melakukan kecurangan dibelakangnya! Kamu harus tahu itu!"

Ponsel disaku celana Andreas bergetar panjang. Memutuskan perdebatan antara mereka.

Notifikasi panggilan masuk.

Andreas terlalu percaya diri untuk mengangkatnya didepan Isana. Karna ia yakin, nomor Risa sudah berhasil ia blokir. Seolah ingin menunjukkan bahwa tidak ada yang ia tutup-tutupi dari Isana, ia membuka layar sengaja didepan istrinya.

Belum sempat Andreas menerima, panggilan itu padam. Berganti dengan notifikasi pesan.

*

*

*

~Salam hangat dari Penulis 🤍

1
mawar merah
Masya Allah dilamar sama orang yang disukainya dari dulu 🤭🤭🤭
mawar merah
Jangan mau Sa, biarkan Andreas bersama ulat bulu itu 🤭🤭
neny
ini beneran gendis dilamar kahfi,,yeay,,sahabat jd ipar dong🤩
_Nic: iya kak, Mas Kahfi tipe sat set kalau udah siap😀
total 1 replies
Cheryl🧚‍♀️
Jemput saja si Andreas bila perlu Kurung dia Risa biar nggak Badung nyusulin Isana lagi. Isana Udah nggak butuh laki-laki plin plan begitu nggak punya pendirian mau sana sini.
Cheryl🧚‍♀️: sumpah mau banget
total 2 replies
Cheryl🧚‍♀️
Hadir lah seorang anak yang tidak berdosa dari sebuah hubungan pengkhianatan mereka... nggak tau deh harus ngomong apa? aku cuma kasian sama anak yang dikandung Risa, anak yang nggak tau apa-apa harus menanggung kesalahan orang tuanya kelak🤧
_Nic: Yah begitulah akibatnya bercocok tanam sembarangan🤭
total 1 replies
mawar merah
Ya Allah semoga Bu dewi dapat ganjaran yang setimpal dengan perbuatannya
_Nic: Aamiin, semogalah dia cepat sadar. Sadar kalau dpt mantu Risa 😀
total 1 replies
mawar merah
Dih si ulat bulu lagi yang datang
Black Swan
Ayo Risa aku antar kamu ke sana dengan senang hati🤭biar isana nanti sama Althaf🤭🤭🤭🤭
_Nic: Pketin kak, ngga usah dikasih label fragile biar kebanting²🤣
total 1 replies
Black Swan
/Grin//Grin//Grin//Grin//Grin/Yey hamil, biar Isana cerai sama An dan cari suami baruuu🤭🤭🤭
neny
selamat risa,,akhir nya rencana mu berhasil,,dan selamat jg mendapatkan mertua yg ter masyaallah seperti bu dewi🤭🤭
_Nic: Selamat Risa dapat Andreas paket lengkap sama Bu dewi😀
total 1 replies
Black Swan
Kan rezeki aja udah mulai sempit An....An....udah dibilang jangan main sama ulet bulu kan jadi malah kaya gini An🫠🫠😏😏
Black Swan
😏😏😏lama-lama gue juga nih yang jelasin sama mamanya An kalau dia selingkuh sama si Risa, ngomong gitu aja susah banget sih An pake acara muter2 segala
Black Swan
Pengen jambak mamanya An🫠🫠🫠kesel juga sama An ga bisa mgomong terus terang, red flag banget si An pengecut, emang tuh mamanya cocok besanan sama Risa kaya botol ketemu sama tutupnya🫠🫠🫠🫠😏😏😏😏😏
_Nic: kalo Risa yg jadi mantunya bakal gimana ya😀
total 1 replies
neny
pasti itu risa,,
neny: tertuduh terus ya kak🤣🤣
total 2 replies
Cheryl🧚‍♀️
Malangnya nasibmu Andreas, ini belum apa-apa tangis Isana akan terbayar dengan kehancuran kamu.
Cheryl🧚‍♀️
Mungkin Isana harus melewati Cobaa ini dulu sebelum bertemu dengan Althaf. Setelah ini pengen liat yang manis-manis.
Cheryl🧚‍♀️
idih sok-sokan mau rawat Ghazi anaknya aja nggak bener. ogah banget kata baby Ghazi juga mau jadi apa nanti kalau di urus neneknya modelan begitu.
_Nic: Begitulah Dewi🤭
total 1 replies
Cheryl🧚‍♀️
kamu kuat Isana beruntung masih punya keluarga yang support kamu dalam kondisi apapun🥲
Cheryl🧚‍♀️
Gila si Risa boleh juga gayanya. langsung skak mat Andreas kalau dia yang mengizinkan si Risa masuk ke dalam kehidupannya. memang benar sih coba dari awal Andreas nggak mudah tergoda mungkin nggak akan seperti ini.
Cheryl🧚‍♀️
Mampus aja kamu Andreas giliran ke gep bilang Risa itu perempuan iblis giliran di belakang Isana sayang sayangan. laki-laki kampret memang.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!