Mutiara Bumi: Sang Kucing Putih dan Sang CEO
Bai Xue adalah makhluk asing berwujud kucing berbulu putih cantik yang datang ke Bumi bersama empat temannya. Misi mereka adalah mengumpulkan Mutiara Energi untuk menyelamatkan planet asal mereka yang terancam punah. Mereka semua bisa berubah wujud menjadi manusia kapan saja.
Di Bumi, Bai Xue berubah menjadi gadis cantik berusia 20 tahun yang mungil, ceria, dan baik hati. Takdir mempertemukannya dengan Xiao Chen, seorang CEO muda kaya raya yang jenaka, tengil, agak ceroboh, dan memiliki keunikan: ia sangat alergi terhadap kucing.
Awalnya pertemuan mereka penuh insiden konyol, namun lama-kelamaan Xiao Chen mengetahui rahasia Bai Xue dan mulai jatuh hati padanya. Bersama teman-teman alien dan orang-orang kepercayaannya, mereka berusaha mengumpulkan energi sambil melawan musuh yang ingin mencuri kekuatan para alien dan menghancurkan perusahaan Xiao Chen.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kawaichanopi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kota Yang Berisik Dan Indah
Setelah insiden konyol yang membuat Xiao Chen lari terbirit-birit karena serangan alergi, suasana di pinggir hutan itu kembali hening. Bai Xue masih berdiri terpaku di tempatnya, bulu putihnya yang halus sedikit mengembang karena kaget. Matanya yang besar dan bening menatap kepergian pemuda tampan yang tadi berteriak histeris itu, bingung bercampur rasa sedih yang menggelitik hati kecilnya. Di planet asalnya, Xing Yun, ia selalu dipuji sebagai makhluk tercantik, dielus, dan disayangi oleh siapa saja. Tidak pernah sekalipun ada makhluk yang menjauhinya seolah ia adalah wabah penyakit menular.
"Dia... kenapa bereaksi seperti itu ya?" gumam Bai Xue pelan, suaranya yang lembut terdengar kecewa. Ia memutar kepalanya ke arah teman-temannya yang kini mulai keluar dari balik semak-semak. "Apakah aku terlihat menakutkan? Atau ada sesuatu yang salah dengan bulu putihku ini?"
Tu Zi yang berwujud kelinci melompat mendekat, telinganya yang panjang bergerak-gerak pelan sambil menggeleng-gelengkan kepala. "Tidak sama sekali, Bai Xue! Kau tetap yang paling cantik di antara kita. Mungkin manusia itu saja yang aneh. Lihat saja tingkahnya tadi, berteriak seolah ada monster yang mau memakannya. Padahal kau hanya berdiri diam dan menatapnya saja," jawab Tu Zi berusaha menghibur, lalu tertawa kecil mengingat ekspresi panik Xiao Chen yang lucu tadi.
Wu Gui berjalan mendekat dengan langkah lambat dan tenang, cangkang kerasnya berkilau terkena sinar matahari. Kura-kura tua itu mengangguk bijak. "Tu Zi benar. Kita baru sampai di sini, dan belum mengenal kebiasaan serta sifat manusia sepenuhnya. Mungkin memang ada sebagian dari mereka yang memiliki ketidaksukaan atau ketidakmampuan terhadap jenis makhluk tertentu. Itu bukan salahmu, Bai Xue. Jangan kau ambil hati."
Feng Huang mengepakkan sayapnya yang indah, terbang melayang sebentar lalu hinggap di atas dahan pohon rendah. Ia menatap ke arah jalan setapak tempat Xiao Chen menghilang tadi dengan tatapan tertarik. "Meski kelakuannya aneh, Sistem X-9 benar. Energi yang terpancar dari manusia itu sangat kuat. Campuran antara kekayaan, kekuasaan, tapi juga emosi yang bergejolak, mudah marah, dan mudah terprovokasi. Sangat unik. Aku yakin kita akan bertemu dengannya lagi nanti."
Hu Die terbang perlahan mendekati Bai Xue, sayapnya yang berwarna-warni menyentuh lembut punggung Bai Xue seolah memberikan usapan semangat. "Aku bisa merasakan hatinya... Meski ia berteriak keras dan tampak kasar, hatinya tidak jahat. Ia hanya... takut. Takut pada sesuatu yang tidak ia sukai atau tidak ia mengerti. Nanti kalau kita sudah saling kenal, mungkin ia akan berubah pikiran."
Suara mekanik Sistem X-9 tiba-tiba terdengar memenuhi ruang di sekitar mereka, jelas dan tenang. "Analisis selesai. Subjek manusia tadi bernama Xiao Chen, CEO Grup Perusahaan Xiao, konglomerat terbesar di wilayah ini. Data menunjukkan ia memiliki riwayat alergi berat terhadap bulu hewan, khususnya jenis kucing. Tingkat alerginya mencapai 90%, sehingga reaksi berlebihan yang kalian lihat tadi adalah hal yang wajar baginya. Namun, catatan penting: Pola energi dalam tubuhnya sangat mendekati karakteristik Mutiara Energi tingkat tinggi. Ia bisa menjadi kunci utama misi kita. Disarankan untuk tetap menjaga hubungan atau setidaknya tetap berada dalam jangkauan pengaruhnya."
Mendengar penjelasan itu, Bai Xue kembali tersenyum ceria, kesedihannya lenyap seketika. "Jadi begitu rupanya... Aku pikir dia membenciku sepenuh hati. Ternyata dia hanya tidak kuat melihatku dalam wujud begini ya? Kalau begitu, tidak masalah! Kita punya kemampuan untuk berubah wujud, kan? Nanti kalau bertemu lagi, aku akan tampil dalam wujud manusiamanusia. Pasti dia tidak akan lari lagi!"
Semua sahabatnya tertawa mendengar ucapan polos namun penuh semangat itu. Bai Xue memang selalu begitu, ceria, baik hati, dan selalu melihat sisi terang dari segala hal.
"Baiklah," kata Bai Xue sambil mengibaskan ekor indahnya. "Tugas kita selanjutnya adalah masuk ke tempat itu." Ia menunjuk ke arah gedung-gedung tinggi yang tampak menjulang gagah di kejauhan, di balik rimbunan pepohonan. "Ke kota besar tempat manusia tinggal. Di sanalah sumber-sumber energi itu tersebar paling banyak. Di sana ada bangunan tua, benda bersejarah, tempat-tempat penting, dan tentu saja banyak manusia yang menyimpan perasaan kuat. Kita harus pergi ke sana sekarang juga."
"Siap, Kapten!" seru Tu Zi dengan antusias, lalu melompat paling depan. "Ayo cepat! Aku ingin tahu seperti apa rasa makanan manusia! Apakah lebih enak daripada tanaman di Xing Yun?"
Mereka pun bergerak beriringan, keluar dari kawasan hutan yang tenang itu menuju jalan raya utama. Semakin dekat mereka ke pinggiran kota, semakin jelas terdengar suara bising yang asing bagi telinga mereka. Suara deru mesin kendaraan yang saling menyusul, suara klakson yang bersahutan, langkah kaki manusia yang berderap banyak, hingga suara musik dan percakapan yang bercampur aduk menjadi satu dentuman suara yang nyaring.
Saat mereka tiba di pinggiran jalan besar dan melihat pemandangan di hadapan mata mereka, kelima makhluk asing itu terdiam terpesona, takjub sekaligus sedikit kewalahan.
Di hadapan mereka terbentanglah dunia manusia yang luar biasa luas dan megah. Gedung-gedung pencakar langit berdiri berjejer rapi, menjulang tinggi menembus langit biru, berkilauan memantulkan sinar matahari di dinding kaca mereka. Jalanan lebar dipenuhi kendaraan-kendaraan berwarna-warni yang melaju cepat, seperti sungai logam yang tak pernah berhenti mengalir. Di sepanjang trotoar, ribuan manusia berjalan hilir mudik, berpakaian beragam, dengan wajah-wajah yang membawa cerita masing-masing. Ada yang tersenyum, ada yang terburu-buru, ada yang lelah, ada yang bersemangat. Papan iklan besar menampilkan gambar-gambar berwarna cerah, lampu-lampu hias mulai menyala meski hari masih siang, dan aroma masakan, kopi, serta bau aspal panas bercampur menjadi satu aroma khas kota yang hidup.
"Luar biasa..." bisik Wu Gui matanya berputar ke kiri dan kanan, mencoba menangkap segala detail pemandangan itu. "Peradaban mereka jauh lebih maju dari yang tercatat dalam data kita. Mereka bisa menciptakan hal-hal besar dan indah ini hanya dengan kekuatan akal dan tangan mereka sendiri."
"Indah sekali, tapi... suaranya terlalu keras ya?" keluh Tu Zi sambil menutup kedua telinganya dengan kaki depannya yang kecil. "Di Xing Yun suasananya selalu tenang dan damai. Di sini seolah-olah semuanya berbicara dan bergerak bersamaan."
Feng Huang terbang tinggi ke udara agar bisa melihat pemandangan lebih luas lagi. Dari ketinggian, ia bisa melihat bagaimana kota itu terbentang jauh ke segala penjuru, membelah daratan dan sungai, terhubung oleh jembatan-jembatan megah. "Sungguh pemandangan yang menakjubkan. Energi kehidupan di sini sangat padat. Aku bisa merasakan ribuan sumber energi yang berbeda memancar dari setiap sudut bangunan ini. Misi kita akan sangat menantang, tapi juga sangat menarik."
Hu Die melayang perlahan di udara, sayapnya bergerak lembut, mengikuti aliran angin yang membawa ribuan emosi manusia bersamanya. "Hati mereka... sangat beragam. Ada kebahagiaan, kesedihan, harapan, amarah, cinta, dan kecemasan semuanya bercampur menjadi satu warna raksasa yang indah namun juga membingungkan. Kota ini hidup, Wu Gui. Kota ini memiliki jiwanya sendiri."
Bai Xue berdiri di pinggir trotoar, bulu putihnya yang bersih berkilau terkena cahaya matahari sore. Matanya berbinar cerah, penuh kekaguman. Ia melihat ke arah anak-anak yang tertawa berlari, pasangan yang berjalan bergandengan tangan, hingga orang tua yang duduk bersantai di bangku taman kecil. "Dunia ini sungguh indah sekali. Warnanya cerah, bangunannya megah, dan suasananya penuh semangat. Aku semakin yakin kita datang ke tempat yang tepat. Di sini pasti banyak sekali Mutiara Energi yang bisa kita kumpulkan untuk menyelamatkan Xing Yun."
"Perhatian," suara Sistem X-9 kembali terdengar di dalam pikiran mereka, agar tidak terdengar oleh manusia di sekitarnya. "Karena kita sudah memasuki kawasan padat penduduk, sangat disarankan untuk segera berubah wujud menjadi bentuk manusia. Berada dalam wujud asli akan terlalu mencolok dan menarik perhatian yang tidak perlu. Ingat, tujuan kita adalah menjelajah dan mengumpulkan data serta energi, bukan menjadi pusat perhatian."
"Siap!" jawab Bai Xue dengan semangat. Ia melangkah mundur sedikit, lalu memejamkan matanya sejenak. Tubuh mungil berbalut bulu putih itu mulai diselimuti cahaya putih lembut yang berputar perlahan. Cahaya itu semakin terang, lalu melebar dan berubah bentuk.
Sesaat kemudian, saat cahaya itu menghilang, di tempat seekor kucing putih berdiri, kini tegak seorang gadis muda yang sangat cantik. Usianya tampak sekitar 20 tahun, bertubuh mungil dan ramping, dengan kulit seputih susu yang halus bersih. Wajahnya cantik alami, mata besar berbinar ceria persis seperti saat ia berwujud kucing, hidung mancung kecil, dan bibir merah muda yang selalu siap tersenyum. Rambutnya panjang, hitam pekat, berkilau indah dan terurai lembut hingga pinggang. Ia mengenakan gaun sederhana berwarna putih bersih dengan sentuhan pita merah muda di pinggangnya, membuatnya tampak manis, imut, dan sangat anggun.
Bai Xue berputar perlahan, merasakan sensasi tubuh manusianya yang ringan dan lincah. Ia menepuk-nepuk pipinya sendiri dengan tangan mungilnya, lalu tersenyum lebar. "Wah, nyaman sekali rasanya! Dan sepertinya dengan begini, aku tidak akan ditakuti lagi oleh manusia, kan?"
Di sebelahnya, cahaya-cahaya lain juga mulai menyala. Wu Gui yang tenang berubah menjadi seorang kakek berambut putih, berwajah bijaksana dan ramah, mengenakan pakaian sederhana namun rapi, persis seperti seorang penjual barang antik atau guru tua. Tu Zi berubah menjadi gadis remaja yang manis, berwajah bulat dan ceria, dengan rambut dikepang dua dan pakaian berwarna terang yang membuatnya tampak lincah. Feng Huang menjelma menjadi pemuda tampan berparas tajam dan gagah, dengan rambut sedikit berantakan namun bergaya, dan sikap sombong namun berkarisma. Sedangkan Hu Die menjadi gadis cantik yang anggun dan lembut, dengan gaun mengalir halus berwarna-warni lembut, tatapannya teduh seolah bisa menembus isi hati siapa saja yang menatapnya.
Kelima sahabat itu kini berdiri tegak di tengah trotoar kota besar itu, tampak seperti sekelompok turis asing yang sedang berjalan-jalan, tanpa ada yang menyadari bahwa mereka adalah penjelajah dari bintang lain.
"Nah, begini lebih baik," kata Wu Gui dalam wujud manusianya, suaranya tetap berat dan tenang. "Kita bisa berbaur, berjalan masuk ke gedung-gedung itu, berbicara dengan manusia, dan mencari jejak Mutiara Energi dengan lebih mudah."
"Lihat-lihatlah semuanya baik-baik," pesan Bai Xue kepada teman-temannya, matanya bersinar penuh antusiasme. "Ingat misi kita, tapi jangan lupa untuk menikmati keindahan tempat ini juga. Kita akan menjelajahi setiap sudut kota ini, mulai dari tempat paling ramai hingga tempat paling sepi."
Mereka pun mulai berjalan beriringan menyusuri trotoar yang sibuk itu. Bai Xue berjalan di depan dengan langkah ringan, matanya berkeliling tak henti mengagumi segala sesuatu yang ada di sekelilingnya. Ia menatap kagumi bentuk bangunan yang unik, mencium aroma wangi dari toko bunga yang lewat di sampingnya, dan tersenyum ramah pada setiap manusia yang menatapnya sekilas. Kecantikan dan pesonanya yang alami membuat banyak orang menoleh, terpesona melihat gadis mungil yang begitu cerah dan manis itu.
Namun, di tengah kekagumannya itu, Sistem X-9 tiba-tiba memberi peringatan lagi. "Pendeteksi energi aktif kembali. Sumber energi kuat yang sama seperti tadi... sedang bergerak mendekat. Jarak: 500 meter ke arah depan."
Bai Xue menghentikan langkahnya, matanya membelalak senang. "Benarkah? Manusia itu lagi? Xiao Chen namanya kan?" Ia melihat ke depan, ke arah persimpangan jalan yang agak ramai.
Dari arah sana, sebuah mobil sedan hitam besar dan mewah melaju perlahan, membelah keramaian kendaraan. Mobil itu berkilauan, terlihat sangat mahal dan berkelas. Di balik kaca jendelanya yang sedikit terbuka, terlihatlah wajah yang sudah dikenalnya. Itu adalah Xiao Chen. Ia duduk di kursi belakang, wajahnya masih sedikit terlihat kesal dan jengkel sambil berbicara tegas melalui telepon genggam di tangannya. Di sebelahnya duduk seorang pemuda lain yang tertawa-tawa sambil menggoda sesuatu, kemungkinan besar adalah adiknya.
Mobil mewah itu melaju perlahan tepat melewati tempat Bai Xue dan teman-temannya berdiri.
Saat itu, Xiao Chen tanpa sengaja menoleh ke luar jendela. Pandangannya bertemu tepat dengan tatapan Bai Xue.
Detik itu juga, kata-kata yang akan diucapkan Xiao Chen terhenti di tenggorokannya. Telepon genggam di tangannya hampir terlepas. Matanya yang tajam membelalak lebar, terpaku menatap gadis cantik mungil yang berdiri di pinggir jalan itu. Wajah gadis itu begitu manis, senyumnya begitu cerah dan tulus, matanya berbinar indah persis seperti... persis seperti sesuatu yang sangat ia kenal namun tak bisa ia ingat.
Bai Xue tersenyum makin lebar, lalu melambaikan tangan kecilnya ke arah Xiao Chen dengan ramah dan ceria.
"Halo! Kita bertemu lagi ya!" serunya dalam hati, sambil tetap tersenyum manis.
Xiao Chen tertegun kaku. Tidak ada rasa takut, tidak ada rasa gatal, tidak ada serangan alergi sama sekali. Yang ia rasakan hanya rasa takjub yang mendalam dan rasa penasaran yang meledak-ledak di dadanya. Siapa gadis cantik itu? Mengapa rasanya ia sudah pernah melihat wajah itu di suatu tempat? Dan mengapa jantungnya berdegup aneh begitu cepat hanya karena ditatap dan disenyumi olehnya?
Mobil mewah itu terus bergerak perlahan menjauh, namun pandangan Xiao Chen tetap menoleh ke belakang, tidak mau melepaskan tatapannya dari gadis cantik berpakaian putih itu sampai ia benar-benar hilang di balik keramaian trotoar.
Di dalam hati Bai Xue, rasa gembira meletup. Lihat saja kan? batinnya bergembira. Dalam wujud begini, dia sama sekali tidak lari. Dia malah menatapku begitu lama. Ternyata benar, masalahnya hanya pada wujud kucingku saja!
"Nah, itu awal yang bagus," ujar Feng Huang sambil tersenyum penuh makna, melihat kejadian tadi. "Sepertinya takdir memang sudah menggariskan jalan kita selalu bersimpangan dengan pemuda kaya itu."
"Kota ini memang indah dan penuh kejutan," kata Bai Xue kembali menatap gedung-gedung tinggi di sekelilingnya dengan semangat yang makin membara. "Penjelajahan kita baru saja benar-benar dimulai. Dan aku yakin, petualangan kita di sini akan jauh lebih seru dan indah dari yang kita bayangkan!"
Di tengah hiruk-pikuk dan kemegahan kota manusia itu, benih-benih takdir mulai tumbuh. Pertemuan kedua mereka yang singkat itu, menjadi jembatan pertama yang menghubungkan dua dunia yang sangat berbeda, antara sang penjelajah bintang yang ceria, dan sang pemuda kaya yang tengil namun penuh rahasia. Kota yang berisik namun indah ini, kini menjadi saksi awal kisah cinta dan misi besar yang akan mengubah segalanya.