NovelToon NovelToon
MENAKLUKKAN TUAN MUDA ALVARO

MENAKLUKKAN TUAN MUDA ALVARO

Status: sedang berlangsung
Genre:Enemy to Lovers
Popularitas:698
Nilai: 5
Nama Author: aera_yong

Di SMA Nusantara Jaya, aturan mainnya sangat sederhana: Uang adalah hukum, dan E4 (The Elite Four) adalah penguasanya. Dipimpin oleh Alvaro Pramudya, pewaris tunggal konglomerat terbesar di Indonesia yang angkuh dan tak tersentuh, geng E4 mengendalikan sekolah dengan sistem "Kartu Merah"—sebuah vonis perundungan kejam yang membuat siapa pun targetnya memilih untuk putus sekolah.

Namun, roda takdir berputar secara instan ketika Kayla Shaqueena, seorang gadis tangguh anak pemilik laundry kiloan, masuk ke sekolah elit tersebut lewat beasiswa jalur khusus. Kayla bukan tipikal gadis yang akan tunduk pada intimidasi. Ketika kartu merah mendarat di mejanya, alih-alih menangis dan memohon ampun, Kayla justru merobek kartu tersebut dan melayangkan

Di antara benturan kasta, harga diri, cinta segitiga yang rumit, dan intrik keluarga kaya yang kotor, akankah Kayla bertahan sebagai rumput liar yang merusak taman indah E4?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aera_yong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PERLINDUNGAN TAK KASAT MATA

Pertanyaan Devan menggantung di udara perpustakaan yang sunyi, meninggalkan debaran yang kian kencang di dada Kayla. Menjaga secara terang-terangan? Berada di sampingnya? Kalimat itu terdengar seperti sebuah mimpi indah yang ditawarkan oleh seorang pangeran sejati di tengah kepungan dunia elite yang kejam.

Kayla meremas buku di tangannya, menatap sepasang mata teduh Devan yang begitu menenangkan. "Devan, aku... aku sangat menghargai semua kebaikanmu. Kamu adalah satu-satunya orang yang mengulurkan tangan saat semua orang membuang muka. Tapi, biarkan aku menjalani hari-hari tenang ini dulu, ya? Aku baru saja bernapas setelah terbebas dari neraka kartu merah."

Devan tidak tampak kecewa. Sebaliknya, senyum maklum yang lembut terukir di wajah tampannya. Ia mengacak pelan rambut di puncak kepala Kayla dengan gerakan yang sangat akrab. "Aku mengerti, Rumput Liar. Aku tidak akan memaksamu. Ambil waktu sebanyak yang kamu butuhkan. Tapi ingat, posisiku di sampingmu tidak akan berubah."

---

Tiga hari berlalu dengan ketenangan yang luar biasa bagi Kayla. Tanpa teror kartu merah, ia bisa fokus belajar dan bahkan mulai berani mengobrol dengan beberapa teman sekelas yang tidak lagi menjauhinya karena takut. Kontrak laundry milik ibunya pun berjalan lancar; setiap bulan dana ditransfer penuh tanpa ada lagi kewajiban bagi Kayla untuk datang menyetrika di istana Pramudya. Semuanya tampak sempurna.

Sampai pada hari Kamis pagi, sebuah gemuruh akrab kembali terdengar di area parkir khusus E4.

Mobil sport hitam milik Alvaro Pramudya kembali terparkir di tempatnya. Sang penguasa sekolah telah kembali setelah tiga hari izin sakit.

Ketika Alvaro melangkah keluar dari mobil, seluruh murid yang berada di area parkir menahan napas. Penampilan Alvaro tampak berbeda. Tidak ada lagi gurat amarah yang meledak-ledak atau tatapan angkuh yang mengintimidasi. Wajahnya sedikit lebih tirus, dan sepasang mata hitamnya kini terlihat jauh lebih dalam dan tenang, memancarkan kedewasaan yang asing. Kemeja sekolahnya terkancing rapi, dan aura dinginnya kini terasa lebih seperti benteng perlindungan daripada ancaman.

Alvaro berjalan menyusuri koridor dengan langkah konstan. Saat matanya tidak sengaja berpapasan dengan murid lain, mereka buru-buru menunduk, namun Alvaro hanya mengabaikan mereka, terus berjalan lurus menuju kelas XI-A.

Langkah kaki Alvaro berhenti di ambang pintu kelas. Pandangan matanya langsung terkunci pada satu sosok: Kayla Shaqueena, yang sedang mencatat materi pelajaran di mejanya.

Menyadari atmosfer kelas yang mendadak senyap, Kayla mendongak. Jantungnya sempat mencelos saat melihat Alvaro berdiri di sana, menatapnya. Namun, tidak ada lagi kilatan dendam di mata cowok itu. Alvaro hanya menatapnya dalam diam selama beberapa detik—tatapan yang sarat akan rasa bersalah, kerinduan yang tertahan, dan sebuah janji tak terucap—sebelum akhirnya berbalik dan berjalan menuju kelasnya sendiri di ujung lorong.

Kayla terpaku, memegangi pulpennya dengan tangan yang agak lemas. *Dia benar-benar berubah,* pikir Kayla dengan perasaan campur aduk yang sulit didefinisikan.

---

Konfrontasi sesungguhnya terjadi pada jam istirahat kedua di lapangan tengah sekolah.

Lapangan basket terbuka yang dikelilingi oleh gedung berlantai empat itu mendadak dipenuhi oleh ratusan murid yang berkerumun di koridor atas dan pinggir lapangan. Di tengah lapangan, dua pangeran SMA Nusantara Jaya tengah berdiri saling berhadapan dalam jarak beberapa meter.

Alvaro Pramudya dan Devan Narendra.

Ketegangan di antara keduanya terasa begitu pekat, seolah-olah satu percikan kecil saja bisa menyulut ledakan besar. Rafael dan Galang berdiri agak jauh di tepi lapangan, memilih untuk tidak ikut campur dalam urusan pribadi dua sahabat mereka yang sedang memperebutkan satu hati yang sama.

"Aku dengar kamu menempel padanya selama aku tidak masuk, Devan," ujar Alvaro membuka percakapan, suaranya terdengar sangat rendah dan dingin, namun tidak ada nada bentakan seperti biasanya.

Devan memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana, menatap Alvaro dengan pandangan malas namun tajam. "Aku tidak menempel padanya, Alvaro. Aku hanya menjaganya, melakukan apa yang seharusnya dilakukan oleh seseorang yang peduli. Sesuatu yang gagal kamu lakukan karena egomu yang terlalu tinggi."

Alvaro mengepalkan tinjunya di sisi tubuh, namun ia menarik napas dalam-dalam untuk menekan emosinya. Ia mengingat janjinya pada Kayla untuk tidak menjadi monster lagi. "Aku sudah mencabut kartu merahnya. Aku sudah membebaskannya dari segala bentuk tuntutan kontrak. Aku memberikan ketenangan yang dia inginkan. Jadi, menjauhlah darinya, Devan. Jangan memanfaatkan situasinya yang sedang rapuh untuk menariknya ke sisimu."

Devan terkekeh sinis, sebuah reaksi yang jarang ia tunjukkan di depan Alvaro. Ia melangkah maju dua jengkal, menatap langsung ke dalam manik mata hitam sahabatnya. "Kamu pikir dengan mencabut kartu merah dan memberinya uang, semua luka yang kamu torehkan di hatinya bisa sembuh begitu saja, Alvaro? Kamu sudah terlambat. Langkahmu sejak awal sudah salah. Sekarang, giliranku untuk membahagiakannya dengan caraku sendiri."

"Aku tidak akan membiarkanmu mengambilnya, Devan!" desis Alvaro, selangkah maju menantang Devan, rahangnya mengatup rapat dengan urat-urat yang menonjol di lehernya. "Dia mungkin membenciku sekarang, tapi aku akan melakukan apa saja untuk menebus kesalahanku. Aku tidak akan mundur!"

"Kita lihat saja seberapa lama dia bisa bertahan melihat wajah orang yang sudah menghancurkan harga dirinya," balas Devan dengan nada suara yang tenang namun menusuk tepat ke ulu hati Alvaro.

Dari lantai dua koridor gedung utama, Kayla berdiri di balik pilar beton, menyaksikan perseteruan kedua cowok paling berpengaruh di sekolah itu. Dadanya bergemuruh hebat. Di satu sisi, ada Devan yang selalu menawarkan kehangatan dan perlindungan yang tulus. Di sisi lain, ada Alvaro yang kini tampak begitu terluka dan berjuang keras mengendalikan dirinya demi tidak menyakitinya lagi—sebuah pemandangan yang anehnya memicu rasa iba di sudut hati Kayla.

Rantai kebencian yang awalnya mengikat Kayla dan Alvaro kini telah putus, namun di bekas patahannya, mulai tumbuh benang-benang tak kasat mata yang menjerat mereka ke dalam labirin emosi yang jauh lebih rumit dan berbahaya.

Bersambung

1
falea sezi
pergi jauh aja kayla😒 toxic bgt devan sama Alvaro sama aja bangke😒 biar aja mereka berantem bodoh amat😒
falea sezi
jahat amat devan😒
falea sezi
kayak f 4 aja masak sama🤣
Aera_yong
💪💪💪🥳
Aera_yong
😭 the four elite
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!