NovelToon NovelToon
BLACK ROSE

BLACK ROSE

Status: sedang berlangsung
Genre:Mata-mata/Agen
Popularitas:8k
Nilai: 5
Nama Author: Ayumi

Black Rose julukannya, ada tatto mawar hitam di punggungnya. Dia agen rahasia XpostOne 06 yang paling ditakuti. Sepak terjangnya terdengar sampai belahan dunia. menyamar sebagai jurnalis dan presenter hot news di sebuah televisi swasta milik ayahnya.

Kini ia ditugaskan untuk menangkap seorang pemb*nuh bayaran yang lari ke luar negeri. Konon pemb*nuh ini sangat licik dan dilindungi oleh sindikat bawah tanah.

Mampukah dia menangkap pemb*nuh itu atau dia malah terb*nuh?

*****

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab.25.KE RUMAH KAKEK.

Sekarang Berlin sudah menjadi pimpinan PT. Black Rose International Hotel. Ende mempercayai Berlin untuk mengurus perusahan yang membawahi beberapa hotel dan Villa di seluruh Indonesia.

Bisnis hotel berkembang pesat di Bali, makanya Ende dan Berlin melirik Bali untuk pertama kalinya. Disini ada dua hotel luxury dan sepuluh Villa yang sudah berjalan.

Setiap perintah dan saran yang datang dari kakek untuk Berlin, menyangkut perjodohan, akan membuat Berlin murung dan sangat merugikan. Karena Berlin jadi mabuk-mabukan.

"Berlin...jangan menyiksa diri, kalau kau tidak ingin menikah dengan Qai, aku tidak marah. Kau bebas memilih calon istrinya, siapapun yang kau nikahin kau tetap anak paman."

"Hanya paman yang mengerti perasaanku. Kakek terlalu kolot, zaman sudah modern tetap saja ada perjodohan."

"Maklum kakek lahir di zaman kuda gigit besi, jangan diambil hati. Kau jangan terlalu memforsir tenaga untuk lembur, jaga kesehatan."

"Paman maafkan aku tak bisa memenuhi keinginan paman, aku sudah jatuh cinta kepada Black Rose."

"Bukankah gadis itu tidak ada khabarnya, sudah satu setengah tahun. Kau jangan menyia-nyiakan masa muda."

"Gadis ini membuat aku gila semua di kerahkan untuk mencarinya, tapi dia seolah lenyap ditelan bumi. Aku rasa ada kekuasaan besar yang melindunginya." ucap Berlin putus asa.

"Kenapa kau tak menyewa intelijen swasta untuk mencarinya, perusahan Raharja sering memakai jasa intelijen. Coba kau tanya Rio dan minta di antar kesana."

"Kalau begitu aku mau ke rumah kakek, sekalian menengok pak Wijaya, soalnya Qai menjual rumahnya. Sebenarnya aku tidak ingin membelinya, takutnya di jual kepada orang lain, jadi kenangan di rumah itu bisa hilang."

"Anak itu sembarangan saja, pak Wijaya belum meninggal sudah berani berulah."

"Kalau begitu aku pergi ke rumah kakek, apa paman nitip salam ke tante Emely, dia begitu terobsesi melihat paman, mungkin mulai sekarang paman belajar menjadi pelakor."

"Berlinn...aku jahit mulut kau!!"

"Hahaha....sampai jumpa paman." ucap Berlin setengah berlari.

"Marco antar aku pulang ke rumah kakek, nanti singgah ke toko kombhuca untuk membeli beberapa botol untuk kesehatan kakek."

"Baik boss."

Lamborghini itu melaju dengan kecepatan sedang. Marco mengambil jalan pintas supaya cepat sampai ke jakarta selatan. Lagu I still believe in you, dari Eliza Jane terdengar merdu. Lagu kenangan dengan Black Rose.

Dulu gadis itu duduk di depan jendela, sambil bernyanyi menyenandungkan lagu itu, Berlin rindu saat itu. Walaupun kebersamaan mereka hanya seminggu, tapi sangat berkesan.

"Ahhh...kenangan yang sulit di lupakan." bisik Berlin dalam hati. Matanya seketika berkabut mengingat perlakuannya kepada Black Rose waktu di apartemen. Dulu ia kasar penuh dendam, tapi ketika Black Rose meninggalkannya dunianya terasa runtuh.

Aku tak pernah tau sejauh mana perahu ini akan berlayar dan dimana perahu ini akan berlabuh, namun aku yakin bahwa suatu saat perahu ku akan berhenti berlayar dan berlabuh pada pelabuhan yang indah diwaktu yang tepat. 

"Bos sudah sampai..." ucap Marco membuyarkan lamunannya.

Berlin memandang rumah keluarga raharja dengan perasaan rindu. Dulu dia tumbuh disini bersama Rio dan Qai. Ia kemudian masuk menemui kakek. Seperti biasa percakapan berkisar tentang bisnis, kemudian melebar ke perjodohan.

Berlin berusaha sabar tidak mau melawan atau membantah, ia kasihan kepada kakek yang sudah tua.

"Kakek, paman tadi nitip vitamin untuk pak Wijaya aku mau kesana dulu ya."

"Begitu...paman mu ternyata tahu terina kasih. Untung pak Wijaya cepat di pindah kesini, sekarang dia sudah membaik. Ada dua perawat melayaninya. Rupanya Qai jarang mengurus pak Wijaya, makanya begitu jadinya, sampai kekurangan gizi."

"Sepertinya Qai senang keluar malam dan suka minum." ucap Berlin berdiri.

"Jangan percaya gosip pokoknya kau harus menikah dengannya."

"Ya kakek...aku mau ke pak Wijaya dulu." ucap Berlin beranjak dari kamar kakek.

"Yaya...cepatlah kesana mumpung Qai ada disana."

"Baiklah kek aku pergi."

Pak Wijaya ada di paviliun bersama Qai dan dua perawat. Saat Berlin masuk ke kamar pak Wijaya, ia bertemu dengan Qaisera. Pikiran Berlin jadi negatif, pasti paman menghubungi Qai bahwa ia akan menjenguk pak Wijaya.

Walaupun mulut paman mengatakan tidak keberatan kalau Berlin tidak menikahi Qai, tapi kelakuan paman seolah mendorong Qai, melakukan sesuatu untuk menarik perhatian Berlin.

"Paman memang jagonya bohong." gerutu Berlin kesal.

Berlin melihat pak Wijaya sekarang bersih dan terawat, walaupun kesehatannya sudah pulih tapi penyakit pikun dan rabun mata belum bisa di sembuhkan.

"Syukurlah ayahmu sudah membaik." ucap Berlin menatap Dewi.

"Aku yang merawatnya, terimakasih sudah mau datang."

"Ini kewajibanku juga, dulu pak Wijaya baik sekali padaku. Apa kau ingat, pak Wijaya memukul kau padahal aku yang bersalah merobek buku mu."

"A..ku..aku..sudah lupa masa lalu, mana mungkin aku mengingat hal sepele itu." sahut Dewi grogi.

Dia menganggap hal sepele padahal dulu Qai sering mengungkit masalah itu dan mau balas dendam. Bathin Berlin.

"Berlin untung kau datang aku sudah siapkan sertifikat rumahnya tinggal ayah tanda tangan, rumah resmi jadi milik mu."

"Hmm..baiklah." sahut Berlin enteng dan menunggu pak Wijaya membubuhi cap jempol. Marco sang sekretaris mengambil dokumen itu.

"Kalau begitu aku permisi...."

"Berlin bisakah kita bicara?" potong Dewi menghalangi jalannya Berlin.

"Tidak ada yang perlu dibicarakan."

"Aku dengar kau mau mencari agen rahasia, apa itu benar?"

Berlin menghentikan langkahnya dan berbalik. Ia memandang Dewi penuh tanda tanya.

"Apa kau tahu tempatnya?"

"Ownernya temanku."

"Oh gitu syukurlah, kau mau mengantar aku kesana?"

"Tentu saja asal ada imbalannya."

"Berapa, seratus juta?"

"Aku ingin tubuhmu." ucap Dewi manja.

*****

1
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
wahhhh.... jangan sampai sianida itu di campur ke kopi / ke susu... bisa" kejang" yang minum
Cu
bagus
Ci
suka sama jln ceritanya
Ca
ku dukung sama dia
Bo
nice
Be
romantis
Bu
asik nih
Bi
wiuuh mantapp
Ba
cepet sembuh kek
Sin
good job
Lala
emang keren ini
90
lanjut cari
89
jangan lupa mampir
88
bisa aja nih
87
apa ya kisah selanjutnya
86
next penasaran
85
makin penasaran
84
seksi gt ya
83
wow keren banget
82
yess bgus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!