Mereka pikir semuanya telah berakhir sejak kematian Leonardo Valerio. Namun dunia gelap tidak pernah benar-benar melupakan darah yang pernah berkuasa.
Leonardo Valerio memang telah mati, tapi warisan darahnya belum berakhir. Saat ancaman mulai mengincar Alessandro, Nadira dipaksa kembali ke dunia gelap yang pernah menghancurkan hidupnya.
Di balik bayangan, musuh lama bangkit, rahasia lama terbuka, dan sifat dingin Leonardo perlahan muncul dalam diri putranya.
Karena darah mafia tidak pernah benar-benar hilang, dan sang pewaris akhirnya mulai bangkit.
**RED ASHES SEASON II**
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nadira Terluka
Bau darah memenuhi udara, sebelum Alessandro sempat membuka pintu apartemen itu sepenuhnya.
Seketika tubuhnya membeku, lampu ruang tamu berkedip pelan. Pecahan gelas berserakan di lantai marmer.
Sofa putih yang biasanya rapi, kini penuh noda darah gelap. Dan di sana, Nadira terduduk lemah di dekat meja makan.
Tangannya menekan luka di perut sampingnya, darah menetes di sela jemarinya.
"Mama!"
Suara Alessandro terdengar menggema, untuk pertama kalinya, rasa takut benar-benar menghantam dadanya tanpa ampun.
Nadira mengangkat wajahnya perlahan, wajah wanita itu pucat. Napasnya bergetar, namun matanya masih menyimpan ketegasan yang sama seperti dulu, tatapan seorang ibu yang terlalu lama hidup dalam ketakutan.
"Jangan mendekat ke jendela," bisiknya lirih.
Alessandro langsung menoleh, retakan kecil terlihat di kaca besar apartemen.
Seorang sniper baru saja menembak dari luar, rahang Alessandro langsung mengeras.
Ia berdiri menuju Nadira, berlutut di hadapannya, lalu menekan luka itu dengan kedua tangan yang gemetar.
"Siapa yang sudah melakukan ini?"
Nadira meringis menahan sakit, "Mereka datang mencarimu."
Alessandro merasakan sesuatu yang runtuh di dalam dirinya. Lagi dan lagi pasti selalu karena dirinya, selalu karena nama Valerio.
"Mana para penjaga? Kenapa mama bisa sampe terluka?" suaranya berubah dingin.
"Mereka sudah mati."
Kata itu terasa seperti peluru yang menembus kepala Alessandro. Ia langsung mengangkat tubuh Nadira, namun sebelum sempat berjalan, Nadira mencengkram lengannya kuat.
Tatapan wanita itu penuh kepanikan, "Jangan menjadi seperti ayahmu, Ale. Mama mohon."
Alessandro diam, tubuhnya langsung menegang. Karena beberapa menit sebelumnya, ia baru saja membunuh dua orang Viktor Karev dengan tangannya sendiri.
Dan ia tidak merasakan penyesalan sedikit pun.
Rumah sakit pribadi itu dipenuhi pria bersenjata. Lorong lantai VIP dijaga ketat.
Semua orang tahu satu hal, jika Alessandro Valerio malam ini marah, maka kota bisa berubah menjadi kuburan.
Pintu ruang operasi tertutup rapat, lampu merah di atasnya terus menyala. Alessandro berdiri diam di depan pintu itu, selama hampir satu jam tanpa bergerak sedikit pun.
Kemeja hitamnya masih penuh dengan darah ibunya, tatapannya terlihat kosong. Namun itu yang membuat semua orang takut.
Bukan teriakan, bukan amukan, melainkan diamnya Alessandro. Karena semakin tenang Alessandro, maka dirinya akan semakin berbahaya.
"Bos."
Salah satu anak buahnya mendekat dengan hati-hati, "kami menemukan pelacak di mobil Nyonya Nadira," lanjutnya.
Alessandro tidak menjawab, ia hanya diam seolah sedang menunggu kabar selanjutnya.
"Dan orang Viktor sudah mengawasi beliau sejak dua minggu yang lalu."
BRAK!
Alessandro meninju dinding sampai retak, semua orang langsung mundur. Napasnya memburu menahan amarah, bahkan urat di lehernya ikut menegang.
"Mereka sudah menyentuh keluargaku," ucapnya dingin dan mematikan. "Aku mau semua orang yang terlibat, ditemukan sebelum matahari terbit."
"Baik, Bos."
"Kalau perlu, bakar seluruh tempat persembunyian mereka. Dan jangan sisakan siapa pun."
Kalimat itu membuat ruangan terasa membeku, karena semua orang mendengar Leonardo Valerio dalam suara itu.
Bukan Alessandro, bukan pria muda yang dulu mencoba hidup normal. Melainkan monster lama yang perlahan mulai bangkit kembali.
Dan Alessandro menyadarinya, namun ia tidak mencoba untuk menghentikan semuanya.
Di sisi lain kota, Viktor Karev duduk santai di ruangan gelap, sambil menatap layar monitor.
Di layar itu, terlihat CCTV rumah sakit, senyum tipis muncul du wajahnya.
"Akhirnya," ia meminum whiskey perlahan. "Tatapan itu muncul lagi."
Pria di belakangnya menunduk gugup, "Tuan, kalau Alessandro menyerang balik, maka perang besar bisa pecah."
Viktor terkekeh pelan, "Karena itu memang tujuan utamanya."
Ia menatap foto lama Leonardo Valerio di meja, lalu tersenyum miring. "Anak itu terlalu lama pura-pura jadi manusia biasa, malam ini dia akhirnya sadar, darah monster tetaplah menjadi darah monster."
Lampu ruang operasi akhirnya mati, Alessandro langsung berdiri.
Dokter keluar dengan wajah tegang, "Pelurunya berhasil dikeluarkan, tapi beliau kehilangan banyak darah."
Alessandro merasa sedikit lebih lega, "Apa dia akan selamat?"
Dokter diam beberapa detik, "Untuk sementara, mungkin iya."
Alessandro memejamkan matanya pelan, baru kali ini tubuhnya terasa lemas.
Namun rasa lega itu tidak bertahan lama, karena saat memasuki ruang rawat, Nadira justru terlihat semakin rapuh.
Selang infus terpasang di tangannya, wajahnya begitu pucat. Dan kali ini Alessandro melihat ibunya tampak tua.
Bukan karena usia, melainkan karena terlalu lama hidup dalam rasa takut.
Nadira membuka mata saat merasakan Alessandro duduk di samping ranjangnya.
"Ma..."
Suara Alessandro jauh lebih pelan, Nadira menatap wajah putranya cukup lama. Lalu tersenyum kecil penuh kesedihan.
"Malam ini, kamu sangat mirip sekali sama dia."
Alessandro menunduk, dadanya terasa sesak. "Aku cuma mau melindungi, Mama."
"Leonardo juga selalu bilang begitu sama, Mama."
Nadira menggenggam tangan putranya pelan, "Awalnya ayahmu membunuh untuk melindungi keluarga, lalu lama-lama dia mulai menikmati kekuasaan itu."
Tatapan Nadira bergetar, "Mama takut kehilangan kamu dengan cara yang sama."
Alessandro tidak mampu menjawab, karena jauh di dalam dirinya, ia mulai menikmati rasa takut orang-orang terhadap dirinya. Dan itu membuatnya muak pada diri sendiri.
"Harus berapa kali aku bilang, bahwa aku bukan dia, Ma."
Nadira mengusap pelan tangan putranya, "Kamu masih bisa memilih, Ale. Sebelum semuanya terlambat. Mama cape jika harus merasakan takut kehilangan kamu setiap hari."
Selama ini Nadira selalu terlihat kuat, selalu mencoba tersenyum, selalu berpura-pura semuanya baik-baik saja.
Padahal yang sebenarnya, wanita itu hidup dalam teror sejak Leonardo mati.
Dan sekarang sekarang mulai terulang, Alessandro menggenggam tangan ibunya erat.
Tatapannya perlahan berubah dingin, bukan kepada ibunya. Melainkan kepada dunia di luar sana, dunia yang tidak akan pernah membiarkan mereka hidup tenang.
"Aku janji, Ma," janjinya pada Nadira dengan suara yang pelan. "Mulai sekarang, nggak akan ada yang bisa menyentuh mama lagi."
Nadira langsung menatapnya takut, karena nada suara itu bukan suara anaknya. Tapi itu suara dari seorang pewaris Valerio.
Dan di luar ruang rawat, ponsel Alessandro bergetar pelan. Pesan anonim masuk ke layar ponselnya.
"SELAMAT DATANG KEMBALI KE DUNIA LAMA, TUAN MUDA."
Di bawah tulian itu terdapat satu simbol merah, logo lama organisasi RED ASHES.
Alessandro menatap layar itu lama, lalu perlahan ia mulai tersenyum tipis.