NovelToon NovelToon
Gadis Cupu Itu Ternyata Ketua Mafia Dan Ceo Dingin

Gadis Cupu Itu Ternyata Ketua Mafia Dan Ceo Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Mafia
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Intan Oktavianiputri77

Mereka mengenalnya sebagai gadis cupu—pendiam, berkacamata, selalu sendiri, dan sering diremehkan. Tidak ada yang tahu bahwa di balik wajah polosnya, tersembunyi sosok paling berbahaya di kota.
Saat malam tiba, dia berubah menjadi ketua mafia yang dingin dan tak tersentuh. Dengan tatapan tajam dan langkah penuh wibawa, semua orang tunduk pada satu perintahnya. Bukan hanya itu, dia juga CEO muda dari perusahaan terbesar yang menguasai berbagai industri.
Cantik, cerdas, dan mematikan.
Dia tidak pernah membalas hinaan dengan kata-kata—dia membalasnya dengan kekuasaan.
Dulu mereka menertawakan gadis cupu itu.
Sekarang, mereka bahkan takut menatap matanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Intan Oktavianiputri77, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 13: Retakan yang Tidak Bisa Ditutup Lagi

Pagi di SMA Wijaya tidak lagi terasa seperti biasanya.

Bukan karena cuaca.

Bukan karena ujian.

Tapi karena rumor yang menyebar lebih cepat dari bel sekolah.

“Katanya Anya itu…”

“Serius dia diselidiki Arsen…”

“Aku lihat Selene marah banget tadi…”

Bisik-bisik itu seperti semut yang berjalan di lorong sekolah.

Kecil.

Tapi jumlahnya banyak.

Dan mengganggu.

Anya duduk di kelas.

Tenang seperti biasa.

Kacamata bulat.

Buku terbuka.

Namun jarinya tidak bergerak sama sekali.

Dia tidak membaca.

Dia mendengar.

“Queen,” suara Tulus masuk pelan di earpiece.

“Situasi mulai tidak stabil di dalam sekolah.”

Anya menatap lurus ke papan tulis kosong.

“Detail.”

“Selene mulai menyebarkan pertanyaan tentang masa lalu kamu.”

Anya berhenti.

Satu detik.

Lalu tersenyum kecil.

“Dia akhirnya bergerak juga.”

Di sisi lain sekolah.

Selene berdiri di depan toilet lantai dua.

Bersama dua temannya.

Namun kali ini tidak ada tawa.

Tidak ada keangkuhan seperti biasanya.

Wajahnya tegang.

“Aku tahu ada yang aneh,” kata Selene pelan.

Salah satu temannya bingung.

“Aneh gimana?”

Selene menggenggam ponselnya.

“Arsen… berubah.”

Diam.

“Dia terlalu sering memperhatikan Anya,” lanjutnya.

“Dan itu bukan gaya dia.”

Temannya tertawa kecil.

“Cuma anak beasiswa itu? Ngapain juga Arsen peduli?”

Selene menatapnya tajam.

“Justru itu masalahnya.”

Ia membuka ponsel.

Layar menampilkan hasil screenshot lama.

Foto CCTV sekolah.

Anya berlutut memunguti buku.

Dan di sudut gambar—

Arsen berdiri menatap.

Terlalu lama.

Selene mengepalkan tangan.

“Aku mau tahu kenapa.”

Di kelas.

Arsen tidak masuk seperti biasa.

Dia berdiri di depan ruang OSIS.

Baskoro di belakang.

“Tuan, Anda sudah tiga hari tidak menghadiri agenda sekolah.”

Arsen tidak menjawab.

Matanya menatap koridor.

“Anya hari ini ada kelas tambahan,” katanya pelan.

Baskoro langsung terdiam.

“Bagaimana Anda tahu?”

Arsen menutup map di tangannya.

“Aku sudah tidak butuh sistem sekolah untuk tahu itu.”

Ia melangkah.

“Karena aku sudah mulai memahami polanya.”

Di kelas tambahan.

Anya duduk paling belakang.

Sendiri.

Seperti biasa.

Namun kali ini—

tidak benar-benar sendiri.

Arsen berdiri di pintu.

Tidak masuk.

Hanya mengamati.

Anya tidak menoleh.

Tapi dia tahu.

Dia selalu tahu.

“Dia di pintu kelas,” bisik Tulus.

Anya menutup buku.

“Biarkan.”

Guru menulis di papan.

Suara kapur bergesekan.

Namun bagi Anya…

suara itu seperti latar yang jauh.

Karena fokusnya hanya satu:

Arsen.

Setelah kelas selesai.

Anya keluar.

Dan seperti yang sudah bisa ditebak—

Arsen menunggu.

“Selalu di tempat yang sama,” kata Arsen pelan.

Anya berhenti.

“Dan Kak Arsen selalu muncul di tempat yang sama juga.”

Arsen menatapnya.

“Kebetulan?”

Anya tersenyum kecil.

“Mungkin Kak Arsen yang tidak punya kegiatan lain.”

Arsen melangkah lebih dekat.

“Kamu tahu Selene sedang mencarimu?”

Anya tidak bereaksi.

“Dia selalu mencari masalah.”

Arsen menyipitkan mata.

“Bukan masalah biasa kali ini.”

Hening.

Dari ujung koridor.

Selene muncul.

Dan kali ini—

dia tidak sendirian.

Dia membawa map.

Anya melihatnya.

Dan untuk pertama kalinya hari itu—

matanya sedikit mengeras.

Selene berjalan cepat.

Berhenti tepat di depan Arsen dan Anya.

“Aku menemukan sesuatu.”

Arsen menoleh sedikit.

“Apa itu?”

Selene membuka map.

Dan mengeluarkan satu lembar dokumen.

“Catatan lama yayasan.”

Anya tidak bergerak.

Tapi jarinya di samping tubuhnya sedikit menegang.

Selene tersenyum tipis.

“Aneh ya… anak panti asuhan ini…”

Ia menatap Anya.

“…tidak punya catatan sebelum kebakaran.”

Sunyi.

Arsen langsung menatap dokumen itu.

Matanya membaca cepat.

Lalu berhenti.

“Tidak ada catatan sebelum insiden,” gumam Arsen.

Ia menatap Anya.

“Benar.”

Selene tersenyum puas.

“Apa kamu nggak penasaran?”

Anya akhirnya berbicara.

Pelan.

“Tidak.”

Selene tertawa kecil.

“Ah, tentu saja kamu tidak mau jawab.”

Arsen melangkah sedikit maju.

“Dari mana kamu dapat ini?”

Selene mengangkat dagu.

“Ada orang yang lebih peduli dari kamu, Arsen.”

Kalimat itu menggantung.

Tajam.

Anya menatap Selene.

Untuk pertama kalinya—

bukan dengan acuh.

Tapi dengan peringatan.

“Berhenti di situ,” kata Anya pelan.

Selene tersenyum lebih lebar.

“Kenapa? Takut ketahuan?”

Udara berubah.

Arsen menoleh ke Anya.

Dan untuk pertama kalinya—

dia tidak berbicara.

Dia menunggu.

Anya menarik napas pelan.

Lalu berkata:

“Kalau kamu terus menggali hal itu…”

“…kamu tidak akan suka apa yang kamu temukan.”

Selene tertawa.

“Wow, ancaman?”

Arsen tidak ikut tertawa.

Dia hanya menatap Anya.

Terlalu serius.

Dan itu membuat Selene sadar satu hal.

Dia tidak berada di tengah permainan.

Dia hanya… pemantik.

Arsen akhirnya berkata pelan:

“Selene. Berikan dokumen itu padaku.”

Selene terkejut.

“Kenapa kamu—

“Sekarang.”

Suara Arsen tidak meninggi.

Tapi cukup untuk menghentikan semua tawa.

Selene ragu.

Lalu menyerahkan map itu.

Arsen membukanya.

Membaca sekali lagi.

Lalu menutupnya.

Ia menatap Anya.

“Ini bukan kebetulan.”

Anya diam.

Arsen melanjutkan.

“Ada seseorang yang menghapus masa lalumu.”

Selene membeku.

“Apa?”

Arsen tidak menoleh ke Selene.

Matanya hanya pada Anya.

“Dan orang itu tidak ingin kita tahu siapa kamu sebenarnya.”

Hening.

Anya tersenyum kecil.

Tapi kali ini—

tidak ada kehangatan sama sekali.

“Kalau begitu…”

bisiknya pelan.

“…berhenti mencari.”

Arsen menatapnya lama.

Lalu menjawab:

“Tidak.”

Dan untuk pertama kalinya—

Anya tidak langsung pergi.

Dia berdiri di sana.

Menghadapi Arsen.

Menghadapi Selene.

Dan menghadapi sesuatu yang mulai pecah dari dalam.

Karena sekarang…

topengnya tidak hanya dilihat.

Tapi mulai disentuh.

1
Night Watcher
seharusnya cerita yg bagus, tp mc dibuat terlalu monoton, shg cerita jd kaku dan menjemukan.
kasih sedikit gaya relax deh... biar lebih nyantai bacanya🙏
Night Watcher
sekolah kelas atas masa lantainya semen? granit kek, marmer, minimal keramik lah ..😇
Night Watcher
katanya dlm 2 hr, selene hancur. tp msh ttp aja berjaya?
Night Watcher
mungkinkah aku reader pertama?
Night Watcher
coba mampir..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!