Gara-gara wine tumpah Aruna Wijaya harus menikah kontrak dengan seorang iblis berwajah tampan Devara Mahesa.
Tanda tangan kontrak diatas materai menjadi penanda Aruna resmi terjerat dalam pelukan hangat Devara yang mematikan dan penuh dendam rahasia.
Hingga Bayu datang, seorang dokter keluarga Wijaya yang menyimpan kenangan masa lalu kelam Aruna menawarkan kebebasan.
Apakah Aruna akan menerima tawaran Bayu lepas dari iblis?, ataukah akui dendam diatas materai itu sudah menjadi candu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senjani jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DDM|25| Aroma Parfum Lain
Mobil Devara melaju kencang menuju Vertigo, beberapa jam kemudian ia sampai di tujuan, sambil membenarkan jas nya dia menuruni mobil, para karyawan menunduk menyambut bos nya yang datang malam itu.
Elula mendatangi Devara setelah melihat pria itu. "Selamat malam Pak, ada yang bisa saya bantu" Ujar Elula sambil tersenyum, dress hitam merk terkenal itu mencuri perhatian Devara, namun pria itu segera mengalihkan pandangan.
"Apa dia ada didalam?" matanya melirik ke ruang vip, ia enggan masuk terlebih dahulu sebelum memastikan kalau benar Alana ada didalam ruangan tersebut.
"Eum.. Ibu Alana maksutnya?" Tanya Elula.
"Tadi ada lelaki yang menjemput Pak" Ujar Elula kembali.
Devara menaikkan alisnya bingung, padahal ia sudah menempuh perjalanan dua jam untuk menemui perempuan itu. Devara tak menjawab apapun, ia menaiki tangga menuju lantai atas ruangan pribadi-nya didalam Vertigo.
Devara menghela nafas kasar, lalu melepas jas nya dan melempar ke sembarang arah. ia meraih ponselnya dan mencoba menghubungi Alana, namun tak dijawab.
"Sialan.. Beraninya dia menipuku" gumam Devara seraya terus mencoba menelpon Alana.
Pria itu membuang ponselnya keatas meja, kedua tangannya ia masukan kedalam saku celana. Matanya melihat kearah kaca yang terhubung langsung ke lantai utama club.
Matanya menatap lurus, namun pikirannya masih berada didalam hotel. Nama Aruna terus muncul didalam pikirannya.
"Perasaan bodoh apa yang aku rasakan. Jelas dia hanya perantara dendam" Gumam Devara sambil meremas lighternya dengan keras.
...----------------...
Ditempat lain, Alana membuka matanya, pandangan pertamanya adalah punggung bidang seorang lelaki yang tak lain adalah Bayu.
"Sialan, lepasin gue" Teriak Alana, kedua tangannya terikat dibelakang kursi, semakin mengamuk kursi akan jatuh dan membuat dirinya makin sakit.
Bayu membalikkan badannya, Ia tersenyum melihat Alana. Tangan bayu mengusap dagu perempuan itu yang membuat Ia berontak.
"Tenang, saya cuma mau mereka pisah, bersih tanpa terikat perasaan" Ujar Bayu lirih.
"Tapi Aruna gak mau kabur sama saya, gimana" Bisik Bayu tepat ditelinga Alana.
"Dokter gilaa, stresss, lo pikir sendiri kenapa harus nyulik gue gilaaa" Teriak Alana kembali.
Bayu tertawa, tangannya mencengkram pipi Alana dengan keras. "Ya anda pikirkan caranya supaya Devara cepat-cepat lepasin Aruna, anda kan tunangannya, sebelum surat itu sampai di tangan Devara"
Alana tertawa, "Gue udah bilang, itu gak bisa secepat kilat, butuh waktu bodoh. Sekarang Aruna sendirian di hotel, gue udah suruh Devara ke Vertigo, kalau dia tau lo nyulik gue, apa lo masih bisa hidup besok" Ujar Alana sambil melirik sinis Bayu.
"Aruna sendirian" Bayu menyipitkan matanya setelah mendengar apa yang Alana ucapkan.
"Ya, datengin sana dan lepasin gue sebelum Devara tau gue disini" Ujar Alana, emosinya sedikit menurun setelah melihat ekspresi Bayu yang terlihat bingung.
Malam itu Bayu memilih melepaskan Alana dengan syarat menahan Devara sampai pagi. Alana menatap Bayu penuh kebencian, hingga lelaki itu pergi terlebih dahulu, namun ada rahasia yang Bayu pegang, jika Alana berniat jahat kepada lelaki itu, Devara akan tau rahasia besarnya dan pasti Devara akan pergi meninggalkan Alana. Malam itu Alana hanya bisa menahan amarahnya kepada Bayu.
Didalam hotel, Aruna masih tidur dengan nyenyak tanpa mengetahui kalau Devara sudah tak berada didalam kamar itu.
Bayu tidak datang, Ia teringat ucapan Aruna kalau Ia tidak mau ikut dengannya, Mobil yang Bayu kendarai berhenti ditengah jalan sepi, Ia memukul keras setir mobil sambil berteriak keras.
"Run, kamu harus sadar kalau Devara itu iblis" Gumam Bayu sambil menutup wajahnya dengan tangannya. Menahan segala amarahnya kepada pria itu.
Malam hari itu berlalu begitu saja, terik matahari pagi muncul dari balik gorden mahal di dalam kamar hotel itu, Aruna terbangun karena secercah cahaya yang membuat-nya silau.
Didalam kamar itu sepi, tak ada siapapun. Aruna beranjak dari tidurnya, meregangkan badannya. Mencoba mencari pria itu di segala ruangan, namun tak ada. Gadis itu berjalan membuka gorden yang menutupi pemandangan indah dipagi hari itu.
Senyumnya merekah memandang mentari yang menyapanya di pagi itu, senyum tulus pertama Aruna setelah sekian lama pura-pura tersenyum untuk menutupi luka dihatinya.
Klik.. Pintu kamar dibuka oleh Devara. tangan kanannya memegang jas, wajah pucat, kantung mata menyembul hitam jelas. Tak berekspresi apapun. Ada aroma parfum lain saat pria itu masuk.
"Baru ketemuan sama Alana?" Pertanyaan itu muncul begitu saja dari mulut Aruna, matanya menatap Devara sekilas, lalu kembali melihat jendela kaca kembali dengan wajah muram.
Devara meletakkan jas nya di sofa lalu duduk, Ia menyalakan lighter nya di ujung rokok yang sudah siap di tangan kanannya.
"Baru bangun?" Tanya Devara lirih.
Lelaki itu menghindari pertanyaan dari Aruna, tidak biasanya Ia menanyakan pertanyaan yang jelas tak berguna itu. Aruna hanya setengah tersenyum sambil menyilangkan tangannya. Perasaannya campur aduk tak karuan, bahkan gadis itu bertanya-tanya kepada dirinya sendiri kenapa merasa aneh saat melihat Devara masuk dengan bekas aroma Alana ditubuhnya.
Aruna tak menjawab, Ia beralih dari tempatnya lalu mengambil bajunya untuk berganti. Devara dengan cepat menghampiri Aruna dan mendorongnya kearah tembok, menghimpit gadis itu dengan tubuhnya hingga tak bisa bergerak.
"Lepasin" Ucap Aruna panik.
Hembusan nafas Devara bisa Aruna rasakan diwajahnya, dekat, sangat dekat sampai Aruna merasa sesak nafas.
Devara menahan kedua tangan Aruna, mendekatkan wajahnya "Jangan ikut campur urusanku" bisiknya ditelinga Aruna.
Devara melepaskannya dan langsung beralih keluar dari kamar, terdengar suara pintu dibanting cukup keras. Aruna hanya bisa duduk bersandar ditembok itu, bekas tangan Devara tercetak di pergelangan tangannya, tidak sakit. Sudah biasa, Aruna menyeringai dan memeluk lututnya.
Dua jam kemudian, mereka sudah berada didalam mobil perjalanan pulang, Devara bersikap biasa saja seolah tak terjadi apapun, pandangannya menuju ponsel, selalu. Tak melirik Aruna sedikitpun.
"Turun, saya harus ke kantor" ujar Devara yang masih berada dimobil.
Marisa mendekat kearah mobil dan mendengar apa yang Devara ucapkan, Aruna hanya diam tak menjawab lalu menatap Marisa.
"Dev, ini sudah hampir sore, kamu dari luar kota istirahat dulu, biar Andre yang selesaikan urusan kantor" Ujar Marisa sambil menyilangkan tangannya menatap Devara yang berada didalam mobil.
"Saya akan ke kantor Pak" ujar Andre meyakinkan.
Devara menurut, Ia turun dari mobil. Namun Ia hilang keseimbangan dan tak sadarkan diri. Semua orang panik termasuk Aruna.
Beberapa menit kemudian, dokter senior Mahesa datang, memasang infus dan menyuntikkan obat. Semua orang menatap wajah pucat Devara dengan khawatir.
"Pak Devara insomnia parah, apa tidak pernah minum obat?. Biarkan istirahat dulu" ujar Dokter sambil menyerahkan dua botol obat lalu keluar kamar.
Marisa mengelus pundak Aruna. "Jaga dia dulu Run, saya masih ada kerjaan" Ujar Marisa, lalu beranjak keluar dari kamar Devara.
Pertama kalinya dalam seumur hidup Aruna memasuki kamar macan itu, dingin, aroma parfum Devara mengisi ruangan luas itu. Lelaki yang dikenal Aruna tak pernah merasakan sakit sedikitpun ternyata rapuh.
"Run..."
Aruna membulatkan matanya, Ia mendengar namanya di panggil Devara, namun lelaki itu masih terpejam.
'dialam bawah sadarnya, apakah dia begitu membenciku..?'-batin Aruna.