NovelToon NovelToon
Darah Di Bukit Manoreh

Darah Di Bukit Manoreh

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Istana/Kuno / Anak Genius
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Maya Melinda Damayanty

Mereka menyebutnya perempuan api dari Bukit Menoreh.
Putri seorang punggawa sakti yang tumbuh bersama pedang dan dendam.
Saat kematian ayahnya menyeretnya ke dalam pusaran perang dan kesalahpahaman, Srikandi percaya kerajaan telah mengkhianati darah ayahnya.
Namun semakin jauh ia melangkah… semakin ia sadar bahwa luka manusia tak pernah sesederhana hitam dan putih.
Terlebih ketika hatinya justru jatuh pada lelaki yang tak mungkin ia miliki.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maya Melinda Damayanty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MENUNTUT

Airmata Srikandi mengalir ketika pergi dari pasukan prajurit. Ia masih belum mempercayai jika ayahnya telah tiada.

"Ayah ksatria sakti! Ayah tidak mungkin secepat itu gugur di tangan musuh!" teriakannya memecah malam..

Di pikirannya hanya satu, yakni penjelasan sang raja.

Ketika sampai gapura kerajaan, Srikandi berhenti menggunakan ilmunya. Jika dilihat hanya dengan mata biasa, tak ada apa-apa di sana. Hanya dua prajurit penjaga di depan gapura.

Tetapi, bagi yang memiliki ilmu kanuragan. Wilayah istana diselimuti halimun yang bisa memusnahkan segala macam ilmu.

Prabu Laksa Dadap Ireng, Raja pertama atau buyut dari Prabu Laksa yang sekarang. Menciptakan suatu kanuragan pemusnah yang melindungi wilayah kerajaannya.

Tujuannya hanya satu, jika terjadi peperangan dan semua prajurit terbaiknya gugur. Para musuh tak akan bisa masuk untuk menghancurkan istana. Sehebat apapun ilmu kanuragan mereka.

Langkah Srikandi berhenti sedikit jauh di depan gapura. Ia pasti tak diperbolehkan untuk masuk kecuali undangan khusus atau plakat sebagai tanda pengenal diri.

Ayahnya seorang punggawa, tapi kesederhanaannya. Tak memakai fasilitas yang memang itu jadi haknya. Ia hanya hidup dari bayarannya sebagai prajurit saja.

Srikandi bersimpuh di depan gapura. Ia menangis sejadi-jadinya, dari sekian purnama. Hari terakhir ia melihat ayahnya adalah ketika pergi ke istana dua hari sebelum peperangan.

"Ayah. .. Hiks ... ayah!"

Tangisan Srikandi menggema pelan di depan gapura besar Kerajaan Kali Ireng.

Api obor yang menyala di kanan-kiri gerbang menari diterpa angin malam.

Bayangan tubuh gadis itu tampak kecil di hadapan dinding kerajaan yang menjulang tinggi.

Tangisan Srikandi mampu mengguncang halimun yang menyelimuti wilayah kerajaan Kali Ireng.

Prabu Laksa berdiri di atas menara, jubah kerajaannya berkibar diterpa angin malam. Wajahnya pun dingin sedingin kabut yang menutup udara.

"Kangmas Gusti," Sandika terbangun oleh suara tangisan.

"Siapa yang menangis?" tanyanya pelan.

"Srikandi ...," jawab Prabu Laksa lirih.

Sandika mendekati raja sekaligus suaminya, tubuh kecilnya berlindung di belakang tubuh besar suaminya.

"Suara tangisannya terdengar. Apa anak itu ada di depan istana?" tanyanya.

"Tidak ... Dia ada di sepuluh tombak gerbang gapura," jawab Prabu Laksa dengan suara bergetar.

"Kangmas ... tangisan itu ...??" Sandika tak berani bertanya-tanya lebih.

"Iya Nyimas permaisuri. Tangisan seorang gadis sakti mampu menembus halimun Pagar Sukmo milik Buyut Raja Prabu Dadap Laksa!" jawab Prabu Laksa pelan.

Tangan Sandika langsung memeluk lengan suaminya. Entah kenapa ia sangat takut dengan tangisan Srikandi.

"Kangmas ... Jika tangisannya saja mampu mengguncang halimun ...."

Sandika tak berani melanjutkan kata-katanya. Prabu Laksa menarik tubuh istrinya lalu memeluknya dan menyembunyikan sang istri di balik jubahnya.

"Jika tangisan Srikandi mampu menembus halimun Pagar Sukmo. Ada aku perlindungan terakhirmu Nyimas Permaisuri," sahutnya pelan.

Tangisan Srikandi perlahan berhenti. Matanya memerah dan bengkak. Tangannya yang memeluk lutut kini ia lepaskan.

Dadanya masih sesak, satu pikiran buruk melintas di otaknya. Ayahnya gugur bukan murni peperangan, tapi ada pengkhianatan.

"Pasti ... Ayahku pasti tewas di tangan salah satu panglima tentara kesayangan milik Sri Baginda Raja!" gumamnya sangat yakin.

Jemarinya mencengkram tanah merah, jari-jarinya masuk dan langsung mengubahnya jadi kehitaman.

Perlahan Srikandi berdiri dan menatap gapura dan istana yang hanya terlihat umbul-umbulnya.

"Aku Srikandi!" serunya dengan mengerahkan seluruh tenaga dalamnya.

Tanah di wilayah istana tampak bergetar pelan. Dua prajurit di luar yang paling pertama mendapat serangan ilmu kanuragan Srikandi nyaris roboh.

"Akan menuntut balas pada siapapun perihal kematian ayahku!" serunya lagi kali ini lebih dalam menambah tingkatan ilmu Kanuragannya.

"Aku pastikan siapapun yang terlibat ... Akan kuseret tubuhnya dan meminta keadilan di hadapanmu Paduka!"

"Bahkan jika kau juga terlibat ...."

"Kau berhadapan dengan putri Punggawamu Abda Sedah Nirah, Srikandi Mekar Sari!"

Jlegar! Petir menyambar keras di langit. Tubuh Srikandi melesat meninggalkan depan gapura istana bersama cahaya petir.

Dua prajurit di depan gerbang muntah darah. Mereka hampir saja roboh sejak awal Srikandi melancarkan serangan pertamanya. Tapi dari jauh Prabu Laksa telah mengirim totokan yang mampu menahan, walau tidak mampu melindungi keduanya dari luka dalam.

"Kangmas ... Kau baru saja membangunkan singa kerajaan," ujar Sandika lirih.

Angin malam yang sedianya dingin membeku, kini terasa membakar. Sumpah Srikandi yang beradu dengan sambaran petir menyisakan keheningan yang teramat mencekam di pelataran luar gapura Kerajaan Kali Ireng.

Dua prajurit penjaga itu terduduk lemas di tanah, menyeka darah kental yang mengalir dari sudut bibir mereka.

Dada mereka kembang kempis, bersyukur dalam hati karena sisa energi totokan jarak jauh dari Sri Baginda Raja masih sempat mengunci aliran darah mereka, menahan jantung mereka agar tidak pecah oleh getaran suara murni Srikandi.

Prabu Laksa tak segera menjawab ucapan permaisurinya.

Matanya masih menatap lurus ke arah gerbang istana yang kini kembali sunyi. Hanya sisa getaran tenaga dalam Srikandi yang masih terasa di udara seperti gema petir yang belum benar-benar hilang.

Kabut Pagar Sukmo perlahan kembali tenang.

Namun untuk pertama kalinya sejak puluhan tahun … halimun warisan Buyut Raja Dadap Laksa itu sempat terbelah.

Dan itu terjadi hanya karena tangisan seorang gadis juga seorang anak yang terluka karena kehilangan ayahnya di medan perang.

"Kangmas ...," suara Sandika kembali lirih.

Prabu Laksa mengembuskan napas panjang.

"Aku tahu," jawabnya berat.

"Tapi singa itu lahir karena kerajaan ini."

"Aku turun sebentar melihat dua prajurit yang terluka ...."

"Aku ikut!" Sandika tak mau disuruh menunggu lagi.

"Nyimas ...."

"Kangmas ... lima belas tahun kita menikah dan belum dikaruniai satu pun keturunan. Kemanapun kau berada walau harus terjun ke kawah gunung Semeru. Aku akan ikut!" Sandika bersikeras.

Prabu Laksa pun mengangguk.

"Peluk aku erat-erat Nyimas. Kita akan terbang sebentar!" suruhnya tegas.

Sandika memeluk leher suaminya, ia merasa pegangan erat tangan besar sang suami di pinggulnya. Lalu sekali lompatan, tubuh keduanya melesat mendekati gapura kerajaan.

Sandika memejamkan mata, ia boleh pintar, otaknya juga sangat cerdas. Tapi ia tak punya apapun selain kepintarannya.

Ia merasakan angin yang menerpa tubuhnya, Sandika melirik wajah suaminya yang tenang dan sorot matanya yang setajam elang.

Lalu tubuhnya terasa geli ketika mendarat ke tanah dengan posisi sempurna. Kaki Prabu Laksa yang kokoh tak merasa terbebani oleh tubuh istrinya. Ia pun menurunkan sang permaisuri lembut.

"Sri Baginda!" beberapa prajurit berlutut kecuali dua prajurit yang terluka.

"Bagaimana? Apa yang sakit?" tanyanya penuh perhatian pada dua penjaga itu.

"Sri Baginda ... Ini ... Uhuk!" kembali darah keluar dari mulut prajurit itu.

"Tenanglah," ujar Prabu Laksa lalu mengusap masing-masing dada prajurit itu.

Keduanya langsung ambruk ke tanah, ada dengkuran halus keluar dari mulut mereka.

"Bawa mereka ke pengobatan!" perintahnya tegas.

Empat prajurit membawa dua rekannya yang dibuat tidur itu ke dalam istana. Dua lainnya mengambil alih penjagaan.

Prabu Laksa menatap arah bukit, tubuh Srikandi sudah lenyap di kegelapan malam. Perlahan ia berjalan menuju tempat di mana Srikandi tadi duduk menangis, Sandika mengikuti rajanya.

Mata Prabu menangkap tanah yang berwarna kehitaman. Ia menunduk dan menyentuh tanah itu.

"Panas ...," kekehnya pelan.

"Ki Abda ... kau benar-benar melatih putrimu dengan ilmu godokan ijen perapa gua kali Ireng!" lanjutnya ngeri.

Bersambung.

Next?

1
Deyuni12
hiiii
nyi padan serem akh
lanjut
Anita Barus
windu...windu. berharalmemanasi Ki abda Ter nyata kiabda malah senang dan memberi selamat PD mempelai 🤣🤣🤣🤣🤣
Anita Barus
raja pasti akan menuruti.apa yg di mau Ki abda .
Anita Barus
maka nya dia selalu saja mengganggu Srikandi weleh. weleh
Anita Barus
oh ternyata windu sejak dulu SDH jatuh cinta PD Ki abda namun di tolak .cinta bertepuk sebelah tgn to .
Anita Barus
ada2saja si windu ini masak sama keponakan suami nya sendiri cemburu kenapa pula sambil nangis nyebut ayahanda Srikandi dsr w😄Ong edan
Anita Barus
berarti ki abda sengaja menumbal kan diri nya utk melindungi kerajaan
vania larasati
lanjut
Deyuni12
lanjutkan
Deyuni12
seruuuuu
Deyuni12
lanjutkan
vania larasati
lanjut
Eni Istiarsi
Bibi Rukmi antara kesambet atau dapet hidayah😄
vania larasati
lanjut
Deyuni12
lanjut kan
vania larasati
lanjut
Anita Barus
sesuai dgn namanya srikandi.dia pasti menemukan penghianat pengecut trsbut
Anita Barus
akan kah Srikandi menuntut balas .lanjut Thor
Anita Barus
hati Srikandi pasti hancur saat mengetahui ayah nya gugur .dan tau pasti ada penghianat didlm pasukan tersbt .apakah penghianat itu Sasongko .
Deyuni12
lanjutkan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!