NovelToon NovelToon
Untuk Pertama Kalinya Aku Takut Kehilangannya

Untuk Pertama Kalinya Aku Takut Kehilangannya

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: zehn hart

Di sekolah elit yang dipenuhi anak pejabat dan keluarga terpandang, Leon Knight de Arther dikenal sebagai murid paling tenang sekaligus paling sulit didekati. Tatapannya dingin, hidupnya sempurna, dan tak seorang pun berani mencari masalah dengannya.

Namun tidak ada yang tahu bahwa di balik seragam putih dan sikap tenangnya, Leon adalah putra kedua dari keluarga mafia paling berpengaruh di kota.

Sebagai putra kedua, Leon hidup di bawah bayang-bayang keluarganya sendiri. Ia tidak pernah benar-benar dianggap, tetapi juga tidak pernah bisa bebas dari dunia gelap yang diwariskan kepadanya. Hingga kedatangan seorang siswi pindahan mengubah segalanya.

Rachael Velencia.

Gadis itu berbeda dari semua orang yang pernah ditemui Leon. Rachael tidak takut padanya, tidak peduli pada rumor tentang dirinya, dan perlahan masuk ke hidup Leon yang selama ini dipenuhi kekosongan.

Untuk pertama kalinya, Leon mulai merasakan kehidupan normal yang selalu ia inginkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zehn hart, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 31 - Bayangan Selalu Mengawasi

Waktu berlalu tanpa terasa.

Jam di dinding kini menunjukkan pukul tujuh malam.

Tugas yang tadi menumpuk di meja kini tinggal beberapa lembar terakhir.

Ruang tamu apartemen masih terasa hangat.

Lampu berwarna kuning lembut menerangi ruangan sederhana itu.

Sesekali suara kendaraan terdengar samar dari luar jendela.

Rachael sedang menulis jawaban terakhirnya.

Axel masih berusaha bertahan hidup melawan matematika.

Sedangkan Leon sedang memeriksa ulang hasil pekerjaannya.

Lalu—

Bzzz.

Ponsel Leon bergetar.

Ia melirik layar. Nama yang muncul membuat ekspresinya sedikit berubah.

Arthur de Arther.

Ayahnya.

Leon membuka pesan itu.

Pesannya singkat.

 "Pulang sekarang. Ada yang perlu dibahas."

Tidak ada tanda tanya, tidak ada penjelasan, tidak ada pilihan, hanya perintah.

Leon membaca sekali lagi. Lalu mengunci layar ponselnya.

Rachael yang duduk di sampingnya melirik.

"Ada apa?"

Leon berdiri.

"Aku harus pulang."

"Hm?" Rachael berkedip. "Oh iya, sudah malam. Kalian bisa pulang."

Axel langsung melihat jam. "Astaga." Ia hampir melompat dari kursinya. "Sudah jam delapan lewat!"

"Kau baru sadar?"

"Gua pikir masih sore."

"Itu karena kau tidak memperhatikan waktu."

"Itu karena matematika mencuri waktuku."

Rachael menggeleng kecil.

Leon mulai membereskan buku-bukunya.

"Aku akan pulang, ada urusan mendesak."

"Oh."

Rachael langsung mengangguk. Kalau begitu memang tidak bisa ditunda.

Axel juga mulai memasukkan buku ke dalam tas.

"Kalau Leon pulang, gua juga pulang."

"Tidak ada yang menahan mu."

"Itu terdengar menyakitkan."

"Tapi benar."

Axel memegang dadanya dengan dramatis.

"Hatiku terluka."

"Tidak, kau lebay."

"Hanya sedikit."

"Tidak."

Leon menutup tasnya. Lalu menoleh ke arah Rachael.

"Terima kasih."

Rachael berkedip. "Untuk apa?"

"Makanannya. Dan tempat belajarnya."

"Oh. Tak apa, bukan masalah."

Rachael terlihat berpikir sebentar. Lalu tersenyum kecil.

Untuk sesaat Leon terdiam. Kemudian mengangguk pelan.

Axel memperhatikan itu semua. Lalu menatap langit-langit. "Aku melihat sesuatu. Tapi aku memilih diam demi kesehatan mental ku."

Beberapa menit kemudian.

Mereka sudah berada di depan pintu apartemen.

Rachael mengantar sampai keluar.

"Jalan hati-hati."

"Iya."

"Kau juga."

Axel melambaikan tangan. "Dadah."

"Dadah."

Pintu lift perlahan tertutup.

Dan sosok Rachael menghilang dari pandangan.

Namun bahkan setelah pintu lift benar-benar tertutup...

Leon masih terdiam beberapa detik.

Sampai Axel menyenggol lengannya.

"Oi."

"Hm?"

"Kembali ke bumi."

"Diam."

Axel terkekeh. Tapi ia tidak melanjutkan godaannya. Entah kenapa. Malam ini terasa terlalu tenang untuk dirusak.

Empat puluh menit kemudian.

Mobil hitam keluarga De Arther memasuki area mansion.

Gerbang besi besar terbuka perlahan.

Lampu-lampu taman menyala terang.

Air mancur di halaman depan memantulkan cahaya keemasan.

Mansion keluarga De Arther berdiri megah seperti biasa.

Mewah, besar dan dingin.

Berbeda jauh dengan apartemen sederhana yang baru mereka tinggalkan.

Mobil berhenti.

Leon turun.

Axel ikut turun.

Seorang pelayan langsung mendekat.

"Tuan sudah menunggu di ruang kerja."

Leon mengangguk.

"Aku tahu."

Axel langsung berhenti berjalan.

"Apa?"

"Gua nggak ikut."

Leon menatapnya datar.

"Pengecut."

"Itu namanya bertahan hidup."

Leon mengabaikannya. Lalu berjalan menuju ruang kerja ayahnya.

Tok.

Tok.

"Masuk." Suara berat terdengar dari dalam.

Leon membuka pintu.

Ruangan itu luas.

Dindingnya dipenuhi rak buku.

Meja kerja besar berada di tengah.

Di balik meja itu duduk seorang pria berusia paruh baya.

Wajahnya mirip Leon. Tatapannya sama tajamnya, hanya lebih dingin, lebih berpengalaman.

Arthur de Arther.

Kepala keluarga De Arther.

Pria itu menutup dokumen yang sedang dibacanya. Lalu menatap putranya.

"Pulang terlambat."

"Aku tahu."

"Dari rumah teman?"

Leon tidak terlihat terkejut. Jelas ayahnya sudah mengetahui semuanya.

"Iya."

Arthur menyilangkan kedua tangan.

"Perempuan itu."

Leon terdiam.

Arthur memperhatikan reaksinya.

Hanya sepersekian detik. Tapi cukup.

"Kau semakin sering berada di dekatnya."

"Tidak ada hubungannya dengan urusan keluarga."

"Itulah yang sedang ku pertanyakan."

Ruangan menjadi hening.

Arthur berdiri.

Berjalan menuju jendela besar di belakang ruang kerja.

Lampu kota terlihat dari kejauhan.

"Leon."

"Hm."

"Fokus mu mulai terpecah."

Leon tidak menjawab.

Arthur melanjutkan.

"Orang-orang Moretti mulai bergerak lagi."

Tatapan Leon langsung berubah.

Semua sisa suasana hangat dari apartemen Rachael seakan menghilang dalam sekejap.

Digantikan kenyataan yang selama ini selalu mengikutinya.

Arthur melempar sebuah map ke atas meja.

Leon membukanya.

Di dalam terdapat beberapa foto.

Foto pengawasan.

Laporan.

Catatan aktivitas dan beberapa wajah yang tidak asing. Orang-orang keluarga Moretti.

Arthur berbicara dengan suara datar.

"Dua minggu terakhir. Mereka mengawasi pergerakan mu."

Leon membaca laporan itu satu per satu.

Ekspresinya semakin dingin.

"Mereka sudah berani mendekat."

"Iya."

"Seberapa jauh?"

Arthur terdiam sesaat. Lalu menjawab. "Cukup jauh untuk membuatku tidak menyukainya."

Leon menutup map itu.

Ruangan kembali sunyi.

Arthur menatap putranya.

"Kau adalah pewaris keluarga De Arther."

"Aku tahu."

"Jangan sampai lupa."

Leon menggenggam map itu sedikit lebih erat.

Beberapa saat kemudian Leon keluar dari ruang kerja.

Pintu tertutup di belakangnya.

Koridor mansion terasa sunyi.

Lampu-lampu kristal menyala terang.

Entah kenapa... Tempat ini terasa jauh lebih dingin dibanding apartemen kecil milik Rachael.

Leon berjalan perlahan menuju kamarnya.

Di tangannya masih ada map mengenai keluarga Moretti.

Ancaman.

Musuh.

Pengawasan.

Dunia yang sejak lahir sudah menjadi bagian hidupnya.

Namun tanpa sadar...

Pikirannya justru teringat pada sesuatu yang sangat sederhana.

Mangkuk mie pedas. Es campur buatan Rachael, tawa Axel yang berisik. Dan meja makan kecil yang hangat.

Untuk pertama kalinya setelah lama... Leon menyadari betapa jauhnya dua dunia itu.

Dan betapa ia tidak ingin dunia yang gelap ini sampai menyentuh orang-orang yang berada di sisi satunya.

Setelah itu Leon berjalan di koridor menuju kamarnya sendiri, ia teringat perkataan Rachael tentang penyadap tersembunyi.

Koridor mansion terasa sunyi.

Hanya suara langkah kaki Leon yang terdengar di lantai marmer yang mengilap.

Lampu gantung kristal menerangi lorong panjang itu dengan cahaya putih keemasan.

Di tangannya masih ada map dan dokumen mengenai keluarga Moretti.

Namun pikirannya tidak lagi berada di sana.

Justru sebuah kalimat lain yang terngiang di kepalanya.

Kalimat yang diucapkan Rachael.

"Penyadap itu harus di cari tahu siapa yang menaruhnya dan siapa yang berani berkhianat. Lacak siapa dalangnya."

Saat itu Leon menganggapnya hanya analisis biasa.

Pemikiran acak dari seseorang yang terlalu pintar.

Tapi sekarang... Setelah melihat laporan pengawasan tentang Moretti... Kalimat itu tiba-tiba terasa berbeda.

Leon berhenti berjalan.

Tatapannya perlahan mengarah ke sekeliling koridor.

Dinding.

Lukisan.

Lampu.

Vas dekorasi.

Segalanya tampak normal.

Namun keluarga Moretti bukan tipe orang yang bermain secara normal.

Dan Arthur tadi mengatakan sesuatu yang cukup jelas.

"Mereka sudah terlalu dekat."

Leon menatap ujung koridor. Lalu menghela napas pelan.

"..."

Mungkin ini hanya paranoia.

Mungkin juga tidak.

Dan Leon tidak suka mengambil risiko.

...----------------...

Beberapa menit kemudian.

Leon sudah berada di kamarnya.

Pintu terkunci.

Ruangan luas itu kembali terasa sunyi.

Ia meletakkan map di atas meja. Kemudian berdiri diam beberapa saat. Mengingat kembali setiap detail yang pernah dibahas bersama Rachael.

Gadis itu memang sering mengatakan hal-hal yang terdengar sederhana.

Tapi anehnya... Sering kali benar.

Leon mengambil ponselnya.

Membuka sistem keamanan internal mansion.

Akses yang hanya dimiliki anggota keluarga inti.

Lalu mulai memeriksa satu per satu.

Riwayat jaringan. Perangkat yang pernah terhubung. Sensor keamanan. Log akses.

Tidak ada yang mencurigakan. Setidaknya itu yang terlihat. Namun Leon tetap melanjutkan.

Satu jam.

Dua jam.

Ia terus memeriksa.

Sampai akhirnya... Alisnya sedikit berkerut.

"Hm?"

Ada sesuatu yang aneh.

Sangat kecil. Sangat mudah terlewat.

Sebuah sinyal lemah yang beberapa kali muncul lalu menghilang.

Tidak terdaftar dalam sistem utama mansion.

Tidak berasal dari perangkat keluarga.

Dan tidak berasal dari pelayan.

Leon memperbesar datanya. Tatapannya perlahan berubah dingin.

Sinyal itu muncul dari area sayap timur mansion.

Frekuensinya tidak stabil. Seolah sengaja dibuat sulit dilacak. Namun tetap ada.

Leon berdiri dari kursinya tanpa membuang waktu.

Sepuluh menit kemudian.

Ia berjalan menyusuri sayap timur mansion. Area ini jarang digunakan.

Hanya terdapat beberapa ruang tamu lama.

Gudang penyimpanan. Dan beberapa ruangan yang hampir tidak pernah dipakai.

Suasana terasa sepi.

Langkah Leon berhenti di depan sebuah ruang baca tua.

Ruangan itu sudah lama tidak digunakan. Setidaknya secara resmi.

Leon membuka pintunya.

Krieeet...

Ruangan gelap itu perlahan terbuka.

Bau buku tua langsung tercium. Debu terlihat tipis di beberapa sudut. Namun mata Leon segera menangkap sesuatu.

Jejak.

Sangat kecil.

Terlalu kecil bagi orang biasa untuk memperhatikannya.

Debu di dekat rak buku bagian belakang tampak sedikit terganggu.

Seolah seseorang pernah menyentuhnya belum lama ini.

Leon berjalan mendekat.

Lalu menggeser salah satu buku tua.

Klik.

Suaranya pelan.

Namun cukup membuat tatapannya berubah.

Di balik celah rak buku... Tersembunyi sebuah perangkat kecil. Tidak lebih besar dari ibu jari.

Berwarna hitam. Sulit terlihat. Jika tidak mencarinya secara khusus, hampir mustahil ditemukan.

Leon mengambil benda itu.

Matanya langsung mengenali bentuknya.

Alat penyadap.

Model profesional.

Bukan barang murahan.

Bukan sesuatu yang bisa dibeli sembarangan.

Tatapannya menjadi semakin dingin.

Ruangan itu mendadak terasa lebih sunyi.

Beberapa detik berlalu.

Leon menatap perangkat itu tanpa berkedip. Lalu perlahan teringat satu hal.

Rachael.

Gadis itu bahkan tidak pernah melihat mansion ini lama, hanya sebentar. Tidak pernah melihat ruangan ini. Tidak pernah mengetahui apa yang terjadi di keluarga De Arther.

Namun entah bagaimana... Dia tetap berhasil menebak kemungkinan ini.

Leon menunduk melihat alat penyadap di tangannya.

Lalu untuk pertama kalinya malam itu... Sudut bibirnya bergerak tipis.

Bukan senyum. Lebih seperti rasa heran.

"Chael..." Suara itu hampir seperti bisikan.

Kemudian ekspresinya kembali dingin. Karena sekarang ada masalah yang jauh lebih besar.

Jika satu alat penyadap ditemukan... Kemungkinan besar ada lebih banyak.

Dan jika Moretti benar-benar sudah berani memasang perangkat di dalam mansion keluarga De Arther...

Maka permainan yang selama ini berlangsung di balik bayangan telah memasuki tahap yang jauh lebih berbahaya.

Sementara itu, jauh di sebuah apartemen sederhana di sisi lain kota...

Rachael sedang menguap kecil di depan buku pelajarannya.

Sama sekali tidak menyadari bahwa perkataan santainya baru saja membantu menemukan sesuatu yang bahkan lolos dari pengawasan sebagian sistem keamanan mansion De Arther.

...****************...

Bersambung...

1
Ruby
menarik, semangat ya💪😊
Kartika Bessy
sangat bagus, ditunggu chapter berikutnya hingga tamat
Kartika Bessy
kak lanjutan mana sih 🥲
T28J
semangat update nya thor...
iklan buat kamu
Wawan
Rachaeeeel... 😍😍😍
Aksara_Lintangjati
Semangat Menulisnya kak,

Jika berkenan boleh mampir dan baca ceritaku hehe
Aksara_Lintangjati
Bagus, gak nelan mentah mentah gosip👍
Aksara_Lintangjati
Rachael kek beo yee
Aksara_Lintangjati
Leon kek saya wkwkwk
Aksara_Lintangjati
Mungkin karena dia baru kenal lo, Leon....
Aksara_Lintangjati
ini dibacanya Rahel, atau Racael, atau Racel?
zehn hart: Iya kak, dibacanya Racael
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!