Bagaimana jadinya jika hubungan yang telah dibina selama ini yang tampak begitu harmonis dan penuh kasih sayang ternyata hanyalah didasari rasa kasihan semata?
Wanita yang dinikahinya adalah seorang yatim piatu yang harus menanggung beban kehidupan kedua adiknya. Karena rasa iba , ia berinisiatif menikahi perempuan tersebut, padahal keduanya baru saling mengenal selama satu tahun. Namun, yang ada di dalam hatinya bukanlah istrinya, melainkan mantan kekasih yang pernah memutuskannya tanpa alasan yang jelas, namun masih sangat dicintainya hingga saat ini.
Apa yang akan terjadi jika kelak sang istri mengetahui kenyataan ini? Akankah ia tetap menerimanya, atau memilih untuk mundur, meski harus melepaskan kehidupan yang sudah terjamin?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pipit fitriyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menemui orangtua Farhan
"Mas, aku mau memberikan jawaban dari ajakan kamu kemarin," ucap Amira setelah beberapa saat Farhan datang ke rumah Amira.
Farhan sedikit terkejut dan melihat ke arah Amira, menunggu jawaban apa yang akan diberikan gadis itu. Entah kenapa, hati kecilnya berharap Amira menolak, namun sisi kemanusiaannya berkata sebaliknya. Selain dengan pernikahan, dia tidak bisa berbuat banyak untuk Amira dan kedua adiknya. Sementara dengan pernikahan, Farhan bisa berlindung di balik kata 'nafkah' dan 'tanggung jawab'.
Farhan masih menunggu apa yang akan dikatakan Amira. Apa pun jawabannya, Farhan akan berusaha menjalaninya jika benar Amira menerima. Tapi bila sebaliknya, dia akan mencari cara untuk membantu Amira.
"Mas, aku bersedia menikah dengan kamu. Aku berharap Mas bisa menerima aku dengan segala kekuranganku," ucap Amira merasa plong karena telah memberikan jawaban pada Farhan, sementara laki-laki itu pura-pura bahagia mendengar apa yang disampaikan Amira.
"Benarkah? Alhamdulillah, terima kasih sudah menerima lamaranku. Apakah sebaiknya kita percepat saja proses pernikahan ini sebelum kamu berubah pikiran?" Farhan berusaha membuat lelucon untuk menutupi rasa tidak nyaman pada dirinya, berbeda dengan Amira yang menganggap kalau Farhan sudah tidak sabar untuk memperistrinya.
"Apakah harus dilakukan secepatnya? Bagaimana dengan keluarga Mas?" tanya Amira penasaran.
"Kamu tidak perlu khawatir, mereka pasti menerima kamu. Karena mereka begitu menghargai pilihanku, salah satunya kamu yang aku pilih untuk menjadi pendamping hidup," ujar Farhan. Amira dibuat terbang melayang oleh ucapan manis itu, begitu meyakinkan dan tidak membuat Amira curiga sedikit pun.
"Baiklah, tapi aku tidak tahu prosesnya seperti apa untuk menikah. Aku sudah tidak punya siapa pun untuk diajak berdiskusi atau meminta nasihat," sahut Amira sendu.
"Apakah kamu menginginkan pernikahan yang megah?" tanya Farhan basa-basi.
Amira menggeleng. "Aku menginginkan pernikahan yang sederhana saja, sah di mata agama dan negara. Aku tidak pernah berpikiran untuk mengadakan resepsi atau acara besar."
Farhan menarik napas lega. Dia benar-benar tidak ingin banyak orang tahu tentang pernikahannya dengan Amira. Dia hanya ingin misinya berjalan dengan baik. Kalaupun orang-orang harus tahu, ya tidak apa-apa, tapi biarkan mereka tahu sendiri atau bertanya, bukan dengan cara membuat acara terbuka agar orang-orang tahu. Farhan hanya ingin akad nikah saja, bukan acara besar untuk membuat pengumuman.
"Apakah kamu serius? Banyak orang-orang sekarang yang selalu membicarakan pernikahan impian. Kalau kamu mau, aku bisa kabulkan," ucap Farhan lagi-lagi menawarkan sesuatu dan berharap Amira menolak. Dia hanya ingin memastikan kalau Amira benar-benar menolak pernikahan mewah itu.
Benar saja, Amira menggelengkan kepalanya dengan senyum manis yang membuat Farhan semakin merasa bersalah. "Tidak usah, Mas. Kita menikah di KUA saja dengan wali dan saksi."
"Ya sudah, aku akan menuruti kemauan kamu. Lalu, siapa yang akan menjadi wali nikahnya?"
"Sepertinya aku menggunakan wali hakim saja. Soalnya Ammar belum genap 17 tahun, sedangkan syarat mutlak menjadi wali nikah di Indonesia harus berusia minimal 19 tahun. Jadi, Ammar belum bisa menjadi wali nikahku. Sedangkan almarhum Ayah anak tunggal dan aku tidak tahu di mana keluarga Ayah. Setahuku, Ayah memang sudah tidak memiliki keluarga."
"Baiklah, sebaiknya kita segera mengumpulkan data dan syarat yang dibutuhkan untuk menikah. Sebelum itu, aku akan membawa kamu ke rumah orang tuaku. Bagaimana kalau nanti hari Minggu?"
"Apakah tidak terlalu cepat, Mas? Aku takut mereka menolakku."
"Simpan semua kekhawatiranmu. Aku akan tetap menikahimu semisal mereka berpendapat seperti isi pikiranmu."
"Baiklah, aku ikut kamu saja, Mas."
***
Farhan mengangguk pelan, lalu mengulurkan tangannya ragu-ragu ke arah Amira. "Sudah sore, sebaiknya aku pulang dulu. Banyak hal yang harus aku urus, dan persiapan dokumen juga butuh waktu."
Amira menyambut uluran tangan itu dengan senyum tulus, hatinya terasa hangat meski ada sedikit rasa cemas yang masih tersisa. Ia menggenggam tangan Farhan seolah itu adalah jangkar yang akan menyelamatkan hidupnya dan kedua adiknya. "Terima kasih, Mas. Terima kasih sudah mau menerima aku dan adik-adikku."
Hati Farhan terasa teriris mendengar ucapan itu. Ia membalas genggaman tangan gadis itu sekilas, lalu melepaskannya dengan cepat agar perasaannya yang bersalah tidak terbaca. "Sama-sama, Mira. Anggap saja ini takdir yang mempertemukan kita. Nanti hari Minggu pagi aku jemput, ya. Siapkan dirimu secukupnya saja, tidak perlu berlebihan."
Farhan berjalan meninggalkan rumah sederhana itu. Langkah kakinya terasa berat, berbeda dengan hati Amira yang kini terasa ringan seolah beban dunia sudah terangkat dari pundaknya. Dari balik jendela, Amira memandangi punggung Farhan yang menjauh, matanya berbinar penuh harapan. Di dalam pikirannya, Farhan adalah pangeran penyelamat yang dikirimkan Tuhan untuknya.
Sementara itu, di dalam mobilnya, Farhan menghela napas panjang hingga dadanya terasa sakit. Ia menepuk-nepuk kemudi dengan pelan, menatap jalanan yang mulai gelap. "Maafkan aku, Mira," batinnya bergumam. "Aku menikahimu bukan karena cinta, tapi karena rasa tanggung jawab dan kasihan. Aku berjanji akan memperlakukanmu baik, memenuhi hak-hakmu sebagai istri, tapi hati ini… entah kapan bisa aku berikan sepenuhnya padamu."
Pikiran Farhan melayang pada orang tuanya. Ia tahu betul ibunya adalah wanita yang tegas dan memiliki standar tinggi untuk calon menantu. Membawa Amira ke rumah, seorang gadis yatim piatu yang tidak memiliki latar belakang keluarga yang jelas, pasti akan memicu pertanyaan panjang. Namun, Farhan sudah bertekad. Apa pun yang dikatakan orang tuanya, ia akan tetap melangkah. Pernikahan ini sudah menjadi keputusan mutlak, dan ia harus bertanggung jawab atas keputusan itu.
Hari Minggu pagi datang dengan langit yang cerah. Amira bangun jauh sebelum matahari terbit. Ia merapikan rumah, menyiapkan sarapan sederhana untuk Ammar dan Amara. Ia mengenakan pakaian terbaik yang ia miliki kemeja berwarna krem dan rok panjang berwarna cokelat, lalu menutupi kepalanya dengan jilbab polos yang rapi. Penampilan sederhana namun sangat sopan dan memancarkan ketulusan.
"Kakak mau pergi ke mana? Cantik sekali hari ini," tanya Amara.
Amira tersenyum "Kakak mau pergi ke rumah Mas Farhan,"
Ammar yang duduk di seberang meja hanya diam, menatap kakaknya dengan pandangan yang sulit diartikan. Di usianya yang sudah remaja, ia cukup mengerti keadaan. Ia tahu kakaknya mengorbankan banyak hal demi mereka. "Kak, apa Kakak benar-benar mau menikah dengan mas Farhan?" tanyanya pelan.
"Kakak sudah memutuskan pilihan, dan Mas Farhan yang kakak pilih,"
Tepat saat itu, suara klakson mobil terdengar dari depan rumah. Jantung Amira berdegup kencang. Ia mengatur napas sejenak, lalu berpamitan pada kedua adiknya. "Kakak pergi dulu ya."
Di luar pagar, Farhan sudah menunggu. Ia tampak lebih rapi dari biasanya, mengenakan kemeja lengan panjang yang digulung dan celana bahan. Saat melihat Amira keluar, Farhan terdiam sesaat. Kesederhanaan gadis itu justru membuatnya terlihat berbeda, bersih dan menenangkan.
"Assalamu’alaikum," sapa Farhan saat Amira mendekat.
"Wa’alaikumsalam, Mas," jawab Amira lembut
"Masuk, ayo kita berangkat. Orang tua ku sudah menunggu di rumah," ucap Farhan sambil membukakan pintu mobil penumpang untuk Amira. Sepanjang perjalanan, suasana di dalam mobil cukup hening. Amira terlalu gugup untuk bicara, sementara Farhan sibuk dengan pikirannya sendiri.
Setelah perjalanan sekitar empat puluh lima menit, mobil Farhan berhenti di depan sebuah rumah berlantai dua yang cukup megah dan terawat baik di kawasan perumahan elit. Amira menelan ludah, rasa minder tiba-tiba menyeruak masuk ke dalam dada. Rumah ini sangat berbeda dengan gubuk kecil tempat ia tinggal.
Farhan mematikan mesin, lalu menoleh ke arah Amira yang tampak pucat. Ia menyentuh lengan gadis itu sebentar. "Ingat apa yang aku katakan kemarin? Jangan takut. Ada aku di sini. Apa pun yang terjadi, keputusanku sudah bulat."
Amira mengangguk pelan, menarik napas panjang untuk menenangkan diri. "Siap, Mas. Aku ikut kamu."
Keduanya turun dari mobil, berjalan beriringan menuju pintu utama rumah itu. Sebelum Farhan sempat mengetuk, pintu sudah terbuka dari dalam. Seorang wanita paruh baya yang tampak anggun dan berwibawa berdiri di sana, menatap keduanya bergantian dengan tatapan tajam namun sopan. Itu adalah Ibu Farhan.
"Assalamu’alaikum, mah," ucap Farhan sambil mencium punggung tangan ibunya. Amira pun melakukan hal yang sama dengan ragu, menunduk hormat.
"Wa’alaikumsalam. Ayo masuk," jawab ibu Farhan singkat, lalu berbalik berjalan masuk ke ruang tamu.
Di ruang tengah, Ayah Farhan sedang duduk membaca koran. Ia menurunkan kacamatanya saat melihat kedatangan putra dan tamunya. Suasana ruangan itu terasa dingin dan formal, membuat Amira semakin ciut hati.
"Duduklah," perintah Ibu Farhan.
Farhan duduk di sebelah Amira, seolah berusaha menjadi tameng di antara gadis itu dan orang tuanya. Farhan tahu, percakapan berat akan segera dimulai, dan ia harus siap mempertahankan keputusannya sampai akhir.