NovelToon NovelToon
Aku Kaya Berkat Sistem Penagih Utang Akhirat

Aku Kaya Berkat Sistem Penagih Utang Akhirat

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Mengubah Takdir / Fantasi
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Dana Brekker

​Darren hanyalah sampah di mata dunia. Sebagai penagih pinjol ilegal, hidupnya habis untuk dihina debitur sombong, disiksa bos yang brengsek, hingga akhirnya dicampakkan anak-istri di titik terendah.
​Beruntung maut di sebuah gudang tua itu justru menjadi awal dari segalanya. Saat nyaris mati dikeroyok, sebuah notifikasi muncul di hadapannya:
​[Sistem Penagih Utang Akhirat Diaktifkan]
Kemudian dunia berubah menjadi deretan angka. Darren kini mampu melihat Utang Keberuntungan dan Utang Umur setiap orang. Dari pengusaha korup hingga pejabat sombong, semua memiliki utang rahasia yang tak bisa lunas dengan uang. Sedangkan Darren adalah algojo yang berhak menarik paksa semuanya.
​Dari pecundang yang dipandang sebelah mata, menjadi penguasa finansial dunia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dana Brekker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25: Apapun yang Kau Mau

Sudah berapa lama Darren terduduk di salah satu kursi kulit yang berada di lobi utama gedung keluarga Han? Dirinya sampai mati gaya menghadapi setiap tatapan yang dilontarkan ke arahnya. Sejak beberapa menit yang lalu, perhatiannya terus tertuju pada pria botak berbadan kekar yang mondar-mandir keluar masuk gedung. Langkah kaki pria itu terdengar sangat berat di atas lantai marmer, sesekali dia mengangkat perangkat walkie talkie di tangannya, berbicara dengan tempo cepat, lalu menghilang kembali ke keluar, hanya untuk masuk lagi beberapa saat kemudian.

Setiap kali bayangan pria botak itu melintas, Darren merasakan degup jantungnya menjadi semakin tidak beraturan karena bertanya-tanya dalam hati mengenai maksud sebenarnya dari Han Wonyoung memanggil dirinya secara mendadak. Apakah gadis itu akan melontarkan ancaman secara terang-terangan? Ataukah dia berniat menyuapnya dengan sejumlah uang agar tetap bungkam? Bahkan muncul kemungkinan terburuk bahwa Wonyoung akan memaksanya terlibat dalam skenario gelap yang jauh lebih berbahaya dari yang pernah dia bayangkan.

Pria botak itu akhirnya keluar untuk kesekian kalinya, namun kali ini dia segera berbalik masuk, membawa seorang gadis dengan keanggunan yang mencolok. Han Wonyoung tampil dengan rambut pirang panjang yang terurai indah, mengenakan dress pendek berwarna krem yang dipadukan dengan sepatu hak tinggi yang membuat postur tubuhnya terlihat sangat ramping.

Lantas garis lengkung segera terukir di wajah cantiknya. “Pak Darren!” sapa Wonyoung. “Maaf ya, sudah membuatmu menunggu lama di sini.”

Darren segera berdiri dan memberikan tundukan hormat secara formal meski sedikit tersinggung lagi-lagi dipanggil ”Bapak” padahal dirinya belum setua itu. “Tidak apa-apa, Nona. Apakah ada sesuatu yang bisa saya bantu untuk Anda?”

Wonyoung mendadak cemberut, memberikan ekspresi manja yang tidak terduga. “Memangnya aku tidak diperbolehkan untuk sekadar menemui asisten pribadi kakakku sendiri?”

Darren menggaruk pelipisnya yang tidak gatal, merasa sedikit serba salah. “Tentu saja boleh, Nona. Hanya saja, biasanya Nona Seo yeon akan memberikan pemberitahuan terlebih dahulu jika ada anggota keluarga besar yang berniat menemui saya.”

“Ah, kakakku itu terkadang suka berlebihan dan terlalu kaku. Ayo, ikut aku masuk ke ruanganku. Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan secara pribadi.”

Wonyoung berjalan mendahului di depan sementara Darren mengikuti langkahnya dengan jarak yang terjaga karena dipelototi oleh raksasa botak. Mereka menyusuri koridor panjang, melewati dua pintu kayu besar dan barisan lukisan, hingga akhirnya tiba di sebuah ruangan yang luar biasa luas. Darren sempat tertegun mengamati kemewahan di depan matanya.

Seluruh dinding bagian depan berupa kaca transparan yang menyajikan pemandangan cakrawala kota yang memukau. Sebuah lampu kristal yang rumit tergantung di langit-langit, sementara sofa kulit berwarna putih bersih tertata rapi di tengah ruangan. Adapun ruangan itu juga difasilitasi bar mini yang berisi deretan botol minuman berharga selangit, dan di sisi lain, sebuah rak sepatu setinggi tiga meter tampak penuh dengan puluhan pasang sepatu hak tinggi sampai jenis lain bagaikan koleksi pribadi.

Keluarga Han ini benar-benar memiliki kekayaan yang berada di luar nalar orang biasa. Kendati demikian, rasa minder yang sempat merayap di benak Darren tidak bertahan lama. Dia teringat kembali pada saldo di Rekening Sistem miliknya yang kini mencapai angka Rp3,73 miliar, belum termasuk hasil tambahan dari tagihan keberuntungan Budiman Santoso di dermaga tadi. Darren menyadari bahwa dia bukan lagi pria miskin yang bisa direndahkan, alhasil dia tidak perlu merasa minder di hadapan siapa pun di ruangan ini.

Darren mengalihkan pandangannya kembali kepada Wonyoung. Dilihat-lihat, gadis ini memang memiliki kecantikan yang sangat luar biasa, tidak kalah bersaing dengan kakaknya sendiri. Rambut pirangnya memberikan kesan seolah dia adalah bidadari yang baru saja turun dari negeri dongeng.

Wonyoung sampai melambaikan telapak tangannya tepat di depan wajah Darren yang terpaku. “Pak Darren? Kenapa malah melamun begitu?”

Darren pun tersadar dari lamunannya. “Maafkan saya, Nona. Saya benar-benar minta maaf.”

“Sudahlah, ayo duduk dulu. Istirahatlah sejenak, aku tahu kau sudah menunggu cukup lama di lobi tadi.”

Darren akhirnya duduk di atas sofa yang sangat empuk. Tak lama kemudian, beberapa pelayan masuk membawakan nampan berisi berbagai minuman dingin dan camilan mewah. Wonyoung sempat bertanya apakah Darren sudah menyantap makan siangnya, yang dijawab dengan anggukan oleh Darren.

Setelah itu mereka sempat berbincang sedikit mengenai hal-hal yang tidak terlalu penting. Wonyoung menanyakan rutinitas pekerjaan Darren dan rasa penasarannya tentang bagaimana seorang pria seperti Darren bisa terpilih menjadi asisten kepercayaan kakaknya. Darren pun memberikan jawaban-jawaban yang terdengar umum dan aman. Namun, secara tiba-tiba Wonyoung berhenti berbicara, menatap Darren dengan pandangan yang sangat dalam dan lama, menciptakan suasana yang mendadak terasa berbeda.

“Pak Darren, mungkin ini adalah akhir dari hidupku yang tenang,” ucap Wonyoung terdengar sangat dramatis. “Aku benar-benar tidak tahu lagi harus berbuat apa.”

Mendengar itu, tentu saja Darren segera bangkit dari posisi duduknya dengan waspada. “Ada apa sebenarnya, Nona? Apakah ada pihak yang sedang mengancam keselamatan Anda?”

Wonyoung justru tertawa kecil sembari menutupi mulutnya dengan telapak tangan. “Lucu sekali reaksimu. Sekarang aku mengerti kenapa kakakku betah bekerja dengan asisten yang punya kepribadian sepertimu.”

Kini gadis itu mulai mengubah cara dirinya berbicara menjadi lebih serius. Tatapan matanya yang tadi jenaka mendadak berubah menjadi tajam, seolah sedang membedah isi kepala Darren.

“Mari kita berhenti berpura-pura, Pak Darren,” ucap Wonyoung. “Aku tahu kau ada di pelabuhan tadi. Aku melihatmu, dan aku tahu ponsel yang kamu pegang itu berisi foto-foto yang bisa menghancurkan hidup banyak orang.”

Walaupun Darren belum memberikan pengakuan secara lisan, Wonyoung langsung menuju ke inti permasalahan. Dia berdiri, berjalan mendekati dinding kaca, menatap lampu kota yang berkilauan namun terasa hampa.

“Jangan salah sangka. Tidak ada romansa antara aku dengan Wiliam,” lanjut Wonyoung tanpa menoleh. “William hanya memanfaatkanku. Dia butuh akses ke dalam lingkaran inti keluarga Han, dan aku adalah pintu masuk yang paling mudah. Dia tahu aku haus akan kebebasan, dan dia memberikan itu sebagai umpan.”

Wonyoung berbalik, menyandarkan punggungnya pada kaca jendela. Wajahnya kini tampak sangat lelah.

“Kau tahu apa yang terjadi jika foto-foto transaksi antara William dan Budiman Santoso itu bocor ke publik?” tanya Wonyoung dengan kondisi bibir yang ketara sekali bergetar meski telah berusaha dia gigit. “Karierku sebagai idol akan tamat dalam satu malam. Agensi akan memutus kontrakku dengan tidak hormat, jutaan penggemar akan mengutuk namaku, dan aku akan menjadi aib bagi keluarga Han selamanya. William tahu itu, dan sepertinya sekarang kamu juga tahu.”

Kini Wonyoung menatap Darren dengan tatapan yang sangat rapuh, meski dia paksakan senyuman sok kuatnya itu. “Jadi, Pak Darren, apakah kamu tipe orang yang suka menghancurkan mimpi seorang gadis demi tugas asisten pribadimu?”

“Nona, mohon maaf sebelumnya. Tapi bukankah penampilan Anda saat berada di dermaga tadi terlalu mencolok?” Darren menyela pembicaraan sembari membetulkan kerah kemejanya. “Dengan rambut pirang dan pakaian seperti itu, siapa pun bisa dengan mudah mengenali Anda, lalu mengambil gambar secara diam-diam dan menyebarkannya sebagai berita buruk. Itu akan terjadi meski aku tidak ada di sana.”

Wonyoung menudingkan telunjuknya tepat ke arah wajah Darren. “Maksudmu seperti yang sudah kamu lakukan sendiri, kan?”

“Saya hanya melakukan tugas pengamatan, Nona. Tugas utama saya adalah memastikan perlindungan bagi Nona Seo yeon tetap terjaga.”

“Lalu mengambil gambar diam-diam saat terjadi transaksi itu termasuk dalam bagian melindungi kakakku?”

Untuk saat ini, Darren tidak mampu memberikan sanggahan yang tepat. Oleh karenanya Wonyoung mendesah panjang, menjatuhkan tubuhnya ke sandaran sofa dengan kedua tangan yang terlentang lemas. Dia tampak menyadari bahwa dirinya berada di posisi yang paling dirugikan jika bukti-bukti itu tersebar.

Mata Wonyoung mendadak berubah menjadi sangat tajam saat menatap Darren kembali. “Katakan sekarang, apa yang sebenarnya kau inginkan dari situasi ini?” tanya gadis itu. “Apakah kamu butuh uang dalam jumlah besar? Atau mungkin posisi yang lebih tinggi di perusahaan keluarga ini?” Dia menjanjikan apa pun asalkan Darren bersedia menghapus seluruh bukti foto dan menutup mulutnya rapat-rapat dari siapa pun.

Wonyoung menyunggingkan senyum tipis, lalu dengan gerakan tangan yang sangat cepat, dia mencoba merebut ponsel yang berada di genggaman Darren. Akan tetapi, dengan ketenangan yang luar biasa, Darren berhasil menghindar hanya dengan sebuah gerakan kecil ke sisi samping.

“Apapun yang saya inginkan?” tanya Darren dengan tenang.

Wonyoung memberikan anggukan yang sangat yakin. “Iya, apapun yang kau mau.”

Seketika itu juga, pikiran Darren malah melayang liar menuju arah yang seharusnya tidak dia masuki. Han Wonyoung memang memiliki kecantikan yang sangat mempesona dengan rambut pirangnya yang indah, sorot mata yang tajam, serta bibir yang tampak memerah alami. Saat ini mereka sedang berada di dalam sebuah ruangan tertutup tanpa ada orang lain yang melihat, menciptakan suasana privasi yang sangat intim.

Imajinasi Darren mulai menggambarkan skenario yang tidak pantas mengenai tawaran yang baru saja dia terima. Dia membayangkan Wonyoung yang dalam kondisi putus asa akan menuruti segala perintahnya di atas sofa kulit putih itu, atau mungkin di atas meja yang luas, bahkan di depan dinding kaca besar dengan latar belakang lampu kota. Rambut pirang panjang itu terurai berantakan sementara dress pendek berwarna krem itu mulai terlepas dari bahunya yang jenjang. Dia sadar bahwa dia memegang kartu as yang membuat gadis ini tidak akan berani melawan atau melapor karena ketakutan akan kehancuran kariernya.

“Ambil saja kesempatan langka ini,” bisik sebuah dorongan jahat di dalam kepalanya. “Dia sendiri yang menawarkan segalanya. "Kau bisa mendapatkan tubuhnya untuk satu malam yang tidak akan terlupakan, dan rahasia ini akan terkubur selamanya.”

Darren menelan ludah sembari berusaha mengatur napasnya yang mulai terasa berat. Dorongan lain muncul di benaknya, mengingatkan bahwa Wonyoung adalah adik kandung dari Seo yeon, wanita yang telah memberikan kesempatan hidup kedua baginya. Jika dia memanfaatkan keputusasaan gadis ini untuk kepuasan pribadi, maka dia tidak akan ada bedanya dengan sosok Herman atau Priyo yang sangat dia benci. Bayangan tentang pengkhianatan terhadap kepercayaan Seo yeon membuat hatinya terasa rontok.

“Cukup sampai di sini,” batin Darren dengan tegas sembari berusaha mengusir segala bayangan kotor yang tadi sempat singgah. Dia perlahan membuka matanya kembali, menatap Wonyoung dengan tatapan yang jauh lebih terkontrol.

“Bekerjalah secara khusus untukku.” Betapa seriusnya Darren saat mengucapkan itu.

Mata Wonyoung sampai membulat sempurna karena terkejut. “Apa maksudmu?”

“Mulai sekarang, kamu harus bekerja untuk kepentinganku. Bukan atas perintah William Kusuma, bukan untuk menuruti keinginan orang tuamu, bahkan bukan untuk kakakmu. Kamu bekerja untukku. Titik.”

Wonyoung sendiri masih terpaku di tempatnya, mulutnya terbuka sedikit namun tidak ada satu pun kata yang keluar karena bingung.

“Aku tidak memiliki ketertarikan pada uang sogokan darimu, dan aku juga tidak berniat menyentuh tubuhmu. Yang aku butuhkan saat ini adalah seseorang yang mampu mengawasi setiap pergerakan William Kusuma dari dalam lingkaran terdekatnya... begitu pula keluarga Han.” Darren menjelaskan bahwa akses yang dimiliki Wonyoung akan sangat berguna untuk mengetahui rencana-rencana rahasia pria bermata biru itu.

Darren menatap mata Wonyoung dengan sangat tegas. “Aku akan tetap menyimpan seluruh foto bukti itu sebagai jaminan. Bukan untuk mengancammu secara negatif, melainkan untuk memastikan bahwa kamu tidak akan berkhianat di kemudian hari. Selama kamu bersedia bekerja sama dengan baik, aku menjamin tidak ada satu orang pun yang akan mengetahui rahasia di pelabuhan tadi.”

Akhirnya Wonyoung mengembuskan napas panjang, lalu menyandarkan seluruh tubuhnya ke sofa sembari menatap ke arah lampu kristal di langit-langit.

“Kamu benar-benar tipe pria yang sangat aneh bagi kelas sosialmu, Pak.”

“Saya sudah cukup sering mendengar penilaian semacam itu dari orang lain, Nona. Dan tolong berhenti memanggilku ‘Bapak’ aku bukan Bapakmu.”

Tawa Wonyoung di akhir itu menutup pertemuan mereka hari itu.

1
Bg Gofar
mantap gan
DanaBrekker: terima kasih 👍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!