NovelToon NovelToon
Langit Pasar Subuh

Langit Pasar Subuh

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:79.4k
Nilai: 5
Nama Author: Attalla Faza

Dinara Sasikirana kembali memulai hidup baru dari nol pasca perceraiannya dengan Tri Bayu. Rumah tangga yang ia bangun selama 5 tahun harus kandas karena mantan suaminya berniat melakukan poligami.


Dinara mundur demi menyelamatkan harga dirinya, meski ia tak punya apapun yang jadi tujuan hidupnya.

" Kamu nggak mau pulang ke Ngawi aja, Di? " tanya Mela sahabatnya

" Pulang dengan status janda? Yang ada aku di caci maki sama ibu dan bapakku, belum lagi cibiran warga yang anti banget sama janda.

Padahal belum tentu juga aku tertarik sama suami mereka. Makanya aku milih untuk tetap di kota ini, aku harus kerja dan berdiri di kaki sendiri, Mel"

" Bagus Di, aku suka prinsip hidupmu yang nggak menye-menye. Buktikan kalau kamu bisa bangkit dan nggak jadi beban buat mantan suamimu "

Dinara memang sarjana lulusan S1 di bidang marketing, tapi sayangnya ijazah itu tak pernah ia pakai sejak lulus 3 tahun lalu.

Ia terus mencari pekerjaan meski tak mudah, hingga akhirnya ia diterima kerja

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Attalla Faza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pertemuan penuh Penghinaan

Di dalam kafe mungil ber-AC itu, suasananya justru terasa lebih dingin menusuk tulang meski matahari di luar bersinar terik. Di sebuah meja sudut yang agak tersembunyi, Haura sudah menunggu dengan penampilan terbaiknya. Ia tampak percaya diri, yakin seratus persen bahwa rencananya akan berjalan mulus.

Tak lama berselang, pintu kafe berdering halus. Ahmad melangkah masuk lebih dulu, memeriksa keadaan lalu membukakan jalan. Di belakangnya, Langit muncul dengan penampilan rapi namun sederhana. Kemeja biru tua yang dipakainya menegaskan wibawa dan ketenangannya. Wajahnya datar tak ada satu pun kerutan yang menunjukkan kegelisahan atau kerinduan.

Setelah keduanya bertemu, Ahmad dan Mbak Via mengangguk hormat lalu pamit undur diri memberi ruang bagi keduanya. Pertemuan ini memang sudah direncanakan oleh Haura sejak semalam, dan Langit ingin tau apa yang akan dibicarakan oleh Haura pada pertemuan kali ini.

Haura segera menyunggingkan senyum paling manis, senyum yang dulu sering ia gunakan untuk meluluhkan hati siapa pun yang melihatnya. Ia bangkit sedikit dari kursinya seolah menyambut penggemar lama yang dirindukan.

"Masya Allah Mas Langit, akhirnya kamu datang juga! Rasanya mimpi bisa duduk berdua kayak gini lagi, mungkin sudah belasan tahun lalu." sapa Haura renyah, nada bicaranya begitu akrab, lembut, dan sengaja dibuat bernada manja. Ia melipat kedua tangannya di atas meja, menatap Langit lekat-lekat.

Langit duduk santai namun tegak di hadapan wanita itu. Ia menatap Haura dengan pandangan yang tenang, tajam, dan kosong. Persis seperti menatap orang asing yang baru pertama kali ia temui.

"Selamat sore, Haura. Ada keperluan apa yang begitu mendesak sampai kamu menghubungiku lewat Ahmad? Sepertinya urusan ini cukup penting sampai harus bertemu sembunyi-sembunyi begini?" tanya Langit datar, langsung menuju inti pembicaraan tanpa mau membuang waktu bernostalgia yang tak berarti baginya.

Haura tertawa kecil, suara renyah yang dulu mungkin sempat membuat remaja Langit melayang, tapi kini bagi Langit hanyalah suara gesekan kaca yang kasar dan palsu. Ia memiringkan kepalanya sedikit, menatap Langit dengan tatapan genit yang dipaksakan.

"Ah, Mas Langit ini! Masih aja bicara formal sama aku, padahal dulu kita kan akrab banget. Mas belum lupa kan dulu sering banget lari-lari cuma buat ketemu aku, cuma buat ngasih coklat murah dan sekadar senyum-senyum malu di depan lorong sekolah," ujar Haura dengan nada mendayu, mencoba membangunkan kembali ingatan masa lalu yang menyakitkan bagi Langit. "Aku yakin kenangan itu nggak mungkin hilang begitu saja, kan? Pasti masih ada sisa rasa spesial itu di hatimu, 'kan?"

Ya salam ini Ummi Dasyim tingkat percaya dirinya sudah diambang batas maksimal ya. Apa nggak malu sama hijab syar'i yang katanya bisa jadi pintu surga? Apa rayuan murahan seperti ini yang membuat Mas Tri nggak eling dan mantap berpoligami?

Langit hanya tersenyum tipis, senyum yang tak sampai menyentuh matanya. Ia diam sejenak, membiarkan Haura menikmati khayalan angkuhnya itu lebih lama.

"Dulu memang saya pernah menganggapmu istimewa, Haura. Tapi itu masa yang sudah lama berlalu, hidup terus berjalan dan pemahaman saya tentang kebaikan seseorang juga berubah total," jawab Langit tenang, namun tegas.

Haura malah mengangguk antusias, merasa kalimat itu adalah lampu hijau bagi egonya yang melambung tinggi. Ia merasa benar, lelaki mana yang bisa melupakan wanita yang pernah menjadi pujaan hatinya?

"Nah, itu dia Mas! Aku tahu kok kamu lelaki yang setia pada perasaan masa lalu. Makanya aku nggak ragu sama sekali minta tolong sama kamu, Mas. Cuma kamu yang paling bisa diandalkan di sini." Haura mendekatkan wajahnya sedikit ke depan, menurunkan nada suaranya menjadi lebih serius namun tetap bernada manja.

Langit menghela nafas malas, pengen rasanya dia masukin Haura ke peti es bareng sama ikan julung-julung.

"Sebenarnya aku lagi kena masalah besar Mas. Selaya Resto cabang baru sekarang lagi tersendat-sendat penjualannya. Padahal aku sudah kerja mati-matian, lho! Ada satu restoran saingan yang bermain sangat kotor, kamu tahu kan Kembang Desa? Mereka itu yang bikin aku susah napas, Mas.

Apalagi di sana ada Dinara, mantan istri suamiku itu. Dia itu pendendam banget sama aku, Mas! Dia iri banget melihat aku bahagia, melihat aku punya suami yang begitu menyayangiku, punya jabatan, dan hidup yang enak. Dia menyebar fitnah kalau aku perebut suami orang, padahal aku cuma mau menyempurnakan agama Mas Tri, mau bantu dia punya keturunan, dan mau bikin surga buat kami bertiga. Sayangnya dia nggak paham konteksnya, jadi memilih cerai daripada menjalankan syari'at Rasul."

Langit beristighfar dalam hati, bahkan iblis adalah mahluk yang paham akan agama. Tapi sekaligus pandai menyesatkan manusia agar menjadi kaumnya.

Haura berhenti sejenak, membasahi bibirnya yang kering karena terlalu lancar berbohong, lalu menatap Langit dengan sorot mata memelas namun penuh kebencian yang tak bisa disembunyikan sempurna.

" Lalu apa yang kamu inginkan, Haura? " tanya Langit memancing,

"Aku mohon banget sama kamu, Mas. Tolong hentikan pasokan ikan dan hasil laut terbaik ke Kembang Desa! Cukup kasih mereka barang sisa yang jelek saja, atau kalau bisa putuskan sama sekali pasokan ke sana. Cuma sebentar saja kok, sampai mereka sadar diri dan gulung tikar dengan sendirinya.

Kalau nanti mereka nggak dapat ikan segar lagi, pasti mereka kalang kabut, pasti mereka rugi besar, dan Dinara pasti akan dipersalahkan oleh atasanya. Dia pasti akan jatuh miskin lagi kayak dulu, persis seperti yang dia lakukan padaku sekarang dengan fitnah-fitnahnya itu!"

Haura menggenggam tangan Langit yang ada di atas meja dengan erat, tatapannya berkilat penuh kemenangan jahat yang ia pikir tersembunyi rapi. Namun buru- biru Langit menarik tangannya. Sungguh menjijikkan wanita ular ini!

"Aku tahu kamu pasti mau bantu aku buat bikin Dinara kapok, Mas. Demi aku, demi kenangan kita yang dulu, dan demi persahabatan kita. Kamu pasti masih ingin lihat aku senang, 'kan? Kalau kamu mau lakuin ini buat aku, aku janji aku nggak akan pernah lupain kebaikanmu. Aku bakal sering-sering ketemu kamu kayak gini, kita bisa ngobrol panjang lebar. Pintu pertemananku buat kamu bakal terbuka selebar-lebarnya, Mas. Apa kamu mau mengabulkan permintaanku ini? Demi aku?"

Langit menatap tangan Haura yang kembali mencengkeram lengannya erat. Di permukaan, wajah Langit tampak tenang, seolah sedang menimbang-nimbang tawaran yang menggoda itu. Namun jauh di dalam matanya yang teduh, otaknya bekerja sangat dingin, tajam, dan penuh perhitungan mematikan. Setiap kata bohong yang meluncur manis dari bibir Haura, baginya hanyalah tinta tambahan yang menuliskan vonis kehancuran bagi wanita ini.

Perlahan Langit menarik kembali tangannya pelan, lalu mengusap telapak tangannya satu sama lain seolah ingin menghapus kotoran yang menempel. Ia mengangkat wajah, menatap tepat ke manik mata Haura yang berbinar penuh ambisi jahat itu. Bibirnya perlahan melengkung membentuk senyum yang sangat lebar, sangat sopan, namun mengerikan.

"Kamu benar, Haura. Kamu benar sekali," jawab Langit pelan namun terdengar berat dan tegas. " Aku paling benci dengan wanita yang playing victim seperti Dinara!"

Wajah Haura seketika bersinar terang, lebih terang dari lampu kristal di langit-langit kafe itu. Matanya membelalak penuh kemenangan yang tak terlukiskan. Hatinya bersorak heboh "Lihatlah! Benar kan dugaanku, dia masih kecintaan sama aku. Buktinya dia bakal lakuin apa aja demi aku!"

"Alhamdulillah Mas Langit! Aku tahu banget kamu lelaki yang paling mengerti perasaanku. Jadi kamu setuju? Kamu mau langsung hentikan semua pasokan terbaik buat mereka sekarang juga?" tanya Haura bersemangat, suaranya meninggi karena tak bisa menahan euforia kemenangan yang ia rasa sudah ada di genggamannya.

Langit mengangguk perlahan, lalu bersandar santai di kursinya sambil melipat kedua tangannya di dada, menatap Haura dengan sorot mata yang tak lagi teduh, melainkan menusuk tajam hingga ke ulu hati.

"Tentu saja saya setuju, Haura. Saya akan lakukan lebih dari yang kamu minta. Saya akan pastikan pasokan ikan terbaik se-Kabupaten Pemalang ini benar-benar tertutup rapat serapat-rapatnya bagi Resto Kembang Desa. Saya akan buat mereka benar-benar kelimpungan mencari stok. Saya akan buat Dinara bingung, pusing, dan menangis dar4h karena tak sanggup berbuat apa-apa."

Haura hampir bertepuk tangan kegirangan. Rasa bahagianya meledak-ledak.

"Ya! Itu yang aku mau Mas. Kamu hebat banget, Mas Langit! Aku tahu aku nggak salah minta tolong sama kamu! Nanti sore aku sudah mau dengar kabar kalau mereka mulai panik!"

"TAPI..." potong Langit tiba-tiba, suaranya berubah menjadi sangat dingin, tajam, dan berat seperti besi tempa yang menghantam lantai beton, membuat senyum lebar Haura membeku seketika. "Sebelum saya mulai melancarkan 'serangan' hebat itu demi kamu, tentu kita butuh bukti sah, kan? Kita butuh bukti otentik yang kuat agar jika nanti Dinara dan bos-bos Selaya bertanya, kita semua aman. Maka dari itu saya sudah siapkan semuanya dari awal."

Langit mengeluarkan ponsel pintarnya dari saku kemeja, menekan tombol jeda dengan santai, lalu meletakkan alat itu tepat di tengah meja, menghadap lurus ke arah Haura.

"Saya sudah merekam seluruh percakapan kita sejak detik pertama kamu mulai bicara, Haura. Mulai dari basa-basi akrabmu, fitnahmu yang menuduh Dinara pendendam dan iri, kebohonganmu tentang dalih poligami suamimu, sampai permintaanmu yang gamblang, jelas, dan penuh kebencian ini. Kamu minta saya sabotase pasokan saingan demi menghancurkan mata pencaharian orang lain."

DEG!

Wajah Haura yang semerah jambu karena bahagia, perlahan memucat seputih kertas buram. Darah di seluruh pembuluh nadinya seketika berhenti mengalir. Matanya membelalak bulat sempurna tak percaya, mulutnya ternganga namun tak ada suara yang sanggup keluar. Ia menatap layar ponsel itu dengan tatapan kosong yang penuh ketakutan nyata.

"Ma... Ma... Maksud kamu apa ini, Mas Langit? Me... merekam? Ini... ini pasti lelucon, kan? Kamu nggak mungkin sejahat itu sama aku, 'kan? Kita kan teman lama... Kamu pasti lagi bercanda buat ngagetin aku, kan?" cicit Haura terbata-bata, suaranya hilang, tangannya gemetar hebat ingin menyambar ponsel itu namun tubuhnya terasa lumpuh karena ketakutan luar biasa.

Langit tertawa kecil—tawa yang kering, tajam, dan mengandung penghinaan yang lama ia pendam bertahun-tahun lamanya. Ia mengambil kembali ponselnya dengan santai, menyimpannya kembali ke dalam saku seolah menyimpan nyawa Haura yang kini berpindah ke dalam genggamannya.

"Bercanda? Tidak ada yang bercanda di sini, Haura. Saya bicara sangat serius, sangat jujur persis seperti kejujuran Dinara saat dia bertahan dari nol dulu. Kamu pikir apa saya masih buta dan tuli melihat asal muasalmu? Kamu pikir rasa suka saya belasan tahun yang lalu itu akan membuat saya menjadi bodoh, tuli, dan buta, lalu menghalalkan segala cara demi memuaskan egomu yang busuk dan menjijikkan itu?"

Suara Langit perlahan meninggi namun tetap terkontrol, dingin, dan menohok dada Haura berkali-kali lipat lebih sakit daripada pukulan fisik. Di matanya tak ada lagi keraguan, tak ada lagi sisa kekaguman masa lalu yang dulu Haura bangga-banggakan. Yang tersisa hanyalah rasa jijik yang murni dan kebencian yang tajam.

"Dengar baik-baik, Haura. Dinara bukan sekadar wanita biasa bagi saya. Dia adalah wanita yang kesabarannya menandingi samudra luas, ketulusannya menyaingi kejernihan air mata langit, dan keberadaannya menyembuhkan segala luka di hati saya yang pernah kamu lukai dulu dengan penghinaan yang paling kejam, paling menyakitkan hati seorang lelaki!"

Langit mencondongkan tubuhnya ke depan, semakin mendekat ke arah Haura yang kini sudah terlihat ketakutan setengah mati.

"Dia wanita yang berhak mendapatkan seluruh kebaikan dan kebahagiaan di dunia ini. Sedangkan kamu? Kamu hanyalah penjarah hati dan harta orang lain yang bersembunyi rapat di balik jubah syariat, di balik senyum palsu, dan tutur kata manis yang penuh racun mematikan!"

Haura mundur terhuyung ke sandaran kursi, napasnya memburu tak beraturan, wajahnya pucat pasi dan dingin bagai orang sakit keras. Air matanya mulai menetes tanpa izin, namun bukan penyesalan sedikit pun, tapi itu ketakutan.

"Mas Langit tolong... jangan begini sama aku... Kita selesaikan baik-baik, ya? Hapus saja rekaman itu, aku mohon banget sama kamu, hapus! Aku janji nggak akan minta begini lagi..." rengek Haura histeris, lupa seketika citra santun dan tenang yang selama ini ia bangun susah payah. Ia meremas dadanya yang terasa sesak luar biasa.

"Hapus?" Langit menyeringai sinis, matanya menyala tajam. " Tentu saja tidak akan saya hapus, Haura! Justru rekaman emas ini adalah senjata paling ampuh yang akan saya miliki selamanya untuk mengawasi setiap gerak-gerikmu yang licik itu. Kalau kamu berani mencoba satu cara kotor pun, satu fitnah pun, atau menyenggol sehelai rambut pun dari kepala Dinara, rekaman ini akan langsung terbang ke meja Pak Niko, Pak Rizwan, seluruh investor Selaya Resto, hingga ke telinga seluruh masyarakat Kabupaten Pemalang ini."

Langit menjeda kalimatnya, membiarkan ancaman itu meresap ke dalam sanubari Haura yang rapuh.

"Saya akan pastikan semua orang tahu siapa sebenarnya manajer kebanggaan mereka. Iblis perempuan yang memakai kedok agama, yang berniat menghancurkan bisnis saingan dengan cara sabotase licik demi memuaskan dendam pribadinya!"

"Tidak! Jangan Mas Langit! Kalau rekaman itu menyebar, karirku hancur, n ama baikku lenyap selamanya. Mas Tri pasti akan pergi ninggalin aku, orang tuaku pasti mati karena malu." jerit Haura tertahan, tubuhnya terguncang hebat oleh isak tangis ketakutan yang melumpuhkan.

"Itulah yang namanya takaran yang setimpal dan adil, Haura!" seru Langit tegas tanpa belas kasihan. "Dulu kamu tanpa rasa bersalah sedikit pun menghancurkan rumah tangga dan masa depan Dinara demi ambisimu semata. Sekarang kamu baru merasakan betapa pedihnya saat kehormatanmu sendiri terancam direnggut orang lain,kan? "

Langit bangkit berdiri perlahan, menatap wanita yang kini terkulai lemas tak berdaya itu dengan tatapan penuh kemenangan yang dingin dan abadi.

"Dan dengarkan janji nyata saya yang satu ini: Selama saya masih bernapas, selama kapal-kapal saya masih berlayar di laut sana, Resto Kembang Desa akan menjadi customer nomor satu dan istimewa saya. Saya akan berikan kualitas ikan yang paling segar dan saya pastikan pasokannya tak akan pernah putus. Saya akan pastikan Dinara makin sukses, makin dicintai orang banyak, makin cemerlang bersinar menyilaukan matamu yang selalu saja iri melihat kebahagiaan orang lain!"

Langit berhenti sejenak di sisi meja Haura, menundukkan pandangannya ke arah wanita yang gemetar ketakutan itu dengan penuh penghinaan yang mendalam.

"Kamu kira kamu menang merebut Tri Bayu? Kamu kira kamu menang mempermalukan saya belasan tahun lalu karena cuma anak nelayan miskin? Kamu salah besar, Haura. Sejak kamu memilih hidup dalam kebohongan dan kecemburuan, kamu sudah kalah telak jauh sebelum pertarungan sesungguhnya dimulai."

Langit merapikan kerah kemejanya sedikit, bersiap melangkah pergi.

"Dan sekarang selamat menikmati rasa cemas, rasa takut, dan rasa tidak aman yang selama ini kamu tanamkan ke dalam hati Dinara. Mulai detik ini, setiap helaan napasmu akan terasa berat, setiap tidurmu akan penuh mimpi buruk, dan setiap senyummu akan terasa palsu dan pahit. Karena saya akan menjadi bayang-bayang yang terus mengawasimu tanpa henti, menunggu satu kesalahan kecilmu untuk menghancurkanmu sampai kamu lupa caranya bangkit kembali."

" Kebapa Mas sampai membela Dinara seperti ini, apa kalian..... "

" Harusnya Tri Bayu melakukan tindakan seperti apa yang aku lakukan pada Dinara! Tapi cinta kadang bikin buta, aku dulu pernah merasakannya. Beruntung kebutaan itu mampu membuatku melangkah lebih maju lagi. Terima kasih atas penghinaanmu dan keluargamu ya Ra. "

Haura hanya bisa menangis tergugu, merasakan seluruh mimpinya yang indah dan megah runtuh seketika menjadi debu yang tak berharga. Ia sadar terlambat, ia memandang rendah api yang dulu ingin ia mainkan, dan kini seluruh hidupnya hangus terbakar olehnya sendiri.

Langit memberi isyarat pintu terbuka. Ahmad dan Mbak Via masuk, menatap pemandangan di hadapan mereka dengan wajah tak kaget sedikit pun. Mereka sudah tahu kehebatan bos mereka.

"Kita pergi," ucap Langit singkat, tegas, dan berwibawa. Namun sebelum melangkah melewati ambang pintu, ia kembali menoleh sekilas ke arah Haura yang sudah hilang segala pesonanya itu.

"Sampai bertemu di puncak kejayaan Dinara, Haura. Semoga kamu cukup kuat untuk menontonnya sampai napas terakhirmu."

Langit melangkah keluar, meninggalkan Haura sendirian di tengah kafe yang dingin itu kini terasa bagai penjara sempit bagi egonya yang dulu seluas semesta. Di luar sana, angin pagi berhembus lembut menyambut kepergiannya, dan Langit tersenyum puas. Ia tidak hanya membungkam musuh Dinara, tapi ia juga baru saja menegaskan satu kebenaran yang abadi. Bahwa Dinara adalah satu-satunya wanita yang akan ia lindungi dan ia cintai. Dan siapa pun yang berani menyentuhnya, bersiaplah menanggung murka Langit, lelaki yang dulu pernah diremehkan.Kini ia berdiri jauh lebih tinggi, kokoh, dan tak tergoyahkan.

1
rosita ambarwati
Masya Allah tabarakallah... Selamat & terima kasih utk Kak Attalla Faza. Novel ini sukses diselesaikan dgn apik, sederhana saja tanpa terlalu banyak bunga rampai. Tetapi tidak mengurangi keindahan & kesyahduan novel ini hingga bab terakhir. Mari berdoa utk Kak Attalla Faza juga para pembaca novel ini kelak mendapatkan kebahagiaan hidup tak terhingga yg kita nikmati dg penuh rasa syukur kpd Allah Azza Wa Jalla, Allah jaga & lindungi diri kita serta keluarga dari marabahaya, Allah mudahkan, lancarkan setiap urusan + rizki dunia wal akhirat kita & kita semua juga Allah beri akhir/episode penutup kehidupan yg husnul khotimah, aamiin 🤲🙏💖
Neny Tryana
bagus
diah larasati
cepet ya kak tamat nya
Feni Puji Pajarwati
semangat thor... karya2 TOP BANGET...
chie
suka dengan cerita nya
Sri Desika Arfianti
/Good//Good//Good//Good/
ɴᴏᴠɪ
kayaknya seh bakalan berlayar juga neh kapal Dimas sama Mela 🤭🤭
Ma Em
Akhirnya Dinara dgn Langit berakhir dgn bahagia bersama ketiga putra putrinya , begitu juga Mela sdh bahagia bersama Dimas serta kedua anaknya , mereka semua berakhir dgn happy ending , terima kasih Thor karena sdh membuat cerita yg bagus dan seru , semoga author selalu sehat dan bahagia serta sukses dgn karya karyanya 🤲💪👍 🥰
Attalla Faza: Aamiin.
doa yang sama buat kamu beb🩷
total 1 replies
ɴᴏᴠɪ
bagus deh kamu ambil keputusan itu, lagian kasian anak kamu punya ibu kayak gitu apalagi kakek dan nenek nya astaga
Achom
yeay DinLang MelDim udh bahagia sama pasangan masing² 🙂👏
kok udh tamat aj kk othor?😔☹️
salsa safiarahma
cerita kk selalu menarik
ɴᴏᴠɪ
Dim kan Mela bersandar di bahu kamu gak ada rasa gimana gitu, siapa tau dia jadi jodoh kamu 🤭🤭
ɴᴏᴠɪ
ya ampun masih panjang kasusnya, semoga Mela aman² aja seh ya
maria Yuddy
luar biasa bgs/Drool/
Attalla Faza
Dear Beb Kesayangan🩷
Terimakasih ya sudah membersamai Dinara dan Langit dari awal sampai akhir.

Sampai bertemu lagi di buku selanjutnya.
Sekarang saia sedang mempersiapkan buku baru di Tatangga Oren. love you all 🥰
Dwi Dwi: makasih Thor......kutunggu karya2 mu ....😍
total 15 replies
rosita ambarwati
Baarakallahu laka fil-mawhubi laka, wa syakartal-waahib, wa balagha asyaddahu, wa ruziqta birrah.
"Semoga Allah memberkahimu atas anugerah yang diberikan kepadamu, kamu mensyukuri Sang Pemberi (Allah), semoga anak ini mencapai usia dewasa, dan kamu diberi rezeki berupa baktinya anak tersebut."
Aamiin 🤲 Selamat utk Dinara, mas Langit & kedua ortu atas kelahiran anak pertamanya 🙏💐🎊
nurul @zna
Welcome to the world, Baby Boy...😍😍
Selamat u Dinara n mas Langit dah resmi jadi Ortu... 🥰🥰
Ma Em
Indra tdk pernah hdp nya kekurangan karena setiap ada kesulitan sama pak Djarot langsung dibantu jadi tdk pernah berpikir untuk usaha yg serius , untung ada Langit yg menerangkan maksud tujuan pak Djarot dan Bu Tita jadi Indra tdk salah paham lagi .
Achom
wuihhh baby boy syelamat DinLang udh jd parents,sehat² kelen y 🤲🙂
Loly Askhara
Laila dan Indra ini sama sama gengsian dan pemalas, makanya hidupnya diuji terus, harusnya indar dns Laila itu sregep (rajin), tekun, telaten biar hidupnya maju berkah.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!