"Dua sisi kegelapan, satu raga, dan satu candu yang mematikan: diriku."
Zaviar, penguasa dingin yang sebelumnya mati rasa, mendadak meledak gairahnya saat Arumi—sang macan bar-bar yang bertransmigrasi ke tubuh istrinya antagonis—menghapus riasan badutnya.
Perubahan drastis ini tak hanya membangkitkan Zaviar, tapi juga monster di dalamnya: Varian.
Varian, alter ego gelap, obsesif, dan haus gairah, bangkit tanpa kendali, matanya memancarkan kedalaman yang menakutkan dengan mata merahnya.
Terkunci di dalam sangkar emas kamar utama, Arumi terjebak dalam kecemburuan Calista istri kedua sekaligus pemeran utama wanita dan pusaran hukuman ganda: kelembutan menuntut Zaviar, dan keganasan tanpa lelah Varian. Keduanya menginginkannya dengan cara yang paling mengerikan.
Varian menyeringai gelap, manik merahnya mengunci pergerakan arumi. "Kau membuat monster dalam diriku terbangun, Sayang. Bersiaplah untuk tidak bisa berjalan besok pagi."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon namice, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27 Pelarian Calista yang Gagal
Malam di kediaman mewah keluarga Ravindra selalu memiliki atmosfer yang mencekam, namun malam ini terasa jauh lebih dingin dan sunyi dari biasanya. Angin malam berembus lambat, menggoyang dedaunan pohon-pohon peneduh di halaman belakang mansion yang luasnya menyerupai lapangan bola. Di dekat paviliun barat yang agak terisolasi, Arumi baru saja menyelesaikan sesi latihan silat singkatnya. Latihan fisik intensitas tinggi ini sengaja ia lakukan demi memulihkan kebugaran tubuhnya.
Akhir-akhir ini, energinya sering kali terkuras habis, dihajar habis-habisan oleh gairah posesif yang luar biasa dari Zaviar dan Varian. Dua pria itu benar-benar tidak memberi Arumi waktu untuk bernapas tenang.
Mengenakan setelah olahraga hitam ketat berbahan spandeks yang mencetak jelas setiap lekuk tubuhnya yang proporsional, Arumi berdiri tegak seraya mengatur napas. Keringat dingin bercucuran dari pelipis dan lehernya, berkilau di bawah temaram lampu taman. Ia mengambil sebuah handuk kecil yang tersampir di dahan pohon kamboja, lalu menyeka sisa-sisa peluh di dahinya dengan gerakan perlahan. Matanya terpejam sejenak, menikmati sensasi otot-ototnya yang kembali meregang dan siap untuk situasi apa pun.
Tiba-tiba, mata Arumi terbuka lebar. Telinga tajamnya yang sudah terlatih sejak kecil menangkap sebuah suara yang ganjil. Ada bunyi gesekan rumput yang terlalu ritmis, disusul suara besi yang beradu pelan dari arah belakang gedung paviliun. Tempat itu bukan area sembarang; di sanalah Calista saat ini dikurung di bawah pengawasan ketat. Insting "Macan Kemayoran" yang mengalir deras di dalam darah Arumi langsung berada pada tingkat siaga tertinggi. Detak jantungnya konstan, namun seluruh indranya menajam. Ia segera merunduk, melangkah tanpa suara memanfaatkan bayangan gelap dari pohon palem besar sebagai pelindung alami.
Di sana, tepat di bawah remang cahaya lampu taman yang temaram, sebuah drama pelarian sedang berlangsung. Tampak sesosok wanita berkerudung hitam pekat sedang berusaha payah merayap keluar dari jendela paviliun. Jika diperhatikan lebih dekat, jeruji besi jendela kamar tersebut sudah terpotong secara kasar, menyisakan bekas gergaji besi yang terburu-buru. Di bawah jendela, seorang pria mengenakan seragam pelayan mansion berdiri dengan tubuh gemetar. Pria itu jelas merupakan orang dalam Ravindra yang telah mengkhianati tuannya demi suapan uang dalam jumlah besar. Dengan sigap namun panik, ia membantu wanita berkerudung itu menapakkan kakinya ke tanah.
"Cepat, Nyonya Calista! Kita tidak punya banyak waktu. Sebentar lagi pengawal elite dari regu depan akan berganti shift!" bisik pelayan itu dengan suara bergetar menahan ketakutan yang luar biasa. Napasnya memburu, matanya liar melirik ke kanan dan ke kiri.
"Nah, nah, nah... mau tamasya ke mana nih malam-malam begini, Dek Calista? Kok menantu terhormat malah lewat jendela?"
Suara Arumi menggelegar santai namun sarat akan nada mengintimidasi yang menusuk. Kalimat itu memecah kesunyian malam layaknya petir di siang bolong.
Calista dan pelayan pengkhianat itu tersentak hebat, seolah-olah jantung mereka baru saja berhenti berdetak. Dengan gerakan kasar penuh amarah yang bercampur rasa takut, Calista menyentak kerudung hitamnya hingga terlepas. Ia menatap Arumi yang berjalan keluar dari kegelapan pohon palem. Wajah Calista yang biasanya dipenuhi riasan mahal kini pucat, kotor oleh debu, dan memancarkan kebencian yang luar biasa dalam.
"Arumi! Minggir kau, jalang sialan! Aku tidak akan membiarkanmu membusukkanku di dalam penjara! Tempatku bukan di balik jeruji besi!" teriak Calista dengan suara tertahan, menunjuk wajah Arumi dengan jari yang gemetar.
Arumi menghentikan langkahnya sekitar tiga meter di depan mereka. Ia melipat kedua tangannya di dada, menatap Calista dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan pandangan meremehkan. "Dih, galak amat, Mbak. Lu pikir ini gerbang tol apa main terobos aja? Kagak ada akses gratis buat penjahat di rumah ini," ceplas-ceplos Arumi dengan gaya bicaranya yang khas, sembari kembali melangkah maju dengan gerakan kaki yang lincah dan penuh perhitungan.
Si pelayan pengkhianat yang merasa posisinya sudah benar-benar terpojok mulai kehilangan akal sehatnya. Ia tahu hukuman dari keluarga Ravindra jika ia tertangkap hidup-hidup akan sangat mengerikan. Dengan nekat, ia meraba saku celananya, mengeluarkan sebuah pisau lipat taktis, dan membukanya dengan bunyi klik yang tajam. Ia mencoba menyerang Arumi secara membabi buta demi memberikan waktu bagi Clarissa untuk lolos.
"Nyonya, cepat lari dari sini! Biar saya yang urus wanita ini!" teriak pelayan itu sembari menerjang maju.
Arumi hanya mendengus remeh, sama sekali tidak bergeser dari posisinya semula. "Cuma segini modal lu buat khianatin keluarga Ravindra? Receh banget."
Saat mata pisau yang berkilau itu mengarah lurus ke perutnya dengan kecepatan tinggi, Arumi bergerak dengan refleks yang luar biasa. Ia menerapkan teknik Egosan—sebuah gerakan silat murni yang menggeser kaki kiri ke samping dengan kecepatan sepersekian detik, membuat tusukan pisau itu hanya mengenai angin kosong. Belum sempat si pelayan menyadari serangannya gagal, tangan kanan Arumi yang sekeras batu sudah mencengkeram pergelangan tangan pria itu.
Dengan satu sentakan eksplosif menggunakan teknik Patah Tebu, Arumi memuntir lengan pria itu ke arah luar dengan sudut yang tidak wajar.
Krek!
Suara patahan sendi yang mengerikan terdengar jelas di keheningan malam.
"Aaaakh!"
Pelayan itu menjerit histeris sebelum suaranya dibekap oleh rasa sakit yang luar biasa. Ia langsung tersungkur di atas rumput, memegangi lengannya yang mengalami dislokasi parah. Pisau lipatnya terlempar jauh ke dalam semak-semak.
Calista yang menyaksikan pelindungnya tumbang dalam satu gerakan langsung didera kepanikan massal. Alih-alih menyerah, ia justru nekat berlari sekencang mungkin, mencoba menerobos celah di sisi kanan Arumi. Namun, Arumi bukanlah lawan yang bisa dikecoh dengan mudah. Dengan pandangan mata yang dingin, Arumi merendahkan posisi tubuhnya.
Memanfaatkan momentum pelarian Calista, Arumi melancarkan teknik Sabetan bawah yang akurat. Kaki kanannya menyapu pergelangan kaki Calista dengan kekuatan penuh.
Seketika itu juga, keseimbangan tubuh Calista hilang total. Tubuhnya melayang sesaat di udara sebelum akhirnya jatuh terjerembap, mencium rumput halaman dengan posisi tengkurap yang sangat tidak estetis dan memalukan bagi seorang wanita yang selalu mendewakan harga diri.
Belum sempat Calista mengumpulkan kesadarannya akibat benturan, Arumi sudah berada di atas punggungnya. Dengan gerakan taktis, Arumi mengunci tubuh wanita itu, menarik kedua tangan Calista ke belakang punggung dengan kencang hingga Calista memekik kesakitan.
"Lu mau kabur setelah dengan ringannya coba meledakin gue tempo hari? Enak banget hidup lu, Dek Calista. Dikira hidup ini cuma drama komedi yang bisa selesai pake kata maaf?" bisik Arumi tepat di telinga Calista, menekan lututnya di punggung bawah sang lawan agar tidak bisa berkutik.
"Lepas, jalang! Kau hanyalah wanita murahan yang merebut posisiku!" jerit Calista histeris, air matanya mulai mengalir bercampur tanah yang menempel di pipinya. "Zaviar akan sangat membencimu kalau dia tahu kau berlaku sekasar ini padaku! Aku ini masih memiliki arti untuknya!"
Mendengar nama suaminya disebut, Arumi justru meledak dalam tawa nyaring yang menggema di halaman belakang. Itu adalah tawa penuh kemenangan dan ejekan yang paling merendahkan yang pernah Clarissa dengar.
"Zaviar? Hahaha, aduh... lu beneran belum tahu ya, Dek Calista? Suami lu yang terkenal kaku, dingin, dan jaim itu... malah paling suka kalau gue lagi bertindak kasar dan liar di atas ranjang. Dia bahkan mohon-mohon buat digituin," bisik Arumi dengan nada sensual sekaligus mengejek yang telak. "Jadi, mending lu simpan tenaga lu yang sisa sedikit itu buat teriak-teriak di balik jeruji besi sel tahanan besok pagi. Karena setelah ini, tempat lu adalah di sana."
Tanpa memedulikan makian dan rontaan Calista, Arumi dengan paksa menarik kerah baju wanita itu hingga berdiri. Dengan cengkeraman tangan yang tak tergoyahkan, ia menyeret Calista yang terus menangis histeris menyusuri jalan setapak taman menuju lobi utama mansion. Sementara itu, beberapa pengawal yang baru menyadari keributan langsung mengamankan si pelayan yang terluka di tanah.
Langkah kaki Arumi bergema saat memasuki area lobi utama yang megah. Di sana, di bawah kilauan lampu kristal yang besar, Zaviar Ravindra sudah berdiri tegak. Pria itu mengenakan kemeja hitam dengan lengan yang digulung hingga siku. Wajahnya tampak sehitam jelaga, memancarkan aura membunuh yang sangat pekat akibat menerima laporan instan mengenai pengkhianatan orang dalam di kediamannya sendiri. Matanya yang tajam bak elang langsung menatap lurus ke arah Calista yang tampak menyedihkan.
Melihat tatapan dingin tanpa ampun dari Zaviar, runtuhlah sudah seluruh pertahanan mental Calista. Malam itu, di bawah tatapan tajam pria yang pernah menjadi suaminya dan di bawah kendali mutlak Arumi, bukan hanya pelarian Calista yang gagal total. Namun, harapan terakhirnya untuk bisa bebas dan membalas dendam kini telah hancur berkeping-keping, musnah tak bersisa di lantai dingin mansion Ravindra.
kek nya seru nih. aku juga sering uring² thor klo baca novel yg mc ny cinta buta + tulul.