NovelToon NovelToon
Douluo: Tongkat Besi Penghancur Langit

Douluo: Tongkat Besi Penghancur Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Sistem / Fantasi
Popularitas:7.1k
Nilai: 5
Nama Author: RavMoon

Dia memulai perjalanannya dari dasar Akademi Master Jiwa Junior dengan tongkat besi biasa yang dianggap sampah. Bertahan hidup dalam diam, dia menunggu saat yang tepat untuk memicu sistemnya. Kini, setiap langkah yang ia ambil adalah bayangan kegagalan bagi musuhnya—karena apa yang mereka miliki, akan menjadi miliknya dalam sekejap.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RavMoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12.Saat Kelinci Beranjak Menjadi Kakak

Sore itu, cahaya matahari masuk dari jendela-jendela tinggi Asrama Tujuh, membentuk garis-garis keemasan yang menggantung di udara berdebu. Xiao Xuan duduk bersila di tepi kasurnya, punggung bersandar pada tiang kayu yang sudah lapuk, menyaksikan panggung kecil yang akan segera dimainkan di depannya.

Tang San berdiri di tengah ruangan, seragam baru di tangannya masih terlipat rapi. Wajahnya khas—tenang, tanpa ekspresi berlebihan. Tapi Xiao Xuan bisa melihat sedikit kebingungan di balik ketenangan itu. Seperti seseorang yang baru masuk ke kandang singa dan masih mengukur seberapa buas singa-singa itu.

Ini dia, pikir Xiao Xuan sambil menyilangkan tangan.

Wang Sheng, dengan tubuh gempalnya yang dua kepala lebih tinggi dari Tang San, melangkah maju. Matanya menatap Tang San dari ujung kepala hingga ujung kaki—penilaian yang sudah biasa ia lakukan terhadap setiap anak baru yang masuk.

"Kurasa kau pikir kau hebat, ya?" Wang Sheng menyilangkan tangan di dada. "Aturan di Asrama Tujuh: baru datang, harus hormat pada senior."

Tang San hanya memandangnya diam-diam.

Dan seperti adegan yang sudah Xiao Xuan hafal di luar kepala—Wang Sheng menyerang terlebih dahulu. Rentetan pukulan sederhana, tanpa roh, hanya mengandalkan kekuatan otot belaka. Namun bagi anak seusia mereka, itu sudah cukup untuk membuat siapa pun mundur ketakutan.

Tang San tidak mundur.

Ia hanya bergerak sedikit ke samping, jari-jarinya menyentuh pergelangan tangan Wang Sheng dengan tekanan yang tepat, dan dalam sekejap, tubuh gembal itu sudah terpental ke lantai dengan bunyi gedebuk yang menggema di seluruh ruangan.

Xiao Xuan mendengus pelan di dalam hati.

Controlling Crane, Capturing Dragon. Jurus rahasia dari Sekte Tang di kehidupan sebelumnya. Di tangan Tang San, gerakan itu mulus seperti aliran air—tanpa beban, tanpa amarah. Hanya efisiensi murni.

Wang Sheng bangkit dengan wajah memerah. Ia menatap Tang San dengan campuran kaget dan tak percaya. Mulutnya terbuka, tapi tidak ada suara keluar.

Xiao Xuan hampir tersenyum.

Sudah kuduga.

Tak lama kemudian, pintu kayu asrama terbuka lagi.

Kali ini, yang masuk adalah seorang gadis kecil dengan rambut panjang yang diikat menjadi dua kepangan. Kulitnya seputih salju—bukan pucat, tapi bercahaya seperti porselen berkualitas tinggi. Wajahnya bundar dan mungil, dengan semburat merah muda alami di pipi, seolah baru saja berlari atau mungkin... baru saja tersipu karena sesuatu yang hanya ia sendiri yang tahu.

Xiao Xuan mengernyit.

Bukan karena terpesona—meskipun gadis ini memang cantik dengan cara yang mengganggu. Tapi karena di samping kepala gadis itu, tepat di atas bahunya, ada sebuah panel transparan yang hanya ia bisa lihat.

[Panel Entri Kehidupan - Xiao Wu]

Nama: Xiao Wu

Takdir: Istri Sang Protagonis

Roh: Kelinci Tulang Lunak

Kekuatan Roh: Level 11

Entri yang Ada:

· Reinkarnasi Wujud Manusia (Ungu)

· Bakat Sempurna (Ungu)

· Keterampilan Lunak Khusus (Ungu)

· Kehidupan Manusia Alat (Merah)

· Memiliki Dua Adik Laki-Laki (Merah)

Entri yang Dapat Direplikasi:

· Keterampilan Lunak Khusus (Ungu)

Xiao Xuan hampir bersiul.

Wah. Pantas saja.

Di usianya yang masih sangat muda, panel entri Xiao Wu sudah sebanding dengan Tang San sendiri. Dua entri merah—satu tentang nasib tragisnya sebagai 'manusia alat' di masa depan, satu lagi tentang... memiliki dua adik laki-laki?

Itu entri yang aneh. Tapi Xiao Xuan sudah belajar untuk tidak meremehkan entri-entri misterius seperti itu.

Keterampilan Lunak Khusus... pikirnya sambil mengamati entri ungu yang bisa ia replikasi. Itu pasti mengacu pada jurus andalan Xiao Wu—Delapan Potongan Berturut-turut yang terkenal mematikan itu. Tapi untuk saat ini, ia belum butuh jurus yang terlalu mencolok. Lagipula, ia sedang berusaha untuk tidak menarik perhatian.

Nanti saja kalau benar-benar perlu.

Ia menutup panel itu dan kembali menyaksikan pertunjukan di depannya.

Wang Sheng, yang baru saja dihancurkan oleh Tang San, tampaknya belum puas. Atau mungkin ia merasa perlu menegakkan kembali wibawanya di depan gadis baru yang cantik itu.

"Hai, kau!" Wang Sheng menunjuk Xiao Wu. "Kau juga harus mengikuti aturan!"

Xiao Wu menoleh. Matanya yang besar dan bulat berkedip sekali, dua kali. Lalu ia tersenyum senyum yang terlihat manis di permukaan, tapi mengirimkan getaran aneh ke tulang belakang Xiao Xuan yang duduk agak jauh.

"Aturan apa?" tanya Xiao Wu polos.

"Kau harus melawanku. Kalau kau menang, kau bebas. Kalau kau kalah, kau harus memanggilku 'Bos Wang Sheng' dan menurut padaku."

Xiao Wu mengerjapkan mata lagi. Ia menoleh ke Tang San Tang San yang sedari tadi berdiri diam di pojok ruangan dengan ekspresi tidak peduli.

"Aku takut menyakitimu," kata Xiao Wu dengan nada yang terdengar tulus. Tapi sudut bibirnya sedikit naik.

Wang Sheng mendengus. "Jangan sok—"

Dia tidak sempat menyelesaikan kalimatnya.

Xiao Wu bergerak. Atau lebih tepatnya, ia menghilang dari tempatnya berdiri dan muncul kembali di belakang Wang Sheng. Tangannya yang mungil dan lembut itu menyentuh pundak Wang Sheng dengan tekanan yang anehnya ringan namun terasa berat.

Wang Sheng jatuh.

Bukan terpental seperti saat melawan Tang San. Kali ini ia jatuh dengan posisi aneh kepala di lantai, kedua kaki terangkat ke atas, tidak bisa bergerak sama sekali.

Seluruh ruangan terdiam.

Xiao Xuan menyesap air dari gelasnya pelan-pelan.

Soft Bone Skill, pikirnya. Sudah kuduga.

Tapi yang lebih menarik dari pertarungan itu bukanlah kemenangan Xiao Wu. Bukan juga cara ia menjatuhkan Wang Sheng dengan gerakan yang begitu cair dan indah sehingga terlihat seperti tarian.

Yang menarik adalah perubahan di udara setelah Xiao Wu berdiri di tengah ruangan, kedua tangannya di pinggang, dada membusung, dan tertawa keras.

"Hei hei hei! Siapa lagi yang mau coba?"

Wang Sheng, yang baru saja bangkit dari lantai dengan susah payah, langsung menangkupkan tangan. "Kakak Xiao Wu!"

Dan seperti domino, satu per satu anak-anak lain di asrama itu ikut berseru.

"Kakak Xiao Wu!"

"Kakak Xiao Wu, kau hebat sekali!"

"Kakak Xiao Wu, tolong ajar aku!"

Xiao Xuan menyandarkan kepala ke tiang kayu di belakangnya. Bibirnya membentuk senyum tipis. Lalu, dengan suara yang tidak terlalu keras tapi juga tidak terlalu pelan, ia ikut berseru.

"Kakak Xiao Wu."

Tiga kata.

Ringan. Tanpa beban. Tidak ada rasa malu atau kehilangan harga diri.

Karena itu hanya kata-kata. Dan Xiao Xuan sudah belajar di kehidupan sebelumnya bahwa kata-kata tidak akan membuat tulang punggungnya bengkok.

Tapi yang membuatnya sedikit mengernyit adalah ekspresi Xiao Wu setelah mendengar sorakan itu.

Gadis itu berdiri di tengah riuh rendah panggilan 'Kakak Xiao Wu' dengan mata yang perlahan-lahan menjadi kosong—bukan kosong karena bosan, tapi kosong karena terbawa ke tempat lain. Matanya yang tadinya tajam dan waspada sekarang menjadi lembut, berkabut, seolah sedang melihat sesuatu yang tidak bisa dilihat oleh orang lain.

Ia tertawa lagi. Tapi kali ini tawanya berbeda. Lebih nyaring. Lebih bebas. Seperti tawa seorang ratu kecil yang dikelilingi rakyatnya yang setia.

Xiao Xuan menurunkan gelasnya pelan-pelan.

Ia sedang mengingat Hutan Besar Star Dou, pikirnya. Di mana semua binatang roh menaatinya.

Untuk sesaat, Xiao Xuan hampir merasa iba.

Hampir.

Sore Menjelang Malam

Suasana asrama masih ramai ketika pintu kayu terbuka lagi. Kali ini, yang masuk adalah seorang pria dewasa sekitar tiga puluh tahun, bertubuh tinggi kurus dengan wajah panjang yang serius. Ia membawa setumpuk gulungan kasur di tangannya.

Wang Sheng yang sedari tadi tertawa bersama anak-anak lain langsung berdiri tegak. "Guru Mo!"

Semua anak serempak membungkuk.

Xiao Xuan ikut berdiri, diam-diam mengamati pria itu. Mo Hen. Guru yang akan mengawasi mereka selama masa kerja sambil belajar. Dalam ingatannya, pria ini tidak terlalu banyak muncul, tapi cukup tegas dan adil.

"Murid kerja sambil belajar yang baru mendaftar hari ini, maju ke depan," kata Mo Hen dengan suara datar.

Xiao Xuan, Tang San, dan Xiao Wu melangkah maju bersamaan.

Mo Hen menatap mereka satu per satu. Matanya berhenti sedikit lebih lama pada Tang San, lalu pada Xiao Wu, dan akhirnya—hanya sekilas—pada Xiao Xuan.

"Siapa Tang San?"

Tang San melangkah maju setengah langkah. "Guru, saya Tang San."

Mo Hen mengangguk. Ia menyerahkan gulungan kasur bersih yang di tangannya kepada Tang San—bukan satu, tapi dua gulungan. Tangannya yang kurus menggenggam gulungan itu dengan erat sebelum melepaskannya.

"Ini gulungan kasur dari Yu Xiaogang. Jaga baik-baik."

Tang San menerima dengan kedua tangan. Jari-jarinya meraba kain kasur yang masih baru dan bersih—sangat kontras dengan kasur tipis dan usang yang disediakan asrama untuk siswa kerja sambil belajar. Ada sesuatu di matanya saat itu. Sesuatu yang hangat, seperti api kecil yang menyala di tengah dinginnya malam.

Guru Yu... pikir Xiao Xuan dalam hati. Setidaknya kau benar-benar peduli padanya. Itu satu hal yang tidak bisa kau pungkiri.

Mo Hen melanjutkan, "Namaku Mo Hen. Panggil aku Guru Mo. Hari ini hari pendaftaran, tidak ada kegiatan khusus. Kalian bisa gunakan waktu ini untuk berkeliling dan mengenal lingkungan akademi. Besok pagi ada upacara pembukaan. Jangan terlambat."

Ia menoleh ke Wang Sheng. "Wang Sheng, kau yang paling tua di sini. Bantu mereka beberapa hari ke depan. Kalau ada yang tidak mengerti, tanya Wang Sheng."

Wang Sheng mengangguk cepat.

"Kalian bertiga—" Mo Hen menunjuk Xiao Xuan, Tang San, dan Xiao Wu, "—mulai sekarang akan bertugas membersihkan area taman di sebelah selatan. Subsidi sepuluh koin perunggu per hari. Bersihkan setiap hari. Aku akan inspeksi secara acak."

Matanya menyapu mereka seperti pisau.

"Kalau ketahuan malas, teguran publik untuk pelanggaran ringan. Pengusiran langsung untuk pelanggaran berat."

Tidak ada yang menjawab.

Mo Hen mengangguk puas, lalu berbalik dan melangkah keluar. Pintu kayu tertutup dengan bunyi kretek yang berat.

Xiao Xuan kembali ke kasurnya. Ia baru saja duduk ketika ia melihat pemandangan yang membuat bibirnya sedikit berkedut.

Xiao Wu sedang membuka gulungan kasurnya di samping Tang San. Tapi tidak berhenti di situ. Ia terus membuka gulungan kasur Tang San juga, lalu mulai menyatukan keduanya—menjadi satu tumpukan besar di lantai di antara dua ranjang.

Xiao Xuan meneguk ludah.

Tidak. Tidak mungkin. Jangan Xiao Wu melompat ke atas tumpukan kasur itu dengan wajah berseri-seri. "Aaah~ Enak! Kasur di sini lebih empuk dari yang kukira!"

Ia menepuk-nepuk sisi kosong di sampingnya dan menatap Tang San.

"Tang San, tidur di sini saja! Aku bisa menjagamu kalau ada yang jahat!"

Tang San terdiam. Wajahnya yang sedari tadi tenang itu akhirnya menunjukkan sedikit perubahan sedikit canggung, sedikit... tidak nyaman.

"Aku... lebih baik tidur di kasurku sendiri," kata Tang San dengan suara datar.

"Ah, sungkan sekali sih!" Xiao Wu cemberut. Tapi ia tidak memaksa. Ia hanya berguling ke sisi kasurnya dan memeluk bantal, matanya yang besar menatap langit-langit asrama dengan ekspresi bahagia yang tidak masuk akal.

Xiao Xuan menghela napas lega dalam hati.

Syukurlah. Ia tidak tahu reaksi apa yang akan muncul dari Tang San jika ada orang lain terutama dia, Xiao Xuan—yang mencoba hal serupa. Tang San mungkin terlihat tenang di luar, tapi Xiao Xuan tahu betul betapa posesifnya pria itu terhadap Xiao Wu di masa depan. Lebih baik jangan ambil pusing.

Memanggilmu 'Kakak Xiao Wu' tidak masalah. Tidur serumah juga tidak masalah. Tapi tidur sekasur?

Ia menggigil membayangkannya.

Wang Sheng, yang sedari tadi memperhatikan dari kejauhan, bertepuk tangan sekali. "Sudah, sudah. Daripada sibuk, mending kita makan siang dulu. Aku traktir!"

Tang San terdiam. Wajahnya berubah sedikit canggung.

"Aku... tidak usah," katanya pelan. "Kalian saja."

Wang Sheng mengernyit, tapi tidak bertanya lebih jauh. Matanya yang tajam sudah membaca situasi anak ini sedang dalam kesulitan keuangan. Tapi ia tidak mau mempermalukannya di depan orang banyak.

Xiao Xuan menghela napas.

Ia bangkit dari kasurnya, berjalan mendekati Tang San, dan menepuk bahu anak itu dengan ringan.

"Tang San, ayo. Kita sekampung. Untuk beberapa hari ke depan, biar aku yang traktir."

Tang San menatapnya.

"Makan itu penting," lanjut Xiao Xuan dengan nada biasa. "Kau akan tumbuh kerdil kalau sering lapar. Lagipula, Kakek Jack sudah berpesan sebelum berangkat—kita harus saling membantu."

Sepotong kecil kebohongan. Jack tidak pernah berpesan seperti itu. Tapi Xiao Xuan merasa tidak perlu menjelaskan. Lagipula, Tang San tidak akan pergi menanyakan langsung pada Jack.

Tang San terdiam beberapa saat. Matanya yang gelap menatap Xiao Xuan dengan ekspresi yang sulit dibaca—bukan rasa terima kasih, bukan juga curiga. Lebih seperti... perhitungan.

"Aku akan mengembalikannya nanti," kata Tang San akhirnya.

"Terserah," jawab Xiao Xuan sambil mengangkat bahu.

Wang Sheng, yang mendengar percakapan itu, menatap Xiao Xuan dengan pandangan baru. Matanya menyipit.

"Hei, Xiao Xuan. Jangan-jangan kau sudah tahu kalau Tang San akan datang? Makanya kau langsung menyerah dan memanggilku Bos tanpa perlawanan?"

Xiao Xuan menoleh. Wajahnya tetap datar.

"Tidak mungkin. Aku hanya tidak hebat. Kekuatan roh bawaanku cuma level satu," katanya dengan nada jujur. Ia menoleh ke Tang San. "Benar kan, Tang San?"

Tang San mengangguk pelan. Satu anggukan singkat, tanpa ekspresi berlebihan.

Wang Sheng mengerjapkan mata. Lalu tertawa kecil. "Baiklah, baiklah. Kalau begitu, ayo makan. Aku juga ikut traktir! Biar tidak cuma Xiao Xuan yang keluar uang!"

Xiao Wu, yang sedari tadi berguling-guling di atas kasur, langsung duduk tegak. Matanya berbinar.

"Makan? Enak?" tanyanya dengan nada polos. Lalu, tiba-tiba wajahnya berubah serius. "Tapi... apakah makan itu pakai uang? Maksudku, koin roh atau semacamnya?"

Wang Sheng terdiam. Ia menatap Xiao Wu dengan tatapan aneh—seperti baru pertama kali mendengar pertanyaan sebodoh itu.

Bocah ini pura-pura polos atau benar-benar tidak tahu cara dunia ini bekerja?

Namun ia memilih untuk tidak mengungkapkan pikirannya. Mungkin Kakak Xiao Wu sedang dalam kesulitan keuangan seperti Tang San, tapi gengsi untuk mengakuinya.

"Kakak Xiao Wu, kau tidak usah khawatir soal uang," kata Wang Sheng dengan nada hormat. "Biarku yang traktir hari ini."

Xiao Xuan tersenyum tipis.

Dan jadilah rombongan anak miskin Asrama Tujuh berjalan menuju kantin, dengan satu bos kecil yang sok kaya, satu kelinci yang masih belajar apa itu uang, satu pembunuh bayaran yang berubah menjadi murid roh, dan satu pria dewasa dalam tubuh anak-anak yang hanya ingin makan siang dengan tenang.

Ia berjalan di belakang rombongan, tangan di saku, mata menatap langit senja yang mulai berubah warna.

Besok akan ada upacara pembukaan.Dan setelah itu, kehidupan di Akademi Shrek benar-benar dimulai.

Xiao Xuan mendengus pelan.

Biarlah. Aku hanya perlu bertahan.

Tapi di lubuk hatinya yang paling dalam, sebuah panel kecil berdenyut pelan—entri baru yang belum sempat ia lihat, tersembunyi di antara keruwetan hari itu.

Ia memilih untuk tidak membukanya.

Belum waktunya.

1
Aisyah Suyuti
good
aldo
lanjut author
ag noja
sejak kapan ada binatang tingkat tiga bukanya jenis dan usianya dari binatang jiwa🤔
ag noja
tunggu sejak kapan di dunia soul land mengenal kata mantra 🤔
aldo
lanjut author 🙏🙏🙏🙏
Rusf
semangat terus.
aldo
wah bagus banget author Dan lanjut Kan author 🙏🙏🙏🙏
aldo
waw lanjut author
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!