NovelToon NovelToon
Arumi

Arumi

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Single Mom
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: Miss Ra

​Dicap sebagai janda rendahan, dipermainkan oleh pria tak bertanggung jawab, dan dicemooh oleh keluarga sendiri karena kemiskinannya, Arumi memiliki segalanya untuk hancur. Namun, Arumi memilih untuk bangkit dari abu.

​Ia mematikan hatinya, menolak bantuan siapa pun, dan bekerja dalam diam hingga namanya disegani.

Saat ia kembali, ia tidak datang untuk memohon. Ia datang untuk menagih setiap air mata yang pernah ia jatuhkan.

​Karena pembalasan yang paling manis adalah kesuksesan yang membuat musuhmu tidak mampu lagi menatap matamu.

Kita Simak Kisah Selanjutnya Di Cerita Novel => Arumi.
By - Miss Ra

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 14

Pagi itu, aroma nasi uduk dan tumis kangkung di Warung Ibu Ratna bercampur dengan bau minyak mesin yang tajam. Arumi tidak lagi hanya berdiri di depan bak cuci piring.

Di sudut depan warung, sebuah area kecil berukuran satu kali dua meter telah menjadi wilayah kekuasaannya. Di sana, mesin jahit Singer tua yang tadinya macet kini sudah bersuara ritmis di bawah kendali kaki Arumi yang mantap.

​Arumi memutuskan untuk mengambil langkah berani. Uang hasil memperbaiki pakaian warga pasar kemarin tidak ia simpan seluruhnya.

Sebagian kecil ia gunakan untuk menyewa mesin itu secara resmi dari Ibu Ratna, sebagai bentuk komitmen bahwa ia bukan lagi sekadar menumpang, melainkan sedang berbisnis.

​Namun, Arumi tahu, hanya menjadi tukang reparasi pakaian tidak akan membawanya ke puncak. Ia butuh produk.

​~~

​Siang itu, Arumi mendatangi lapak pakaian bekas thrifting di ujung pasar. Ia tidak mencari jas atau gaun pesta mewah.

Matanya justru tertuju pada karung-karung berisi kemeja pria berbahan katun kualitas tinggi yang sudah robek di bagian ketiak atau kusam di bagian kerah, sehingga dijual sangat murah, hanya lima ribu rupiah per potong.

​"Neng Arumi, mau buat apa beli kain rongsok begitu?" tanya Mang Dadang, penjual baju bekas.

​"Saya melihat sesuatu yang berharga di sini, Mang," jawab Arumi pendek.

​Arumi pulang membawa lima potong kemeja pria branded yang sudah cacat. Di mata orang lain, itu sampah. Di mata Arumi, itu adalah kain katun premium dengan pola garis dan kotak-kotak yang klasik.

​Di sudut warungnya, Arumi mulai bekerja. Ia membongkar jahitan kemeja-kemeja raksasa itu. Ia membuang bagian yang rusak, lalu menggunakan bagian punggung dan lengan yang masih mulus sebagai bahan utama. Ia memotong pola baru yang jauh lebih kecil.

​Kirana duduk di sampingnya, memperhatikan dengan mata bulat yang berbinar. "Ibu mau buat baju untuk Kirana?"

​Arumi tersenyum, jenis senyum yang hanya ia berikan untuk anaknya. "Ibu mau buat sesuatu yang akan membuat orang-orang melihatmu seperti putri kecil, meski kita tinggal di sini."

​Dengan modal minimal benang sisa, kancing-kancing unik yang ia kumpulkan dari baju bekas lain, dan sedikit kreativitas, Arumi menyulap kemeja pria yang kaku menjadi setelan baju anak laki-laki dan perempuan yang sangat modis.

​Ia membuat jumper anak dengan aksen kantong besar di depan, serta dress mungil bergaya vintage dengan kerah peter pan. Yang membuatnya luar biasa adalah detailnya. Arumi menambahkan sulaman tangan kecil berbentuk lebah di kerah, menutupi bekas lubang kancing lama yang tidak terpakai.

​Karya pertamanya ia pakaikan pada Kirana. Sebuah gaun biru motif kotak-kotak dengan pita besar di pinggang yang ia buat dari sisa kain furing. Kirana yang tadinya tampak kusam karena sakit, seketika terlihat seperti anak dari kalangan menengah ke atas.

​"Astaga, Arumi!" Ibu Ratna sampai meletakkan sodetnya saat melihat Kirana berjalan di antara meja warung. "Itu baju yang kamu buat dari kain rombengan tadi siang?"

​"Iya, Bu," jawab Arumi tenang.

​"Itu... itu bukan baju pasar, Rum. Itu bajunya orang-orang yang belanja di mal!" seru Ibu Ratna takjub.

​Kehadiran Kirana yang mondar-mandir di warung menjadi manekin hidup yang sangat efektif. Seorang pelanggan wanita, Ny. Lastri, yang suaminya seorang guru, langsung terhenti saat hendak menyuap nasi.

​"Neng, itu baju beli di mana? Lucu sekali, bahannya kelihatan mahal," tanya Ny. Lastri.

​"Ini saya buat sendiri dari bahan daur ulang, Bu. Bahannya katun murni, dingin untuk anak," jelas Arumi profesional.

​"Bisa buatkan untuk cucu saya? Dia ulang tahun minggu depan. Saya bosan lihat baju anak di pasar yang warnanya terlalu norak dan panas," tanya Ny. Lastri penuh harap.

​Arumi menyebutkan harga yang sangat masuk akal bagi Ny. Lastri, namun memberikan keuntungan tiga kali lipat bagi Arumi dibanding hanya sekadar menjahit robekan celana. Jaring-jaring rezeki Arumi mulai meluas.

​Namun, di tengah keberhasilan kecil itu, sebuah ancaman baru muncul. Bukan dari Sakti, melainkan dari keluarga Danu.

​Reni, sahabat Dinda yang rumahnya tak jauh dari daerah pinggiran itu, secara tidak sengaja lewat dengan mobilnya karena jalan utama sedang diperbaiki. Ia melihat sosok yang sangat ia kenali sedang duduk di depan mesin jahit di sebuah warung kumuh.

​Reni menghentikan mobilnya agak jauh, mengeluarkan ponsel, dan memotret Arumi.

​"Wah, wah... Si janda pelakor ternyata sudah jadi tukang jahit keliling di pinggir jalan," gumam Reni dengan senyum licik. Ia segera mengirimkan foto itu ke grup WhatsApp sosialitanya, yang tentu saja dihuni oleh Dinda dan Mbak Sari.

​Tak butuh waktu lama, ponsel Reni bergetar. Pesan dari Dinda masuk. "Jahitkan dia kehancuran lagi, Ren. Jangan biarkan dia merasa tenang walau cuma di selokan."

​Reni turun dari mobil, sengaja berjalan menuju warung Ibu Ratna dengan kacamata hitam di atas kepala. Ia masuk dengan gaya angkuh, pura-pura hendak memesan minum.

​"Aduh, panas sekali di sini. Baunya bau minyak dan keringat," sindir Reni sambil mengibaskan tangan di depan hidungnya.

​Arumi membeku saat mendengar suara itu. Ia mengenali frekuensi suara yang penuh racun tersebut. Ia tidak mendongak, kakinya terus mengayuh pedal mesin jahit dengan stabil, meski jantungnya berdegup kencang.

​"Eh, Arumi? Jadi ini kesibukan barumu?" Reni berdiri tepat di samping meja jahit Arumi. Ia melihat gaun anak yang sedang dikerjakan Arumi. "Lucu juga. Tapi, apa pelangganmu tahu kalau penjahitnya punya riwayat mencuri berlian? Nanti kancing bajunya hilang satu-satu, lho."

​Beberapa pelanggan di warung mulai berbisik-bisik. Ibu Ratna yang sedang di dapur mulai menatap tajam ke arah Reni.

​Arumi menghentikan mesinnya. Ia mengambil gunting potong yang besar, lalu berdiri tegak. Matanya menatap Reni dengan dingin, dingin yang membuat Reni sedikit mundur selangkah.

​"Kalau kamu ke sini untuk minum, duduklah. Tapi kalau kamu ke sini untuk bicara sampah, pintu keluarnya masih terbuka lebar," ucap Arumi datar.

​"Heh! Berani kamu ya? Kamu itu cuma sampah yang dibuang keluarga Danu! Jangan harap kamu bisa sukses di sini. Aku akan pastikan orang-orang di sekitar sini tahu siapa kamu sebenarnya!" teriak Reni.

​Arumi tidak membalas dengan makian. Ia justru mengambil gaun biru yang sedang ia kerjakan, gaun yang dipesan Ny. Lastri.

​"Reni, kamu lihat gaun ini?" Arumi mengangkatnya tinggi-tinggi agar semua orang di warung melihat. "Aku membuatnya dari bahan yang kalian sebut sampah. Sama seperti hidupku yang kalian anggap sampah. Tapi lihat... sampah di tanganku bisa menjadi sesuatu yang diinginkan orang. Sedangkan kamu? Kamu punya segalanya, tapi mulutmu lebih kotor dari air cucian piring di belakang."

​Para pelanggan warung, yang kebanyakan adalah orang kecil yang sering diremehkan orang kaya seperti Reni, mulai bersorak pelan. Mereka merasa terwakili oleh keberanian Arumi.

​"Pergi, Neng! Jangan ganggu orang cari uang!" seru Pak Jaka yang sedang makan.

​Reni memerah padam. Ia merasa terhina karena diusir dari warung kumuh oleh orang-orang kelas bawah. "Lihat saja! Kamu tidak akan lama di sini!"

​Reni pergi dengan bantingan pintu mobil yang keras.

​Setelah suasana tenang, Ibu Ratna mendekati Arumi. "Dia akan kembali dengan masalah yang lebih besar, Rum. Orang seperti itu punya banyak cara licik."

​Arumi kembali duduk di kursinya. Ia memegang jarum jahitnya, menusukkannya ke kain dengan presisi yang mematikan.

​"Biarkan dia kembali, Bu. Saya memang belum punya uang untuk melawan mereka di pengadilan atau di media. Tapi saya punya ini," Arumi menunjuk mesin jahitnya. "Setiap helai benang yang saya jahit adalah persiapan untuk menjerat mereka. Semakin mereka menekanku, semakin aku akan menunjukkan bahwa aku tidak bisa mati."

​Malam itu, Arumi tidak tidur. Ia menyelesaikan sepuluh potong baju anak dari kemeja bekas. Di setiap label baju itu, ia menyulam inisial kecil - A.R.

​Ia tahu, lewat baju-baju modis harga terjangkau ini, namanya akan menyebar di kalangan ibu-ibu. Dan suatu hari nanti, nama itu akan tumbuh begitu besar hingga Dinda dan keluarganya tidak akan bisa lagi mengabaikannya.

​Arumi menatap bayangannya di cermin pecah di sudut gudang. Ia bukan lagi Arumi yang menangis di bawah hujan. Ia adalah seorang arsitek yang sedang membangun bentengnya sendiri, bata demi bata, jahitan demi jahitan.

​Arumi akhirnya tertidur di atas meja jahitnya karena kelelahan, sementara di layar ponsel Reni yang tertinggal di mobil, sebuah rencana untuk memfitnah hasil karya Arumi sebagai barang curian mulai disusun bersama Dinda.

...----------------...

​To Be Continue ....

1
Dew666
💎💎💎💎
Enny Suhartini
semangat Arumi
Dyas31
bagus cerita nya KK, mengandung konflik berat, tetep semangat KK kuuuu 😘😘😘😘
Enny Suhartini
ayo Arumi semangat 💪
Sulfia Nuriawati
kok ni crta keterlaluan skali konflik nya, dlm dunia nyata bs d siksa tu yg sk fitnah knp jatuhnya arumi sampai sdh bangkit jd kesel bc nya
Enny Suhartini
semangat ya Arumi
Enny Suhartini
Miss Ra kenapa kok kejam banget
Enny Suhartini
kok kejam sekali sih
Enny Suhartini
sabar dan kuat ya Arumi 💪
Enny Suhartini
ayo semangat Arumi💪
Enny Suhartini
cerita penuh perjuangan
semoga kuat dan sabar Arumi
Dew666
☀️☀️
Dew666
🔥🔥🔥🔥
Himna Mohamad
sdh mampir baca,,lanjut kk
Ma Em
Miss Ra , Arumi atau Arini namanya , tapi semoga sukses Arini dgn usahanya dan balas tuh perbuatan mbak Sari yg menyebalkan selalu menghina dan merendahkan Arini tunjukan pada mereka yg sdh menghina kamu Arini bahwa Arini bisa sukses .🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏
Miss Ra: ooh sori, saya ingatnya arini yg di novel baru yg belum rilis..
nanti saya rubah
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!