Niatnya cari pelarian, malah dapet "tuan muda" kematian.
Alicia kabur ke Italia dan mencari pria paling tampan untuk menghina selera perjodohan ayahnya. Misinya berhasil ia menemukan Dante, pria dengan visual sempurna yang mau diajaknya bermalam bersama.
Tapi keesokan paginya, Alicia baru sadar kalau dia bukan baru saja menaklukkan pria biasa, melainkan seorang predator paling ditakuti di Eropa. Ternyata, merayu bos mafia saat mabuk adalah ide terburuk yang pernah Alicia lakukan seumur hidupnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EILI sasmaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 6
Dalam gerakan yang tidak diduga oleh siapa pun, bahkan oleh Marcello yang biasanya sigap, Alicia menyambar sebuah vas bunga kecil di atas meja samping dan melemparnya ke arah Dante.
Prang!
Vas itu pecah tepat di samping kepala Dante, pecahannya menggores pipi sang bos mafia hingga mengeluarkan setetes darah merah segar. Keheningan yang mematikan langsung menyelimuti ruangan. Marcello secara refleks menarik senjatanya dan menodongkannya ke arah Alicia.
"Turunkan senjatamu, Marcello," ucap Dante tenang, suaranya justru terdengar lebih rendah dan berbahaya dari sebelumnya.
Dante menyentuh luka kecil di pipinya dengan ujung jari, menatap darah di jarinya, lalu menjilatnya. Ia berdiri perlahan, matanya terkunci pada mata Alicia yang kini mulai diliputi rasa takut yang luar biasa.
"Kau punya keberanian, Alicia. Aku hargai itu," Dante melangkah mendekati Alicia, sementara Surya berteriak memohon agar Dante tidak menyakiti putrinya.
Dante mengabaikan Surya. Ia menarik pinggang Alicia hingga tubuh mereka merapat. "Tapi di duniaku, kekerasan dibalas dengan konsekuensi. Kau baru saja melukaiku di depan anak buahku."
"Lalu apa? Kau mau membunuhku?" tantang Alicia dengan suara bergetar.
"Tidak," Dante berbisik tepat di bibir Alicia. "Aku akan memastikan kau tahu siapa tuanmu di sini."
Dante menoleh pada Marcello. "Bawa Surya Atmadja ke ruang bawah tanah. Beri dia makan yang layak, tapi jangan biarkan dia pergi sampai dokumen pelabuhan itu ditandatangani. Dan untuk Alicia..." Dante menatap Alicia dengan kilat posesif yang membuat bulu kuduk berdiri. "Bawa dia ke kamar utama. Kunci semua akses. Dia tidak butuh serum kecantikan malam ini, dia butuh pelajaran tentang disiplin."
Alicia diseret oleh dua pengawal lainnya menuju kamar utama, sementara ia hanya bisa mendengar teriakan ayahnya yang memanggil namanya sebelum suara pintu baja menutup segala akses komunikasi.
Di dalam kamar utama yang luasnya hampir sebesar rumah tipe menengah di Jakarta itu, Alicia melempar dirinya ke atas tempat tidur. Ia menangis sejadi-jadinya. Segala kemanjaannya, segala sifat keras kepalanya, kini membawanya ke titik terendah. Ia merindukan kamarnya yang harum, ia merindukan obrolan konyol dengan asistennya, bahkan ia merindukan omelan ayahnya soal tagihan kartu kredit.
Namun, tangisannya terhenti saat ia mendengar suara pintu terbuka. Dante masuk, melepaskan jas dan dasinya, membuangnya ke lantai dengan kasar.
"Berhenti menangis," ucap Dante dingin. "Air matamu tidak akan merubah kenyataan bahwa kau yang memulai semua ini."
Alicia bangkit duduk, menatap Dante dengan mata sembab. "Kenapa kau melakukan ini? Jika kau hanya butuh pelabuhan ayahku, kau bisa mengambilnya tanpa harus menahanku!"
Dante duduk di tepi tempat tidur, menatap Alicia dengan intensitas yang mencekik. "Karena aku menginginkanmu, Alicia. Sejak malam di kelab itu kau yang berani datang menghampiriku bahkan merayuku, aku sudah memutuskan bahwa kau tidak akan pernah bisa menyentuh pria lain selain aku."
"Tapi aku membencimu!"
"Benci adalah awal yang bagus," Dante menarik dagu Alicia, memaksa gadis itu menatapnya. "Setidaknya kau merasakannya dengan kuat. Malam ini, kau akan tetap di sini. Besok, dokter akan datang untuk memeriksamu."
"Bagaimana jika aku tidak hamil?" tanya Alicia penuh harap.
Dante mendekatkan wajahnya, hidung mereka bersentuhan. "Maka kita akan melakukannya lagi malam ini. Dan besok malam. Dan malam-malam berikutnya. Sampai kau tidak punya pilihan lain selain mengandung anakku."
Alicia terpaku. Pria di hadapannya ini benar-benar gila karena obsesi. Di tengah ketakutannya, Alicia berfikir satu hal yang konyol. Bahkan dalam situasi hidup dan mati seperti ini, otaknya yang sudah terprogram untuk melihat visual tetap mencatat betapa tampannya Dante saat lampu kamar yang redup menyoroti lekuk otot lengannya.
"Kau benar-benar monster yang tampan," gumam Alicia tanpa sadar.
Dante tertegun sejenak, lalu tawa rendah keluar dari tenggorokannya. "Dan kau benar-benar gadis manja yang gila. Itulah kenapa kita cocok, Alicia."
Dante mendorong Alicia kembali ke atas bantal, mengurung tubuhnya. Namun, sebelum sesuatu terjadi, suara alarm keras berbunyi di seluruh penthouse. Lampu merah berputar menyala, menandakan adanya penyusupan.
Dante langsung waspada. Ia menyambar pistol yang disembunyikan di bawah bantal dan berdiri dengan sigap.
"Tetap di sini! Jangan bergerak!" perintah Dante.
Dari arah ruang tamu, terdengar suara ledakan kecil dan rentetan tembakan. Alicia meringkuk di bawah selimut, jantungnya berdegup kencang. Apakah itu polisi? Atau musuh Dante yang datang untuk membantai mereka semua?
Pintu kamar tiba-tiba ditendang terbuka. Namun bukan Marcello yang masuk, melainkan seorang pria asing dengan luka parut di wajahnya yang membawa senapan mesin.
"Dante Vallo! Waktumu habis!" pria itu berteriak.
Dante menarik Alicia dengan satu tangan, melindunginya di belakang punggungnya sementara ia mulai membalas tembakan. Di tengah kekacauan itu, Alicia melihat jendela besar kamar mereka retak terkena peluru.
"Ikuti aku!" teriak Dante, menarik Alicia menuju lorong rahasia di balik lemari pakaian.
Alicia berlari dengan kaki telanjang, melewati serpihan kaca dan asap. Di ujung lorong, mereka sampai di sebuah lift kecil tersembunyi. Dante menekan tombol, namun lift itu tidak bergerak. Daya listrik telah diputus.
"Sial!" Dante mengumpat. Ia menatap Alicia, lalu menatap pintu lorong yang mulai digedor dari luar.
"Alicia, dengarkan aku," Dante memegang bahu Alicia dengan kuat. "Kau harus melompat ke saluran pembuangan darurat di bawah sini. Itu akan membawamu ke area parkir bawah tanah. Marcello akan menunggumu di sana."
"Lalu kau?" tanya Alicia panik.
"Aku akan membereskan tikus-tikus ini. Pergi sekarang!"
Dante mendorong Alicia masuk ke dalam lubang gelap saluran darurat tepat saat pintu lorong jebol. Hal terakhir yang Alicia dengar sebelum ia meluncur jatuh adalah suara Dante yang meneriakkan namanya, diikuti oleh suara ledakan yang menggetarkan seluruh gedung.
Alicia mendarat di atas tumpukan kantung sampah di area parkir yang remang-remang. Tubuhnya sakit, gaun mahalnya robek, dan ia sendirian. Ia merangkak keluar, mencari sosok Marcello, namun yang ia temukan justru sebuah mobil hitam yang pintunya terbuka.
Seorang pria keluar dari mobil itu. Bukan Marcello. Tapi... pria dengan wajah yang sangat ia kenal. Pria yang seharusnya ada di Jakarta.
"Alicia? Akhirnya aku menemukanmu," ucap pria itu dengan senyum aneh.
Itu adalah Bambang. Si 'kentang rebus' tunangannya. Namun, ada sesuatu yang berbeda di matanya. Ia tidak terlihat seperti pria ekonomi yang membosankan. Di tangannya, ia memegang sebuah alat pelacak dan sebuah senjata api kecil.
"Ayo pulang, Alicia. Ayahmu sudah membuat kesepakatan denganku untuk menjemputmu dari iblis ini," ucap Bambang sembari melangkah mendekat.
Alicia mundur, bingung dan ketakutan. Di satu sisi ada mafia yang mengurungnya, di sisi lain ada tunangan "aneh" yang tiba-tiba muncul di tengah baku tembak. Ia berada di antara mulut singa dan lubang buaya.
Tiba-tiba, suara langkah kaki berat terdengar dari arah tangga darurat. Seseorang sedang berlari turun dengan napas tersengal.
Siapakah yang akan sampai lebih dulu pada Alicia? Dante yang terluka, atau Bambang yang menyimpan rahasia gelap di balik wajah polosnya?
Oh yah,. Jangan lupa tetap stay tune yaa, besok author bakal update 3 BAB sekaligus 🔥✨
Buat yang udah setia nemenin cerita ini sampai sini, makasih banyak yaa~
Dan jangan lupa tinggalkan jejak di setiap bab 🫶
Entah itu like, vote, ataupun komentar.
Segala bentuk dukungan dari kalian semua, sangat berarti banget untuk author khusus-nya.
Itu semua bikin author makin semangat untuk update bab selanjutnya. ✨🫰🏻
alicia terjepit situasi absurd🤣🤣🤣🤣