Diusir dan dihinakan akibat video fitnah keji, Aaliyah Humaira, putri seorang kyai besar, terpaksa menanggalkan identitasnya dan bersembunyi di balik niqab dan kode peretas legendaris 'H_Zero'. Namun, takdir pelariannya justru membawanya ke dalam pelukan Zayn Al-Fatih, CEO berdarah dingin penerus klan aristokrat mafia Eropa yang hidupnya dipenuhi ancaman pembunuhan. Saat rahasia triliunan dolar dan masa lalu leluhur mereka saling bertabrakan, Aaliyah dan Zayn harus menyatukan kejeniusan siber dan kekuatan militer untuk melawan sindikat pembunuh bayaran, dewan bangsawan yang rasis, dan konspirasi global. Ini bukan sekadar kisah cinta antara gadis pesantren dan sang Raja Es; ini adalah perang epik di mana iman, kecerdasan, dan peluru menjadi penentu kedaulatan sebuah negara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5: KILAU PALSU SANG PERMAISURI
Cahaya matahari pagi yang menerobos masuk melalui jendela besar di ruang makan kediaman Al-Ghifari terasa begitu menyilaukan, namun tidak mampu menghangatkan suasana yang sedingin es. Di meja makan yang terbuat dari marmer Italia itu, Zayn Al-Fatih duduk dengan angkuh, menyesap kopi hitamnya tanpa gula. Di sampingnya, Sabrina duduk dengan gaun sutra berwarna merah menyala, tampak sangat kontras dengan Maryam yang berdiri diam di sudut ruangan dengan gamis hitam dan niqabnya yang sunyi.
Aaliyah—yang kini mengenakan topeng sebagai Maryam—menatap ujung sepatunya yang kusam.
(Ya Allah, kuatkan hatiku pagi ini. Mengapa setiap kali aku berada di dekat wanita ini, dadaku terasa sesak oleh firasat buruk? Sabrina menatapku seolah aku adalah kotoran yang menempel di sepatunya yang mahal. Jika saja mereka tahu siapa aku sebenarnya... jika saja mereka tahu bahwa tangan pelayan ini adalah tangan yang sama yang menyelamatkan aset mereka semalam...)
"Zayn, sayang," suara Sabrina yang manja memecah keheningan. "Aku merasa tidak nyaman sarapan dengan pelayan itu berdiri di sana. Dia seperti pengintai, diam tapi matanya seolah menghakimi kita. Sangat menyeramkan, tahu!"
Zayn meletakkan cangkirnya perlahan. Matanya melirik Maryam sekilas, lalu kembali pada Sabrina. "Dia hanya menjalankan tugasnya, Sabrina. Biarkan saja."
(Zayn membatin: Mengapa aku membelanya? Pelayan ini jelas-jelas mencurigakan. Dia punya laptop militer, dia jenius IT, tapi dia rela dihina seperti ini. Siapa kau sebenarnya, Maryam? Apakah ketenanganmu ini tulus, atau hanya bagian dari rencana besar untuk menjatuhkanku saat aku lengah? Aku harus tetap waspada. Jangan sampai luka lama yang dibuat oleh pengkhianatan masa lalu terbuka kembali karena sepasang mata di balik niqab itu.)
"Tapi Zayn! Kamu tahu sendiri kan, aku baru saja membawa perhiasan titipan Nyonya Sarah dari toko perhiasan semalam. Itu bros berlian langka peninggalan nenekmu," Sabrina merogoh tas tangannya dengan gerakan dramatis. Tiba-tiba, wajahnya berubah pucat. "Loh? Kok... kok tidak ada?"
Sabrina mulai menggeledah tasnya dengan panik yang dibuat-buat. Ia mengeluarkan semua isinya ke atas meja—lipstik mahal, bedak, kunci mobil—namun bros yang dimaksud tidak ada.
"Zayn! Brosnya hilang! Aku yakin sekali semalam aku menaruhnya di dalam kotak beludru ini!" Sabrina berdiri, suaranya mulai meninggi hingga memenuhi ruangan.
(Sabrina tertawa dalam hatinya: Rasakan ini, pelayan busuk! Kamu pikir bisa mencuri perhatian Zayn dengan sok pintar semalam? Hari ini aku akan membuatmu diseret keluar dari rumah ini sebagai pencuri. Rian sudah menaruh bros itu di kamarmu saat kamu sedang salat Subuh tadi. Game over, Maryam!)
Zayn mengerutkan kening. "Jangan bercanda, Sabrina. Itu bros keluarga. Kamu bilang kamu menyimpannya dengan aman."
"Aku memang menyimpannya, Zayn! Tapi semalam... semalam pelayan ini kan masuk ke ruang tengah saat aku sedang membereskan barang-barang!" Sabrina menunjuk Maryam dengan jari telunjuknya yang dipoles kuku merah. "Pasti dia! Siapa lagi yang berani menyentuh barang-barangku kalau bukan dia? Dia kan orang miskin, pasti matanya hijau melihat berlian semahal itu!"
Maryam tersentak. Ia mendongak, menatap Sabrina dengan tatapan yang tenang namun tajam.
(Batin Maryam menjerit: Fitnah apalagi ini? Berlian? Aku bahkan tidak pernah mendekati tas wanita itu semalam. Ya Allah, cobaan-Mu datang silih berganti. Kemarin fitnah zina yang meruntuhkan nama baik ayahku, sekarang fitnah mencuri yang merendahkan martabatku sebagai manusia. Apakah dunia ini memang tidak memberikan ruang bagi kejujuran di balik kain hitam ini?)
"Tuan Muda, saya tidak pernah menyentuh tas Nyonya Sabrina, apalagi mengambil isinya," ucap Maryam dengan suara lembut namun tegas.
"Bohong! Pencuri mana yang mau mengaku!" Sabrina menghampiri Maryam dan hampir saja melayangkan tamparan, namun Zayn berdiri dan mencekal pergelangan tangan Sabrina.
"Cukup!" bentak Zayn. Suaranya menggelegar, membuat Bi Inah yang sedang berada di dapur berlari keluar dengan wajah pucat.
(Zayn membatin: Logikaku mengatakan Maryam tidak mungkin melakukannya. Seseorang yang bisa membobol enkripsi tingkat tinggi tidak akan merisiko diri hanya untuk sebuah bros, seberapa pun mahalnya itu. Tapi... bagaimana jika ini semua adalah taktik? Bagaimana jika dia sengaja membuat dirinya terlihat terzalimi agar aku merasa kasihan padanya? Aku tidak boleh terjebak dalam emosi wanita.)
"Zayn, lepaskan! Kenapa kamu membelanya?" Sabrina meronta. "Kita harus geledah kamarnya sekarang juga! Jika memang dia tidak bersalah, dia tidak akan keberatan kan?"
Zayn melepaskan tangan Sabrina, lalu menatap Maryam dengan pandangan yang sangat dingin—pandangan yang membuat Maryam merasa seolah hatinya sedang diiris. "Maryam, apakah kau keberatan jika kami memeriksa kamarmu?"
Maryam menelan ludah yang terasa pahit. (Jika aku menolak, mereka akan semakin yakin aku pencurinya. Jika aku setuju, dan wanita ular ini sudah menjebakku... habislah aku. Tapi aku harus percaya pada perlindungan-Mu, Ya Allah. Jika Engkau menghendaki kebenaran terungkap, maka ia akan terungkap.)
"Silakan, Tuan Muda. Jika itu bisa membuktikan kejujuran saya," jawab Maryam singkat.
Zayn melangkah lebih dulu menuju area belakang rumah, diikuti oleh Sabrina yang tersenyum penuh kemenangan di belakang punggung Zayn, dan Maryam yang berjalan dengan kepala tertunduk namun hati yang terus berzikir. Bi Inah mengikuti dari belakang dengan tangan yang gemetar.
Kamar Maryam yang sempit terasa semakin sesak saat mereka semua masuk ke sana. Bau apek dari dinding yang lembap dan harum sajadah yang tipis bercampur menjadi satu. Zayn menatap sekeliling ruangan yang hanya berisi satu kasur tipis dan satu lemari kayu tua.
(Zayn membatin: Kamar ini begitu menyedihkan. Bagaimana mungkin seorang jenius teknologi bisa bertahan hidup di tempat seperti ini? Apakah dia sedang melakukan penebusan dosa? Ataukah dia benar-benar sedang dalam pelarian yang sangat putus asa? Ada sesuatu yang tidak sinkron antara kamar ini dan otak cemerlang yang ia tunjukkan semalam.)
"Cepat cari, Zayn! Pasti dia sembunyikan di bawah kasur atau di dalam lemari!" desak Sabrina.
Zayn mulai memeriksa lemari kecil itu. Ia hanya menemukan beberapa potong gamis hitam yang rapi dan satu mukena putih yang bersih. Tak ada perhiasan. Kemudian, Zayn melangkah menuju kasur. Ia mengangkat bantal Maryam.
Dan di sanalah benda itu berada. Sebuah kotak beludru biru kecil yang terbuka, memperlihatkan sebuah bros berlian berbentuk mawar yang berkilau mewah di bawah cahaya lampu kamar yang redup.
"Nah! Lihat itu! Apa aku bilang!" teriak Sabrina histeris. "Zayn, lihat! Ternyata dugaanku benar! Dia pelakunya! Wanita ber-niqab ini ternyata seorang pencuri ulung!"
(Sabrina bersorak dalam hati: Ya! Sempurna! Lihat wajah Zayn yang kini memerah karena amarah. Selamat tinggal, Maryam! Setelah ini kamu akan mendekam di penjara dan aku akan memastikan kamu tidak akan pernah melihat matahari lagi!)
Zayn mengambil bros itu. Tangannya gemetar. Bukan karena nilai bros itu, tapi karena rasa kecewa yang mendalam yang tiba-tiba menyerang dadanya.
(Zayn membatin: Jadi benar? Kau sama saja dengan wanita itu? Kau menggunakan cadar ini hanya untuk menipu duniaku? Aku hampir saja mempercayaimu semalam, Maryam! Aku hampir saja berpikir bahwa kau adalah satu-satunya orang jujur yang tersisa! Bodohnya aku... trauma ini benar-benar tidak pernah salah. Orang yang berpura-pura suci adalah mereka yang paling berbahaya!)
Zayn berbalik dan menatap Maryam dengan tatapan yang bisa membunuh. "Apa ini, Maryam? Jelaskan padaku!"
Maryam menatap kotak beludru itu dengan mata yang membelalak. Tubuhnya terasa lemas, lututnya hampir tak sanggup menopang berat badannya.
(Batin Maryam menjerit: Tidak mungkin! Bagaimana benda itu bisa ada di sana? Aku tidak pernah melihatnya! Ya Allah... fitnah ini begitu rapi. Mereka ingin menghancurkanku di saat aku baru saja mulai merasa aman di rumah ini. Apakah ini akhir dari perjuanganku untuk ayah?)
"Tuan Muda... saya bersumpah demi Allah, saya tidak tahu bagaimana benda itu bisa ada di sana. Saya tidak pernah mengambilnya," suara Maryam terdengar serak, menahan tangis yang menyesakkan tenggorokan.
"Jangan bawa nama Allah lagi!" bentak Zayn. Ia melempar bros itu ke kasur dengan kasar. "Aku sudah muak dengan sumpah-sumpah palsumu! Buktinya sudah ada di depan mata! Kau mencuri barang milik keluargaku, di rumahku sendiri, setelah aku memberimu pekerjaan dan tempat berteduh!"
"Panggil polisi, Zayn! Biar dia kapok!" Sabrina memprovokasi, matanya berbinar senang.
Bi Inah maju, bersimpuh di kaki Zayn. "Tuan Muda, tolong... saya yakin Maryam tidak melakukannya. Dia anak baik, Tuan..."
"Diam, Bi Inah! Jangan bela dia!" potong Zayn. Ia menatap Maryam lagi. "Bicaralah, Maryam! Gunakan otak jeniusmu itu untuk menjelaskan bagaimana bros ini bisa jalan sendiri ke bawah bantalmu! Kenapa kau diam saja?"
(Maryam membatin: Jika aku bicara tentang Rian atau Sabrina sekarang, Zayn tidak akan percaya. Dia sedang buta karena marah. Aku harus mencari bukti lain. Tunggu... CCTV! Tidak, area belakang tidak ada CCTV. Tapi... laptopku!)
Maryam melirik ke arah tas laptopnya yang berada di sudut meja. Zayn melihat lirikan itu.
"Apa? Kau mau meretas polisi juga?" hina Zayn.
"Tuan Muda," Maryam mengatur napasnya, mencoba untuk tetap tenang di tengah badai. "Jika saya adalah pencuri yang cukup pintar untuk membobol server perbankan Anda semalam, apakah saya sebodoh itu untuk menaruh barang bukti di bawah bantal saya sendiri? Bukankah itu tempat pertama yang akan diperiksa oleh siapa pun?"
Zayn tertegun. Kalimat itu seperti siraman air dingin di tengah api amarahnya.
(Zayn membatin: Benar. Logikanya tidak masuk akal. Seseorang dengan kecerdasan seperti dia pasti tahu cara menghilangkan barang bukti dengan jauh lebih bersih daripada ini. Menaruh di bawah bantal adalah taktik amatir. Kecuali... jika memang dia dijebak.)
Zayn menoleh ke arah Sabrina. Sabrina tampak sedikit gelisah namun segera menutupi wajahnya dengan ekspresi marah.
"Apa maksudmu?! Kamu mau menuduhku yang menaruhnya di sana?!" teriak Sabrina. "Zayn, jangan dengarkan dia! Dia sedang mencoba memanipulasimu lagi dengan omongan sok pintarnya!"
Zayn tidak menjawab. Ia mengambil bros itu, lalu menatap Maryam. "Maryam, untuk sementara, kau dilarang keluar dari area belakang ini. Bi Inah, awasi dia. Dan kau, Sabrina... ikut aku ke depan."
"Tapi Zayn! Polisi—"
"Aku bilang ikut aku ke depan!" suara Zayn yang rendah namun penuh otoritas membuat Sabrina tidak berani membantah.
Malam harinya, di dalam kamarnya yang terkunci dari luar, Aaliyah terduduk di lantai. Ia tidak menyalakan lampu. Ia membiarkan kegelapan menyelimutinya. Air matanya akhirnya jatuh, membasahi kain niqabnya.
(Ya Allah... apakah ini adalah balasan karena aku telah berbohong tentang identitasku? Aku hanya ingin melindungi ayahku, tapi kini aku justru terperangkap dalam fitnah baru. Zayn tidak lagi menatapku dengan rasa ingin tahu, tapi dengan kebencian yang murni. Hati ini perih, Ya Allah... mengapa rasa perih ini lebih menyakitkan daripada saat aku diusir dari pesantren dulu? Apakah... apakah aku mulai memedulikan apa yang dipikirkan pria sombong itu tentangku?)
Tiba-tiba, ia mendengar suara kunci diputar dari luar. Pintu terbuka sedikit, dan sesosok bayangan masuk. Itu Zayn. Ia membawa laptop perak milik Maryam di tangannya. Zayn masuk dan menutup pintu tanpa suara.
"Tuan Muda?" Maryam berdiri dengan canggung.
Zayn tidak menyalakan lampu utama, ia hanya menyalakan lampu meja yang redup. Ia meletakkan laptop itu di depan Maryam.
"Buktikan padaku," bisik Zayn. Suaranya tidak lagi berteriak, tapi terdengar sangat lelah. "Buktikan padaku melalui laptop ini bahwa kau bukan pencurinya. Aku memberimu waktu satu jam. Jika kau bisa menemukan jejak siapa yang masuk ke kamarmu melalui sensor keamanan yang kau pasang secara ilegal di rumah ini semalam... maka aku akan mempercayaimu. Tapi jika tidak..."
Zayn menjeda kalimatnya, menatap mata Maryam di tengah kegelapan. "Jika tidak, besok pagi kau akan aku serahkan ke pihak berwajib."
(Zayn membatin: Tolong... buktikan bahwa dugaanku salah, Maryam. Buktikan bahwa kau memang berbeda. Aku ingin sekali mempercayaimu, tapi hatiku terlalu takut untuk kecewa lagi. Tunjukkan padaku bahwa cahaya di balik niqabmu itu nyata, bukan sekadar pantulan dari kebohongan yang lain.)
Maryam menatap laptopnya, lalu menatap Zayn. Ada secercah harapan yang muncul di matanya. "Terima kasih, Tuan Muda. Terima kasih karena masih memberi saya satu kesempatan untuk membuktikan kebenaran."
Maryam segera duduk di depan laptopnya. Jemarinya mulai menari di atas keyboard dengan kecepatan yang luar biasa. Zayn berdiri di belakangnya, memperhatikan setiap gerakan jari-wanita itu.
Keheningan malam itu hanya diisi oleh suara klik-klik dari keyboard dan detak jantung dua manusia yang sedang berada di persimpangan antara kepercayaan dan pengkhianatan. Di balik kain hitamnya, Aaliyah tersenyum tipis. Ia tahu, kebenaran adalah seperti matahari; ia mungkin tertutup awan fitnah untuk sementara, namun ia tidak akan pernah benar-benar padam.
(Aaliyah membatin: Tunggu saja, Sabrina. Kamu telah membangunkan singa yang salah. Malam ini, bukan hanya namaku yang akan bersih, tapi pengkhianatanmu dan Rian juga akan terungkap di depan mata Zayn sendiri.)
Sinetron kehidupan ini baru saja mencapai babak yang paling mendebarkan.
moga ditengah badai dusta ketulusan hati menghancurkan fitnah keji